KISAH Dilan: ITB 1997 bermula saat tokoh kita, Dilan, pulang dari Kuba setelah menempuh Program Mahasiswa Tamu (Estuduante Visituante) tugas dari kampusnya, ITB. Dari Bandara Jose Marti, Dilan terbang ke Paris, Prancis, naik pesawat Air France. Dari Paris, Dilan berganti pesawat Boeing 747-400 menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dari bandara Soeta, ia menuju Stasiun Gambir untuk naik kereta Argo Gede menuju Bandung.
Ini bukan kisah Dilan 1991 saat Dilan masih SMA ketika masa pacaran dengan Milea (Lia) serta aktif dengan geng motornya. Ini kisah Dilan yang sudah menjadi mahasiswa semester akhir FSRD ITB.
Enam bulan di Kuba, Dilan rindu Bunda dan keluarganya serta Cika, pacarnya. Dilan juga rindu tanah air, Indonesia, setelah sekian lama merasakan hidup di negara sosialis, negaranya Fidel Castro dan Che Guevara--seorang revolusioner yang berkontribusi besar dalam kemenangan revolusi Kuba tahun 1959 meski Che bukanlah orang Kuba. Dan ternyata saat itu (1997) suhu politik di tanah air sedang memanas. Demo mahasiswa di mana-mana, penculikan aktivis-- menjelang kejatuhan Orde Baru 1998.
Ekspektasi penulis—karena kini dikisahkan oleh mahasiswa tingkat akhir—cara berkisah Pidi Baiq, penulisnya, dalam novel terbarunya ini akan “berat” atau paling tidak “lebih berat” daripada novel-novel sebelumnya: Dilan 1983: Wo Ai Ni; Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990; Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991; Milea: Suara dari Dilan; Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995. Tetapi, faktanya, cara bertutur Ayah, sapaan akrab Pidi Baiq, tetap “ringan”, penuh humor khasnya, dan lebih menonjolkan kisah cintanya yang merupakan kekuatan dalam bertuturnya.
Meski ada pertanyaan, kok, Dilan anak geng motor bisa masuk ITB? Bukankah masuk ITB susah? Tentang tuduhan anak geng motor, dulu iya, tapi kini, maaf, sudah mantan. Dilan kini lebih sibuk dengan kuliah dan kerja freelance-nya sebagai desainer di beberapa perusahaan.
Meskipun demikian, faktanya Dilan sulit melepaskan dari masa lalunya yang kelam itu. Motornya CB 100 Gelatik yang sering dipakai saat jadi anggota geng motor masih ia pelihara. Teman-teman kuliahnya banyak yang “tahu” Dilan itu anak geng motor. Juga, junior-juniornya pun yang kini aktif di geng motor masih menghormati kesenioran Dilan dan mereka bilang siap membantu apabila Dilan dalam kesulitan.
Pacar Dilan, Ancika, adalah anak Unpad semester tiga. Di masa itu mahasiswa ITB dan mahasiswa Unpad suka saling lempar lelucon untuk saling ledek-ledekan. Terlebih ketika sebagian fakultas Unpad masih berada di kawasan Jalan Dipati Ukur, belum pindah ke Jatinangor dan jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari kampus ITB.

Mahasiswa dari kedua kampus itu sering saling membanggakan institusinya masing-masing dan tidak jarang menyisipkan sindiran jenaka. Bahkan sampai muncul anekdot untuk saling meremehkan, kadang lucu, kadang sarkastik tapi tidak pernah benar-benar menjadi masalah.
Dilan sering menjemput Ancika di kampusnya di Jatinangor dengan motor CB-100 Gelatiknya.
“Kalau Rektor Unpad tau, pasti dia terharu,” kata Dilan kepada Ancika saat dibonceng.
“Tau apa?” tanya Ancika.
“Ya, kalau tahu ada mahasiswa ITB menjemput mahasiswa Unpad, pasti dia terharu,” kata Dilan, “Baik banget ITB.”
“Jangan menyia-nyiakan kebaikan Unpad, jangan menyia-nyiakan kebaikan ITB. In harmonia progresio lah pokoknya.”
“Kalau ITB menikah sama Unpad, anaknya apa?”
“UI.”
“Kok, UI?”
“Kan singkatan Unpad-ITB.”
Tiba-tiba Dilan menerima telepon dari Lia, masa lalunya Dilan. Lia mengajak ketemuan di sebuah kafe. Meski berat, Ancika memberi izin Dilan untuk menemui Lia. Dilan menemui Lia dengan memakai motor CB 100 Gelatiknya. Di sepanjang jalan menuju kafe, pikiran Dilan bolak balik memutar pertanyaan yang sama untuk apa sebenarnya ia menemui Lia?
Baca Juga: Belajar dari Buku 'Broken Strings': Berhenti Berharap Dia Berubah
“Jika mantanmu memang orang yang tepat untukmu tentu dia masih bersamamu sampai sekarang. Dan kenyataan Lia sudah menjai mantan itu menandakan bahwa kita ditakdirkan untuk Bersama,” kata Ancika.
Pulang menemui Lia, Dilan dapat masalah. Motor CB 100 Gelatiknya diinjak dari belakang hingga terjatuh. Dan Dilan dipukuli oleh empat orang tak dikenal. Rupanya persoalan ketika Dilan malam-malam mengantar Hanna, teman main band-nya, berbuntut panjang. Pacar Hanna cemburu dan mengenali motor CB 100 Gelatik yang dipakai Dilan. Permasalahan ini berujung di kantor polisi. Sebab, Bona, juniornya Dilan di geng motor, membalaskan perlakuan empat orang pengeroyok Dilanu setelah dia mendapat kabar bahawa Dilan diserang oleh empat orang tak dikenal itu.
Motor CB 100 Gelatik yang penuh sejarah itu akhirnya dijual Dilan. Berat memang. Sebab, bagi Dilan, motor itu merupakan saksi perjalanan panjang dari cinta remajanya dengan Lia yang berakhir di SMA, hingga cinta yang ia perjuangkan di bangku kuliah bersama Cika. Jika bersama Lia motor CB 100 itu menjadi saksi masa remajanya yang penuh gejolak, maka bersama Cika motor itu menjadi saksi mata masa muda Dilan yang lebih matang penuh harapan dan mengarah ke masa depan.
Politik di tanah air masih begejolak. Bahkan semakin panas. Soeharto kembali terpilih jadi presiden untuk yang keenam kalinya. Rakyat marah. Akhirnya Soeharto dilengserkan. Tetapi, Dilan dan Cika justru naik pelaminan. Akhirnya Unpad dan ITB bersatu dalam satu kamar. (*)
Informasi Buku
- Judul buku: Dilan: ITB 1997
- Penulis: Pidi Baiq
- Penerbit: Pastel Book (Grup Mizan), Bandung
- Terbit: Cetakan 1, Desember 2025
- Jumlan halaman: 224 halaman
Harga: Rp95.000
