Tradisi Munggahan Jadi Momen Silaturahmi Masyarakat Sunda Jelang Ramadan

Serlie Nandini putri
Ditulis oleh Serlie Nandini putri diterbitkan Minggu 04 Jan 2026, 20:01 WIB
Hidangan rumahan tersaji di atas hamparan daun pisang saat tradisi munggahan warga Kelurahan Sekejati, Kota Bandung menjelang Ramadan, (1/11/2025). (Sumber: Serlie Nandini Putri | Foto: Serlie Nandini Putri)

Hidangan rumahan tersaji di atas hamparan daun pisang saat tradisi munggahan warga Kelurahan Sekejati, Kota Bandung menjelang Ramadan, (1/11/2025). (Sumber: Serlie Nandini Putri | Foto: Serlie Nandini Putri)

Tak terasa, bulan puasa Ramadan tinggal sekitar beberapa minggu lagi. Aroma masakan khas Sunda memenuhi rumah-rumah warga. Sepekan sebelum bulan suci tiba, masyarakat Sunda mulai sibuk dengan agenda munggahan, tradisi turun-temurun yang menjadi simbol kebersamaan dan persiapan spiritual memasuki bulan penuh berkah yang berada di Jl. Jupiter Barat No.29, Sekejati, Kec. Buahbatu, Kota Bandung.

Munggahan merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan masyarakat Sunda menjelang Ramadan dengan sistem Raman, di mana setiap keluarga membawa makanan dari rumah masing-masing. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sekitar seminggu sebelum puasa dimulai dan berfungsi sebagai momen untuk mempererat silaturahmi, berdoa bersama, dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci.

Keunikan tradisi munggahan terletak pada kesederhanaannya yang justru sarat makna, berbeda dengan hajatan atau acara formal lainnya yang memerlukan persiapan khusus. Munggahan dilakukan secara spontan dan kekeluargaan, tanpa perlu perencanaan rumit, cukup dengan setiap peserta membawa makanan dari rumah untuk dinikmati bersama dalam suasana penuh kehangatan.

Ninda Nursanti, warga yang rutin mengikuti tradisi ini, menjelaskan munggahan memiliki makna spiritual yang mendalam di balik kesederhanaan acaranya.

"Sebetulnya esensinya lebih ke silaturahmi, kebersamaan, dan maaf-maafan," ujarnya saat diwawancara, Sabtu (1/11/2025).

Menu yang disajikan dalam munggahan pun sangat sederhana namun penuh kehangatan, seperti nasi, lauk-pauk, sambal, dan lalapan yang dibawa dari rumah masing-masing. Sistem berbagi makanan ini menciptakan momen saling cicip hidangan satu sama lain, membangun kedekatan dan keakraban di antara warga yang turut hadir.

Baca Juga: Nu Art Sculpture Park, Ruang Seni yang Hidup di Tengah Kota Bandung

Tradisi munggahan juga memiliki keistimewaan sebagai ruang untuk introspeksi dan pembekalan spiritual jelang Ramadan, bukan sekadar memuaskan hasrat makan menjelang puasa. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, dengan harapan dapat menjalankan ibadah puasa dengan pikiran tenang dan hati yang bersih.

Namun seiring perkembangan zaman, Ninda Nursanti mengamati adanya pergeseran makna munggahan di masyarakat dari yang awalnya fokus pada pembekalan spiritual menjadi lebih ke acara makan bersama semata.

"Kalau dulu lebih ke silaturahminya, kemudian berdoa bersama, maaf-maafannya, sekarang ujung-ujungnya yang makan-makan aja, jadi maknanya puas-puasin sebelum puasa," katanya sambil tersenyum.

Meski terjadi pergeseran makna, antusiasme masyarakat dalam melaksanakan munggahan tetap tinggi setiap tahunnya, terutama di kalangan ibu rumah tangga yang menjadikan momen ini sebagai ajang berkumpul dan bertukar cerita. Bagi sebagian masyarakat, munggahan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan sarana untuk mempererat hubungan sosial dan mendorong keharmonisan lingkungan menjelang bulan Ramadan.

Tradisi munggahan menggambarkan bagaimana masyarakat Sunda menyeimbangkan kehidupan sosial dan spiritual dalam menghadapi bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol solidaritas sosial dan rasa syukur dalam kehidupan yang serba cepat. Ninda Nursanti berharap generasi mendatang dapat memahami esensi sejati dari tradisi ini agar tidak hanya menjadi ritual makan bersama tanpa makna.

"Harapannya lebih ke memaknanya, bukan sekadar makan. Munggahan itu sebetulnya pembekalan jiwa untuk masuk ke Ramadan, jadi menyiapkan tidak hanya fisik tapi juga jiwa," pungkasnya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Serlie Nandini putri
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University 2024

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)