Hikayat Urban Legend Rumah Gurita Bandung, Geger Disebut Tempat Pemujaan Setan

6 menit baca
Bob Yanuar Hengky Sulaksono Redaksi
Ditulis oleh Bob Yanuar , Hengky Sulaksono , Redaksi diterbitkan
Potret Rumah Gurita di kawasan Sukajadi, Kota Bandung.
Potret Rumah Gurita di kawasan Sukajadi, Kota Bandung.

AYOBANDUNG.ID - Di tengah kawasan padat Sukajadi, Bandung, berdiri sebuah rumah besar yang sejak lama menjadi buah bibir warga. Rumah itu dikenal dengan nama Rumah Gurita, karena di puncak atapnya berdiri patung gurita raksasa berwarna hitam pekat, dengan mata merah menyala. Siapa pun yang melintas di sekitar Jalan Terusan Sukadamai No. 6, Kelurahan Sukagalih, akan mudah mengenalinya. Tak hanya karena ukurannya yang besar, tapi juga karena bentuknya yang tidak lazim dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya.

Kisah rumah ini dimulai pada tahun 1980-an, masa ketika Bandung tengah berbenah menjadi kota modern dengan wajah baru. Pada masa itu, sejumlah pengusaha dari Jakarta banyak membangun rumah peristirahatan di kawasan Bandung utara yang berhawa sejuk. Di antara mereka, ada seorang pengusaha bernama Frans, yang kemudian dikenal sebagai pemilik Rumah Gurita. Ia mendirikan rumah itu di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi, dengan luas bangunan mencapai 1.400 meter persegi.

"Kadang-kadang rumah ini dikunjungi sama pemiliknya, terutama saat hari libur ataupun hari besar lainnya. Ada yang jaga juga tiga orang kalau gak salah," ujar wanita yang enggan disebutkan identitasnya kepada Ayobandung.

Bentuknya mewah, bergaya Eropa, dengan kaca-kaca besar di setiap sisi dan ukiran klasik di bagian depan. Rumah itu dibuat tiga lantai, lengkap dengan taman depan, taman belakang, serta kolam renang yang cukup luas. Di sekeliling kolam renang, berdiri patung-patung ikan, singa, dan manusia penggembala, seolah pemiliknya terobsesi pada keindahan patung dan ornamen artistik. Namun, dari semua hiasan itu, tak ada yang seaneh patung gurita besar di atap rumah.

Baca Juga: Hikayat Hantu Dua Duo yang Gentayangan di Konflik Lahan Kota Bandung

Patung gurita itu sendiri dibuat dari bahan semen cor berwarna hitam legam, dengan mata merah yang memantulkan cahaya jika terkena sinar sore. Dari jauh, patung itu tampak seperti makhluk laut raksasa yang sedang mengintai dari atas rumah. Banyak warga yang tidak tahu maksud dibuatnya patung itu, dan di situlah cerita mistis mulai tumbuh.

Rumah Gurita memang tidak berada di pinggir jalan besar. Untuk melihat bangunannya secara utuh, seseorang harus masuk ke rumah lain lebih dulu. Bangunannya akan tampak bak sebuah rumah putih tua bernomor 6, yang tampak kosong dan mulai rapuh dimakan usia. Rumah putih itu ternyata menjadi akses masuk ke Rumah Gurita di belakangnya.

Letak yang tersembunyi ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Mengapa rumah sebesar itu seolah disembunyikan? Mengapa aksesnya harus melewati rumah lain? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lambat laun berubah menjadi cerita misteri.

Beberapa warga mulai berbisik bahwa rumah tersebut dipakai untuk ritual-ritual gaib dan pemujaan iblis. Kecurigaan itu makin kuat karena rumah putih di depannya bernomor 6 — angka yang sering dikaitkan dengan simbol setan, 666. Pada masa itu, kabar seperti ini mudah menyebar. Orang-orang yang lewat dan melihat rumah itu dari kejauhan kerap menebak-nebak, membangun kisah sendiri, hingga akhirnya terbentuklah legenda urban yang hidup di kalangan masyarakat Bandung.

Tampak belakang Rumah Gurita, patung gurita yang berada di lantai atas rumah. Patung gurita berwarna hitam tersebut sering dikaitkan dengan hal mistis. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Tampak belakang Rumah Gurita, patung gurita yang berada di lantai atas rumah. Patung gurita berwarna hitam tersebut sering dikaitkan dengan hal mistis. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)

Desas-desus yang tersebar, ada yang mengatakan di dalam rumah itu pernah terlihat gambar kartu remi pada kaca jendela, menandakan tempat perjudian. Ada pula yang menyebut rumah itu sebagai “gereja setan”, karena dari celah jendela terlihat patung-patung dengan pose khas umat Kristiani namun tampak menakutkan. Cerita ini beredar luas di tahun 1990-an, saat Bandung sedang ramai dengan kisah-kisah mistis dan rumor sekte gelap yang konon beroperasi secara sembunyi.

Baca Juga: Sejarah Jalan ABC Bandung, Benarkah Rasis?

Tapi, saat ditelusuri lebih jauh, tak satu pun dari cerita itu dapat dibuktikan. Rumah tersebut hanya sesekali dikunjungi oleh pemiliknya, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti libur panjang atau hari besar. Dalam kesehariannya, rumah itu kosong, hanya dijaga oleh beberapa orang yang dipercaya keluarga Frans. Seorang warga sekitar pernah mengatakan,

"Kalau cerita-cerita mistis itu kayaknya hanya mitos yang beredar di masyarakat. Tapi memang banyak barang barang bernilai seni tinggi yang tersimpan di Rumah Gurita. Soalnya kalau dari beberapa rumah lain terutama dari lantai dua bisa kelihatan banyak barang antik," kata warga tersebut.

Kehadiran patung gurita hitam itu sendiri, menurut sumber dari dunia properti, tidak ada kaitannya dengan hal mistis. Patung tersebut ternyata dibuat untuk menyembunyikan tandon air. Di masa pembangunan, arsitek rumah itu ingin membuat penutup tandon yang tidak biasa, maka lahirlah ide membuat gurita besar di atap. Fungsi patung itu praktis, tapi tampilannya justru membuat orang berimajinasi liar.

Rumor, Budaya Urban, dan Popularitas Rumah Gurita

Walaupun faktanya bisa dijelaskan, misteri tetap lebih menarik daripada logika. Rumah Gurita pun terus menjadi bahan pembicaraan dari dekade ke dekade. Dalam obrolan warung kopi, di forum daring, hingga di kalangan pelajar Bandung yang suka berburu lokasi angker, nama Rumah Gurita tak pernah absen disebut.

Budayawan Bandung Budi Dalton bahkan pernah menegaskan bahwa kisah mistis Rumah Gurita hanyalah cerita rakyat perkotaan yang tumbuh karena rasa ingin tahu dan imajinasi masyarakat. Menurutnya, rumah itu adalah bangunan dengan nilai seni tinggi, bukan tempat sekte sesat.

Baca Juga: Tragedi AACC Bandung 2008, Sabtu Kelabu Konser Beside

“Pada tahun 90-an saya sudah melihat rumah itu, tidak ada yang aneh selain patung gurita besar di atapnya,” ujar Budi dalam wawancaranya. Ia menambahkan, pada masa 1980-an Bandung memang dikenal sebagai kota art deco, penuh dengan rumah-rumah berarsitektur unik.

“Rumah Gurita itu bagian dari warisan arsitektur kreatif Bandung. Tapi karena bentuknya aneh dan tertutup, orang jadi menakut-nakutinya sendiri,” katanya.

Di sisi lain, kisah urban legend ini semakin kuat karena rumah tersebut jarang terbuka untuk umum. Tidak ada yang tahu pasti seperti apa bagian dalamnya. Mereka yang pernah masuk pun memilih diam, seolah ingin mempertahankan misteri yang sudah telanjur menjadi daya tarik tersendiri.

Pada tahun-tahun tertentu, cerita tentang Rumah Gurita kerap muncul kembali di media. Ada yang menulisnya sebagai rumah berhantu, ada pula yang menyebutnya sebagai simbol kebudayaan populer Bandung. Bahkan, pada 2014, misteri Rumah Gurita diangkat ke layar lebar melalui film “Rumah Gurita” karya Jose Poernomo, yang dibintangi Shandy Aulia dan Boy Hamzah. Film itu mengambil inspirasi langsung dari legenda urban yang beredar di masyarakat.

Dalam film tersebut, diceritakan sosok Selina, seorang gadis yang memiliki indra keenam, pindah ke rumah besar berhias patung gurita di atapnya. Di sanalah ia menemukan ruangan rahasia berisi alat-alat ritual pemujaan gelap. Film ini tidak dibuat untuk mengungkap kebenaran, melainkan untuk menangkap ketakutan kolektif warga Bandung terhadap rumah misterius itu. Dengan suasana mencekam dan latar Bandung tempo dulu, film tersebut berhasil menghidupkan kembali imajinasi publik terhadap legenda Rumah Gurita.

Rumah ini bahkan sempat kembali menjadi sorotan ketika diberitakan dijual seharga Rp25 miliar. Dalam iklan properti yang sempat beredar, rumah tersebut digambarkan sebagai hunian mewah dengan desain klasik-modern, kolam renang luas, dan ruang keluarga besar di setiap lantai. Tak disebutkan sama sekali soal kisah mistis, meski banyak orang justru datang melihat karena penasaran dengan mitosnya.

Warga sekitar yang sudah lama tinggal di kawasan Sukagalih kini terbiasa dengan wisatawan lokal yang datang hanya untuk berfoto di depan rumah itu. Ada yang ingin membuktikan keberadaan patung gurita hitam, ada pula yang berharap menangkap “penampakan”. Namun, sebagian besar pulang dengan kesan yang sama: rumah itu memang tampak sunyi dan angker, tapi tidak ada apa-apa selain patung besar di atapnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)