Bila Munggahan di Bandung: Alhamdulillah Bisa Botram Khidmat di Kebon Binatang

3 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Warga memanfaatkan ruang terbuka hijau di Kebun Binatang Bandung untuk bersantai dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Farisi)
Warga memanfaatkan ruang terbuka hijau di Kebun Binatang Bandung untuk bersantai dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Farisi)

Kebiasaan lokalitas wisdomic namanya. Di Bandung, munggahan tidak selalu berarti pengajian khusyuk di masjid dengan nasi berkat rapi berbungkus daun pisang. Kadang, munggahan justru hadir dalam bentuk yang lebih “liar”: botram di Kebon Binatang, duduk lesehan di bawah pohon besar, sambil mengawasi anak-anak berlarian mengejar bayangan sendiri—dan sesekali, monyet yang tampak lebih khusyuk menunggu makanan daripada kita menunggu Ramadan.

Hari itu, niat munggahan sudah dipasang sejak pagi. Bukan niat puasa, tapi niat berkumpul. Dalam tradisi Sunda, munggahan memang bukan sekadar makan bersama (botram) untuk menyambut datangnya bulan mulia, ramadan. Ia adalah ritual sosial: menyambung silaturahmi, saling memaafkan, dan menata batin sebelum masuk ke bulan yang katanya suci, tapi sering kali kita justru paling sibuk mengotorinya.

Alasan kami memilih Kebon Binatang di Bandung — karena tempat ini secara spiritual mungkin netral, tapi secara emosional sangat demokratis. Semua orang diterima: keluarga muda, orang tua, anak-anak, bahkan perasaan lelah yang belum sempat dibereskan. Sesampainya di Kebon Binatang, Botram pun digelar.

Nasi liwet keluar dari rantang, ayam goreng muncul seperti tokoh utama, sambal dadakan Cibiuk Garut mengambil peran antagonis yang menggoda sekaligus menyiksa, dan lalapan menjadi penyeimbang moral.

“Moal kuat mun teu sangu heula,” celetuk seseorang, disambut anggukan penuh pembenaran.

Dalam botram, kejujuran diutamakan. Tidak ada pencitraan spiritual. Lapar diakui, kenyang disyukuri.

Di sinilah makna munggahan ala lokalitas wargi Sunda terasa menghidupi putaran zaman. Dalam bahasa Sunda, unggah berarti naik. Tetapi munggahan bukan sekadar naik ke bulan Ramadan, melainkan usaha kecil untuk menaikkan kualitas diri—meski hanya setingkat lebih sabar saat anak menumpahkan es teh ke tembikar.

Humor pun muncul alami. Ada yang salah ambil sendok jadi pakai tutup rantang. Ada yang merasa paling niat munggahan tapi lupa bawa nasi. Ada pula anak kecil yang lebih tertarik memberi makan rusa daripada makan bekalnya sendiri. Semua itu ditertawakan, bukan disesali.

Dalam botram, kesempurnaan tidak penting. Yang penting kebersamaan.

Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu destinasi favorit warga Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu destinasi favorit warga Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kebon binatang menjadi metafora yang tidak disengaja. Di satu sisi, ada kandang-kandang yang membatasi. Di sisi lain, ada manusia-manusia yang sedang belajar membebaskan diri—dari gengsi, dari amarah kecil, dari kebiasaan merasa paling benar.

Munggahan, dalam pengertian ini, adalah latihan merendah. Duduk sama rendah, makan dari lauk yang sama, dan tertawa pada kekacauan kecil yang biasanya kita anggap memalukan.

Orang Sunda punya cara halus dalam memaknai hidup. Tidak meledak-ledak, tidak terlalu dramatik. Munggahan dijalani dengan rasa someah, ramah, dan silih asah, silih asih, silih asuh. Bahkan sebelum Ramadan mengajarkan menahan lapar, munggahan sudah lebih dulu mengajarkan menahan ego.

Saat botram usai, tikar dilipat, sisa nasi dibagi, dan tangan saling bersalaman. Tidak ada khutbah panjang, tidak ada ceramah yang menggurui. Tapi entah mengapa, hati terasa lebih lapang. Mungkin karena munggahan bukan tentang apa yang dimakan, melainkan dengan siapa kita duduk.

Baca Juga: Kisah Alun-alun Cicendo yang Masih Ramai oleh Harapan tapi Minim Perhatian

Di Bandung Raya, munggahan di kebon binatang mungkin terdengar remeh. Tapi justru di sanalah maknanya: bahwa kesucian tidak selalu lahir dari tempat sunyi, melainkan dari niat yang sederhana dan kebersamaan yang jujur. Ramadan pun terasa lebih dekat—bukan sebagai beban, tapi sebagai undangan pulang ke diri sendiri.

Dan kalau di akhir acara ada monyet yang mencuri kerupuk, anggap saja itu pengingat: jangan terlalu serius menyambut kesucian. Kadang, iman juga butuh ditertawakan dengan penuh welas asih.

Dalam tradisi Sunda, tawa adalah cara halus merawat kebersamaan. Ulah bengkung ku aturan sorangan, jangan terlalu kaku oleh aturan sendiri—apalagi saat menyambut kesucian. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)