Perspektif Lain Sejarah Indonesia lewat Buku Dalih Pembunuhan Massal Karya Jhon Roosa

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Kamis 06 Nov 2025, 07:42 WIB
Buku Dalih Pembunuhan Massal Karya Jhon Roosa (Sumber: Instagram | Katalisbook)

Buku Dalih Pembunuhan Massal Karya Jhon Roosa (Sumber: Instagram | Katalisbook)

Saat duduk di bangku sekolah mata pelajaran sejarah tidak lepas bertengger dalam kurikulum. Selain polanya sama yaitu mengantuk, pelajaran sejarah terkenal dengan mata pelajaran yang menjemukkan karena kita dipaksa untuk mengingat tanggal-tanggal dalam sejarah bukan esensi yang bisa kita pelajari dari sejarah masa lampau untuk kebaikan hidup saat ini.

Saat masih sekolah saya begitu takut ketika mendengar penjelasan guru perihal peristiwa PKI. Narasi yang beredar menyatakan bahwa gerakan G30-S/PKI telah dianggap sebagai pengkhianatan yang dilakukan oleh PKI untuk menggulingkan pemerintahan dan mengganti ideologi Indonesia dengan komunis. Banyak peristiwa mengerikan yang terjadi di tahun 1965.

Bahkan setiap ada penayangan film perihal PKI yang ada di sekolah saya tidak pernah ikut menontonnya. Narasi banyaknya kekejian dalam peristiwa tersebut membuat saya enggan mengetahui lebih dalam perihal peristiwa tersebut.

Beberapa saat muncul kembali isu-isu pemberantasan margin kiri karena beberapa orang atau mahasiswa melakukan sejumlah diskusi dengan buku-buku yang dianggap beraliran kiri.

Hilangnya para aktivis pada tahun 1998 justru banyak saya ketahui dari novel historical fiksi milik penulis kenamaan Leila, S.Chudori (Laut Bercerita), Azwar Furgudyama (Buku Hitam Prabowo Subianto) dan Wenri (Lelaki Hujan).

Bahkan setelah membaca buku yang berjudul "Mereka Hilang Tak Kembali" milik Aristayanu Bagus dkk membuat saya penasaran dan mencari tahu tentang perspektif lain Sejarah Indonesia melalui buku John Roosa yang berjudul "Dalih Pembunuhan Massal".

Berbeda dengan buku lainnya yang menonjolkan PKI sebagai dalang utama terjadinya G-30S, John Roosa secara netral coba menyajikan sudut pandang lain dari peristiwa G-30S berdasarkan sejarah. John yang merupakan sejarawan yang pernah menimba ilmu di Universitas British Columbia. Melalui riset yang mendalam, penulis mengajak pembaca untuk berfokus pada pihak terkait yang diuntungkan setelah peristiwa G-30 S terjadi.

John menemukan banyak kejanggalan terkait pemberitaan yang disiarkan melalui RRI (Radio Republik Indonesia) yang terkesan bertolak belakang dari hari ke hari juga ketika respon Suharto yang terasa terlalu buru-buru menanggapi kejadian G-30S pada 1 Oktober 1965. Banyak kejadian mengerikan yang membersamai perjalanan bangsa Indonesia di era tersebut. Ada berbagai macam momen tragis yang diangkat seperti bagaimana kondisi pergantian rezim dari Orla menuju Orba, Kekejaman Mahkamah Militer terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam PKI juga Sukarno yang kehilangan kepercayaan dari koleganya.

Yang menjadi berbeda dari buku milik John dibandingkan dengan buku sejarah lain adanya sumber primer yang dicantumkan oleh penulis. Beberapa dokumen rahasia Amerika Serikat yang sudah dipublikasikan, dokumen wawancara John dengan Hasan, berbagai macam tulisan Muhammad Munir dan Iskandar Subekti (Petinggi PKI) yang terdokumentasi di Amsterdam.

Salah satu fakta yang ditemukan ole John adalah terlibatnya Sjam atau Kamaruzaman terhadap terjadinya G-30S. Ternyata Sjam merupakan tangan kanan dari Aidit yang sudah bekerja bersamanya selama 15 tahun sebagai mata-mata Angkatan Darat dan perantaranya bagi keduanya. Siasat ini dilakukan karena justru PKI tidak ingin terjadi baku hantam karena persediaan senjata yang tidak memungkinkan.

Berbanding terbalik dengan narasi yang beredar sejak lama bahwa PKI menjadi dalang pemberangusan manusia dalam peristiwa G-30S. Supardjo menuliskan dalam dokumennya bahwa peristiwa G-30S dilatarbelakangi oleh kekuatan militer tapi tidak berjalan dengan baik karena tidak adanya kesatuan komandan. Menurutnya juga peristiwa ini merupakan pemberontakan militer dan sosial juga termasuk ke dalam percobaan kudeta.

Sementara melalui analisis lain yang dilakukan Jhon terhadap sejumlah tokoh yang menjadi saksi sejarah mengatakan bahwa pemerintahan Amerika Serikat sejak dulu tidak menyukai Seokarno. Hal ini dikarenakan kebijakan Seokarno yaitu politik bebas aktif dan nasionalisasi ekonomi yang digagasnya justru dapat menghalangi investasi AS di Indonesia.

Buku ini merupakan salah satu yang detail dalam menarasikan peristiwa pada tahun 1965. Buku ini sangat cocok untuk menjawab rasa penasaran terkait prespektif lain dari sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Narasi yang ada dalam buku ini secara tidak langsung membangun jiwa kritis pembaca untuk mempertanyakan banyak keganjilan informasi dari apa yang dipercayai selama ini. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Beranda 07 Feb 2026, 12:14 WIB

Potret Pocong QRIS, Potret Kreativitas Jalanan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

Bagi Toni dan rekan-rekannya sesama pekerja “hantu-hantuan”, yang terpenting adalah ada hasil yang bisa dibawa pulang.
Cosplayer pocong di Lembang memanfaatkan QRIS untuk menerima uang dari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 06 Feb 2026, 21:11 WIB

Polemik Tambang Galian C, Gerus Perbukitan Bandung Setiap Tahun

Walhi mencatat 15–20 hektare perbukitan hilang tiap tahun di Kabupaten Bandung akibat tambang. Kawasan imbuhan air ikut tergerus.
Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 06 Feb 2026, 19:52 WIB

Rahasia Pondok Pesantren di Ciwidey Menjadi Penyelamat Pasokan Pangan Jawa Barat Saat Beban Ekonomi Semakin Berat

Fokus pada sektor domestik, terutama ketahanan pangan, kini menjadi prioritas utama agar guncangan ekonomi dunia tidak langsung memukul daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.
Al-Ittifaq bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan telah bertransformasi menjadi "pusat saraf" distribusi pangan yang mampu menggerakkan ekonomi desa secara profesional. (Sumber: instagram.com/alittifaq.coop)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 18:05 WIB

Bahasa Iklan Ramadan: Antara Religiusitas dan Strategi Komersial

Dalam dunia pemasaran, Ramadan adalah musim puncak.
Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)
Bandung 06 Feb 2026, 17:14 WIB

Salon Jadi Galeri, Bentuk Eksperimen Estetika Baru di Bandung ala Grey Hair and Nail Artistry

Grey Hair and Nail Artistry hadir mendobrak sekat kaku antara ruang pameran dan ruang perawatan kecantikan, menciptakan sebuah harmoni visual yang belum pernah ada sebelumnya.
Grey Hair and Nail Artistry hadir mendobrak sekat kaku antara ruang pameran dan ruang perawatan kecantikan, menciptakan sebuah harmoni visual yang belum pernah ada sebelumnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 15:06 WIB

Enak dan Asyik, Munggahan di Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar TKI

Soal harga, Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar Taman Kopo Indah ini bersaing dengan warung sop kambing lainnya.
Soal harga, Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar Taman Kopo Indah ini bersaing dengan warung sop kambing lainnya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 06 Feb 2026, 14:51 WIB

AI Menjanjikan Kemudahan dan Kecepatan, Tapi Siapa yang Menanggung Risikonya?

Isu AI kerap hanya dijadikan alat untuk memperkuat pujian terhadap kecanggihan teknologi, tanpa membuka ruang kritik yang konstruktif.
Ilustrasi penggunaan mesin AI dalam pekerjaan. (Sumber: Berke Citak on Unsplash)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 14:21 WIB

Tasbih Digital sebagai Sarana Zikir di Tengah Perkembangan Teknologi

Tasbih digital menjadi bukti nyata bagaimana Islam mampu menyesusikan dirinya dengan setiap medan perkembangan zaman yang deras ini
Ilustrasi tasbih yang belum digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Jelajah 06 Feb 2026, 13:48 WIB

Jejak Tentara Bayaran Rusia dari Indonesia, Kisah Para Desertir di Bawah Komando Kremlin

Perang ribuan kilometer dari Indonesia tetap menarik warga Indonesia. Dua desertir ini memperlihatkan sisi gelap konflik global dan tekanan hidup personal.
Muhammad Rio (tengah), mantan polisi Indonesia yang menjadi tentara bayaran di Rusia berfoto bersama kesatuannya.
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 13:12 WIB

Hayu Opsih

Tradisi kampung yang terkadang dianggap sederhana, kolot, justru syarat makna yang terdalam.
Tradisi bersih-bersih di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) jelang Ramadan. (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 11:35 WIB

Tanda-Tanda Ramadan dan Berkah di Bulan Suci

Berikut beberapa “rasa” yang saya alami yang menunjukkan semakin dekatnya Ramadan.
Alquran dan kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Dalangan)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 08:16 WIB

Bila Munggahan di Bandung: Alhamdulillah Bisa Botram Khidmat di Kebon Binatang

Dalam tradisi Sunda, munggahan memang bukan sekadar makan bersama.
Warga memanfaatkan ruang terbuka hijau di Kebun Binatang Bandung untuk bersantai dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Farisi)
Beranda 06 Feb 2026, 07:26 WIB

Kisah Alun-alun Cicendo yang Masih Ramai oleh Harapan tapi Minim Perhatian

Ruang publik ini berada di persimpangan antara tujuan awal sebagai ruang bersama warga dan realitas pengelolaan yang belum konsisten.
Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 05 Feb 2026, 21:08 WIB

Jawa Barat Kerahkan Strategi Demi Amankan Stok Pangan dan Stabilitas Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026

Menghadapi siklus tahunan lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Jawa Barat mulai memperketat pengawasan di sektor riil guna memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen.
Menghadapi siklus tahunan lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Jawa Barat mulai memperketat pengawasan di sektor riil guna memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 05 Feb 2026, 19:29 WIB

Grey Cube, Nafas Baru di Dago dan Ambisi Memperkuat Jantung Seni Rupa Bandung

Kehadiran Grey Cube menandai babak baru dalam cara masyarakat khususnya Bandung mengapresiasi karya seni kontemporer.
Kehadiran Grey Cube menandai babak baru dalam cara masyarakat khususnya Bandung mengapresiasi karya seni kontemporer. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Jelajah 05 Feb 2026, 18:20 WIB

Sejarah Peristiwa Cimareme 1919, Perlawanan Petani Garut yang Dipicu Krisis Pangan

Krisis pangan Hindia Belanda mengubah kebijakan wajib jual padi menjadi kekerasan. Cimareme 1919 mencatat bagaimana sawah berubah menjadi medan perang.
Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)
Ayo Netizen 05 Feb 2026, 17:25 WIB

10 Netizen Terpilih Januari 2026: Resolusi untuk Bandung 2026

Sepuluh penulis terbaik yang berhasil menorehkan karya-karya berkualitas di kanal Ayo Netizen sepanjang Januari 2026.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: uji kanggo gumilang)
Bandung 05 Feb 2026, 17:04 WIB

AyoBandung Gelar Workhsop Pembuatan Konten Media Sosial untuk Umum, Pemula hingga Pelaku UMKM Merapat!

AyoBizz melalui kanal utama AyoBandung.id membuka pendaftaran workshop pembuatan konten media sosial berbasiskan artificial intelligence (AI) bagi pemula, pelaku UMKM, pegiat media sosial, dan lainnya
AyoBizz melalui kanal utama AyoBandung.id membuka pendaftaran workshop pembuatan konten media sosial berbasiskan artificial intelligence (AI) bagi pemula, pelaku UMKM, pegiat media sosial, dan lainnya.
Bandung 05 Feb 2026, 16:49 WIB

Surabi Mang Encu: Jajanan Jadul, Bertahan di Malam Kosambi yang Kian Sepi

Surabi Mang Encu menciptakan momentum dagangnya sejak senja muncul, hingga hampir tengah malam waktu setempat.
Surabi Mang Encu menciptakan momentum dagangnya sejak senja muncul, hingga hampir tengah malam waktu setempat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)