Suara Pembebasan dan Agama-Agama yang Jarang Diceritakan

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Minggu 05 Okt 2025, 20:20 WIB
Toko Bernama "Religion" (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Toko Bernama "Religion" (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dalam sejarah panjang manusia, agama sering dipahami sebagai sesuatu yang mapan, sistem keyakinan besar dengan kitab suci, lembaga, dan pengikut yang luas. Namun, di balik cerita arus utama itu, ada banyak tradisi lain yang lahir dari keresahan sosial, dari jeritan ketidakadilan, dan dari keberanian untuk menantang tatanan yang dianggap harmoni.

Mereka tidak selalu bertahan dalam bentuk besar dan terorganisir, sebagian justru ditekan, disisihkan, atau dilupakan. Tetapi jejaknya masih bergema, menawarkan pelajaran penting tentang religiusitas yang bisa bersuara sebagai kritik sosial.

Den Mazdak

Pada abad ke-5 M, Kekaisaran Sassaniyah berdiri di atas jurang ketimpangan. Kaum bangsawan dan magi Zoroastrian hidup dalam kemewahan, sementara rakyat jelata dicekik kemiskinan. Dari kegelisahan sosial ini, muncul sosok karismatik bernama Mazdak. Ia bukan hanya seorang reformator, tetapi juga visioner yang berani melahirkan agama dengan cita-cita egalitarian.

Sejarawan Ehsan Yarshater dalam “Mazdakism” (The Cambridge History of Iran, Vol. 3(1), 1983) menegaskan bahwa inti ajaran Mazdak bertumpu pada empat pilar. Ialah komunalisme harta, revolusi dalam struktur keluarga, dualisme kosmik antara cahaya dan kegelapan, serta pasifisme radikal yang menolak kekerasan. Dengan kata lain, agama Mazdak adalah upaya radikal untuk mengubah struktur sosial, menggeser agama dari altar elit ke ruang hidup rakyat alit.

Didukung Raja Kavad I, gagasan ini menemukan tanah subur di kalangan petani, pengrajin, dan kaum miskin.

Mereka melihat Mazdak sebagai jalan “agama keadilan” yang memberi harapan baru. Namun, radikalisme yang menentang privilese elit akhirnya mengundang murka penguasa. Di bawah Khusraw Anushirvan, Mazdak dan ribuan pengikutnya dibantai.

Meski begitu, api yang sempat dinyalakan tidak padam sepenuhnya. Pada periode Islam awal, prinsip kolektivisme dan persaudaraan Mazdak masih hidup dalam komunitas Khurramis dan Qarmatis, dari desa-desa di Kufa hingga kota Lahsa abad ke-11. Di sana, harta dikumpulkan bersama, kebutuhan dipenuhi kolektif, dan kehidupan sosial diatur demi menegakkan keadilan.

Gerakan Sramana

Berabad-abad sebelum itu, di tanah India abad ke-6 sebelum masehi, altar-altar Brahmana dipenuhi api kurban, simbol dari dominasi ritual dan hirarki kasta. Namun dari balik asap dupa dan mantra, lahir sekelompok pengembara rohani yang memilih jalan berbeda. Mereka disebut Sramana, para “pengupas diri”, yang mencari kebenaran bukan dalam ritus dan kitab suci, melainkan dalam pengalaman, hening meditasi, dan disiplin batin.

Menurut Anish Chakravarty (2022) dalam “Sañjaya Belaṭṭhiputta and the Ancient Śramaṇa Tradition”, gerakan ini membawa semacam demokratisasi spiritual. Pencerahan tidak lagi dianggap hak eksklusif Brahmana, melainkan mungkin bagi tiap orang, termasuk perempuan, petani, atau bahkan pelacur. Kisah Ambapali, sang penari istana, dan Sujata, gadis desa sederhana, menjadi penanda bahwa cahaya kebenaran bisa singgah di hati siapa saja yang tulus mencarinya.

Sramana bukanlah tradisi tunggal. Johannes Bronkhorst dalam “Greater Magadha: Studies in the Culture of Early India” (2007) melihatnya sebagai hutan yang rimbun dengan jalur-jalur berliku. Di dalamnya hidup Jain yang menekankan asketisme ketat dan ahimsa mutlak, Ajivika yang percaya pada determinisme kosmik, dan Buddha yang meramu jalan tengah dengan menolak keabadian diri serta menawarkan Nirvana sebagai kebebasan sejati.

Di tepi hutan itu, suara lebih liar bergema. Carvaka atau Lokayata dengan materialisme ateistiknya yang menolak karma dan reinkarnasi, atau Ajnyana yang membawa skeptisisme hingga meruntuhkan segala kepastian.

Sramana tidak hanya mengguncang altar, tetapi juga singgasana.

Mereka menolak akumulasi kekayaan oleh elit dan menantang dogma yang membenarkan ketidakadilan. Dukungan raja-raja seperti Bimbisara dan Ajatashatru menunjukkan bahwa pengaruh mereka mampu melemahkan monopoli Brahmana. Dengan begitu, Sramana tidak sekadar jalan pertapaan, melainkan juga gerakan sosial yang menjadikan kesadaran sebagai senjata dan kebajikan sebagai perlawanan.

Mo Jia

Di tengah pergulatan Tiongkok zaman Negara-Negara Berperang (abad ke-5 SM), ketika ritual mewah dan upacara kerajaan menjadi alat kaum elit untuk meneguhkan kuasa, muncullah Mozi, seorang guru yang menantang arus. Bagi Mozi keadilan sosial tidak lahir dari musik istana atau pemakaman megah, melainkan dari kesederhanaan, kerja keras, dan kasih universal.

Chris Fraser dalam “The Philosophy of the Mozi: The First Consequentialists” (2016) menekankan bahwa Mo Jia berakar pada religiusitas yang kuat. Mozi melihat Tian, Sang Langit sebagai otoritas moral tertinggi yang mengawasi manusia. Langit menghendaki cinta yang merata, tanpa pilih kasih, sehingga tugas manusia adalah menata hidup sesuai perintah kosmik ini.

Namun Mo Jia tidak berhenti pada ajaran, ia membentuk komunitas yang disiplin, semacam “ordo tanpa biara” yang hidup sederhana, siap menolong rakyat miskin, bahkan berani menghadapi tirani. Ritus pun tetap ada, meski dibersihkan dari kemewahan.

Misal pemakaman secukupnya, penghormatan roh tanpa pemborosan, dan pengorbanan diganti dengan kesalehan praktis.

Dengan cara ini, Mo Jia berdiri sebagai agama-etika alternatif. Ia tidak mengajarkan keselamatan yang rumit di alam baka, tapi menegakkan keadilan di bumi. Ia juga tidak memuja musik dan persembahan mahal, tapi mengajarkan cinta universal dan solidaritas sosial. Dalam dunia yang retak oleh perang dan ketidakadilan, Mozi mengubah poros Tiongkok terhadap Langit dan roh menjadi dasar moral bagi masyarakat egaliter.

Rastafari

Berabad-abad kemudian, jauh di seberang lautan, sebuah gerakan religius lahir dari luka kolonialisme dan perbudakan. Rastafari muncul di Jamaika pada awal abad ke-20, sebagai jawaban atas penindasan rasial, kemiskinan, dan pencarian identitas religius kaum keturunan Afrika di Karibia.

Vivaldi Jean-Marie dalam “An Ethos of Blackness: Rastafari Cosmology, Culture, and Consciousness” (2023) menekankan bahwa Rastafari adalah lebih dari sekadar musik atau gaya hidup. Ia adalah kosmologi pembebasan. Bagi pengikutnya, Haile Selassie I, kaisar Ethiopia, adalah manifestasi ilahi, simbol kemenangan Afrika atas kolonialisme Eropa.

Akar Rastafari terletak pada gagasan Zion dan Babilon. Zion berarti tanah kebebasan, spiritual maupun nyata, yang diwujudkan dalam visi kembali ke Afrika. Babilon adalah simbol sistem penindasan, kapitalisme, dan supremasi kulit putih.

Dengan bahasa simbolik ini, Rastafari membentuk kritik tajam terhadap tatanan global.

Ritual mereka sederhana tapi penuh makna. Nyanyian nyabinghi, doa, pembacaan Alkitab dalam tafsir Afrosentris, dan penggunaan ganja sebagai medium menyatukan tubuh, roh, dan komunitas. Musik reggae menjadi corong global ajaran ini, terutama lewat Bob Marley, yang menjadikan Rastafari identik dengan perlawanan damai dan solidaritas lintas bangsa.

Meski sering dianggap pinggiran, Rastafari membalikkan narasi agama. Ia menegaskan bahwa Ilahi bisa berpihak pada kaum miskin dan terjajah, bahwa religiusitas bisa tumbuh dari musik, komunitas, dan identitas kulit hitam.

Refleksi

Apa yang kita baca di sini hanyalah sekelumit dari lautan tradisi religius yang ada di dunia. Masih banyak agama dan gerakan serupa lainnya, besar maupun kecil, populer maupun tersisih, yang lahir dari keresahan sosial dan dari dorongan untuk menegakkan keadilan.

Suara-suara itu mungkin tidak pernah terdengar oleh arus utama sejarah, tetapi jejaknya tetap hidup, membentuk cara manusia memahami diri, komunitas, dan dunianya hingga hari ini.

Baca Juga: Jain dan Sunda di Restoran 'Hijau' Bandung

Setiap tradisi memiliki keunikan dan lanskapnya sendiri, baik dalam ritual, etika, keyakinan, maupun cara melihat dunia. Tidak ada satu format dominan yang bisa mewakili semuanya. Membaca agama-agama ini melalui kerangka yang sama dengan agama besar bisa menutupi kedalaman dan karakter spesifiknya.

Dan dari sini kita belajar bahwa religiusitas kadang bukan hanya soal doktrin atau ritual, tetapi tentang keberanian menegakkan pembebasan. Tentu dengan memandang bahwa setiap tradisi punya caranya sendiri-sendiri. Dunia masih penuh dengan narasi-narasi semacam itu, menunggu untuk ditemukan, didengar, dan dipahami. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)