Suara Pembebasan dan Agama-Agama yang Jarang Diceritakan

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Toko Bernama "Religion" (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Toko Bernama "Religion" (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dalam sejarah panjang manusia, agama sering dipahami sebagai sesuatu yang mapan, sistem keyakinan besar dengan kitab suci, lembaga, dan pengikut yang luas. Namun, di balik cerita arus utama itu, ada banyak tradisi lain yang lahir dari keresahan sosial, dari jeritan ketidakadilan, dan dari keberanian untuk menantang tatanan yang dianggap harmoni.

Mereka tidak selalu bertahan dalam bentuk besar dan terorganisir, sebagian justru ditekan, disisihkan, atau dilupakan. Tetapi jejaknya masih bergema, menawarkan pelajaran penting tentang religiusitas yang bisa bersuara sebagai kritik sosial.

Den Mazdak

Pada abad ke-5 M, Kekaisaran Sassaniyah berdiri di atas jurang ketimpangan. Kaum bangsawan dan magi Zoroastrian hidup dalam kemewahan, sementara rakyat jelata dicekik kemiskinan. Dari kegelisahan sosial ini, muncul sosok karismatik bernama Mazdak. Ia bukan hanya seorang reformator, tetapi juga visioner yang berani melahirkan agama dengan cita-cita egalitarian.

Sejarawan Ehsan Yarshater dalam “Mazdakism” (The Cambridge History of Iran, Vol. 3(1), 1983) menegaskan bahwa inti ajaran Mazdak bertumpu pada empat pilar. Ialah komunalisme harta, revolusi dalam struktur keluarga, dualisme kosmik antara cahaya dan kegelapan, serta pasifisme radikal yang menolak kekerasan. Dengan kata lain, agama Mazdak adalah upaya radikal untuk mengubah struktur sosial, menggeser agama dari altar elit ke ruang hidup rakyat alit.

Didukung Raja Kavad I, gagasan ini menemukan tanah subur di kalangan petani, pengrajin, dan kaum miskin.

Mereka melihat Mazdak sebagai jalan “agama keadilan” yang memberi harapan baru. Namun, radikalisme yang menentang privilese elit akhirnya mengundang murka penguasa. Di bawah Khusraw Anushirvan, Mazdak dan ribuan pengikutnya dibantai.

Meski begitu, api yang sempat dinyalakan tidak padam sepenuhnya. Pada periode Islam awal, prinsip kolektivisme dan persaudaraan Mazdak masih hidup dalam komunitas Khurramis dan Qarmatis, dari desa-desa di Kufa hingga kota Lahsa abad ke-11. Di sana, harta dikumpulkan bersama, kebutuhan dipenuhi kolektif, dan kehidupan sosial diatur demi menegakkan keadilan.

Gerakan Sramana

Berabad-abad sebelum itu, di tanah India abad ke-6 sebelum masehi, altar-altar Brahmana dipenuhi api kurban, simbol dari dominasi ritual dan hirarki kasta. Namun dari balik asap dupa dan mantra, lahir sekelompok pengembara rohani yang memilih jalan berbeda. Mereka disebut Sramana, para “pengupas diri”, yang mencari kebenaran bukan dalam ritus dan kitab suci, melainkan dalam pengalaman, hening meditasi, dan disiplin batin.

Menurut Anish Chakravarty (2022) dalam “Sañjaya Belaṭṭhiputta and the Ancient Śramaṇa Tradition”, gerakan ini membawa semacam demokratisasi spiritual. Pencerahan tidak lagi dianggap hak eksklusif Brahmana, melainkan mungkin bagi tiap orang, termasuk perempuan, petani, atau bahkan pelacur. Kisah Ambapali, sang penari istana, dan Sujata, gadis desa sederhana, menjadi penanda bahwa cahaya kebenaran bisa singgah di hati siapa saja yang tulus mencarinya.

Sramana bukanlah tradisi tunggal. Johannes Bronkhorst dalam “Greater Magadha: Studies in the Culture of Early India” (2007) melihatnya sebagai hutan yang rimbun dengan jalur-jalur berliku. Di dalamnya hidup Jain yang menekankan asketisme ketat dan ahimsa mutlak, Ajivika yang percaya pada determinisme kosmik, dan Buddha yang meramu jalan tengah dengan menolak keabadian diri serta menawarkan Nirvana sebagai kebebasan sejati.

Di tepi hutan itu, suara lebih liar bergema. Carvaka atau Lokayata dengan materialisme ateistiknya yang menolak karma dan reinkarnasi, atau Ajnyana yang membawa skeptisisme hingga meruntuhkan segala kepastian.

Sramana tidak hanya mengguncang altar, tetapi juga singgasana.

Mereka menolak akumulasi kekayaan oleh elit dan menantang dogma yang membenarkan ketidakadilan. Dukungan raja-raja seperti Bimbisara dan Ajatashatru menunjukkan bahwa pengaruh mereka mampu melemahkan monopoli Brahmana. Dengan begitu, Sramana tidak sekadar jalan pertapaan, melainkan juga gerakan sosial yang menjadikan kesadaran sebagai senjata dan kebajikan sebagai perlawanan.

Mo Jia

Di tengah pergulatan Tiongkok zaman Negara-Negara Berperang (abad ke-5 SM), ketika ritual mewah dan upacara kerajaan menjadi alat kaum elit untuk meneguhkan kuasa, muncullah Mozi, seorang guru yang menantang arus. Bagi Mozi keadilan sosial tidak lahir dari musik istana atau pemakaman megah, melainkan dari kesederhanaan, kerja keras, dan kasih universal.

Chris Fraser dalam “The Philosophy of the Mozi: The First Consequentialists” (2016) menekankan bahwa Mo Jia berakar pada religiusitas yang kuat. Mozi melihat Tian, Sang Langit sebagai otoritas moral tertinggi yang mengawasi manusia. Langit menghendaki cinta yang merata, tanpa pilih kasih, sehingga tugas manusia adalah menata hidup sesuai perintah kosmik ini.

Namun Mo Jia tidak berhenti pada ajaran, ia membentuk komunitas yang disiplin, semacam “ordo tanpa biara” yang hidup sederhana, siap menolong rakyat miskin, bahkan berani menghadapi tirani. Ritus pun tetap ada, meski dibersihkan dari kemewahan.

Misal pemakaman secukupnya, penghormatan roh tanpa pemborosan, dan pengorbanan diganti dengan kesalehan praktis.

Dengan cara ini, Mo Jia berdiri sebagai agama-etika alternatif. Ia tidak mengajarkan keselamatan yang rumit di alam baka, tapi menegakkan keadilan di bumi. Ia juga tidak memuja musik dan persembahan mahal, tapi mengajarkan cinta universal dan solidaritas sosial. Dalam dunia yang retak oleh perang dan ketidakadilan, Mozi mengubah poros Tiongkok terhadap Langit dan roh menjadi dasar moral bagi masyarakat egaliter.

Rastafari

Berabad-abad kemudian, jauh di seberang lautan, sebuah gerakan religius lahir dari luka kolonialisme dan perbudakan. Rastafari muncul di Jamaika pada awal abad ke-20, sebagai jawaban atas penindasan rasial, kemiskinan, dan pencarian identitas religius kaum keturunan Afrika di Karibia.

Vivaldi Jean-Marie dalam “An Ethos of Blackness: Rastafari Cosmology, Culture, and Consciousness” (2023) menekankan bahwa Rastafari adalah lebih dari sekadar musik atau gaya hidup. Ia adalah kosmologi pembebasan. Bagi pengikutnya, Haile Selassie I, kaisar Ethiopia, adalah manifestasi ilahi, simbol kemenangan Afrika atas kolonialisme Eropa.

Akar Rastafari terletak pada gagasan Zion dan Babilon. Zion berarti tanah kebebasan, spiritual maupun nyata, yang diwujudkan dalam visi kembali ke Afrika. Babilon adalah simbol sistem penindasan, kapitalisme, dan supremasi kulit putih.

Dengan bahasa simbolik ini, Rastafari membentuk kritik tajam terhadap tatanan global.

Ritual mereka sederhana tapi penuh makna. Nyanyian nyabinghi, doa, pembacaan Alkitab dalam tafsir Afrosentris, dan penggunaan ganja sebagai medium menyatukan tubuh, roh, dan komunitas. Musik reggae menjadi corong global ajaran ini, terutama lewat Bob Marley, yang menjadikan Rastafari identik dengan perlawanan damai dan solidaritas lintas bangsa.

Meski sering dianggap pinggiran, Rastafari membalikkan narasi agama. Ia menegaskan bahwa Ilahi bisa berpihak pada kaum miskin dan terjajah, bahwa religiusitas bisa tumbuh dari musik, komunitas, dan identitas kulit hitam.

Refleksi

Apa yang kita baca di sini hanyalah sekelumit dari lautan tradisi religius yang ada di dunia. Masih banyak agama dan gerakan serupa lainnya, besar maupun kecil, populer maupun tersisih, yang lahir dari keresahan sosial dan dari dorongan untuk menegakkan keadilan.

Suara-suara itu mungkin tidak pernah terdengar oleh arus utama sejarah, tetapi jejaknya tetap hidup, membentuk cara manusia memahami diri, komunitas, dan dunianya hingga hari ini.

Baca Juga: Jain dan Sunda di Restoran 'Hijau' Bandung

Setiap tradisi memiliki keunikan dan lanskapnya sendiri, baik dalam ritual, etika, keyakinan, maupun cara melihat dunia. Tidak ada satu format dominan yang bisa mewakili semuanya. Membaca agama-agama ini melalui kerangka yang sama dengan agama besar bisa menutupi kedalaman dan karakter spesifiknya.

Dan dari sini kita belajar bahwa religiusitas kadang bukan hanya soal doktrin atau ritual, tetapi tentang keberanian menegakkan pembebasan. Tentu dengan memandang bahwa setiap tradisi punya caranya sendiri-sendiri. Dunia masih penuh dengan narasi-narasi semacam itu, menunggu untuk ditemukan, didengar, dan dipahami. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)