Senioritas di Kampus: Tradisi yang Perlu Dipertanyakan Manfaatnya

Salwa Kholidah
Ditulis oleh Salwa Kholidah diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 09:46 WIB
Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kampus seharusnya menjadi tempat di kesetaraan dijunjung tinggi dan nalar kritis mahasiswa diasah. Mahasiswa yang bukan lagi siswa sekolah, dapat dikategorikan sebagai individu yang cara telah mencapai tingkat kematangan intelektual.

Biasanya, dalam memerangi ketidakadilan, mahasiswa selalu menjadi garda paling depan. Namun, ada banyak kampus di Indonesia yang masih melakukan praktik senioritas. Sistem tak tertulis ini selalu menempatkan mahasiswa yang lebih senior di atas mahasiswa junior.

Fenomena ini bukan hanya masalah perilaku individu; melainkan telah berkembang menjadi masalah sistem dan budaya yang mengganggu kehidupan sosial mahasiswa.

Akar Masalah yang Mendalam

Praktik senioritas telah berlangsung selama berbagai generasi dan terus diwariskan dengan berbagai alasan, seperti membangun karakter, mengajarkan rasa hormat, mengenal lebih dalam tentang budaya kampus, atau hanya sekadar "tradisi yang sudah ada sejak dulu".

Senioritas memang bukan fenomena baru. Sebenarnya, pondasi senioritas berasal dari dunia militer, di mana hierarki komando sangat penting untuk operasional. Namun, jika dilakukan secara salah, praktik ini malah menyebabkan ketidaksamaan yang merugikan lingkungan akademik.

Kemudian muncul pertanyaan: apakah sebuah tradisi otomatis layak dipertahankan hanya karena sudah lama? Meskipun tradisi sangat penting sebagai pengikat identitas yang sepadan, tidak semua tradisi harus dilestarikan, terutama jika menyebabkan kekerasan dan ketidakadilan berlanjut.

Dari Senioritas ke Perundungan

Senioritas seringkali menjadi legitimasi untuk berbagai macam perlakuan problematik yang menyebabkan hal ini cukup mengkhawatirkan. Menurut psikolog Prilya Shanty Andrianie dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, praktik perpeloncoan ini dipicu oleh budaya senioritas dan rasa dendam akan perlakuan sebelumnya yang mereka terima. Dimulai dari hal-hal yang nampaknya sepele,seperti panggilan atau salam tertentu yang harus diucapkan, hingga hal-hal yang serius, seperti memaksakan mahasiswa junior untuk berpatisipasi dalam kegiatan atau organisasi kampus.

Senior merasa berhak untuk dipatuhi secara mutlak, sedangkan junior yang masih baru terpaksa menurut tanpa berhak memberikan pertanyaan. Pola yang tidak hanya mengganggu hubungan relasi, tetapi menghalangi diskusi dan kritik yang eksistensinya selalu ada dalam kehidupan akademik. Ada berbagai jenis perundungan di perguruan tinggi, termasuk verbal, psikologis, fisik, dan relasional, dengan senioritas menjadi penyebab utama.

Seorang psikolog klinis, Devi Riana Sari mengatakan bahwa budaya senioritas ini merupakan hubungan kekuasaan antara senior dan junior yang seringkali menjadi normalisasi ajang kekerasan di kampus. Kekerasan verbal seperti intimidasi, tekanan emosional atau pengucilan dianggap sebagai candaan yang normal di kalangan mereka dan dapat memungkinkan kekerasan yang berulang di generasi selanjutnya.

Siklus Kekerasan yang Terus Berputar

Ilustrasi mahasiswa di Indonesia. (Sumber: Pexels/Dio Hasbi Saniskoro)
Ilustrasi mahasiswa di Indonesia. (Sumber: Pexels/Dio Hasbi Saniskoro)

Perilaku ini akan terus berlanjut karena senioritas mempertahankan budaya yang tidak perlu tentang penyalahgunaan kekuasaan, atau kepentingan kelompok. Kasus di mana mahasiswa baru lebih memilih untuk diam karena mereka takut dianggap tak sopan atau tidak menghormati senior.

Prilya menjelaskan bahwasanya pelaku atau korban mungkin pernah mengalami dan menyaksikan langsung perundungan sebelum mereka memasuki universitas, ketika kondisi tersebut tidak diselesaikan dengan baik, dampaknya akan muncul kembali saat mereka kuliah dalam bentuk gangguan mental atau perilaku yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa siswa perundungan dapat mengalami kecemasan, depresi, stres psikologis, dan bahkan gangguan stres pasca trauma.

Argumen yang Cacat

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa senioritas mengajarkan hierarki dan disiplin di dalam dunia kerja. Namun, pernyataan ini cacat secara fundamental. Dalam dunia profesional kontemporer, kolaborasi horizontal dan kepemimpinan berbasis merit semakin dihargai. Lulusan yang dihasilkan dari senioritas yang kaku malah terbiasa mengikuti aturan tanpa pendapat, bukannya pemikir independen yang dibutuhkan zaman.
Sangat wajar untuk menghormati kakak tingkat yang lebih tua. Namun, rasa hormat sejati berbeda dari ketundukan paksa. Rasa hormat sejati berasal dari apresiasi terhadap kebijaksanaan dan kontribusi seseorang, bukan dari ketakutan. Menurut Prilya, sistem orientasi harus menumbuhkan rasa kekeluargaan dengan gagasan kakak asuh-adik asuh agar mahasiswa baru merasa diterima dan aman.

Senioritas juga memiliki dampak yang luas terhadap dinamika lingkungan akademik. Kampus yang toleran terhadap senioritas menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk pembelajaran. Mahasiswa yang takut tidak akan berani bertanya atau menyuarakan pendapat mereka. Karena budaya senioritas, kolaborasi lintas angkatan terhambat, yang sangat penting dalam proses pembelajaran.

Universitas di Indonesia harus melakukan refleksi kritis. Universitas harus menerapkan sistem pengawasan yang ketat, sistem pelaporan yang aman, dan sanksi yang konsisten terhadap pelanggaran. Selain itu, institusi pendidikan harus memberikan pendidikan rutin tentang perundungan, empati, dan kesehatan mental. Kampus harus membangun budaya yang menempatkan logika dan kesetaraan di atas tradisi buta.

Memutus rantai ini adalah tugas generasi mahasiswa saat ini. Mahasiswa harus mengembangkan sikap empati; mereka harus merasa empati dengan penderitaan orang lain dan berani membela yang benar. Mereka yang memilih untuk tidak berbicara selama siklus perundungan dapat memiliki peran untuk menghentikan siklus kekerasan. Selain itu, organisasi kemahasiswaan harus mengubah diri mereka sendiri dengan mengembangkan metode kaderisasi yang lebih sehat.

Senioritas seharusnya menjadi warisan masa lalu. Ia lebih dari sekadar "tradisi tidak berbahaya"; itu adalah sistem yang mempertahankan kekerasan, menghalangi kritik, dan menghambat kemajuan intelektual. Senioritas menjadi penghalang kemajuan di era yang menuntut pemikiran kritis, inovasi, dan kerja sama.

Baca Juga: Kesenjangan Ruang Publik Bandung Hambat Aktivitas Mahasiswa

Perubahan tidak akan tiba-tiba. Semua orang harus bekerja keras, konsisten, dan berani untuk mencapainya. Namun, upaya ini sangat layak dilakukan untuk menciptakan kampus yang lebih adil, aman, dan produktif. Generasi mahasiswa hari ini memiliki kesempatan untuk menjadi agen perubahan, untuk menulis ulang narasi kehidupan kampus dengan tinta kesetaraan dan nalar.

Meskipun tradisi memiliki nilai, tidak semua tradisi pantas dilestarikan. Kita harus menghindari warisan senioritas yang berbahaya. Saatnya kita membuat tradisi baru. Ini akan menghormati setiap orang berdasarkan kontribusi dan kepribadiannya, bukan tahun masuknya ke kampus. Untuk mencetak pemimpin masa depan yang jujur dan berpikiran maju, kampus ini adalah yang kita butuhkan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salwa Kholidah
Bandung
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)