Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tahu Sumedang, kuliner legendaris dari Jawa Barat. (Sumber: Peter | Foto: Flickr)
Tahu Sumedang, kuliner legendaris dari Jawa Barat. (Sumber: Peter | Foto: Flickr)

AYOBANDUNG.ID - Tahu Sumedang bukan sekadar camilan khas yang bisa ditebus seribuan per biji di warung pinggir jalan. Ia menyimpan riwayat panjang yang dimulai dari keinginan seorang imigran Tionghoa menyenangkan hati istrinya, berkembang menjadi usaha kecil yang nyaris gagal, lalu berubah menjadi kuliner legendaris dari Tanah Priangan. Di balik teksturnya yang renyah dan rasa gurihnya yang khas, tahu Sumedang adalah cerita tentang cinta, migrasi, perjuangan, dan adaptasi.

Kemunculan industri tahu di Sumedang tidak bisa dilepaskan dari kehadiran orang-orang Tionghoa yang menetap di wilayah Jawa Barat sejak akhir abad ke-19. Mereka datang ke Hindia Belanda dalam gelombang besar, terutama setelah sistem tanam paksa seperti cultuurstelsel dihapuskan. Banyak dari mereka yang kemudian tinggal dan membentuk komunitas-komunitas pecinan, termasuk di Sumedang. Di sanalah kelak, sejarah tahu Sumedang dimulai.

Sesuai catatan dari buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang terbitan LIPI (2021), komunitas Tionghoa dikenal sebagai pedagang ulung yang juga memperkenalkan berbagai jenis tanaman, seperti teh, kopi, tebu, dan kedelai. Selain membuka perkebunan, mereka mendirikan pabrik kecil untuk mengolah hasil bumi. Di lingkungan pecinan, muncul industri-industri rumahan yang memproduksi makanan khas seperti kecap, bihun, mi, dan tentu saja, tahu.

Di Sumedang, industri tahu dimulai oleh seorang pria Tionghoa bernama Ong Ki No yang tiba sekitar tahun 1900-an. Ia datang bersama istrinya, yang disebut-sebut sangat menyukai makanan khas Tiongkok bernama tao-fu. Karena sayangnya pada sang istri, Ong Ki No rela menjelajah ke wilayah yang belum dikenalnya untuk mencari kedelai—bahan utama tahu. Perjalanannya berbuah manis ketika ia menemukan kebun kedelai di wilayah Conggeang yang menghasilkan kedelai lurik, berwarna seperti telur puyuh.

Baca Juga: Jejak Sejarah Dodol Garut, Warisan Kuliner Tradisional Sejak Zaman Kolonial

Dengan menggunakan kedelai lokal dan air dari mata air Sumedang yang jernih, Ong Ki No mulai bereksperimen membuat tahu untuk konsumsi rumah tangga. Dalam proses pembuatan tahu, air memegang peran penting karena membentuk 70% komposisi bahan. Beruntung, kualitas air di Sumedang—terutama di kawasan antara Cimalaka dan Tanjungsari—pada saat itu sangat baik. Hasil tahu racikan Ong Ki No pun terasa berbeda dari tao-fu asal Tiongkok, meski saat itu bentuknya masih tahu putih rebus.

Tahu buatan Ong Ki No mulanya hanya dibagikan kepada keluarga, tetangga Tionghoa, dan masyarakat pribumi sekitar saat hari raya. Respons masyarakat ternyata positif. Lalu Ong Ki No berpikir untuk menjual tahu secara lebih serius. Sebagai perantau, tentu saja ia berharap usaha ini bisa memperbaiki nasib ekonominya. Apalagi emigrasi besar-besaran dari Tiongkok ke Asia Tenggara pada masa itu memang dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk, pemberontakan petani, dan perang saudara.

Tapi sayang, upaya dagang Ong Ki No tidak mulus. Tahu putih rebus ternyata tidak banyak diminati masyarakat lokal. Karena merasa usahanya tak membuahkan hasil, Ong Ki No dan istrinya memutuskan untuk pulang ke Tiongkok pada tahun 1917. Saat itulah, tongkat estafet usaha ini dilanjutkan oleh anak mereka, Ong Bung Keng.

Tahu Bungkeng Sang Legenda Hidup

Tak seperti ayahnya, Ong Bung Keng berpikir untuk mencoba pendekatan yang berbeda. Ia melihat bahwa tahu putih rebus bisa diolah lagi. Maka ia mencoba menggoreng tahu putih tersebut. Hasilnya adalah tahu goreng dengan kulit yang renyah dan aroma yang menggoda. Rasanya lebih gurih, teksturnya lebih menarik. Sejak saat itu, potensi tahu sebagai produk kuliner lokal mulai terbuka lebar.

Tahun 1928, ada sebuah kejadian yang konon turut mengubah nasib usaha tahu Ong Bung Keng. Kala itu, Pangeran Soeriaatmadja, Bupati Sumedang, sedang melintasi daerah tempat Ong Bung Keng berjualan. Saat melewati gerobak tahu, beliau mencium aroma sedap yang tak dikenalnya. Ia turun dari kereta kudanya, mencicipi tahu goreng tersebut, dan berkata, “Makanan ini enak. Kalau dijual terus, pasti laku.”

Ucapan tersebut dianggap sebagai semacam doa oleh masyarakat, terutama karena Pangeran Soeriaatmadja dikenal sebagai tokoh yang saleh dan dihormati. Dalam budaya Sunda, ada kepercayaan bahwa ucapan orang saleh akan menjadi kenyataan: saciduh metu, saucap nyata. Maka, sejak saat itu, tahu Sumedang mulai dikenal luas. Nama Ong Bung Keng kemudian diabadikan menjadi merek dagang: Tahu Bungkeng.

Foto Keluarga Ong Bung Keng (Sumber: Tahu Sejarah Tahu Sumedang)
Foto Keluarga Ong Bung Keng (Sumber: Tahu Sejarah Tahu Sumedang)

Produksi tahu saat itu masih dilakukan secara manual dan terbatas. Dalam sehari, Bung Keng hanya bisa memproduksi sekitar seribu potong tahu berukuran 5x5 cm. Pada 1930-an, harga satu potong tahu sekitar 3 peser. Tahun 1939, tahu mulai dijajakan secara keliling oleh pedagang asongan seperti Odjo Mihardja yang menjual di area terminal.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Setelah kemerdekaan, industri tahu belum langsung berkembang pesat. Namun Ong Bung Keng mulai membuka kios kecil, tak hanya berkeliling menjual tahu dengan sepeda. Masyarakat pribumi pun mulai tertarik masuk ke bisnis tahu. Mereka menjadi pedagang yang mengambil tahu dari produsen dan menjualnya keliling atau di tempat-tempat ramai.

Pada tahun 1950-an, mulai bermunculan merek tahu lain selain Tahu Bungkeng, seperti Tahu Yoe Fo dan Ojolali. Semuanya masih dikelola oleh warga keturunan Tionghoa. Baru pada 1960, muncul pengusaha tahu dari kalangan pribumi seperti Epen Oyib yang mendirikan Tahu Saribumi. Menurut cucunya, Epen Oyib sempat bekerja di Tahu Yoe Fo sebelum akhirnya membuka usaha sendiri setelah merantau ke Jakarta.

Dari Orde Baru hingga Cisumdawu

Industri tahu makin tumbuh seiring pembangunan yang masif di era Orde Baru. Jalan raya dibangun, kantor pemerintahan bermunculan, dan permukiman warga makin padat. Warga Sumedang banyak yang merantau ke Jakarta atau kota lain. Saat mudik, mereka sering membawa oleh-oleh berupa tahu Sumedang dan ubi Cilembu. Maka tahu Sumedang pun makin dikenal di luar daerah.

Dalam pada 1980-an, industri tahu Sumedang benar-benar melejit. Menurut catatan LIPI, pada tahun 1979 terdapat 40 unit usaha tahu di Sumedang. Jumlah ini bertambah menjadi 50 unit dalam enam tahun berikutnya. Tahun 1989, jumlahnya melonjak menjadi 92 unit usaha. Inilah masa keemasan tahu Sumedang.

Tapi, seperti kata pepatah, roda nasib selalu berputar. Tahun 1998, Indonesia diguncang krisis moneter. Nilai tukar rupiah anjlok, harga bahan baku seperti kedelai naik drastis. Industri tahu terkena imbasnya. Harga tahu naik, daya beli turun. Tapi anehnya, jumlah unit usaha tahu justru bertambah. Pada 1998 tercatat ada 154 unit usaha tahu Sumedang, dan pada 1999 naik menjadi 158 unit.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya, karena industri tahu adalah sektor mikro yang tidak terlalu bergantung pada utang luar negeri. Mereka berproduksi dengan skala kecil dan lebih fleksibel menghadapi fluktuasi ekonomi. Menurut catatan Bank Indonesia, UMKM seperti industri tahu justru lebih resilien di masa krisis dibanding perusahaan besar yang terlibat pinjaman dolar.

Tahun 2016, berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sumedang, terdapat setidaknya 42 industri tahu yang masih aktif. Jumlah ini belum termasuk cabang atau mitra yang berdiri di luar Sumedang seperti di Bandung atau Jakarta.

Sayang, ancaman baru datang seiring pembangunan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi–Sumedang–Dawuan). Jalan tol ini memotong akses utama Kota Sumedang, yang selama ini menjadi jalur vital ekonomi dan distribusi tahu. Banyak pelaku usaha tahu mulai mengeluh karena jalur pembeli berkurang. Mereka berharap pemerintah memberi solusi agar eksistensi tahu Sumedang tetap terjaga meski lalu lintas beralih ke tol.

Baca Juga: Hikayat Java Preanger, Warisan Kopi Harum dari Lereng Priangan

Tahu Sumedang bukan hanya makanan. Ia adalah bagian dari identitas budaya, bukti adaptasi etnis Tionghoa yang kemudian menyatu dalam tanah Priangan. Dari dapur Ong Ki No yang penuh cinta, hingga gerobak Bung Keng yang mengundang selera bupati, tahu Sumedang telah melalui lebih dari satu abad perjalanan.

Hari ini, tahu Sumedang bisa ditemukan hampir di seluruh Indonesia. Tapi tetap saja, rasanya paling nikmat saat dimakan langsung di kota asalnya—panas, renyah, dan disajikan dengan cerita. Sebab di dalam tahu itu, terkandung sejarah yang digoreng dengan cinta, ditaburi perjuangan, dan disajikan dengan kebanggaan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)