Sejarah Peristiwa Cimareme 1919, Perlawanan Petani Garut yang Dipicu Krisis Pangan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)
Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)

AYOBANDUNG.ID - Padi jarang dianggap berbahaya. Bentuknya jinak, warnanya bersahabat, dan biasanya hadir dalam foto kalender pertanian. Tetapi pada Juli 1919, padi berubah menjadi sumber kepanikan administratif dan alasan sah untuk menembakkan peluru. Lokasinya bernama Cimareme, sebuah wilayah agraris di Garut, jauh dari pusat kekuasaan, dekat dengan sawah, dan terlalu kecil untuk diperhitungkan sebelum akhirnya berdarah.

Hindia Belanda pada masa itu sedang kehabisan napas. Perang Dunia Pertama telah selesai, tetapi efeknya belum pamit. Jalur perdagangan terganggu, kapal tidak datang tepat waktu, gudang beras kosong lebih cepat dari perkiraan. Pemerintah kolonial menghadapi krisis pangan yang terasa seperti soal hidup mati. Seperti biasa, krisis semacam ini jarang diselesaikan dengan berbagi beban secara adil.

Solusi yang dipilih terlihat rapi di atas kertas. Petani diwajibkan menjual padi kepada pemerintah dengan harga yang sudah ditentukan. Harga ini aman bagi kas negara dan tidak ramah bagi perut rakyat. Aturan tersebut diberlakukan di banyak wilayah, tetapi Garut mendapat perlakuan khusus. Kuota dinaikkan. Empat pikul per bau. Angka yang tampak administratif, tetapi memiliki dampak sosial yang kejam.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Bagi petani kecil, padi bukan komoditas dagang utama. Padi adalah jaminan hidup, cadangan musim paceklik, dan penentu apakah dapur tetap menyala. Ketika kuota dinaikkan empat kali lipat dalam kondisi panen yang buruk, kebijakan ini berubah menjadi tekanan struktural yang tidak mengenal kompromi. Pemerintah menyebutnya kewajiban. Sawah merasakannya sebagai perampasan.

Di tengah situasi tersebut, muncul nama Haji Hasan Arif. Sosok ini tidak lahir dari kemiskinan ekstrem atau kemarahan spontan. Ia berasal dari keluarga terpandang, memiliki garis keturunan religius yang kuat, dan hidup dalam kecukupan ekonomi. Ulama, juragan tembakau, pemilik sawah luas. Profil yang seharusnya aman dari kebijakan wajib jual padi.

Justru karena posisi itu, sikap penolakannya terasa ganjil bagi aparat kolonial. Penolakan dari petani miskin bisa dicatat sebagai keluhan. Penolakan dari orang berpengaruh dibaca sebagai ancaman laten. Apalagi jika penolakan itu dibungkus otoritas agama dan simpati sosial.

Haji Hasan tidak memulai dengan amarah. Jalur administrasi ditempuh. Surat dikirimkan kepada bupati. Permintaan disampaikan dengan bahasa halus. Isinya sederhana. Kuota dianggap terlalu berat dan tidak seimbang. Cimareme diminta diperlakukan sama dengan wilayah lain. Jawaban yang datang juga sederhana dan dingin. Aturan tetap berlaku.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Penolakan tersebut mengubah posisi Cimareme dalam peta kekuasaan kolonial. Wilayah ini mulai diawasi lebih ketat. Laporan aparat berubah nada. Aktivitas keagamaan dibaca sebagai mobilisasi. Kepemilikan senjata tradisional dianggap persiapan kekerasan. Kain putih dan jimat, benda yang biasa hadir dalam kehidupan religius pedesaan, mendadak menjadi simbol pemberontakan.

Dalam arsip kolonial, kombinasi ulama, petani, dan simbol agama selalu dianggap rawan. Sejarah sebelumnya sudah cukup memberi peringatan. Maka pendekatan administratif perlahan ditinggalkan. Aparat bersenjata mulai dilibatkan. Keputusan diambil cepat dan tanpa empati.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Artikel tentang Peristiwa Cimareme di Bataviaasch Nieuwsblad.
Artikel tentang Peristiwa Cimareme di Bataviaasch Nieuwsblad.

Dari Surat ke Senapan

Rencana penangkapan pertama gagal. Warga berdatangan ke rumah Haji Hasan. Bukan untuk menyerang, tetapi untuk berjaga. Kehadiran massa ini justru memperkuat kecurigaan pemerintah kolonial. Situasi dinilai sudah melewati batas toleransi. Operasi diperbesar. Pasukan infanteri didatangkan dari berbagai daerah. Pejabat sipil dan aparat pribumi ikut serta agar tindakan terlihat sah dan terkoordinasi.

Pada 7 Juli 1919, rumah Haji Hasan dikepung. Cimareme yang biasanya sunyi berubah menjadi panggung operasi militer. Tidak ada dialog panjang. Tidak ada ruang tawar-menawar. Haji Hasan keluar bersama keluarga dan pengikutnya. Pakaian putih dikenakan. Senjata tradisional dibawa. Situasi tegang berakhir dengan suara tembakan.

Pertempuran berlangsung singkat dan timpang. Senjata api menghadapi keyakinan dan besi tua. Haji Hasan tewas di tempat. Beberapa pengikutnya menyusul. Korban dari kalangan perempuan dan anak-anak menambah daftar tragedi. Sawah kembali sunyi, kali ini dengan bekas peluru dan ingatan yang sulit dihapus.

Setelah tembakan berhenti, pekerjaan administratif dimulai. Penangkapan dilakukan secara luas. Puluhan orang ditahan. Proses hukum berjalan lambat, seolah waktu juga ikut menghukum. Dua tahun berlalu sebelum persidangan digelar. Vonis yang dijatuhkan bersifat menyebar dan berat. Pembuangan ke pulau terpencil. Penjara di kota-kota jauh. Pemisahan fisik sekaligus sosial.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Keluarga Haji Hasan tidak luput. Anak-anak dan cucu-cucunya ikut menerima hukuman. Dalam logika kolonial, keterlibatan tidak selalu perlu dibuktikan. Kedekatan sudah cukup sebagai alasan. Cimareme tidak hanya kehilangan pemimpin, tetapi juga mengalami pemutusan generasi secara sistematis.

Represi tidak berhenti pada mereka yang terlibat langsung. Aparat terus memburu orang-orang yang dianggap memiliki hubungan ideologis. Pakaian putih dan jimat kembali dijadikan barang bukti. Tidak ada organisasi modern yang terbukti mengatur peristiwa ini, tetapi semangat perlawanan sudah cukup untuk memicu ketakutan.

Peristiwa Cimareme kemudian hidup dalam bentuk lain. Masuk ke sastra. Menjadi wawacan. Menjadi cerpen. Menjadi bahan tulisan politik. Pemerintah kolonial memandang karya-karya ini sebagai ancaman lanjutan. Penulisnya dipenjara. Karya sastra diperlakukan setara dengan senjata.

Dalam kajian sejarah, Peristiwa Cimareme ditempatkan sebagai bagian dari radikalisme agraria. Istilah ini terdengar rapi dan akademik, tetapi menyembunyikan kenyataan sederhana. Kebijakan terlalu keras bertemu masyarakat yang sudah tertekan. Ledakan menjadi hasil yang hampir pasti.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Peristiwa ini juga memberi pelajaran pahit bagi pergerakan nasional. Keberanian tanpa organisasi hanya menghasilkan korban. Sejak itu, arah perlawanan mulai bergeser. Disiplin politik dianggap lebih efektif daripada heroisme spontan. Agama tetap penting, tetapi harus diiringi strategi.

Lebih dari satu abad setelah peristiwa itu, Cimareme tetap ada. Nama Haji Hasan Arif diabadikan sebagai jalan. Makamnya diziarahi. Masjidnya berdiri tenang. Tidak ada monumen besar. Tidak ada perayaan resmi. Tetapi peristiwa ini terus hidup sebagai pengingat bahwa kolonialisme sering kali runtuh bukan karena perang besar, melainkan karena kebijakan kecil yang terlalu rakus.

Peristiwa Cimareme 1919 adalah kisah tentang padi yang dipaksa berpindah tangan, tentang negara kolonial yang lupa batas, dan tentang seorang ulama yang menolak patuh ketika kepatuhan berarti membiarkan orang lain kelaparan. Sejarah mencatatnya sebagai catatan kaki. Sawah mengingatnya sebagai luka panjang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)