Hikayat Pelarian Eddy Tansil, Koruptor Legendaris Paling Diburu di Indonesia

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Eddy Tansil saat sidang korupsi Bapindo. (Sumber: Panji Masyarakat Agustus 1994)
Eddy Tansil saat sidang korupsi Bapindo. (Sumber: Panji Masyarakat Agustus 1994)

AYOBANDUNG.ID - Kalau ada olimpiade untuk pelarian paling licin, Indonesia boleh jadi punya kandidat juara dunia: Eddy Tansil. Namanya masih menghantui arsip Kejaksaan Agung dan Interpol sampai hari ini. Lelaki yang dulu dijuluki “raja bir” itu bukan hanya pebisnis cerdas, tapi juga penulis skenario kabur yang bahkan Hollywood pun bisa iri.

Lahir di Jakarta sekitar tahun 1950-an, Eddy memulai hidupnya dengan sederhana—katanya. Ia menjajakan becak, merakit sepeda motor, dan hidup pas-pasan di awal karier. Tapi Orde Baru sedang tumbuh subur: ekonomi menanjak, proyek negara bertebaran, dan yang punya kenalan di lingkar kekuasaan bisa mendadak makmur. Eddy punya bakat dan... koneksi. Dua kombinasi yang jarang gagal di zaman Soeharto.

Jelang akhir 1970-an, ia terjun ke industri minuman beralkohol. Perusahaannya berkembang cepat, bir lokal mengalir deras dari pabriknya, dan media menjulukinya “raja bir Indonesia.” Namun, rasa haus Eddy tak berhenti di botol. Ia ingin lebih dari sekadar bisnis bir: ia ingin jadi konglomerat sejati. Maka lahirlah PT Golden Key Group (GKG) di awal 1990-an, dengan proyek-proyek petrokimia yang menggiurkan dan janji investasi raksasa di luar negeri, terutama di China.

Baca Juga: Hikayat Skandal Dimas Kanjeng, Dukun Pengganda Uang Seribu Kali Lipat

Tapi, seperti namanya, Golden Key bukan sekadar kunci emas untuk bisnis. Ia adalah kunci untuk membuka pintu uang negara, tepatnya dari Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Tahun 1992, Eddy mengajukan kredit jumbo Rp1,3 triliun untuk membangun pabrik polipropilena di China. Surat rekomendasi datang dari Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Menkopolkam yang disebut-sebut sebagai pelindung politik Eddy. Surat itu seperti tiket VIP ke kas negara.

Bapindo mengucurkan dana tanpa banyak tanya, tanpa jaminan memadai, dan tanpa audit ketat. Rupanya, yang lebih penting dari proposal bisnis di era itu adalah siapa yang menandatangani surat pendukungnya. Proyek di China ternyata cuma angan-angan, tapi uang sungguhan sudah mengalir deras ke rekening pribadi Eddy dan jaringan perusahaannya.

Baru pada akhir 1993, bau amisnya mencuat. Anggota DPR AA Baramuli menuding ada kredit raksasa bermasalah di Bapindo senilai triliunan rupiah. Media langsung mengendus. Tempo menurunkan laporan khusus, menulis bagaimana sang raja bir berubah jadi “raja manipulasi kredit.”

Pada Februari 1994, Kejaksaan Agung akhirnya menangkap Eddy Tansil bersama salah satu pejabat Bapindo. Ia ditahan di Jakarta setelah pemeriksaan maraton hingga dini hari.

Baca Juga: Hikayat Tragedi Lumpur Lapindo, Bencana Besar yang Tenggelamkan Belasan Desa di Sidoarjo

Di pengadilan, jaksa membeberkan bukti bahwa uang pinjaman itu tak pernah dipakai membangun pabrik, melainkan berputar di bisnis pribadi dan rekening luar negeri. Tapi Eddy santai. Ia mengaku hanya korban sistem perbankan yang “kaku dan salah paham.”

Ujungnya, pada 1995, pengadilan menjatuhkan vonis: 20 tahun penjara, denda Rp30 juta (ya, tiga puluh juta—setara satu unit motor bebek saat itu), dan uang pengganti Rp500 miliar. Hukuman berat, tapi tak seberat nasib bangsa yang uangnya melayang.

Eddy dibawa ke LP Cipinang, Jakarta Timur. Di sana, penjara tampak lebih seperti vila eksklusif. Ia punya kamar lebih luas, kunjungan bebas, dan kabarnya bisa pesan makanan hotel. Para sipir menyebutnya “tahanan VVIP.” Tapi di balik senyum ramahnya, Eddy sedang menulis bab paling epik dalam sejarah korupsi Indonesia: pelarian besar-besaran dari Cipinang.

Baca Juga: Yang Dilakukan Ratu Belanda Saat KAA Dihelat di Bandung

Eddy Tansil saat dikawal aparat. (Sumber: Majalah Sinar 5 September 1994)
Eddy Tansil saat dikawal aparat. (Sumber: Majalah Sinar 5 September 1994)

Kisah Pelarian dari Lapas Cipinang

Pelarian Eddy bukan ide dadakan. Ia sudah merencanakannya jauh-jauh hari, dengan disiplin seorang CEO dan kesabaran seekor kucing di depan tikus. Sehari sebelum kabur, Jumat, 3 Mei 1996, ia sudah membicarakan rencana keluar penjara dengan komandan jaga LP Cipinang. Saat itu, Eddy memang rutin keluar penjara untuk pengobatan jantung di rumah sakit.

Sabtu, 4 Mei 1996, rencananya matang. Sebuah mobil Suzuki Carry masuk ke lapas sekitar pukul 18.30. Tak ada yang aneh. Mobil itu sering keluar-masuk karena Eddy memang sering dapat izin berobat ke Rumah Sakit Harapan Kita. Tapi kali ini, tak ada pengawalan, tak ada surat resmi. Hanya “uang rokok” yang berpindah tangan.

Carry itu keluar gerbang Cipinang tanpa pemeriksaan. “Aman,” kata komandan jaga. Tak ada yang berani membantah. Sang koruptor triliunan itu berhasil meninggalkan penjara tanpa drama.

Baca Juga: Sejarah Lapas Sukamiskin Bandung, Penjara Intelektual Pembangkang Hindia Belanda

Dua hari kemudian, baru ketahuan bahwa Eddy tak pernah kembali dari “berobat”. Kepala LP Cipinang panik, lapor ke atasannya, dan 7 Mei 1996 malam laporan resmi masuk ke Dirjen Pemasyarakatan. Tapi nasi sudah jadi kerak.

Pada 8 Mei, Menteri Kehakiman Oetojo Oesman marah besar di depan wartawan. “Saya yang paling bertanggung jawab!” katanya. Kepala LP Cipinang dicopot. Dua puluh petugas diperiksa. Tapi publik tak percaya. Semua tahu ini bukan sekadar kelalaian: ini operasi uang.

Soeharto murka. Ia bentuk tim pencari gabungan dari kepolisian, kejaksaan, intelijen, bahkan menyewa Kroll Associates dari New York, perusahaan detektif internasional yang pernah memburu aset Ferdinand Marcos dan Saddam Hussein. Indonesia belum pernah seambisius ini mengejar satu orang.

Langkah ini terasa seperti kombinasi antara panik dan ambisi: negara yang gagal mengawasi satu penjara sekarang memanggil firma yang biasa memburu diktator.

Kroll bukan detektif sembarangan. Di bawah pimpinan Jules Kroll, mereka pernah mengungkap harta tersembunyi Ferdinand Marcos di Manhattan—empat gedung apartemen mewah, rekening Swiss, dan koleksi seni senilai jutaan dolar. Mereka juga pernah ditugasi pemerintah Kuwait melacak $10 miliar yang dicuri Saddam Hussein selama invasi. Bahkan Rusia Yeltsin pernah memakai jasa mereka untuk melacak dana partai komunis yang diselundupkan ke bank-bank Eropa.

Baca Juga: Jejak Sejarah Cimahi jadi Pusat Tentara Hindia Belanda Sejak 1896

Jadi, ketika Indonesia mempekerjakan Kroll pada pertengahan 1996, harapannya tinggi: jika Marcos dan Saddam saja bisa dilacak, apalagi satu pengusaha bir dari Jakarta. Tapi kenyataannya, memburu Eddy Tansil bukan perkara teknologi, melainkan politik.

Tim Kroll tiba di Jakarta, memeriksa catatan imigrasi, mewawancarai pejabat pelabuhan di Batam, dan menelusuri laporan mata-mata lokal yang mengaku melihat “orang mirip Eddy” di kapal menuju Singapura. Mereka bahkan menyusup ke jaringan perbankan swasta untuk menelusuri transfer uang dari rekening Golden Key.

Kroll menemukan jejak Eddy sempat melintas Batam, lalu Singapura. Tapi tanpa perjanjian ekstradisi, pemerintah hanya bisa menatap peta. Di Singapura, apartemen keluarga Eddy sudah kosong. Beberapa laporan bilang ia lanjut ke Hong Kong, yang lain menyebut ke Australia, bahkan Kanada.

Tapi, apapun versinya, satu hal jelas: Eddy berhasil mempermalukan negara. Ia membuktikan bahwa tembok setebal apapun tak ada gunanya jika lubang di dalamnya bernama uang.

Tahun-tahun berlalu, upaya memburu Eddy masih seperti menulis surat cinta ke udara. Tahun 2011, Kejaksaan Agung kembali mengirim permohonan ekstradisi ke China. Dua tahun kemudian, Jaksa Agung Basrief Arief mengatakan Eddy “terlacak di sana.” Tapi tak ada kelanjutannya. Pemerintah China bungkam, mungkin karena politik, mungkin karena tidak mau repot.

Pada 2021, sebagian asetnya dilelang oleh Kejagung: tanah, saham, dan properti. Tapi nilai totalnya hanya remah-remah dari kerugian negara Rp1,3 triliun. Dua dekade lebih berlalu, dan negara yang dulu dibobolnya masih gagal menutup luka.

Baca Juga: Hikayat Cipaganti Group, Raksasa Transportasi Bandung yang Tumbang Diguncang Skandal

Rumor tentang keberadaannya terus hidup. Ada yang bersumpah melihatnya di Guangzhou, rambut memutih, duduk di restoran Tionghoa. Ada juga yang yakin ia sudah meninggal dan dimakamkan diam-diam agar tak menimbulkan kehebohan diplomatik. Namun, seperti banyak kisah klasik Indonesia lainnya, tak ada yang bisa dipastikan.

Yang pasti, nama Eddy Tansil telah berubah dari sekadar koruptor menjadi legenda urban: lambang betapa mudahnya hukum dilipat jika dompet cukup tebal. Ia bukan hanya buron, tapi simbol zaman ketika uang bisa membuka semua pintu, termasuk pintu penjara.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)