Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 07 Okt 2025, 17:02 WIB
Video viral Odading Mang Oleh dari Ade Londok yang bikin heboh pada September 2020.

Video viral Odading Mang Oleh dari Ade Londok yang bikin heboh pada September 2020.

AYOBANDUNG.ID - Tak ada yang menyangka, sebuah video goyah dari ponsel tua di tangan tukang jahit bisa mengguncang lini masa nasional. September 2020, di tengah pandemi yang menyesakkan, seorang pria bernama Ade Londok berteriak soal odading seolah ia baru menemukan rahasia kebahagiaan dunia. “Rasanya seperti Iron Man!” katanya.

Kalimat itu sederhana, absurd, tapi mematikan dalam dunia algoritma. Dalam hitungan jam, video promosi spontan itu menyebar ke seluruh jagat maya: TikTok, Instagram, Twitter, sampai grup WhatsApp keluarga. Dari situ, Bandung mendadak punya pahlawan baru, dari pinggir Jalan Baranangsiang.

Pria itu bernama Ade Londok, nama aslinya Nandar Rukandar, lahir di Bandung tahun 1978. Sehari-hari ia hanya tukang jahit di kawasan Kosambi, tapi dalam semalam, ia berubah jadi ikon nasional. Semua orang membicarakan gaya bicaranya yang blak-blakan, energinya yang meledak-ledak, dan spontanitasnya yang terasa tulus. Tak ada skrip, tak ada lighting profesional, hanya video seadanya dengan ponsel yang kadang goyah, tapi justru di situlah pesonanya.

Yang dipromosikannya pun bukan produk startup atau brand mewah, melainkan odading—roti goreng sederhana dari tepung yang dijual di lapak kecil Odading Nusa Sari Pak Sholeh di Jalan Baranangsiang.

Baca Juga: Hikayat Urban Legend Rumah Gurita Bandung, Geger Disebut Tempat Pemujaan Setan?

Sebelum viral, penjualannya biasa saja, habis 10 kilogram adonan per hari. Tapi setelah video Ade Londok viral, lapak itu berubah jadi tempat ziarah digital. Antrean mengular, pesanan membanjir, dan omzet naik lima puluh kali lipat. Dari 10 kilogram naik jadi 500 kilogram adonan per hari.

Sebelum dunia maya mengenal odading Mang Oleh, warung kecil itu sudah berdiri lebih dari tiga dekade. Gerobaknya sederhana, berwarna biru dan cokelat, terparkir di pinggir Jalan Baranangsiang, pinggir Pasar Kosambi. Sehari-hari, Mang Oleh membuat adonan 30 sampai 40 kilogram. Cukup untuk pelanggan sekitar Kosambi yang sudah kenal sejak lama. Kadang, kalau sedang ramai, omzetnya bisa sampai tujuh ratus ribu rupiah per hari. Tidak besar, tapi cukup untuk hidup.

Odadingnya sendiri tak banyak berubah sejak 1980-an. Roti goreng bulat, manis dengan taburan gula atau wijen, disajikan bersama cakwe gurih. Ada aroma nostalgia di tiap gigitan. Bahkan sebelum viral, Mang Oleh sudah punya pelanggan tetap dari kalangan penting. Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Ani, konon pernah mampir membeli di sana jauh sebelum SBY jadi presiden. Odading Mang Oleh juga pernah dipesan oleh Istana Negara, katanya, untuk menjamu George W. Bush saat kunjungan kenegaraan.

Kisah itu mungkin terdengar seperti legenda warung jalanan, antara benar dan bumbu. Tapi satu hal pasti: odading Mang Oleh bukan barang baru. Ia hanya menunggu satu momentum, dan momentum itu datang lewat seorang tukang jahit yang memegang ponsel goyah.

Begitu video Ade Londok viral pada pertengahan September 2020, semuanya berubah. Antrean pembeli mengular hingga berjam-jam di depan lapak kecil itu. Lima anak Mang Oleh, yang biasanya tak ikut berdagang, ikut turun tangan melayani pelanggan. Dalam empat hari, adonan yang biasanya hanya 30 kilogram melonjak jadi 100 kilogram per hari. Enam puluh persen untuk odading, sisanya cakwe. Omzet naik empat kali lipat menjadi hampir tiga juta rupiah per hari.

Odading seharga dua ribu rupiah itu jadi ikon nasional. Meme bermunculan. Warganet menirukan gaya Ade Londok dengan kalimat absurd. Dalam waktu singkat, warung kecil di Baranangsiang menjadi destinasi wisata kuliner dadakan di tengah pandemi. Orang-orang datang bukan hanya untuk makan, tapi untuk foto dan membuat video tiruan.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan

Lalu datanglah Ridwan Kamil.

Gubernur Jawa Barat yang memang gemar bermain media sosial itu mencium peluang. Pada 16 September 2020, ia datang ke lapak Odading Mang Oleh, disambut warga dan wartawan. Ia menyebut Ade Londok lulusan S3 Marketing, gelar kehormatan bagi siapa pun yang bisa menjual sesuatu tanpa modal selain kejujuran dan kelucuan.

Ridwan Kamil saat memberikan HP kepada Ade Londok. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ridwan Kamil saat memberikan HP kepada Ade Londok. (Sumber: Pemprov Jabar)

Sebagai bentuk apresiasi, Emil memberikan ponsel baru kepada Ade, menggantikan HP lamanya yang nyaris tumbang di tiap video. Ia juga mengangkat Ade sebagai duta promosi UMKM Jawa Barat, khususnya bidang kuliner. Dunia media sosial meledak lagi. Banyak yang memuji keputusan itu, menyebut Emil cerdas memanfaatkan momentum. Tapi ada pula yang mencibir, menilai Ade terlalu kasar untuk jadi duta resmi.

Beberapa warganet mengkritik bahasa Ade yang kelewat vulgar dan khawatir anak-anak menirunya. Tapi Emil bergeming. Ade Londok tetap diangkat sebagai duta, meski dengan pesan agar lebih hati-hati dalam bertutur.

Euforia Odading Mang Oleh kala itu berlangsung singkat, tapi intens. Dalam beberapa pekan, antrean pembeli jadi tontonan tersendiri. Orang datang bukan hanya untuk membeli odading, tapi untuk berfoto di depan spanduk bertuliskan “Odading Mang Oleh”. Lapak kecil itu seperti miniatur Bandung yang riuh, antara nostalgia kuliner dan kehebohan dunia digital.

Baca Juga: Sejarah Dongeng Si Kabayan, Orang Kampung Pemalas yang Licin dan Jenaka

Tapi, seperti semua viralitas di dunia maya, popularitas itu perlahan meredup. Pada akhir 2022, penjualan kembali normal. Tak ada lagi antrean panjang, tak ada lagi kamera ponsel menyorot. Omzet jualan kembali ke level semula, 10 kg per hari. Tapi berkah viral yang datang dan lenyap dalam sekejap itu tetap disyukuri.

Ade Londok sendiri sempat menikmati masa kejayaannya. Ia diundang ke berbagai acara televisi, diendorse produk, bahkan tampil bareng komedian senior. Tapi dunia hiburan tidak seindah imajinasinya. Dalam salah satu acara TV, ia berselisih dengan pelawak legendaris Malih Tong Tong, insiden kecil yang berbuntut panjang. Ade merasa tak dihargai dan memutuskan mundur dari dunia hiburan.

Ia kembali ke tempat asalnya: ruang sempit di pertokoan Kosambi, dengan mesin jahit yang berdengung tiap pagi.

Tahun 2021 jadi masa berat bagi Ade. Ia jatuh dari tangga, kemudian sempat mengalami pecah pembuluh darah setelah terjatuh. Berbulan-bulan ia istirahat total. Pada 2024, ia kembali muncul di media sosial, marah-marah soal harga beras naik. “Beras mahal," katanya, sambil ditutup dengan umpatan kasar ala Ade. Dalam rentang waktu tersebut, berkali-kali Ade berganti akun media sosial. Profilnya tak pernah awet, selalu raib ditelan waktu.

Odading Mang Oleh kini hidup sebagai legenda kecil di Bandung. Warungnya masih buka, tapi tak lagi dikerumuni kamera. Ade masih serabutan, sesekali berceloteh di media sosial, sesekali jadi berita ringan. Tapi bagi banyak orang, kisah ini jadi simbol bahwa ketenaran adalah ilusi cepat saji, dan bahwa dunia digital bisa mengangkat siapa pun, tapi juga dengan mudah melupakannya.

News Update

Ayo Netizen 11 Mar 2026, 20:22

Gerakkan Selasa BERSERI dari SMPN 1 Kasokandel

Dari ASRI, untuk Kepedulian bersama menjaga lingkungan.

Kegiatan ASRI (Selasa Berseri) (Foto: Penulis)
Seni Budaya 11 Mar 2026, 18:46

Sejarah Silat Cimande, Bela Diri Legendaris Tradisional Sunda

Berawal dari desa Cimande di Bogor, aliran silat ini berkembang sejak ratusan tahun lalu dan melahirkan banyak cabang di Nusantara, membawa warisan teknik bertarung sekaligus nilai budaya Sunda.

Ilustrasi Silat Cimande
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 18:05

Jalan Rusak dan Tambal Sulam, Tingkat Kepuasan Pemudik Bisa Merosot

Faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan mudik Lebaran bisa diukur dari kondisi jalan yang mulus hingga ke kampung halaman para pemudik.

Ilustrasi jalan rusak di Desa Banjaran Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Bandung 11 Mar 2026, 17:45

Geliat Bolu Susu Asli Lembang di Tengah Kemeriahan Bazar Ramadhan

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran.

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 11 Mar 2026, 16:01

Harmoni Dua Benua dalam Sepiring Hangat Ambara Biru, Hadirkan Sensasi Kuliner Fusion Sunda–Brazil

Meski masyarakat Indonesia gemar bereksplorasi dengan rasa, kuliner Negeri Samba masih sering dianggap asing atau sebatas hidangan daging panggang semata.

Sebuah narasi kuliner baru sedang dirajut oleh Ambara Biru, sebuah destinasi yang memadukan eksotisme Brasil dengan keramahan tanah Sunda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 15:28

Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 14:49

Pasar Ilmu dan Golden Tiket Pulang: Romantisme Ngaji Pasaran di Pesantren

Mengenal istilah pengajian rutin di Pondok Pesantren yang hanya ada pada bulan Ramadan.

Ilustrasi keseruan santri saat mengaji di pondok pesantren. (Sumber: Unplash | Foto: Muhammad Azzam)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 12:25

Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ikon 11 Mar 2026, 11:43

Jejak Sejarah Blewah dan Timun Suri, Bagaimana Keduanya jadi Takjil Ramadan Favorit di Indonesia

Blewah dan timun suri berasal dari keluarga melon yang menyebar lewat jalur perdagangan sebelum menjadi takjil Ramadan populer.

Penjual timun suri. (Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 11:09

Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Hiruk pikuk warga Kota Bandung belanja baju Lebaran tahun 1980-an.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Beranda 11 Mar 2026, 10:39

Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Data Komnas Perempuan menunjukkan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat di 2025. Aktivis menilai akar masalahnya berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki.

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 11 Mar 2026, 10:22

Pasar Takjil Ramadan Mekarwangi Bandung, Surga Kuliner Sore di Cibaduyut

Jalan Indrayasa di kawasan Mekarwangi, Bandung, berubah menjadi pasar takjil setiap sore selama Ramadan. Ratusan pedagang menjual kolak, minuman segar, hingga jajanan kekinian.

Suasana pasar takjil Ramadan di Jalan Indrayasa, Mekarwangi, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 11 Mar 2026, 10:12

Pesona Batu Tumpang di Perkebunan Teh yang Bisa Melihat Pantai Selatan

Batu Tumpang di Garut Selatan menawarkan pemandangan unik berupa batu raksasa di tengah hamparan perkebunan teh. Dari puncaknya, pengunjung bahkan bisa melihat garis biru Pantai Selatan saat cerah.

Batu Tumpang (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 09:16

Air Lindih Menggenang di Jalan Pasar Gedebage, Warga Siap Laporkan ke Polda Jabar

Kondisi sampah di kawasan Pasar Gedebage, Kota Bandung, kembali dikeluhkan para pedagang pada pekan ini.

Satu sudut pasar Gedebage yang digenangi air lindih dari sampah. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:44

Berkah Caruluk

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Bandung 10 Mar 2026, 20:44

Cerita Kimirai Fashion Menjemput Peluang di Tengah Semarak Pameran Menjelang Lebaran

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa.

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:01

Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memandang masa depan.

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)
Linimasa 10 Mar 2026, 18:55

Open Iftar Trafalgar Square, Buka Bersama Puasa Ramadan di Jantung London

Open Iftar di Trafalgar Square bermula dari tenda kecil mahasiswa SOAS dan kini menjadi tradisi buka puasa Ramadan terbesar di London.

Suasana Open Iftar di Trafalgar Square, London.
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)