Melacak Api Zoroaster di Kehidupan Sunda Kontemporer

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Unggahan Akun Instagram @indocapsclub_bandung (30/09/22) yang Menampilkan Topi dengan Lambang Faravahar (Sumber: https://www.instagram.com/p/CjHdSdQvV45/?igsh=b3ZzbWxxMGhub3o= | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Unggahan Akun Instagram @indocapsclub_bandung (30/09/22) yang Menampilkan Topi dengan Lambang Faravahar (Sumber: https://www.instagram.com/p/CjHdSdQvV45/?igsh=b3ZzbWxxMGhub3o= | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di tengah ingar-bingar dunia Sunda modern, sebuah komunitas pecinta topi dengan akun Instagram @indocapsclub_bandung tampil menarik perhatian. Lewat bio profilnya "Pecinta Topi dari Tanah Sunda" komunitas ini membawa simbol yang unik ke dunia masa kini.

Salah satu unggahan (30/09/22) menampilkan topi hitam dengan lambang Faravahar, lengkap dengan caption “Justfitted Faravahar – Think Good, Talk Good, Do Good – Fitted Cap 7 5/8”. Admin akun mengakui dengan tegas bahwa desain topi ini terinspirasi dari simbol terkenal dalam Zoroastrianisme, salah satu agama tertua yang berasal dari Iran Raya.

Dalam bukunya “Reclaiming the Faravahar: Zoroastrian Survival in Contemporary Tehran” (2014), Navid Fozi menunjukkan bahwa Faravahar bukan hanya sekadar simbol religius, melainkan juga ikon identitas yang terus hidup di Iran modern. Dalam tafsir ajaran Zoroastrian masa kini, Faravahar dipahami sebagai pancaran cahaya Ahura Mazda yang bersemayam dalam diri manusia.

Sosok bersayap dengan kepala bergaya Achaemenid ini merangkum kosmologi Zoroastrian. Sayapnya terbagi tiga melambangkan pikiran, kata, dan perbuatan baik, ekornya mencerminkan kebalikannya, cincin di tengah menandakan waktu abadi, tangan kanan menunjuk ke depan sebagai ajakan pada jalan kebaikan, sedangkan tangan kiri menggenggam cincin janji etis.

Fozi juga menekankan bahwa dalam konteks Iran kontemporer, Faravahar telah melampaui batas keagamaan dan tampil di kalung, lukisan, hingga ornamen publik sebagai simbol kebanggaan nasional Persia. Meski kerap diperlakukan sekadar fesyen atau ikon sekuler, popularitas Faravahar justru memperkuat visibilitas tradisi Zoroastrian di ruang publik kiwari.

Keberadaan simbol Zoroastrian di masyarakat Sunda modern melalui komunitas ini menunjukkan soal warisan religi lama yang menemukan relevansi baru dalam budaya yang berbeda. Meski berasal dari dunia Persia lampau, prinsip Zoroastrianisme tentang moralitas dipandang sejalan dengan nilai-nilai orang Sunda kekinian. Logo komunitas yang menampilkan figur merah bergigi ompong mirip Si Cepot, menyatukan simbol sakral khas Zoroastrian dengan kesundaan, menciptakan dialog budaya yang unik.

Dengan sikapnya yang nyentrik dan terbuka, komunitas topi Bandung ini jelas membuktikan bahwa identitas Sunda modern tidaklah statis, melainkan ruang pertemuan yang cair.

Yang Dicatat oleh Orang Sunda

Di perbendaharaan Sunda hari ini, agama para Zoroastrian masih seperti bayang yang samar, jarang dikenal, meski jejaknya terselip halus dalam budaya kita.

Kamus SundaDigi milik Pusat Budaya Sunda Universitas Padjadjaran mencatatnya dengan nada yang ringkas namun penuh makna.

Zoroaster nyaéta (kb) I. agama kuno di Persia anu kitab sucina disebut Avésta: Bangsa Persia kawarti, filsafatna nu kasohor, sadunya sidik kamashur, sok komo ajaran Nabi, zoroaster kasebatna, husus keur bangsa Persia. II. anu ngadegkeun agama Zoroaster: Kitu deui Zarathustra atanapi zoroaster, asalna ti lingkungan istana.

Di samping itu, terdapat juga entri Majusi yang menyingkap pada keberadaan agama penyembah api, tukang sulap, atau tukang sihir. Bahkan kata tersebut dalam kamus SundaDigi juga dimuat sebagai contoh nama orang yang sedang beraktivitas dengan api. Kalimatnya adalah sebagai berikut.

Peureum baé Majusi bari sasambat, bawaning selang-seling, tuluy disundutan, upet tina kakasang, reujeung seuneuna sakali, upetna tapas, leutik sami jeung bitis.

Pada ranah budaya populer Sunda, istilah yang sama juga muncul. Sebagai pembanding, di YouTube terdapat konten ceramah yang berjudul Hikayat Ki Majusi Tobat yang diunggah oleh saluran Kiyai Kobonk. Seolah menandai bahwa meski asing dan berjarak, api Zoroastrian tetap menyala di ruang percakapan orang Sunda, lembut tak padam.

Dari Majusi ke Mazdayasna

Tapi tahukah kita, bahwa kata Majusi yang kita warisi tersebut bagaikan benang halus yang mengikat dunia lama dan baru. Ia berkelindan dengan diksi magis, magic, dan magician dalam bahasa global. Dari magos Yunani, yang lahir dari magu Persia kuno dan berarti “imam” atau “pendeta”, kata itu menembus sejarah, menuntun kita ke suku Median di Iran Barat Laut, tempat para magoi mengajar, membimbing, dan memelihara api spiritual bagi Median maupun Persia.

Seperti dijelaskan Mary Boyce dalam “Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices” (2001), ketika Koresh Agung menegakkan Persia Achaemenid, dunia Yunani mengenal mereka sebagai filsuf dan pendeta Persia, sementara Zoroaster muncul sebagai guru, cahaya di tengah kegelapan. Dari sinilah sebutan Majusi muncul lalu merujuk pada Zoroastrian, menekankan peran suci dalam agama dan ritual.

Namun perjalanan kata itu tak selamanya mulus. Setelah penaklukan Islam di Iran, label seperti Atash-parast, Majus, dan Gabr menodai maknanya, mengubah cahaya menjadi hinaan. Gabr adalah kata Arab dari “kafir”, dan sastra Persia abad pertengahan menandai Zoroastrian sebagai “musuh Tuhan” (Navid Fozi, 2014).

Api yang Identik dengan Zoroaster (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Api yang Identik dengan Zoroaster (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di samping asosiasi negatif soal Zoroastrian sebagai penyembah api, dunia modern memperkenalkan Zoroastrianisme sebagai istilah tunggal yang populer. Nama yang memberi kesan monolit pada tradisi religius yang sebenarnya kaya dan dinamis. 

Jenny Rose dalam “Zoroastrianism: An Introduction” (2011) menekankan pentingnya menggunakan istilah jamak, seperti “Zoroastrian beliefs and practices” atau “Zoroastrianisms”, untuk mencerminkan keragaman internal tersebut. Meski pada dasarnya istilah-istilah ini masih berakar dari bahasa Yunani, yang tidak selalu mencerminkan cara komunitas ini memandang dirinya sendiri.

Padahal para penganut lebih sering menggunakan istilah seperti Mazdayasna (penyembahan Ahura Mazda), daena Mazdayasni (agama penyembahan Mazda), atau Zarathushti Din (agama Zarathushtra) sebagai ekspresi autentik dari identitas dan praktik religius mereka.

Keragaman ini juga terlihat dari ritual, etika, dan interpretasi Gathas, dari Parsis India hingga Zoroastrian Iranis, dari yang menekankan kesalehan, etika, hingga prinsip totalitas spiritual. Figur Zarathustra sendiri, seperti cahaya di cermin berlapis. Ia memantulkan kebijaksanaan dan moralitas ke dunia luar. Kini, banyak Zoroastrian mereklamasi citra itu, menenun identitas “Zarathustri” dalam praktik dan spiritualitas sehari-hari.

Sunda dalam Dunia yang Multikultural

Seperti yang dijelaskan oleh Joobin Bekhrad dalam artikelnya “This Obscure Religion Shaped The West” (BBC, 6 April 2017), jejak Zoroaster di dunia modern terserak dalam gagasan, simbol, dan identitas yang membentuk budaya populer dan pemikiran Barat.

Api dan cahaya tetap menjadi simbol kesucian dan kebenaran, terlihat dalam kuil, ritual, dan cerita artistik. Gagasan Zoroaster tentang kebaikan versus kejahatan, surga dan neraka, dan tanggung jawab moral manusia menembus ke dalam jantung agama-agama Abrahamik, filsafat Yunani, hingga literatur Renaisans dan musik modern, dari Dante hingga Richard Strauss.

Identitas Zoroastrian juga hidup dalam tokoh nyata seperti Freddie Mercury dan dalam cerita fiksi seperti Voltaire’s Zadig, memberikan teladan etika, ketekunan, dan pencarian kebijaksanaan. Bahkan kisah epik modern, seperti Star Wars atau Game of Thrones, meminjam motif kosmik dan simbolik yang berakar dari ajaran Zoroaster, menegaskan bahwa warisan lama ini terus menari dalam imajinasi dan praktik dunia kontemporer.

Di konteks Sunda modern, jejak itu mungkin hadir dengan cara yang lebih terselubung. Menara dan kolam warisan Persia masih setia melengkapi lanskap masjid-masjid di Tanah Sunda, tradisional maupun yang kekinian. Begitu juga buku-buku terjemahan Nietzsche “Zarathustra” yang didiskusikan mahasiswa di kampus-kampus dari Bandung, Depok, Cirebon, hingga Bogor.

Kita mungkin memakai kaos-kaos distro yang menampilkan simbol-simbol Zoroaster, hingga mendengarkan lagu-lagu Freddie Mercury yang masuk ke dalam daftar lagu favorit. Termasuk mengikuti cerita-cerita fiksi soal pertempuran kosmik dalam film maupun sastra kontemporer.

Semuanya berduyun-duyun meminjam estetika dan gagasan Zoroaster tanpa menampakkan sumber aslinya. Warisan itu jelas telah berubah bentuk, bertransformasi dari kedalaman ritual dan keyakinan menjadi produk budaya sekuler yang akrab dengan kita.

Namun, tetap ingatlah bahwa makna itu tidak hilang sepenuhnya. Ia tetap hadir sebagai metafora moral dan simbolik. Api klasik Zoroaster, muncul di layar, sampul buku, sablon, sampai lirik lagu, mengingatkan kita pada pertarungan abadi antara Ahura Mazda dengan Angra Mainyu (Ahriman). Esensi yang meresap dalam imajinasi kreatif.

Barangkali kita tidak terhubung langsung dengan sejarahnya. Implisit, tak mengapa, yang penting tetap menyalakan dan menegaskan bahwa Sunda terhubung dengan agama-agama yang jauh ada di sana. Dengan dunia yang multikultur. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)