Perspektif Lain Sejarah Indonesia lewat Buku Dalih Pembunuhan Massal Karya Jhon Roosa

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Buku Dalih Pembunuhan Massal Karya Jhon Roosa (Sumber: Instagram | Katalisbook)
Buku Dalih Pembunuhan Massal Karya Jhon Roosa (Sumber: Instagram | Katalisbook)

Saat duduk di bangku sekolah mata pelajaran sejarah tidak lepas bertengger dalam kurikulum. Selain polanya sama yaitu mengantuk, pelajaran sejarah terkenal dengan mata pelajaran yang menjemukkan karena kita dipaksa untuk mengingat tanggal-tanggal dalam sejarah bukan esensi yang bisa kita pelajari dari sejarah masa lampau untuk kebaikan hidup saat ini.

Saat masih sekolah saya begitu takut ketika mendengar penjelasan guru perihal peristiwa PKI. Narasi yang beredar menyatakan bahwa gerakan G30-S/PKI telah dianggap sebagai pengkhianatan yang dilakukan oleh PKI untuk menggulingkan pemerintahan dan mengganti ideologi Indonesia dengan komunis. Banyak peristiwa mengerikan yang terjadi di tahun 1965.

Bahkan setiap ada penayangan film perihal PKI yang ada di sekolah saya tidak pernah ikut menontonnya. Narasi banyaknya kekejian dalam peristiwa tersebut membuat saya enggan mengetahui lebih dalam perihal peristiwa tersebut.

Beberapa saat muncul kembali isu-isu pemberantasan margin kiri karena beberapa orang atau mahasiswa melakukan sejumlah diskusi dengan buku-buku yang dianggap beraliran kiri.

Hilangnya para aktivis pada tahun 1998 justru banyak saya ketahui dari novel historical fiksi milik penulis kenamaan Leila, S.Chudori (Laut Bercerita), Azwar Furgudyama (Buku Hitam Prabowo Subianto) dan Wenri (Lelaki Hujan).

Bahkan setelah membaca buku yang berjudul "Mereka Hilang Tak Kembali" milik Aristayanu Bagus dkk membuat saya penasaran dan mencari tahu tentang perspektif lain Sejarah Indonesia melalui buku John Roosa yang berjudul "Dalih Pembunuhan Massal".

Berbeda dengan buku lainnya yang menonjolkan PKI sebagai dalang utama terjadinya G-30S, John Roosa secara netral coba menyajikan sudut pandang lain dari peristiwa G-30S berdasarkan sejarah. John yang merupakan sejarawan yang pernah menimba ilmu di Universitas British Columbia. Melalui riset yang mendalam, penulis mengajak pembaca untuk berfokus pada pihak terkait yang diuntungkan setelah peristiwa G-30 S terjadi.

John menemukan banyak kejanggalan terkait pemberitaan yang disiarkan melalui RRI (Radio Republik Indonesia) yang terkesan bertolak belakang dari hari ke hari juga ketika respon Suharto yang terasa terlalu buru-buru menanggapi kejadian G-30S pada 1 Oktober 1965. Banyak kejadian mengerikan yang membersamai perjalanan bangsa Indonesia di era tersebut. Ada berbagai macam momen tragis yang diangkat seperti bagaimana kondisi pergantian rezim dari Orla menuju Orba, Kekejaman Mahkamah Militer terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam PKI juga Sukarno yang kehilangan kepercayaan dari koleganya.

Yang menjadi berbeda dari buku milik John dibandingkan dengan buku sejarah lain adanya sumber primer yang dicantumkan oleh penulis. Beberapa dokumen rahasia Amerika Serikat yang sudah dipublikasikan, dokumen wawancara John dengan Hasan, berbagai macam tulisan Muhammad Munir dan Iskandar Subekti (Petinggi PKI) yang terdokumentasi di Amsterdam.

Salah satu fakta yang ditemukan ole John adalah terlibatnya Sjam atau Kamaruzaman terhadap terjadinya G-30S. Ternyata Sjam merupakan tangan kanan dari Aidit yang sudah bekerja bersamanya selama 15 tahun sebagai mata-mata Angkatan Darat dan perantaranya bagi keduanya. Siasat ini dilakukan karena justru PKI tidak ingin terjadi baku hantam karena persediaan senjata yang tidak memungkinkan.

Berbanding terbalik dengan narasi yang beredar sejak lama bahwa PKI menjadi dalang pemberangusan manusia dalam peristiwa G-30S. Supardjo menuliskan dalam dokumennya bahwa peristiwa G-30S dilatarbelakangi oleh kekuatan militer tapi tidak berjalan dengan baik karena tidak adanya kesatuan komandan. Menurutnya juga peristiwa ini merupakan pemberontakan militer dan sosial juga termasuk ke dalam percobaan kudeta.

Sementara melalui analisis lain yang dilakukan Jhon terhadap sejumlah tokoh yang menjadi saksi sejarah mengatakan bahwa pemerintahan Amerika Serikat sejak dulu tidak menyukai Seokarno. Hal ini dikarenakan kebijakan Seokarno yaitu politik bebas aktif dan nasionalisasi ekonomi yang digagasnya justru dapat menghalangi investasi AS di Indonesia.

Buku ini merupakan salah satu yang detail dalam menarasikan peristiwa pada tahun 1965. Buku ini sangat cocok untuk menjawab rasa penasaran terkait prespektif lain dari sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Narasi yang ada dalam buku ini secara tidak langsung membangun jiwa kritis pembaca untuk mempertanyakan banyak keganjilan informasi dari apa yang dipercayai selama ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)