Jarot Sigh (Jarjit Singh): Sikh dalam Animasi Humor Sunda

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Jumat 03 Okt 2025, 17:06 WIB
Karakter Jarot Sigh dalam Episode "tutorial diamuk bapak (dubbing sunda)" (Sumber: Saluran YouTube RIFIRDUS | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Karakter Jarot Sigh dalam Episode "tutorial diamuk bapak (dubbing sunda)" (Sumber: Saluran YouTube RIFIRDUS | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di YouTube, RIFIRDUS menjadi kanal animasi yang berhasil menangkap keseharian orang muda Sunda kiwari, dari satir ekonomi sampai kebiasaan kecil yang mungkin bikin kita tersenyum sendiri. Kanal ini aktif sejak 24 September 2016 dengan 995 ribu subscriber dan lebih dari 234 juta tayangan.

RIFIRDUS menampilkan animasi bergaya kartun, misalnya karakter yang terinspirasi dari Upin dan Ipin tapi diplesetkan ke versi Sunda. Tokohnya, seperti Ucup, Ecep, dan Jarot Sigh. Mereka bercanda, berinteraksi dengan sebaya, dan mengatur ulang relasi sosial dengan obrolan dan humor yang khas. Seperti barudak ngora Sunda pada umumnya.

Jarot Sigh bukan sekadar parodi dari Jarjit Singh. Ia adalah tokoh yang hidup di antara tawa dan kekacauan, setiap pantunnya membuka celah humor yang rasnaya Sunda banget. Penulisan namanya “Jarot Sigh” jelas sebagai usaha membumikan karakter ini ke lidah Sunda, dengan patka merahnya yang tetap mencolok sebagai tanda seorang Sikh.

Jarot juga mempertahankan logat Melayu, meski kini sudah disesuaikan dengan gaya tongkrongan kita. Penuh bahasa loma, ejekan, dan kesan nakal yang justru menjadi simbol keakraban. Seru dan menghibur.

Video-videonya

Dalam salah satu video, “Djarot Sigh Main Mobile Legends Moment”, Jarot meluncurkan pantun “dua tiga jalan belok, aing ngiluan goblok”. Salah seorang teman menegurnya karena pantun itu dianggap pamali yang bisa menyebabkan bisul, sementara teman lain menambahkan komentar “masuk neraka.” Adegan ini menampilkan Jarot yang lugu, sekaligus jadi korban perundungan halus. Ia disingkirkan dari permainan sebaya, akunnya di-ban, dan hp-nya dihina “kentang.”

Di kolom komentar, @adensajah4927 mengabadikan momen ini dengan “2,3 Djarot sing si Jarot beuki ngising,” menandakan cara warga menertawakan sekaligus merangkul karakter ini. 

Humor Jarot tak melulu digambarkan sebagai ejekan atau kekonyolan biasa. Di video “Tutorial Diamuk Bapak”, pantunnya “dua tiga burung kenari, kalian semua anak babi” ia mengacungkan jari tengahnya begitu saja. Teman-temannya hanya menatap, bingung, dan memilih membiarkan Jarot sendiri. Sekali lagi, di sini Jarot disingkirkan dengan cara yang tidak terang-terangan, sikapnya dinilai freak.

Jarot hadir dalam interaksi yang lebih kompleks. Ia sempat menjadi jin yang memberi permintaan seseorang lewat konten “Lu Telat Ngen***”. Di sini posisinya lumayan agak simetris.

Dalam “Jarot Malaysia Ketemu Incu Bag*ng”, ia diperkenalkan kepada kakek dari temannya, dan ketika ditanya namanya, ia menjawab dengan pantun khasnya “dua tiga bulu jembot, namaku Jarot”. Ia lalu ditawari makan meski inginnya McD, dan akhirnya tetap diberi. Ia mengesalkan, ia mengganggu tapi tetap dicintai.

Komentar penggemar menegaskan hal ini, @arnadittv9814 bertanya kapan Jarot akan muncul lagi, sementara @SsainsS menekankan kemiripannya dengan Jarjit yang asli.

Dalam video “SiJarot Gabung Circle Ucup Ecep”, Jarot diajak menjadi bagian dari syuting lagu. Namun, kehadirannya memunculkan tekanan untuk menyesuaikan diri. Si Ecep mengusulkan bahwa lirik lagu harus diubah, namanya Jarot mesti diganti menjadi Asep sebagai syarat masuk circle tersebut. Momen ini menyoroti penyangkalan identitasnya Jarot.

Dalam konten “Episode Full Ucup Ecep” terungkap bahwa Jarot adalah adik Ecep, sebuah fakta yang mengejutkan sekaligus membuatnya berada dalam posisi yang bisa dimanfaatkan. Ia menjadi adik yang harus patuh, mudah disuruh-suruh.

Jarot bahkan ditampilkan juga sebagai sumber konflik kecil dalam keluarga. Di video “Ini yang Akan Terjadi Kalau Kalian Punya Adik”, pantun “dua tiga anjing edan, rek naraon setan” muncul ketika ia mengganggu kakaknya. Kakaknya marah, Jarot menangis, dan ibunya ikut menegur.

Identitas yang Tawar Menawar

Jarot Sigh menarik, menerjemahkan Jartit Singh, dan menghadirkan identitas Sikh dalam media populer Sunda. Sesuatu yang masih langka ditemui di tengah-tengah kita. Aksesoris dan identitas utamanya, di kepala yang selalu ia kenakan. Patka digunakan anak laki-laki Sikh untuk menutupi rambut yang belum dipotong (kesh). Tanda visual yang langsung dikenali oleh kita.

Pantun-pantunnya yang khas dan logat Melayu serta sesekali celetukan Sundanya menandai perbedaan budaya dan bahasa dalam satu tubuh. Identitas Jarot tidak muncul lewat ritual atau teks suci. Tapi ia hadir secara performatif, melebur dengan tingkah laku lugu, canda, dan interaksi sosial sehari-hari.

Jarot bukan sekadar tokoh animasi penghibur. Kehadirannya membuka ruang kita untuk menyadari bahwa agama dan budaya bisa menembus ranah hiburan. Ia muncul di sela tawa, menyelangi ejekan, dan lelucon yang tampak ringan dalam wajah Sunda hari ini.

Humor Jarot, pantunnya, dan sikap usilnya juga medium tawar-menawar yang perlu kita perhatikan. Ia kerap menjadi sasaran ejekan atau perundungan halus, keluguan membuat dirinya tetap dirangkul sekaligus dipinggirkan dalam komunitasnya. Ia menantang, mengganggu, tapi juga mengundang pengakuan. Identitasnya diuji lewat perjumpaan sehari-hari, diterima atau diasingkan, dianggap lucu atau menjengkelkan, dijadikan bahan bercanda atau diabaikan. 

Di balik tawa kita sebagai penontonnya, Jarot Sigh hadir menjadi bagian dari keutuhan wacana Sunda soal keakraban. Bahasa loma yang dulu dipandang sebagau ragam kasar yang menunjukkan kelas sosial rendahan, topik cawokah soal seksualitas yang simbolik, sampai hinaan dan keintiman yang jaraknya beda tipis.  

Sketsa Salah Satu Tokoh Sikh (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Sketsa Salah Satu Tokoh Sikh (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Jarot Sigh dalam saluran RIFIRDUS menunjukkan bahwa identitas bukanlah esensi yang tetap, seperti ditegaskan Stuart Hall dalam “Cultural Identity and Diaspora” (1990). Identitas semacam medium performatif yang menegosiasikan penerimaan, penolakan, dan keakraban dalam komunitas. Jarot Sigh menempatkan identitas Sikh dan budaya Sunda dalam dinamika sosial yang kompleks. Humor dan leluconnya menciptakan ruang hibriditas ketika simbol agama, praktik budaya, dan media populer saling bersinggungan.

Sisi yang tak kalah penting ialah banyak hal relate dalam hidup kita yang berhasil diwakilkan dalam karakter Jarot Sigh dan dunianya ini. Termasuk menyingkap relasi kekuasaan dan hierarki sosial. Humor kadang menjadi senjata sekaligus tameng, cara untuk mengakui perbedaan sekaligus meliyankan yang lain. Dan di komunitas barudak ngora Sunda semua ini tampil menunjukkan reka adegan yang sebenarnya.

Selalu Disalah Pahami

Rana dan kawan-kawan lewat "Mistaken Identities: The Media and Parental Ethno-Religious Socialization in a Midwestern Sikh Community" (Religions, 2019) menyoroti situasi stereotip pasca-peristiwa 11 September membentuk sosialisasi etno-agama orang tua Sikh di Midwest, Amerika Serikat. Anak laki-laki Sikh sering disalahpahami sebagai muslim atau teroris karena turban dan janggutnya, menghadirkan risiko diskriminasi, perundungan, dan kekerasan fisik yang tinggi.

Sebagai respons, orang tua kadang menanggalkan penanda fisik ini di ruang publik, meski tetap menanamkan nilai Sikh melalui praktik di Gurdwara dan media warisan. Literatur Punjabi, rekaman keagamaan, dan siaran televisi India sangat diandalkan. Mereka juga mendidik masyarakat lewat interaksi langsung, parade budaya, dan solidaritas dengan minoritas lain.

Di tempat yang berbeda, dalam "The Lived Experience of Racism in the Sikh Community" (Journal of Interpersonal Violence, 2023), Gayle Brewer dan kawan-kawan menelusuri pengalaman rasisme orang dewasa Sikh di Inggris melalui wawancara enam partisipan. Turban dan janggut memang sering disalahpahami sebagai simbol muslim atau teroris, menjadikan rasisme bagian sehari-hari.

Untuk bertahan, sebagian mereka menyesuaikan penampilan atau mengambil nilai agama sebagai sandaran psikologis dan sosial, sambil aktif mendidik orang lain tentang Sikh dan menegakkan intervensi sosial ketika menyaksikan diskriminasi yang terjadi.

Sikh kerap disalahpahami, seolah-olah menjadi fenomena yang lumrah di dunia kita hari ini. 

Jadi Apa itu Sikh?

Eleanor Nesbitt dalam “Sikhism: A Very Short Introduction” (2005), memandang bahwa Sikh sering disalahpahami karena citranya di media terbatas pada turban, pedang, atau rambut yang tidak dipotong. Padahal Sikhisme lebih dari simbol-simbol itu. Ajarannya menekankan disiplin spiritual, harmoni, dan hubungan dengan Tuhan.

Kata “Sikh” sendiri berarti murid atau pengikut Guru, dari kata Punjabi sikhna “belajar”, dan komunitas Sikh disebut Panth. Jalannya disebut Sikhi atau Gursikhi, dengan keyakinan pada satu Tuhan yang abadi, sepuluh Guru, kitab suci Guru Granth Sahib, serta ajaran dan upacara pengikraran Guru terakhir.

Sikh juga sering dianggap sebagai cabang atau gabungan dari Hindu dan Islam. Meskipun ia memiliki identitas, ritual, kalender, tempat ibadah, dan sejarah komunitas sendiri. Munculnya Sikh di Punjab memang berinteraksi dengan tradisi Hindu, dengan konsep sampradaya, karma, dan reinkarnasi. Termasuk dengan Islam, khususnya monoteisme dan penghormatan pada kitab suci.

Namun perjumpaan ini bukan berarti Sikh hanyalah sebuah sinkretisme. Ia berkembang sebagai tradisi yang unik dan penuh makna.

Selain konteks religius, identitas Punjabi sangat mempengaruhi Sikh. Bahasanya, musik seperti bhangra, cerita rakyat seperti Hir-Ranjha, dan nilai sosial seperti keramahan dan izzat (kehormatan) membentuk budaya Sikh. Isu gender dan kasta juga tercermin dalam praktik hidup. Komunitas Sikh yang tersebar di seluruh dunia tetap mempertahankan ikatan dengan Punjab dan tradisi lokalnya, menunjukkan cara agama, budaya, dan identitas saling terkait dalam pengalaman Sikh yang kompleks.

Di sinilah kita akan mengakhiri tulisan ini. Dan di sinilah kita akan selalu mengingat bahwa Sikh bukan sekadar simbol atau bahkan stereotip, melainkan sebuah agama yang terbentuk dari ajaran Guru, praktik sosial, dan tradisi yang kaya. Kehadiran karakter seperti Jarot Sigh memperlihatkan soal identitas agama yang bisa tampil secara kreatif, menghibur, dan sekaligus menegosiasikan pengakuan yang kadang bersikap negatif dalam masyarakat Sunda. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)