Hikayat Situ Cileunca, Danau Buatan yang Bikin Wisatawan Eropa Terpesona

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 12 Des 2025, 07:14 WIB
Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)

Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di ketinggian 1.550 meter dari permukaan laut, berdirilah sebuah danau buatan yang keluasan dan ketenangannya sanggup menipu siapa pun bahwa air itu tidak lahir dari proses alam. Situ Cileunca, yang terletak di Desa Warnasari, Pangalengan, dibentuk oleh tangan-tangan kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Danau seluas kurang-lebih 1.400 hektare ini bukan sekadar tempat asyik memotret kabut pagi, melainkan bagian dari proyek ambisius pengendalian air dan pembangkit listrik yang membentuk wajah Bandung modern.

Sebelum air memenuhi cekungan itu pada 1926, kawasan tersebut adalah hutan dan lahan milik Willem Hermanus Hoogland, tuan kebun yang tercatat sebagai pemilik Borderij N.V. Almanak. Ketika pemerintah kolonial mulai sibuk menata jaringan energi di Priangan, Hoogland menyepakati pembebasan lahannya. Pada 1919, pembangunan Situ Cileunca dimulai.

Tujuh tahun kemudian, pada 1926, air sudah menggenang, menelan lembah-lembah kecil dan membentuk danau yang kemudian dicintai penduduk setempat maupun pendatang Eropa.

Baca Juga: Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

Waduk Kolonial untuk Pembangkit Listrik

Tujuan awal pembangunan Situ Cileunca tidak romantis sama sekali. Tidak ada kisah cinta, tidak ada rindu yang tertinggal di bawah permukaan air. Proyek ini disiapkan untuk menopang tiga pembangkit listrik tenaga air: Plengan, Lamajan, dan Cikalong. Pemerintah kolonial membutuhkan suplai energi yang stabil untuk Bandung, Cimahi, Lembang, Padalarang, serta stasiun radio jarak jauh Malabar.

PLTA Plengan mulai berdetak pada 1923. Aliran listriknya dikirim untuk menyalakan stasiun radio Malabar yang sanggup mengirim sinyal hingga Belanda. PLTA Lamajan menyusul tak lama, dibangun antara 1920 hingga 1924 dan beroperasi sejak 1925.

Ragam mesin yang bekerja di sana menggunakan produk pabrikan Belanda seperti Heemaf dan Smit Slikkerveer, diprakarsai oleh V.H Willem Smith & Co. serta R.W.H. Hofstede Crull. PLTA Cikalong, yang konstruksinya dimulai pada abad ke-19, akhirnya diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1954 setelah menjalani modernisasi pascakemerdekaan.

Situ Cileunca pun bekerja sebagai gudang air raksasa. Kapasitasnya mencapai 9,89 juta meter kubik, dengan kedalaman berkisar 17 hingga 20 meter. Air yang tertampung berfungsi untuk irigasi sekaligus menjaga suplai energi sepanjang tahun.

Setelah Indonesia merdeka, fungsinya masih dipertahankan: airnya tetap menjadi cadangan strategis bagi Bandung ketika musim kemarau panjang datang tanpa permisi.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Pada 1920-an, tulisan dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan menggambarkan bagaimana waduk ini diperbesar oleh Dinas Tenaga Air dan Listrik agar sanggup menambah debit Sungai Cisarua dan Cisangkuy. Pada musim kemarau, pintu-pintu air pada menara mengatur aliran air secara presisi. Kanal-kanal, terowongan, dan saluran limpasan dibentuk berdasarkan hitungan yang cermat. Menara pelepas air waduk itu menjadi ikon teknologi kolonial Priangan pada dekade 1920-an.

Saking strategisnya, untuk memasuki area bendungan pada 1920-an seseorang bahkan harus memegang izin dari insinyur operasional Perusahaan Penyedia Listrik di Dataran Tinggi Bandung. Air adalah urusan vital, dan kolonialisme tidak pernah main-main ketika menyangkut sumber tenaga untuk kota-kota modern yang mereka bangun.

Dari Tamasya Kolonial ke Wisata Kekinian

Walaupun dibangun untuk alasan utilitarian, Situ Cileunca sejak awal sudah menarik perhatian para pemukim Eropa. Foto-foto Tropenmuseum yang diambil antara 1920 sampai 1932 menunjukkan orang Belanda sudah gemar berenang di tepinya, mengayuh perahu kecil, atau sekadar menikmati lanskap perkebunan teh yang mengelilinginya.

Pangalengan pada masa itu adalah kawasan dingin yang dianggap menyaingi dataran tinggi di Eropa, sehingga para pejabat dan warga kolonial merasa betah bersantai di sana.

Warga Eropa kolonial punya kebiasaan sederhana: jika ada tempat yang indah, mereka akan menjadikannya lokasi piknik. Situ Cileunca pun tidak luput dari kebiasaan itu. Foto-foto kuno dari awal 1930-an memperlihatkan orang-orang Belanda yang berperahu, berenang, atau hanya duduk menikmati udara dingin. Pemandangan kebun teh di sekeliling danau membuat kawasan ini sering dijuluki Swiss kecil di Priangan. Sebuah julukan yang sebenarnya tidak terlalu berlebihan jika melihat kabut yang turun saban pagi.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Konstruksi hidrolik di danau Situ Cileunca. (Sumber: KITLV)
Konstruksi hidrolik di danau Situ Cileunca. (Sumber: KITLV)

Di sana, ada pula cerita tentang kapal Belanda yang tenggelam di dasar danau. Cerita itu lama terdengar seperti legenda sampai akhirnya pada 2016, ketika danau disurutkan untuk perbaikan, warga menemukan sisa-sisa kapal di dasar air. Temuan itu seolah mempertegas bahwa Situ Cileunca bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang di mana sejarah terus muncul dari lumpur danau.

Tapi, kehidupan Situ Cileunca juga pernah diliputi kecemasan. Pada masa pendudukan Jepang, kawasan Pangalengan yang dipenuhi fasilitas energi diawasi ketat. Pada 4 Mei 1945, terjadi perlawanan tentara PETA di sekitar Cileunca. Upaya itu tidak berhasil, dan sejumlah prajurit kemudian dieksekusi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu jejak pilu yang melekat pada wilayah yang terlihat tenang itu.

Setelah kemerdekaan, fungsi danau tidak berubah banyak. Airnya tetap mengalir ke PLTA yang masih bekerja sampai sekarang, sekaligus menjadi cadangan air bersih untuk Bandung. Yang berubah justru peran wisataannya. Kini Situ Cileunca menjadi tujuan besar di Bandung Selatan. Pengunjung datang untuk melihat pemandangan, berkemah, arung jeram di Sungai Palayangan, atau sekadar menepi dari hiruk pikuk kota.

Salah satu ikon paling terkenal adalah Jembatan Cinta yang menghubungkan Desa Pulosari dan Warnasari. Awalnya jembatan ini dibangun untuk memudahkan warga lintas desa. Namun pasangan muda dari dua kampung itu rupanya kerap bertemu di tengah jembatan, hingga namanya berubah menjadi Jembatan Cinta. Dari sisi turisme, sebutan itu memang sangat menguntungkan. Sudutnya fotogenik, latarnya nyaris selalu memesona.

Situ Cileunca juga memiliki sisi mistis yang selalu hidup dalam cerita warga. Ada keyakinan tentang keberadaan penjaga danau yang tidak boleh diganggu. Cerita ini biasanya terdengar saat warga mengadakan acara tertentu atau ketika malam turun lebih cepat daripada biasanya. Meski tidak pernah tercatat dalam arsip resmi, kisah itu menjadi bagian dari identitas budaya yang melingkupi danau.

Suhu udara di kawasan ini sejuk, berkisar antara 15 hingga 28 derajat, dan kadang turun sampai sepuluh derajat. Perkebunan teh PTPN VIII Malabar membentang luas di sekitarnya, memberi pemandangan yang membuat siapa pun merasa sedang berada di lembar kalender. Akses menuju danau cukup mudah. Dari Bandung, perjalanan dua hingga tiga jam sudah cukup untuk tiba di bibir danau.

Warisan kolonial Situ Cileunca tetap hidup sampai saat ini. Penstock raksasa berwarna kuning yang mengalirkan air ke turbin PLTA Lamajan masih bekerja tanpa pernah bocor sejak hampir satu abad lalu. Banyak mesin pembangkit buatan Belanda pada awal 1900-an tetap bisa beroperasi setelah melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, revolusi, hingga era modern Indonesia.

Situ Cileunca hari ini adalah tempat di mana masa lalu dan masa kini bersedalaman tanpa perlu bersaing. Di satu sisi, ia menyimpan bab sejarah teknis yang membantu membentuk Bandung modern; di sisi lain, ia menjadi ruang rekreasi yang santai dan penuh cerita. Bagi para pencinta sejarah, danau ini adalah laboratorium terbuka tentang bagaimana infrastruktur kolonial dibangun di kawasan terpencil Priangan. Bagi wisatawan, ia hanyalah tempat indah yang nyaman dikunjungi kapan saja.

Tetapi entah datang untuk belajar, untuk berfoto, atau sekadar mencari udara dingin, siapa pun akan sepakat bahwa Situ Cileunca adalah salah satu mutiara Pangalengan yang tetap berkilau sejak seabad lalu hingga hari ini.

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)