Mengapa Pejabat Kita Perlu Membaca Buku?

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Tanpa literasi atau membaca buku, pejabat hanya melahirkan kebijakan reaktif, dangkal, dan jangka pendek. (Sumber: Instagram | nusantara_maps)
Tanpa literasi atau membaca buku, pejabat hanya melahirkan kebijakan reaktif, dangkal, dan jangka pendek. (Sumber: Instagram | nusantara_maps)

Seberapa dekat pejabat kita dengan buku?

Pertama kali saya menyadari bahwa para pejabat kita tidak dekat dengan buku adalah ketika melihat wawancara yang dilakukan oleh Najwa Sihab kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam video tersebut Najwa bertanya perihal bagaimana budaya membaca buku diturunkan dari Jokowi dan Iriana selaku orangtua kepada anak-anaknya.

Hmm, susah yah kalau itu. Kalau saya sendiri sih jujur aja orangnya gak suka membaca buku. Hem paling saya ini sukanya baca komik. (dengan suara gemetar dengan pertanyaan Najwa Sihab)

Semenjak video tersebut viral di media sosial banyak konten kreator yang merekomendasikan sejumlah buku bacaan bagi Gibran yang bisa dipraktikan untuk memimpin negara ini.

Salah sartu konten kreator yang menyoroti isu ini adalah @alwijo, dalam video tersebut Alwi menanyakan kepada temannya beberapa rekomendasi buku yang wajib dibaca oleh Gibran diantaranya, pertama, Kronik Penculikan Aktivis 1998 karya Muhidin M.Dahlan agar Gibran tahu gambaran Prabowo itu seperti apa melalui kisah hidupnya. Kedua, Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching mengenai tragedi 1998 termasuk pemerkosaan masal supaya bisa debat dengan Fadli Zon. Ketiga, Animal Farm perihal kisah negara yang Gibran pimpin.

Selanjutnya dengan konten yang berbeda, teman Alwi juga merekomendasikan beberapa buku yang wajib dibaca oleh Gibran diantaranya, pertama Creative Writing karya A.S Laksana yang menceritakan segala hal aspek teknis tentang penulisan. Belajar menulis sama dengan belajar menata pikiran dan belajar mengutarakannya kepada orang lain. Kedua, Metode Jakarta karya Vincent Bevins tentang buku yang menjelaskan kearifan lokal yang merupakan soft power projection karena berhasil menembus pasar luar negeri. Ketiga, Politik Jatah Preman tentang bagaimana negara mengkaryakan para ormas salah satunya sebagai subkontraktor kekerasan.

Menjadi ironi ketika pejabat kita lebih gemar pamer kemewahan dibandingkan dengan pamer buku bacaan yang mengubah atau menginspirasi mereka. Bahkan saat kasus penjarahan terjadi hampir tidak ada satu buku pun ditemukan di rumah mewah para pejabat. Bahkan Ahmad Sahroni yang memiliki buku karya sendiri pun tak ditemukan buku bacaan milik orang lain dirumahnya. Padahal menulis itu biasanya terinspirasi dari banyak buku bacaan orang lain.

Menjadi ironi kembali, sebab dari aktivitas membacalah lahir sebuah gagasan yang besar untuk memimpin bangsa atau melahirkan sejumlah kebijakan yang baik dan benar. Bukan gagasan yang reaktif, dangkal dan jangka pendek.

Sebagian masyarakat yang giat mengkampanyekan literasi tanpa diminta pemerintah justru menjadi sebuah kelayakan jika kita bertanya "Jika membaca buku satu saja sulit lantas bagaimana pejabat kita bisa mengelola kompleksitas negara selama memimpin lima tahun masa jabatan? Tidak salah ketika sejumlah kebijakan yang lahir saat ini tidak pernah pro terhadap kondisi rakyat.

Dengan membaca buku maka pejabat kita bisa memiliki wawasan yang luas untuk memperbaiki kondisi negara ini. Buku dapat memberikan perspektif mendalam mengenai berbagai masalah sosial, ekonomi, budaya dan politik. Dengan membaca buku maka pejabat kita bisa memahami akar masalah dan menemukan solusi yang mungkin saja belum terpikirkan sebelumnya.

Dengan membaca buku pejabat kita bisa meningkatkan daya nalar kritis. Dengan membaca buku bisa melatih otak untuk mengasah daya analisis, kemampuan memecahkan masalah dan memiliki daya kritis yang menjadi hal paling krusial dalam membuat keputusan dan kebijakan yang tepat.

Dengan membaca buku pejabat kita bisa memperkaya keterampilan komunikasi. Dengan membaca buku maka akan melahirkan keterampilan public speaking yang tidak bisa didapatkan tanpa wawasan yang kaya hasil dari membaca buku. Pejabat yang rajin untuk membaca buku maka akan memiliki keterampilan dalam menyusun argumen serta berkomunikasi dengan cara yang baik. Bukan seperti pejabat kita yang sering blunder dengan segala pernyataannya.

Dengan membaca buku pejabat kita bisa membangun kredibilitas dan empati. Membaca buku non-fiksi memang bisa memperkaya keilmuan dan wawasan yang luas. Tapi dengan membaca karya sastra akan meningkatkan kepekaan terhadap perasaan rakyat kecil, peka terhadap kondisi masyarakat sehingga sangat berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan atau kebijakan.

Dengan membaca pejabat kita bisa memimpin dengan cara mengikuti perkembangan zaman. Dengan membaca maka pejabat bisa tetap relevan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman yang menjadi penting di tengah era globalisasi ketika semua negara bersaing untuk melahirkan kebijakan yang efektif.

Masihkan kita bisa berharap pada kebijakan publik yang berkualitas, jika para pejabatnya saja jarang membaca buku ?

Mari sama-sama untuk terus mengingatkan pejabat kita untuk melakukan kebiasan-kebiasaan kecil demi Indonesia lebih baik di masa depan. Sambil kita sebagai rakyat terus ikut tumbuh dengan dunia literasi.

Mari terus tumbuh dengan kebiasaan membaca buku untuk kita yang harus tetap punya daya nalar kritis untuk menentang kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Mari terus tumbuh dengan kebiasaan membaca buku untuk kita yang harus tetap punya kebijaksanaan untuk melihat fenomena dalam berbagai sudut pandang. Mari terus tumbuh dengan kebiasaan membaca buku dan menulis untuk kita yang harus tetap tinggal meninggalkan jejak peradaban, meski alunan detak jantung kita tidak akan bertahan melawan waktu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)