Jarot Sigh (Jarjit Singh): Sikh dalam Animasi Humor Sunda

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Karakter Jarot Sigh dalam Episode "tutorial diamuk bapak (dubbing sunda)" (Sumber: Saluran YouTube RIFIRDUS | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Karakter Jarot Sigh dalam Episode "tutorial diamuk bapak (dubbing sunda)" (Sumber: Saluran YouTube RIFIRDUS | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di YouTube, RIFIRDUS menjadi kanal animasi yang berhasil menangkap keseharian orang muda Sunda kiwari, dari satir ekonomi sampai kebiasaan kecil yang mungkin bikin kita tersenyum sendiri. Kanal ini aktif sejak 24 September 2016 dengan 995 ribu subscriber dan lebih dari 234 juta tayangan.

RIFIRDUS menampilkan animasi bergaya kartun, misalnya karakter yang terinspirasi dari Upin dan Ipin tapi diplesetkan ke versi Sunda. Tokohnya, seperti Ucup, Ecep, dan Jarot Sigh. Mereka bercanda, berinteraksi dengan sebaya, dan mengatur ulang relasi sosial dengan obrolan dan humor yang khas. Seperti barudak ngora Sunda pada umumnya.

Jarot Sigh bukan sekadar parodi dari Jarjit Singh. Ia adalah tokoh yang hidup di antara tawa dan kekacauan, setiap pantunnya membuka celah humor yang rasnaya Sunda banget. Penulisan namanya “Jarot Sigh” jelas sebagai usaha membumikan karakter ini ke lidah Sunda, dengan patka merahnya yang tetap mencolok sebagai tanda seorang Sikh.

Jarot juga mempertahankan logat Melayu, meski kini sudah disesuaikan dengan gaya tongkrongan kita. Penuh bahasa loma, ejekan, dan kesan nakal yang justru menjadi simbol keakraban. Seru dan menghibur.

Video-videonya

Dalam salah satu video, “Djarot Sigh Main Mobile Legends Moment”, Jarot meluncurkan pantun “dua tiga jalan belok, aing ngiluan goblok”. Salah seorang teman menegurnya karena pantun itu dianggap pamali yang bisa menyebabkan bisul, sementara teman lain menambahkan komentar “masuk neraka.” Adegan ini menampilkan Jarot yang lugu, sekaligus jadi korban perundungan halus. Ia disingkirkan dari permainan sebaya, akunnya di-ban, dan hp-nya dihina “kentang.”

Di kolom komentar, @adensajah4927 mengabadikan momen ini dengan “2,3 Djarot sing si Jarot beuki ngising,” menandakan cara warga menertawakan sekaligus merangkul karakter ini. 

Humor Jarot tak melulu digambarkan sebagai ejekan atau kekonyolan biasa. Di video “Tutorial Diamuk Bapak”, pantunnya “dua tiga burung kenari, kalian semua anak babi” ia mengacungkan jari tengahnya begitu saja. Teman-temannya hanya menatap, bingung, dan memilih membiarkan Jarot sendiri. Sekali lagi, di sini Jarot disingkirkan dengan cara yang tidak terang-terangan, sikapnya dinilai freak.

Jarot hadir dalam interaksi yang lebih kompleks. Ia sempat menjadi jin yang memberi permintaan seseorang lewat konten “Lu Telat Ngen***”. Di sini posisinya lumayan agak simetris.

Dalam “Jarot Malaysia Ketemu Incu Bag*ng”, ia diperkenalkan kepada kakek dari temannya, dan ketika ditanya namanya, ia menjawab dengan pantun khasnya “dua tiga bulu jembot, namaku Jarot”. Ia lalu ditawari makan meski inginnya McD, dan akhirnya tetap diberi. Ia mengesalkan, ia mengganggu tapi tetap dicintai.

Komentar penggemar menegaskan hal ini, @arnadittv9814 bertanya kapan Jarot akan muncul lagi, sementara @SsainsS menekankan kemiripannya dengan Jarjit yang asli.

Dalam video “SiJarot Gabung Circle Ucup Ecep”, Jarot diajak menjadi bagian dari syuting lagu. Namun, kehadirannya memunculkan tekanan untuk menyesuaikan diri. Si Ecep mengusulkan bahwa lirik lagu harus diubah, namanya Jarot mesti diganti menjadi Asep sebagai syarat masuk circle tersebut. Momen ini menyoroti penyangkalan identitasnya Jarot.

Dalam konten “Episode Full Ucup Ecep” terungkap bahwa Jarot adalah adik Ecep, sebuah fakta yang mengejutkan sekaligus membuatnya berada dalam posisi yang bisa dimanfaatkan. Ia menjadi adik yang harus patuh, mudah disuruh-suruh.

Jarot bahkan ditampilkan juga sebagai sumber konflik kecil dalam keluarga. Di video “Ini yang Akan Terjadi Kalau Kalian Punya Adik”, pantun “dua tiga anjing edan, rek naraon setan” muncul ketika ia mengganggu kakaknya. Kakaknya marah, Jarot menangis, dan ibunya ikut menegur.

Identitas yang Tawar Menawar

Jarot Sigh menarik, menerjemahkan Jartit Singh, dan menghadirkan identitas Sikh dalam media populer Sunda. Sesuatu yang masih langka ditemui di tengah-tengah kita. Aksesoris dan identitas utamanya, di kepala yang selalu ia kenakan. Patka digunakan anak laki-laki Sikh untuk menutupi rambut yang belum dipotong (kesh). Tanda visual yang langsung dikenali oleh kita.

Pantun-pantunnya yang khas dan logat Melayu serta sesekali celetukan Sundanya menandai perbedaan budaya dan bahasa dalam satu tubuh. Identitas Jarot tidak muncul lewat ritual atau teks suci. Tapi ia hadir secara performatif, melebur dengan tingkah laku lugu, canda, dan interaksi sosial sehari-hari.

Jarot bukan sekadar tokoh animasi penghibur. Kehadirannya membuka ruang kita untuk menyadari bahwa agama dan budaya bisa menembus ranah hiburan. Ia muncul di sela tawa, menyelangi ejekan, dan lelucon yang tampak ringan dalam wajah Sunda hari ini.

Humor Jarot, pantunnya, dan sikap usilnya juga medium tawar-menawar yang perlu kita perhatikan. Ia kerap menjadi sasaran ejekan atau perundungan halus, keluguan membuat dirinya tetap dirangkul sekaligus dipinggirkan dalam komunitasnya. Ia menantang, mengganggu, tapi juga mengundang pengakuan. Identitasnya diuji lewat perjumpaan sehari-hari, diterima atau diasingkan, dianggap lucu atau menjengkelkan, dijadikan bahan bercanda atau diabaikan. 

Di balik tawa kita sebagai penontonnya, Jarot Sigh hadir menjadi bagian dari keutuhan wacana Sunda soal keakraban. Bahasa loma yang dulu dipandang sebagau ragam kasar yang menunjukkan kelas sosial rendahan, topik cawokah soal seksualitas yang simbolik, sampai hinaan dan keintiman yang jaraknya beda tipis.  

Sketsa Salah Satu Tokoh Sikh (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Sketsa Salah Satu Tokoh Sikh (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Jarot Sigh dalam saluran RIFIRDUS menunjukkan bahwa identitas bukanlah esensi yang tetap, seperti ditegaskan Stuart Hall dalam “Cultural Identity and Diaspora” (1990). Identitas semacam medium performatif yang menegosiasikan penerimaan, penolakan, dan keakraban dalam komunitas. Jarot Sigh menempatkan identitas Sikh dan budaya Sunda dalam dinamika sosial yang kompleks. Humor dan leluconnya menciptakan ruang hibriditas ketika simbol agama, praktik budaya, dan media populer saling bersinggungan.

Sisi yang tak kalah penting ialah banyak hal relate dalam hidup kita yang berhasil diwakilkan dalam karakter Jarot Sigh dan dunianya ini. Termasuk menyingkap relasi kekuasaan dan hierarki sosial. Humor kadang menjadi senjata sekaligus tameng, cara untuk mengakui perbedaan sekaligus meliyankan yang lain. Dan di komunitas barudak ngora Sunda semua ini tampil menunjukkan reka adegan yang sebenarnya.

Selalu Disalah Pahami

Rana dan kawan-kawan lewat "Mistaken Identities: The Media and Parental Ethno-Religious Socialization in a Midwestern Sikh Community" (Religions, 2019) menyoroti situasi stereotip pasca-peristiwa 11 September membentuk sosialisasi etno-agama orang tua Sikh di Midwest, Amerika Serikat. Anak laki-laki Sikh sering disalahpahami sebagai muslim atau teroris karena turban dan janggutnya, menghadirkan risiko diskriminasi, perundungan, dan kekerasan fisik yang tinggi.

Sebagai respons, orang tua kadang menanggalkan penanda fisik ini di ruang publik, meski tetap menanamkan nilai Sikh melalui praktik di Gurdwara dan media warisan. Literatur Punjabi, rekaman keagamaan, dan siaran televisi India sangat diandalkan. Mereka juga mendidik masyarakat lewat interaksi langsung, parade budaya, dan solidaritas dengan minoritas lain.

Di tempat yang berbeda, dalam "The Lived Experience of Racism in the Sikh Community" (Journal of Interpersonal Violence, 2023), Gayle Brewer dan kawan-kawan menelusuri pengalaman rasisme orang dewasa Sikh di Inggris melalui wawancara enam partisipan. Turban dan janggut memang sering disalahpahami sebagai simbol muslim atau teroris, menjadikan rasisme bagian sehari-hari.

Untuk bertahan, sebagian mereka menyesuaikan penampilan atau mengambil nilai agama sebagai sandaran psikologis dan sosial, sambil aktif mendidik orang lain tentang Sikh dan menegakkan intervensi sosial ketika menyaksikan diskriminasi yang terjadi.

Sikh kerap disalahpahami, seolah-olah menjadi fenomena yang lumrah di dunia kita hari ini. 

Jadi Apa itu Sikh?

Eleanor Nesbitt dalam “Sikhism: A Very Short Introduction” (2005), memandang bahwa Sikh sering disalahpahami karena citranya di media terbatas pada turban, pedang, atau rambut yang tidak dipotong. Padahal Sikhisme lebih dari simbol-simbol itu. Ajarannya menekankan disiplin spiritual, harmoni, dan hubungan dengan Tuhan.

Kata “Sikh” sendiri berarti murid atau pengikut Guru, dari kata Punjabi sikhna “belajar”, dan komunitas Sikh disebut Panth. Jalannya disebut Sikhi atau Gursikhi, dengan keyakinan pada satu Tuhan yang abadi, sepuluh Guru, kitab suci Guru Granth Sahib, serta ajaran dan upacara pengikraran Guru terakhir.

Sikh juga sering dianggap sebagai cabang atau gabungan dari Hindu dan Islam. Meskipun ia memiliki identitas, ritual, kalender, tempat ibadah, dan sejarah komunitas sendiri. Munculnya Sikh di Punjab memang berinteraksi dengan tradisi Hindu, dengan konsep sampradaya, karma, dan reinkarnasi. Termasuk dengan Islam, khususnya monoteisme dan penghormatan pada kitab suci.

Namun perjumpaan ini bukan berarti Sikh hanyalah sebuah sinkretisme. Ia berkembang sebagai tradisi yang unik dan penuh makna.

Selain konteks religius, identitas Punjabi sangat mempengaruhi Sikh. Bahasanya, musik seperti bhangra, cerita rakyat seperti Hir-Ranjha, dan nilai sosial seperti keramahan dan izzat (kehormatan) membentuk budaya Sikh. Isu gender dan kasta juga tercermin dalam praktik hidup. Komunitas Sikh yang tersebar di seluruh dunia tetap mempertahankan ikatan dengan Punjab dan tradisi lokalnya, menunjukkan cara agama, budaya, dan identitas saling terkait dalam pengalaman Sikh yang kompleks.

Di sinilah kita akan mengakhiri tulisan ini. Dan di sinilah kita akan selalu mengingat bahwa Sikh bukan sekadar simbol atau bahkan stereotip, melainkan sebuah agama yang terbentuk dari ajaran Guru, praktik sosial, dan tradisi yang kaya. Kehadiran karakter seperti Jarot Sigh memperlihatkan soal identitas agama yang bisa tampil secara kreatif, menghibur, dan sekaligus menegosiasikan pengakuan yang kadang bersikap negatif dalam masyarakat Sunda. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)