Tradisi Munggahan Jadi Momen Silaturahmi Masyarakat Sunda Jelang Ramadan

2 menit baca
Serlie Nandini putri
Ditulis oleh Serlie Nandini putri diterbitkan
Hidangan rumahan tersaji di atas hamparan daun pisang saat tradisi munggahan warga Kelurahan Sekejati, Kota Bandung menjelang Ramadan, (1/11/2025). (Sumber: Serlie Nandini Putri | Foto: Serlie Nandini Putri)
Hidangan rumahan tersaji di atas hamparan daun pisang saat tradisi munggahan warga Kelurahan Sekejati, Kota Bandung menjelang Ramadan, (1/11/2025). (Sumber: Serlie Nandini Putri | Foto: Serlie Nandini Putri)

Tak terasa, bulan puasa Ramadan tinggal sekitar beberapa minggu lagi. Aroma masakan khas Sunda memenuhi rumah-rumah warga. Sepekan sebelum bulan suci tiba, masyarakat Sunda mulai sibuk dengan agenda munggahan, tradisi turun-temurun yang menjadi simbol kebersamaan dan persiapan spiritual memasuki bulan penuh berkah yang berada di Jl. Jupiter Barat No.29, Sekejati, Kec. Buahbatu, Kota Bandung.

Munggahan merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan masyarakat Sunda menjelang Ramadan dengan sistem Raman, di mana setiap keluarga membawa makanan dari rumah masing-masing. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sekitar seminggu sebelum puasa dimulai dan berfungsi sebagai momen untuk mempererat silaturahmi, berdoa bersama, dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci.

Keunikan tradisi munggahan terletak pada kesederhanaannya yang justru sarat makna, berbeda dengan hajatan atau acara formal lainnya yang memerlukan persiapan khusus. Munggahan dilakukan secara spontan dan kekeluargaan, tanpa perlu perencanaan rumit, cukup dengan setiap peserta membawa makanan dari rumah untuk dinikmati bersama dalam suasana penuh kehangatan.

Ninda Nursanti, warga yang rutin mengikuti tradisi ini, menjelaskan munggahan memiliki makna spiritual yang mendalam di balik kesederhanaan acaranya.

"Sebetulnya esensinya lebih ke silaturahmi, kebersamaan, dan maaf-maafan," ujarnya saat diwawancara, Sabtu (1/11/2025).

Menu yang disajikan dalam munggahan pun sangat sederhana namun penuh kehangatan, seperti nasi, lauk-pauk, sambal, dan lalapan yang dibawa dari rumah masing-masing. Sistem berbagi makanan ini menciptakan momen saling cicip hidangan satu sama lain, membangun kedekatan dan keakraban di antara warga yang turut hadir.

Baca Juga: Nu Art Sculpture Park, Ruang Seni yang Hidup di Tengah Kota Bandung

Tradisi munggahan juga memiliki keistimewaan sebagai ruang untuk introspeksi dan pembekalan spiritual jelang Ramadan, bukan sekadar memuaskan hasrat makan menjelang puasa. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, dengan harapan dapat menjalankan ibadah puasa dengan pikiran tenang dan hati yang bersih.

Namun seiring perkembangan zaman, Ninda Nursanti mengamati adanya pergeseran makna munggahan di masyarakat dari yang awalnya fokus pada pembekalan spiritual menjadi lebih ke acara makan bersama semata.

"Kalau dulu lebih ke silaturahminya, kemudian berdoa bersama, maaf-maafannya, sekarang ujung-ujungnya yang makan-makan aja, jadi maknanya puas-puasin sebelum puasa," katanya sambil tersenyum.

Meski terjadi pergeseran makna, antusiasme masyarakat dalam melaksanakan munggahan tetap tinggi setiap tahunnya, terutama di kalangan ibu rumah tangga yang menjadikan momen ini sebagai ajang berkumpul dan bertukar cerita. Bagi sebagian masyarakat, munggahan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan sarana untuk mempererat hubungan sosial dan mendorong keharmonisan lingkungan menjelang bulan Ramadan.

Tradisi munggahan menggambarkan bagaimana masyarakat Sunda menyeimbangkan kehidupan sosial dan spiritual dalam menghadapi bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol solidaritas sosial dan rasa syukur dalam kehidupan yang serba cepat. Ninda Nursanti berharap generasi mendatang dapat memahami esensi sejati dari tradisi ini agar tidak hanya menjadi ritual makan bersama tanpa makna.

"Harapannya lebih ke memaknanya, bukan sekadar makan. Munggahan itu sebetulnya pembekalan jiwa untuk masuk ke Ramadan, jadi menyiapkan tidak hanya fisik tapi juga jiwa," pungkasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Serlie Nandini putri
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University 2024

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)