Tak terasa, bulan puasa Ramadan tinggal sekitar beberapa minggu lagi. Aroma masakan khas Sunda memenuhi rumah-rumah warga. Sepekan sebelum bulan suci tiba, masyarakat Sunda mulai sibuk dengan agenda munggahan, tradisi turun-temurun yang menjadi simbol kebersamaan dan persiapan spiritual memasuki bulan penuh berkah yang berada di Jl. Jupiter Barat No.29, Sekejati, Kec. Buahbatu, Kota Bandung.
Munggahan merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan masyarakat Sunda menjelang Ramadan dengan sistem Raman, di mana setiap keluarga membawa makanan dari rumah masing-masing. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sekitar seminggu sebelum puasa dimulai dan berfungsi sebagai momen untuk mempererat silaturahmi, berdoa bersama, dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci.
Keunikan tradisi munggahan terletak pada kesederhanaannya yang justru sarat makna, berbeda dengan hajatan atau acara formal lainnya yang memerlukan persiapan khusus. Munggahan dilakukan secara spontan dan kekeluargaan, tanpa perlu perencanaan rumit, cukup dengan setiap peserta membawa makanan dari rumah untuk dinikmati bersama dalam suasana penuh kehangatan.
Ninda Nursanti, warga yang rutin mengikuti tradisi ini, menjelaskan munggahan memiliki makna spiritual yang mendalam di balik kesederhanaan acaranya.
"Sebetulnya esensinya lebih ke silaturahmi, kebersamaan, dan maaf-maafan," ujarnya saat diwawancara, Sabtu (1/11/2025).
Menu yang disajikan dalam munggahan pun sangat sederhana namun penuh kehangatan, seperti nasi, lauk-pauk, sambal, dan lalapan yang dibawa dari rumah masing-masing. Sistem berbagi makanan ini menciptakan momen saling cicip hidangan satu sama lain, membangun kedekatan dan keakraban di antara warga yang turut hadir.
Baca Juga: Nu Art Sculpture Park, Ruang Seni yang Hidup di Tengah Kota Bandung
Tradisi munggahan juga memiliki keistimewaan sebagai ruang untuk introspeksi dan pembekalan spiritual jelang Ramadan, bukan sekadar memuaskan hasrat makan menjelang puasa. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, dengan harapan dapat menjalankan ibadah puasa dengan pikiran tenang dan hati yang bersih.
Namun seiring perkembangan zaman, Ninda Nursanti mengamati adanya pergeseran makna munggahan di masyarakat dari yang awalnya fokus pada pembekalan spiritual menjadi lebih ke acara makan bersama semata.
"Kalau dulu lebih ke silaturahminya, kemudian berdoa bersama, maaf-maafannya, sekarang ujung-ujungnya yang makan-makan aja, jadi maknanya puas-puasin sebelum puasa," katanya sambil tersenyum.
Meski terjadi pergeseran makna, antusiasme masyarakat dalam melaksanakan munggahan tetap tinggi setiap tahunnya, terutama di kalangan ibu rumah tangga yang menjadikan momen ini sebagai ajang berkumpul dan bertukar cerita. Bagi sebagian masyarakat, munggahan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan sarana untuk mempererat hubungan sosial dan mendorong keharmonisan lingkungan menjelang bulan Ramadan.
Tradisi munggahan menggambarkan bagaimana masyarakat Sunda menyeimbangkan kehidupan sosial dan spiritual dalam menghadapi bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol solidaritas sosial dan rasa syukur dalam kehidupan yang serba cepat. Ninda Nursanti berharap generasi mendatang dapat memahami esensi sejati dari tradisi ini agar tidak hanya menjadi ritual makan bersama tanpa makna.
"Harapannya lebih ke memaknanya, bukan sekadar makan. Munggahan itu sebetulnya pembekalan jiwa untuk masuk ke Ramadan, jadi menyiapkan tidak hanya fisik tapi juga jiwa," pungkasnya. (*)
