Jejak Sejarah Perlawanan Rakyat Bandung terhadap Kerja Paksa Kopi Era Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Priangan pada akhir abad ke-17 masih berupa dataran tinggi dengan sawah, hutan, dan tegalan. Tanah subur itu awalnya dihuni masyarakat agraris yang menanam padi, singkong, atau jagung. Kehidupan berjalan dengan ritme sederhana sampai orang-orang Belanda dari kongsi dagang VOC datang. Mereka tak datang untuk menikmati udara sejuk Bandung, melainkan untuk memburu komoditas baru yang sedang laris di pasar Eropa: kopi.

Kopi memang semula ditanam secara sukarela. Petani membuka lahan, menanam, lalu menjual hasilnya sesuai kemampuan. Namun, kebiasaan baik itu segera berubah ketika VOC menyadari keuntungan besar dari perdagangan kopi. Perlahan tapi pasti, apa yang semula sukarela menjadi kewajiban. Rakyat dipaksa menyetor panen dengan harga yang ditentukan sepihak, jauh di bawah harga pasar. Dari situlah dimulai sistem kerja paksa yang kelak dikenal sebagai Sistem Priangan.

VOC tidak pernah terlalu repot turun tangan langsung mengatur kebun kopi. Mereka cukup mengandalkan para kepala pribumi: bupati, wedana, lurah, yang dijadikan alat untuk menggerakkan rakyat. Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720–1870 mencatat bahwa cara ini dipilih karena murah. Kolonial bisa menekan biaya administrasi, sementara beban memaksa rakyat jatuh ke tangan bangsawan lokal. Kepala pribumi diperintah agar “mengabdi” dengan memaksa rakyat menyetor hasil dan tenaga mereka.

Daerah Priangan kala itu dianggap frontier, wilayah pinggiran yang belum sepenuhnya terkendali secara politik maupun geografis. Maka penguasaan kolonial bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga cara untuk menundukkan masyarakat pedalaman. Kopi menjadi alat pengikat. Setiap keluarga diwajibkan menanam sejumlah pohon, dan setiap musim panen harus menyetor hasilnya ke gudang kolonial. Tidak ada pilihan lain.

Baca Juga: Jejak Kabupaten Batulayang, Lumbung Kopi Belanda di Era Preangerstelsel

Kehidupan rakyat pun berubah drastis. Lahan untuk padi atau palawija harus diganti dengan kebun kopi. Waktu kerja yang biasanya untuk keluarga dan sawah sendiri terkuras habis demi memenuhi kuota. Hasil panen dibeli murah, tapi jumlah yang diminta tidak bisa ditawar. Bila gagal memenuhi, ancaman menanti: hukuman fisik, penahanan, hingga pemindahan penduduk ke daerah lain. Petani Priangan, termasuk di Bandung, perlahan merasa dirinya bukan lagi penggarap tanah, melainkan mesin produksi bagi orang asing.

Dari sudut pandang kolonial, sistem itu tampak “efisien”. Kuota bisa diatur, harga ditetapkan, keuntungan mengalir deras ke Batavia dan Amsterdam. Namun dari sudut pandang petani, semua itu hanya penderitaan. Tak heran bila sejak awal, rakyat mencoba mencari cara untuk melawan.

Gelombang Perlawanan di Tanah Priangan

Perlawanan muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang terang-terangan, ada pula yang diam-diam. Banyak petani memilih melarikan diri dari wilayah kerja paksa. Ada pula yang menyembunyikan panenan, atau sengaja menyetor hanya sebagian. Tidak semua tercatat dalam arsip kolonial, tetapi Breman menegaskan bahwa “keengganan mereka yang terus berkelanjutan untuk bertindak sesuai dengan yang diperintahkan oleh pemerintah kolonial merupakan hal yang sangat menentukan dalam kemunduran dan kejatuhan Sistem Tanam Paksa.” Perlawanan semacam ini, meski tampak kecil, perlahan merongrong fondasi sistem yang ditegakkan dengan kekerasan.

Ada pula perlawanan yang lebih terbuka. Nama Prawatasari menonjol dalam catatan sejarah Priangan. Ia dikenal sebagai haji pengembara dari kelompok Giri, yang mengobarkan semangat perlawanan dengan bahasa religius. VOC sendiri mencatat pengikutnya sebagai “penyembah Muhammad”, istilah peyoratif yang menunjukkan kebingungan kolonial apakah gerakan itu murni politik, ekonomi, atau agama. Padahal, ketiganya bercampur menjadi satu. Rakyat merasa diperas hasilnya, dihina keyakinannya, sekaligus direndahkan harga dirinya.

Baca Juga: Hikayat Java Preanger, Warisan Kopi Harum dari Lereng Priangan

Proses pemilahan bijih kopi di Subang pada era kolonial. (Sumber: Wikimedia)
Proses pemilahan bijih kopi di Subang pada era kolonial. (Sumber: Wikimedia)

Gerakan Prawatasari berkembang di perbukitan Priangan selatan. Ketika tekanan VOC makin kuat, ia dan para pengikutnya mencari perlindungan di Jampang. Penindasan segera dilakukan. Banyak pengikut ditangkap, dipenjara, bahkan mati dalam pengangkutan. Namun ada pula yang berhasil lolos dan terus melanjutkan perlawanan. Meskipun gerakan itu tidak menjatuhkan VOC, ia cukup membuat pihak kolonial repot.

Kepala-kepala pribumi berada dalam posisi serba salah. Sebagai perpanjangan tangan VOC, mereka dipaksa mengawasi rakyat. Namun bila terlalu keras, mereka dicap pengkhianat oleh rakyat sendiri. Bila terlalu lunak, mereka bisa dituduh membangkang oleh kompeni. Bahkan ada tuduhan bahwa sebagian kepala pribumi bersekongkol dengan pemberontak, atau setidaknya tidak menjalankan perintah VOC secara penuh. Dalam keadaan ini, jabatan bupati atau wedana bukan hanya soal kehormatan, melainkan juga soal bertahan hidup di tengah dua tekanan.

Perlawanan rakyat tak hanya berupa senjata atau pemberontakan. Humor gelap juga menjadi senjata. Petani yang harus setor kopi dengan harga murah sering melontarkan sindiran. Konon ada yang menggerutu, “Kopi kita diambil, tenaga kita dihisap, tandanya kita cuma pohon kopi keliling.” Ucapan itu getir sekaligus lucu, mengungkap absurditas sistem kolonial yang memperlakukan manusia seperti alat panen.

VOC pun tak selalu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bingung apakah perlawanan di Priangan murni gerakan keagamaan atau pemberontakan ekonomi. Padahal jelas, rakyat melawan karena gabungan dari ketiganya: tuntutan ekonomi yang tak adil, penghinaan pada keyakinan, dan pelecehan harga diri.

Perlawanan ini, baik yang kecil maupun besar, pada akhirnya menggoyahkan keberlangsungan sistem Priangan. Kolonial memang masih bertahan, tetapi mereka harus terus memperbaiki administrasi, memberi insentif lebih kepada kepala lokal, dan memperketat pengawasan. Semua itu menambah biaya dan kesulitan bagi pemerintah kolonial.

Pada akhirnya, pada tahun 1870, sistem Priangan resmi dihapus. Breman menulis bahwa “titik balik terjadi dengan dihapusnya sistem Priangan pada tahun 1870.” Tentu saja penghapusan itu tidak semata-mata karena perlawanan rakyat, tetapi jelas penolakan yang berkelanjutan membuat sistem itu semakin sulit dijalankan. Kritik internal dari pejabat kolonial sendiri ikut mempercepat kejatuhannya.

Baca Juga: Sejarah Pahit Keemasan Kopi Priangan di Zaman Kolonial, Kalahkan Yaman via Preangerstelsel

Kendati begitu, dampak yang paling penting adalah lahirnya kesadaran baru di kalangan rakyat Priangan. Mereka mulai melihat bahwa tuntutan penyetoran paksa, kerja wajib, dan upeti berlebihan bukan hanya soal ekonomi, melainkan ketidakadilan. Hubungan kuasa yang timpang antara petani, kepala lokal, dan penguasa asing menjadi bahan keluhan yang terus diingat. Kesadaran itu menjadi bagian dari ingatan kolektif rakyat Priangan, termasuk Bandung, yang hingga kini masih terasa dalam cerita-cerita tentang kerja paksa dan perlawanan.

Di masa sekarang, Bandung dikenal sebagai kota modern dengan jalan Braga, kafe Dago, dan aroma kopi yang jadi kebanggaan. Tapi sejarah panjang menunjukkan bahwa kopi di tanah ini pernah berarti kerja paksa dan penderitaan. Petani Bandung pada abad ke-18 dan ke-19 bukan barista yang menyajikan kopi dengan senyum, melainkan kuli yang dipaksa menyetor hasil kebun demi keuntungan kolonial.

Sistem Priangan memang sudah lama berakhir, tapi jejak perlawanan rakyat tetap hidup dalam catatan. Dari lari ke hutan, menyembunyikan panenan, mengikuti gerakan ulama, hingga melontarkan sindiran getir di tengah sawah, semua itu bagian dari sejarah perlawanan rakyat Bandung dan Priangan. Tidak heroik dalam catatan resmi, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)