Sejarah Peristiwa Cimareme 1919, Perlawanan Petani Garut yang Dipicu Krisis Pangan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 05 Feb 2026, 18:20 WIB
Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)

Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)

AYOBANDUNG.ID - Padi jarang dianggap berbahaya. Bentuknya jinak, warnanya bersahabat, dan biasanya hadir dalam foto kalender pertanian. Tetapi pada Juli 1919, padi berubah menjadi sumber kepanikan administratif dan alasan sah untuk menembakkan peluru. Lokasinya bernama Cimareme, sebuah wilayah agraris di Garut, jauh dari pusat kekuasaan, dekat dengan sawah, dan terlalu kecil untuk diperhitungkan sebelum akhirnya berdarah.

Hindia Belanda pada masa itu sedang kehabisan napas. Perang Dunia Pertama telah selesai, tetapi efeknya belum pamit. Jalur perdagangan terganggu, kapal tidak datang tepat waktu, gudang beras kosong lebih cepat dari perkiraan. Pemerintah kolonial menghadapi krisis pangan yang terasa seperti soal hidup mati. Seperti biasa, krisis semacam ini jarang diselesaikan dengan berbagi beban secara adil.

Solusi yang dipilih terlihat rapi di atas kertas. Petani diwajibkan menjual padi kepada pemerintah dengan harga yang sudah ditentukan. Harga ini aman bagi kas negara dan tidak ramah bagi perut rakyat. Aturan tersebut diberlakukan di banyak wilayah, tetapi Garut mendapat perlakuan khusus. Kuota dinaikkan. Empat pikul per bau. Angka yang tampak administratif, tetapi memiliki dampak sosial yang kejam.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Bagi petani kecil, padi bukan komoditas dagang utama. Padi adalah jaminan hidup, cadangan musim paceklik, dan penentu apakah dapur tetap menyala. Ketika kuota dinaikkan empat kali lipat dalam kondisi panen yang buruk, kebijakan ini berubah menjadi tekanan struktural yang tidak mengenal kompromi. Pemerintah menyebutnya kewajiban. Sawah merasakannya sebagai perampasan.

Di tengah situasi tersebut, muncul nama Haji Hasan Arif. Sosok ini tidak lahir dari kemiskinan ekstrem atau kemarahan spontan. Ia berasal dari keluarga terpandang, memiliki garis keturunan religius yang kuat, dan hidup dalam kecukupan ekonomi. Ulama, juragan tembakau, pemilik sawah luas. Profil yang seharusnya aman dari kebijakan wajib jual padi.

Justru karena posisi itu, sikap penolakannya terasa ganjil bagi aparat kolonial. Penolakan dari petani miskin bisa dicatat sebagai keluhan. Penolakan dari orang berpengaruh dibaca sebagai ancaman laten. Apalagi jika penolakan itu dibungkus otoritas agama dan simpati sosial.

Haji Hasan tidak memulai dengan amarah. Jalur administrasi ditempuh. Surat dikirimkan kepada bupati. Permintaan disampaikan dengan bahasa halus. Isinya sederhana. Kuota dianggap terlalu berat dan tidak seimbang. Cimareme diminta diperlakukan sama dengan wilayah lain. Jawaban yang datang juga sederhana dan dingin. Aturan tetap berlaku.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Penolakan tersebut mengubah posisi Cimareme dalam peta kekuasaan kolonial. Wilayah ini mulai diawasi lebih ketat. Laporan aparat berubah nada. Aktivitas keagamaan dibaca sebagai mobilisasi. Kepemilikan senjata tradisional dianggap persiapan kekerasan. Kain putih dan jimat, benda yang biasa hadir dalam kehidupan religius pedesaan, mendadak menjadi simbol pemberontakan.

Dalam arsip kolonial, kombinasi ulama, petani, dan simbol agama selalu dianggap rawan. Sejarah sebelumnya sudah cukup memberi peringatan. Maka pendekatan administratif perlahan ditinggalkan. Aparat bersenjata mulai dilibatkan. Keputusan diambil cepat dan tanpa empati.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Artikel tentang Peristiwa Cimareme di Bataviaasch Nieuwsblad.
Artikel tentang Peristiwa Cimareme di Bataviaasch Nieuwsblad.

Dari Surat ke Senapan

Rencana penangkapan pertama gagal. Warga berdatangan ke rumah Haji Hasan. Bukan untuk menyerang, tetapi untuk berjaga. Kehadiran massa ini justru memperkuat kecurigaan pemerintah kolonial. Situasi dinilai sudah melewati batas toleransi. Operasi diperbesar. Pasukan infanteri didatangkan dari berbagai daerah. Pejabat sipil dan aparat pribumi ikut serta agar tindakan terlihat sah dan terkoordinasi.

Pada 7 Juli 1919, rumah Haji Hasan dikepung. Cimareme yang biasanya sunyi berubah menjadi panggung operasi militer. Tidak ada dialog panjang. Tidak ada ruang tawar-menawar. Haji Hasan keluar bersama keluarga dan pengikutnya. Pakaian putih dikenakan. Senjata tradisional dibawa. Situasi tegang berakhir dengan suara tembakan.

Pertempuran berlangsung singkat dan timpang. Senjata api menghadapi keyakinan dan besi tua. Haji Hasan tewas di tempat. Beberapa pengikutnya menyusul. Korban dari kalangan perempuan dan anak-anak menambah daftar tragedi. Sawah kembali sunyi, kali ini dengan bekas peluru dan ingatan yang sulit dihapus.

Setelah tembakan berhenti, pekerjaan administratif dimulai. Penangkapan dilakukan secara luas. Puluhan orang ditahan. Proses hukum berjalan lambat, seolah waktu juga ikut menghukum. Dua tahun berlalu sebelum persidangan digelar. Vonis yang dijatuhkan bersifat menyebar dan berat. Pembuangan ke pulau terpencil. Penjara di kota-kota jauh. Pemisahan fisik sekaligus sosial.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Keluarga Haji Hasan tidak luput. Anak-anak dan cucu-cucunya ikut menerima hukuman. Dalam logika kolonial, keterlibatan tidak selalu perlu dibuktikan. Kedekatan sudah cukup sebagai alasan. Cimareme tidak hanya kehilangan pemimpin, tetapi juga mengalami pemutusan generasi secara sistematis.

Represi tidak berhenti pada mereka yang terlibat langsung. Aparat terus memburu orang-orang yang dianggap memiliki hubungan ideologis. Pakaian putih dan jimat kembali dijadikan barang bukti. Tidak ada organisasi modern yang terbukti mengatur peristiwa ini, tetapi semangat perlawanan sudah cukup untuk memicu ketakutan.

Peristiwa Cimareme kemudian hidup dalam bentuk lain. Masuk ke sastra. Menjadi wawacan. Menjadi cerpen. Menjadi bahan tulisan politik. Pemerintah kolonial memandang karya-karya ini sebagai ancaman lanjutan. Penulisnya dipenjara. Karya sastra diperlakukan setara dengan senjata.

Dalam kajian sejarah, Peristiwa Cimareme ditempatkan sebagai bagian dari radikalisme agraria. Istilah ini terdengar rapi dan akademik, tetapi menyembunyikan kenyataan sederhana. Kebijakan terlalu keras bertemu masyarakat yang sudah tertekan. Ledakan menjadi hasil yang hampir pasti.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Peristiwa ini juga memberi pelajaran pahit bagi pergerakan nasional. Keberanian tanpa organisasi hanya menghasilkan korban. Sejak itu, arah perlawanan mulai bergeser. Disiplin politik dianggap lebih efektif daripada heroisme spontan. Agama tetap penting, tetapi harus diiringi strategi.

Lebih dari satu abad setelah peristiwa itu, Cimareme tetap ada. Nama Haji Hasan Arif diabadikan sebagai jalan. Makamnya diziarahi. Masjidnya berdiri tenang. Tidak ada monumen besar. Tidak ada perayaan resmi. Tetapi peristiwa ini terus hidup sebagai pengingat bahwa kolonialisme sering kali runtuh bukan karena perang besar, melainkan karena kebijakan kecil yang terlalu rakus.

Peristiwa Cimareme 1919 adalah kisah tentang padi yang dipaksa berpindah tangan, tentang negara kolonial yang lupa batas, dan tentang seorang ulama yang menolak patuh ketika kepatuhan berarti membiarkan orang lain kelaparan. Sejarah mencatatnya sebagai catatan kaki. Sawah mengingatnya sebagai luka panjang.

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)