NOVEL Dilan ITB 1997, yang terbit bulan Desember 2025, tidak bercerita tentang saat Dilan remaja—saat ia menikmati masa-masa indah SMA-nya di Bandung; saat ia berpacaran dengan Milea (Lia) serta akrab dengan geng motor dan segala problemanya. Ini kisah tentang Dilan yang baru memulai menapaki kematangannya dan sudah menjadi mahasiswa semester akhir FSRD ITB.
Enam bulan di Kuba—setelah mengikuti program pertukaran mahasiswa--Dilan rindu Bunda dan keluarganya serta Cika, pacarnya. Dilan juga rindu tanah air, Indonesia yang saat itu sedang tidak baik-baik saja. Suhu politik memanas. Di mana-mana terjadi demonstrasi, menjelang masa Reformasi.
Cara berkisah Pidi Baiq, penulisnya, dalam novel terbarunya ini tetap “ringan” seperti novel-novel Dilan sebelumnya: Dilan 1983: Wo Ai Ni; Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990; Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991; Milea: Suara dari Dilan; Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995. Ayah, sapaan akrab Pidi Baiq, tetap menonjolkan humor khasnya, serta cara bertutur dalam dialog penuh canda yang merupakan kekuatan dalam bertuturnya.
Meski ada pertanyaan, kok, Dilan anak geng motor bisa masuk ITB? Bukankah masuk ITB susah? Tentang tuduhan anak geng motor, dulu iya, tapi kini, maaf, sudah mantan. Dilan kini lebih sibuk dengan kuliah dan kerja freelance-nya sebagai desainer di beberapa perusahaan.
Motor Dilan masih CB 100 Gelatik. Motor kesayangannya yang dulu sering dipakai Dilan mengantar jemput Milea dan saat sibuk menjadi anggota geng motor. Hubungan dengan Milea putus. Kini, pacar Dilan adalah Ancika, seorang mahasiswa Unpad semester tiga.
Padahal, ketahuilah, di masa itu mahasiswa ITB dan mahasiswa Unpad suka saling lempar lelucon untuk saling ledek-ledekan. Terlebih ketika sebagian fakultas Unpad masih berada di kawasan Jalan Dipati Ukur, belum pindah ke Jatinangor dan jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari kampus ITB.
Mahasiswa dari kedua kampus itu sering saling membanggakan institusinya masing-masing dan tidak jarang menyisipkan sindiran jenaka. Bahkan sampai muncul anekdot untuk saling meremehkan, kadang lucu, kadang sarkastik, tapi tidak pernah benar-benar menjadi masalah.

Dilan sering menjemput Ancika di kampusnya di Jatinangor dengan motor CB-100 Gelatiknya. Simaklah percakapannya:
“Kalau Rektor Unpad tau, pasti dia terharu,” kata Dilan kepada Ancika saat dibonceng.
“Tau apa?” tanya Ancika.
“Ya, kalau tahu ada mahasiswa ITB menjemput mahasiswa Unpad, pasti dia terharu,” kata Dilan, “Baik banget ITB.”
“Jangan menyia-nyiakan kebaikan Unpad, jangan menyia-nyiakan kebaikan ITB. In harmonia progresio lah pokoknya.”
“Kalau ITB menikah sama Unpad, anaknya apa?”
“UI.”
“Kok, UI?”
“Kan singkatan Unpad-ITB.”
Tiba-tiba Dilan menerima telepon dari Lia, masa lalunya Dilan. Lia mengajak ketemuan di sebuah kafe. Meski berat, Ancika memberi izin Dilan untuk menemui Lia. Dilan menemui Lia dengan memakai motor CB 100 Gelatiknya. Di sepanjang jalan menuju kafe, pikiran Dilan bolak balik memutar pertanyaan yang sama untuk apa sebenarnya ia menemui Lia?
“Jika mantanmu memang orang yang tepat untukmu tentu dia masih bersamamu sampai sekarang. Dan kenyataan Lia sudah menjadi mantan itu menandakan bahwa kita ditakdirkan untuk bersama,” kata Ancika.
Baca Juga: Dilan 1997: Kisah tentang Kuba, ITB-Unpad, Cika-Lia, dan Reformasi
Pulang menemui Lia, Dilan dapat masalah. Motor CB 100 Gelatiknya diinjak orang tak dikenal dari belakang hingga terjatuh. Dan Dilan dipukuli oleh empat orang. Rupanya persoalan ketika Dilan malam-malam mengantar Hanna, teman main band-nya, berbuntut panjang. Pacar Hanna cemburu dan mengenali motor CB 100 Gelatik yang dipakai Dilan. Permasalahan ini berujung di kantor polisi. Sebab, Bona, juniornya Dilan di geng motor, membalaskan perlakuan empat orang pengeroyok Dilan setelah dia mendapat kabar bahwa Dilan diserang oleh empat orang tak dikenal itu.
Motor CB 100 Gelatik yang penuh sejarah itu akhirnya dijual Dilan. Berat memang. Sebab, bagi Dilan, motor itu merupakan saksi perjalanan panjang dari cinta remajanya dengan Lia yang berakhir di SMA, hingga cinta yang ia perjuangkan di bangku kuliah bersama Cika. Jika bersama Lia motor CB 100 itu menjadi saksi masa remajanya yang penuh gejolak, maka bersama Cika motor itu menjadi saksi mata masa muda Dilan yang lebih matang penuh harapan dan mengarah ke masa depan.
Akhirnya Unpad dan ITB bersatu dalam satu kamar. (*)
