Senioritas di Kampus: Tradisi yang Perlu Dipertanyakan Manfaatnya

4 menit baca
Salwa Kholidah
Ditulis oleh Salwa Kholidah diterbitkan
Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kampus seharusnya menjadi tempat di kesetaraan dijunjung tinggi dan nalar kritis mahasiswa diasah. Mahasiswa yang bukan lagi siswa sekolah, dapat dikategorikan sebagai individu yang cara telah mencapai tingkat kematangan intelektual.

Biasanya, dalam memerangi ketidakadilan, mahasiswa selalu menjadi garda paling depan. Namun, ada banyak kampus di Indonesia yang masih melakukan praktik senioritas. Sistem tak tertulis ini selalu menempatkan mahasiswa yang lebih senior di atas mahasiswa junior.

Fenomena ini bukan hanya masalah perilaku individu; melainkan telah berkembang menjadi masalah sistem dan budaya yang mengganggu kehidupan sosial mahasiswa.

Akar Masalah yang Mendalam

Praktik senioritas telah berlangsung selama berbagai generasi dan terus diwariskan dengan berbagai alasan, seperti membangun karakter, mengajarkan rasa hormat, mengenal lebih dalam tentang budaya kampus, atau hanya sekadar "tradisi yang sudah ada sejak dulu".

Senioritas memang bukan fenomena baru. Sebenarnya, pondasi senioritas berasal dari dunia militer, di mana hierarki komando sangat penting untuk operasional. Namun, jika dilakukan secara salah, praktik ini malah menyebabkan ketidaksamaan yang merugikan lingkungan akademik.

Kemudian muncul pertanyaan: apakah sebuah tradisi otomatis layak dipertahankan hanya karena sudah lama? Meskipun tradisi sangat penting sebagai pengikat identitas yang sepadan, tidak semua tradisi harus dilestarikan, terutama jika menyebabkan kekerasan dan ketidakadilan berlanjut.

Dari Senioritas ke Perundungan

Senioritas seringkali menjadi legitimasi untuk berbagai macam perlakuan problematik yang menyebabkan hal ini cukup mengkhawatirkan. Menurut psikolog Prilya Shanty Andrianie dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, praktik perpeloncoan ini dipicu oleh budaya senioritas dan rasa dendam akan perlakuan sebelumnya yang mereka terima. Dimulai dari hal-hal yang nampaknya sepele,seperti panggilan atau salam tertentu yang harus diucapkan, hingga hal-hal yang serius, seperti memaksakan mahasiswa junior untuk berpatisipasi dalam kegiatan atau organisasi kampus.

Senior merasa berhak untuk dipatuhi secara mutlak, sedangkan junior yang masih baru terpaksa menurut tanpa berhak memberikan pertanyaan. Pola yang tidak hanya mengganggu hubungan relasi, tetapi menghalangi diskusi dan kritik yang eksistensinya selalu ada dalam kehidupan akademik. Ada berbagai jenis perundungan di perguruan tinggi, termasuk verbal, psikologis, fisik, dan relasional, dengan senioritas menjadi penyebab utama.

Seorang psikolog klinis, Devi Riana Sari mengatakan bahwa budaya senioritas ini merupakan hubungan kekuasaan antara senior dan junior yang seringkali menjadi normalisasi ajang kekerasan di kampus. Kekerasan verbal seperti intimidasi, tekanan emosional atau pengucilan dianggap sebagai candaan yang normal di kalangan mereka dan dapat memungkinkan kekerasan yang berulang di generasi selanjutnya.

Siklus Kekerasan yang Terus Berputar

Ilustrasi mahasiswa di Indonesia. (Sumber: Pexels/Dio Hasbi Saniskoro)
Ilustrasi mahasiswa di Indonesia. (Sumber: Pexels/Dio Hasbi Saniskoro)

Perilaku ini akan terus berlanjut karena senioritas mempertahankan budaya yang tidak perlu tentang penyalahgunaan kekuasaan, atau kepentingan kelompok. Kasus di mana mahasiswa baru lebih memilih untuk diam karena mereka takut dianggap tak sopan atau tidak menghormati senior.

Prilya menjelaskan bahwasanya pelaku atau korban mungkin pernah mengalami dan menyaksikan langsung perundungan sebelum mereka memasuki universitas, ketika kondisi tersebut tidak diselesaikan dengan baik, dampaknya akan muncul kembali saat mereka kuliah dalam bentuk gangguan mental atau perilaku yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa siswa perundungan dapat mengalami kecemasan, depresi, stres psikologis, dan bahkan gangguan stres pasca trauma.

Argumen yang Cacat

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa senioritas mengajarkan hierarki dan disiplin di dalam dunia kerja. Namun, pernyataan ini cacat secara fundamental. Dalam dunia profesional kontemporer, kolaborasi horizontal dan kepemimpinan berbasis merit semakin dihargai. Lulusan yang dihasilkan dari senioritas yang kaku malah terbiasa mengikuti aturan tanpa pendapat, bukannya pemikir independen yang dibutuhkan zaman.
Sangat wajar untuk menghormati kakak tingkat yang lebih tua. Namun, rasa hormat sejati berbeda dari ketundukan paksa. Rasa hormat sejati berasal dari apresiasi terhadap kebijaksanaan dan kontribusi seseorang, bukan dari ketakutan. Menurut Prilya, sistem orientasi harus menumbuhkan rasa kekeluargaan dengan gagasan kakak asuh-adik asuh agar mahasiswa baru merasa diterima dan aman.

Senioritas juga memiliki dampak yang luas terhadap dinamika lingkungan akademik. Kampus yang toleran terhadap senioritas menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk pembelajaran. Mahasiswa yang takut tidak akan berani bertanya atau menyuarakan pendapat mereka. Karena budaya senioritas, kolaborasi lintas angkatan terhambat, yang sangat penting dalam proses pembelajaran.

Universitas di Indonesia harus melakukan refleksi kritis. Universitas harus menerapkan sistem pengawasan yang ketat, sistem pelaporan yang aman, dan sanksi yang konsisten terhadap pelanggaran. Selain itu, institusi pendidikan harus memberikan pendidikan rutin tentang perundungan, empati, dan kesehatan mental. Kampus harus membangun budaya yang menempatkan logika dan kesetaraan di atas tradisi buta.

Memutus rantai ini adalah tugas generasi mahasiswa saat ini. Mahasiswa harus mengembangkan sikap empati; mereka harus merasa empati dengan penderitaan orang lain dan berani membela yang benar. Mereka yang memilih untuk tidak berbicara selama siklus perundungan dapat memiliki peran untuk menghentikan siklus kekerasan. Selain itu, organisasi kemahasiswaan harus mengubah diri mereka sendiri dengan mengembangkan metode kaderisasi yang lebih sehat.

Senioritas seharusnya menjadi warisan masa lalu. Ia lebih dari sekadar "tradisi tidak berbahaya"; itu adalah sistem yang mempertahankan kekerasan, menghalangi kritik, dan menghambat kemajuan intelektual. Senioritas menjadi penghalang kemajuan di era yang menuntut pemikiran kritis, inovasi, dan kerja sama.

Baca Juga: Kesenjangan Ruang Publik Bandung Hambat Aktivitas Mahasiswa

Perubahan tidak akan tiba-tiba. Semua orang harus bekerja keras, konsisten, dan berani untuk mencapainya. Namun, upaya ini sangat layak dilakukan untuk menciptakan kampus yang lebih adil, aman, dan produktif. Generasi mahasiswa hari ini memiliki kesempatan untuk menjadi agen perubahan, untuk menulis ulang narasi kehidupan kampus dengan tinta kesetaraan dan nalar.

Meskipun tradisi memiliki nilai, tidak semua tradisi pantas dilestarikan. Kita harus menghindari warisan senioritas yang berbahaya. Saatnya kita membuat tradisi baru. Ini akan menghormati setiap orang berdasarkan kontribusi dan kepribadiannya, bukan tahun masuknya ke kampus. Untuk mencetak pemimpin masa depan yang jujur dan berpikiran maju, kampus ini adalah yang kita butuhkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salwa Kholidah
Tentang Salwa Kholidah
Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)