Bukan Sekadar Tren: Alasan Perempuan Gen Z Lebih Aktif di Second Account Instagram

3 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Meet Up Komunitas Kutub Sisters pada Minggu, (21/12), di Palary Coffee & Eatery. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Meet Up Komunitas Kutub Sisters pada Minggu, (21/12), di Palary Coffee & Eatery. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah derasnya arus media sosial yang menjanjikan pengakuan, banyak perempuan justru memilih diam. Akun kosong, unggahan minim, hingga rasa ragu untuk menampilkan diri menjadi potret kegelisahan generasi muda hari ini—takut dihakimi, takut tak cukup “sempurna”, dan lelah membandingkan diri dengan standar sosial yang terus bergerak.

Hal tersebut mengemuka dalam Meet Up Komunitas Kutub Sisters pada Minggu, (21/12). Diskusi yang mengusung tema “Grow Together, Shine Together” tersebut digelar oleh Kutubdotco di Palary Coffee & Eatery.

Pemimpin Redaksi Kutubdotco, Puput Siti Latifah, mengatakan acara tersebut digelar untuk memperkenalkan ruang aman bagi para perempuan untuk saling berbagi cerita dan pengalaman yang disebut Kutub Sisters.

“Kutubdotco akan memasuki tahun kelima, dan bertepatan dengan itu, kami akhirnya bisa mengadakan acara pertemuan bersama anggota komunitas Kutub Sisters demi membuka ruang aman bagi para perempuan muda untuk berekspresi,” ujarnya.

Dia menambahkan tema Meet Up Sisters kali ini berkenaan dengan Sisterhood, Self Growth, dan peran perempuan untuk saling mendukung dan tumbuh bersama. Melalui diskusi ini, para peserta diharapkan dapat membentuk jati diri perempuan yang lebih percaya diri serta memiliki self-awareness yang tinggi.

Keseruan acara kemudian semakin terasa ketika perwakilan Direktur Media Center PWNU Jabar, yakni Iip Yahya, memantik sebuah pertanyaan kepada audiens yang mayoritas merupakan generasi Z.

Ia mengemukakan rasa herannya secara gamblang yang akhirnya mengantarkan acara ini pada topik inti seminar.

“Saya juga punya anak perempuan yang tentunya dia aktif di media sosial. Namun, saya heran karena akun IG-nya kosong, tidak ada foto apa pun. Saya rasa, hal ini merupakan fenomena yang menjamur di kalangan anak-anak Gen-Z saat ini. Yang kemudian nantinya akan terjawab melalui kedua pembicara yang hadir pada agenda hari ini,” ujarnya sambil tertawa, menandai adanya perbedaan pola pikir antargenerasi yang cukup mencolok.

Pertanyaan mendasar itu kemudian terjawab oleh dua narasumber ahli yang datang dari latar belakang berbeda.

Defira Novianti Crisandy selaku perwakilan dari Program & Community Manager ICT Watch RTIK Jabar memfokuskan pembahasan pada internet sehat sekaligus edukasi literasi digital.

Defira menjelaskan bahwa media sosial hadir sebagai wadah untuk menunjukkan pencapaian diri masing-masing individu di dunia digital saat ini. Namun, di saat yang sama, media sosial juga menjadi ruang paling “rentan” bagi kaum hawa untuk mendapatkan diskriminasi yang berujung pada penghakiman terhadap personal branding yang dibangun tiap akun.

Pernyataan Defira kemudian diperkuat oleh Tiara Kharisma Komala Farma, perwakilan dari Professional Psychology Student selaku pembicara kedua.

“Ada fenomena psikologi di dunia maya, yakni ketika orang-orang menggunakan identitas anonim, terdapat indikasi untuk mudah menghakimi, karena kemungkinan ketahuan oleh orang yang ia hakimi langsung (korbannya mayoritas public figure), hate speech itu cenderung diabaikan,” lanjut Tiara sebagai respons atas paparan sebelumnya.

Unsur lain yang dinilai lebih berdampak dan kerap membuat seseorang menyerah untuk aktif di akun utama media sosial—terutama Instagram—adalah rasa takut terhadap pakem dan standar sosial yang berkembang di masyarakat.

“Ada beberapa perempuan yang dirasa menganggap kemampuan dan personal branding dirinya masih jauh dari kata ‘sempurna’ jika ujungnya dikomparasi dengan pencapaian beberapa teman di sekitarnya, terutama ketika melihat kehidupan teman seangkatan sekolah atau teman kerja yang kariernya sudah sukses terlebih dahulu daripada dirinya sendiri,” ujar Defira menambahkan.

Ketika seseorang mulai merasa gagal melalui kacamata hidup orang lain, di situlah peran women support women menjadi sangat penting.

Langkah kecil yang progresif untuk menentukan arah kehidupan yang lebih sehat dapat dimulai dengan memilih lingkungan pertemanan yang mendukung, mau mendengarkan, dan tidak saling menyalahkan—baik saat berada di titik terendah maupun ketika merayakan pencapaian.

Defira berulang kali menegaskan bahwa lingkungan yang positif terbukti mampu membuat perempuan tumbuh lebih maju, berkualitas, dan berkembang ke arah yang lebih baik.

“Bunga mawar dan bunga melati itu sama-sama indah, ya. Tapi mereka punya caranya masing-masing, punya waktunya sendiri untuk berkembang dan mekar. Makanya, peran dari lingkup pertemanan yang sehat dan saling support adalah kunci utama menuju kehidupan yang lebih sehat."

"Jangan melihat pencapaian orang lain sebagai hal yang harus dikejar, tetapi harus dijadikan motivasi dan ajang saling mendukung kesuksesan satu sama lain,” bebernya.

Di sisi lain, Tiara selaku perwakilan dari dunia psikologi menambahkan pentingnya komunikasi asertif sebagai opsi solusi dua arah ketika menghadapi konflik dalam pertemanan—sebuah persoalan yang kerap muncul dan sering dipendam di kalangan perempuan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)