Hikayat Situ Cileunca, Danau Buatan yang Bikin Wisatawan Eropa Terpesona

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)
Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di ketinggian 1.550 meter dari permukaan laut, berdirilah sebuah danau buatan yang keluasan dan ketenangannya sanggup menipu siapa pun bahwa air itu tidak lahir dari proses alam. Situ Cileunca, yang terletak di Desa Warnasari, Pangalengan, dibentuk oleh tangan-tangan kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Danau seluas kurang-lebih 1.400 hektare ini bukan sekadar tempat asyik memotret kabut pagi, melainkan bagian dari proyek ambisius pengendalian air dan pembangkit listrik yang membentuk wajah Bandung modern.

Sebelum air memenuhi cekungan itu pada 1926, kawasan tersebut adalah hutan dan lahan milik Willem Hermanus Hoogland, tuan kebun yang tercatat sebagai pemilik Borderij N.V. Almanak. Ketika pemerintah kolonial mulai sibuk menata jaringan energi di Priangan, Hoogland menyepakati pembebasan lahannya. Pada 1919, pembangunan Situ Cileunca dimulai.

Tujuh tahun kemudian, pada 1926, air sudah menggenang, menelan lembah-lembah kecil dan membentuk danau yang kemudian dicintai penduduk setempat maupun pendatang Eropa.

Baca Juga: Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

Waduk Kolonial untuk Pembangkit Listrik

Tujuan awal pembangunan Situ Cileunca tidak romantis sama sekali. Tidak ada kisah cinta, tidak ada rindu yang tertinggal di bawah permukaan air. Proyek ini disiapkan untuk menopang tiga pembangkit listrik tenaga air: Plengan, Lamajan, dan Cikalong. Pemerintah kolonial membutuhkan suplai energi yang stabil untuk Bandung, Cimahi, Lembang, Padalarang, serta stasiun radio jarak jauh Malabar.

PLTA Plengan mulai berdetak pada 1923. Aliran listriknya dikirim untuk menyalakan stasiun radio Malabar yang sanggup mengirim sinyal hingga Belanda. PLTA Lamajan menyusul tak lama, dibangun antara 1920 hingga 1924 dan beroperasi sejak 1925.

Ragam mesin yang bekerja di sana menggunakan produk pabrikan Belanda seperti Heemaf dan Smit Slikkerveer, diprakarsai oleh V.H Willem Smith & Co. serta R.W.H. Hofstede Crull. PLTA Cikalong, yang konstruksinya dimulai pada abad ke-19, akhirnya diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1954 setelah menjalani modernisasi pascakemerdekaan.

Situ Cileunca pun bekerja sebagai gudang air raksasa. Kapasitasnya mencapai 9,89 juta meter kubik, dengan kedalaman berkisar 17 hingga 20 meter. Air yang tertampung berfungsi untuk irigasi sekaligus menjaga suplai energi sepanjang tahun.

Setelah Indonesia merdeka, fungsinya masih dipertahankan: airnya tetap menjadi cadangan strategis bagi Bandung ketika musim kemarau panjang datang tanpa permisi.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Pada 1920-an, tulisan dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan menggambarkan bagaimana waduk ini diperbesar oleh Dinas Tenaga Air dan Listrik agar sanggup menambah debit Sungai Cisarua dan Cisangkuy. Pada musim kemarau, pintu-pintu air pada menara mengatur aliran air secara presisi. Kanal-kanal, terowongan, dan saluran limpasan dibentuk berdasarkan hitungan yang cermat. Menara pelepas air waduk itu menjadi ikon teknologi kolonial Priangan pada dekade 1920-an.

Saking strategisnya, untuk memasuki area bendungan pada 1920-an seseorang bahkan harus memegang izin dari insinyur operasional Perusahaan Penyedia Listrik di Dataran Tinggi Bandung. Air adalah urusan vital, dan kolonialisme tidak pernah main-main ketika menyangkut sumber tenaga untuk kota-kota modern yang mereka bangun.

Dari Tamasya Kolonial ke Wisata Kekinian

Walaupun dibangun untuk alasan utilitarian, Situ Cileunca sejak awal sudah menarik perhatian para pemukim Eropa. Foto-foto Tropenmuseum yang diambil antara 1920 sampai 1932 menunjukkan orang Belanda sudah gemar berenang di tepinya, mengayuh perahu kecil, atau sekadar menikmati lanskap perkebunan teh yang mengelilinginya.

Pangalengan pada masa itu adalah kawasan dingin yang dianggap menyaingi dataran tinggi di Eropa, sehingga para pejabat dan warga kolonial merasa betah bersantai di sana.

Warga Eropa kolonial punya kebiasaan sederhana: jika ada tempat yang indah, mereka akan menjadikannya lokasi piknik. Situ Cileunca pun tidak luput dari kebiasaan itu. Foto-foto kuno dari awal 1930-an memperlihatkan orang-orang Belanda yang berperahu, berenang, atau hanya duduk menikmati udara dingin. Pemandangan kebun teh di sekeliling danau membuat kawasan ini sering dijuluki Swiss kecil di Priangan. Sebuah julukan yang sebenarnya tidak terlalu berlebihan jika melihat kabut yang turun saban pagi.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Konstruksi hidrolik di danau Situ Cileunca. (Sumber: KITLV)
Konstruksi hidrolik di danau Situ Cileunca. (Sumber: KITLV)

Di sana, ada pula cerita tentang kapal Belanda yang tenggelam di dasar danau. Cerita itu lama terdengar seperti legenda sampai akhirnya pada 2016, ketika danau disurutkan untuk perbaikan, warga menemukan sisa-sisa kapal di dasar air. Temuan itu seolah mempertegas bahwa Situ Cileunca bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang di mana sejarah terus muncul dari lumpur danau.

Tapi, kehidupan Situ Cileunca juga pernah diliputi kecemasan. Pada masa pendudukan Jepang, kawasan Pangalengan yang dipenuhi fasilitas energi diawasi ketat. Pada 4 Mei 1945, terjadi perlawanan tentara PETA di sekitar Cileunca. Upaya itu tidak berhasil, dan sejumlah prajurit kemudian dieksekusi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu jejak pilu yang melekat pada wilayah yang terlihat tenang itu.

Setelah kemerdekaan, fungsi danau tidak berubah banyak. Airnya tetap mengalir ke PLTA yang masih bekerja sampai sekarang, sekaligus menjadi cadangan air bersih untuk Bandung. Yang berubah justru peran wisataannya. Kini Situ Cileunca menjadi tujuan besar di Bandung Selatan. Pengunjung datang untuk melihat pemandangan, berkemah, arung jeram di Sungai Palayangan, atau sekadar menepi dari hiruk pikuk kota.

Salah satu ikon paling terkenal adalah Jembatan Cinta yang menghubungkan Desa Pulosari dan Warnasari. Awalnya jembatan ini dibangun untuk memudahkan warga lintas desa. Namun pasangan muda dari dua kampung itu rupanya kerap bertemu di tengah jembatan, hingga namanya berubah menjadi Jembatan Cinta. Dari sisi turisme, sebutan itu memang sangat menguntungkan. Sudutnya fotogenik, latarnya nyaris selalu memesona.

Situ Cileunca juga memiliki sisi mistis yang selalu hidup dalam cerita warga. Ada keyakinan tentang keberadaan penjaga danau yang tidak boleh diganggu. Cerita ini biasanya terdengar saat warga mengadakan acara tertentu atau ketika malam turun lebih cepat daripada biasanya. Meski tidak pernah tercatat dalam arsip resmi, kisah itu menjadi bagian dari identitas budaya yang melingkupi danau.

Suhu udara di kawasan ini sejuk, berkisar antara 15 hingga 28 derajat, dan kadang turun sampai sepuluh derajat. Perkebunan teh PTPN VIII Malabar membentang luas di sekitarnya, memberi pemandangan yang membuat siapa pun merasa sedang berada di lembar kalender. Akses menuju danau cukup mudah. Dari Bandung, perjalanan dua hingga tiga jam sudah cukup untuk tiba di bibir danau.

Warisan kolonial Situ Cileunca tetap hidup sampai saat ini. Penstock raksasa berwarna kuning yang mengalirkan air ke turbin PLTA Lamajan masih bekerja tanpa pernah bocor sejak hampir satu abad lalu. Banyak mesin pembangkit buatan Belanda pada awal 1900-an tetap bisa beroperasi setelah melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, revolusi, hingga era modern Indonesia.

Situ Cileunca hari ini adalah tempat di mana masa lalu dan masa kini bersedalaman tanpa perlu bersaing. Di satu sisi, ia menyimpan bab sejarah teknis yang membantu membentuk Bandung modern; di sisi lain, ia menjadi ruang rekreasi yang santai dan penuh cerita. Bagi para pencinta sejarah, danau ini adalah laboratorium terbuka tentang bagaimana infrastruktur kolonial dibangun di kawasan terpencil Priangan. Bagi wisatawan, ia hanyalah tempat indah yang nyaman dikunjungi kapan saja.

Tetapi entah datang untuk belajar, untuk berfoto, atau sekadar mencari udara dingin, siapa pun akan sepakat bahwa Situ Cileunca adalah salah satu mutiara Pangalengan yang tetap berkilau sejak seabad lalu hingga hari ini.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)