Sejarah Lapas Sukamiskin Bandung, Penjara Intelektual Pembangkang Hindia Belanda

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Lapas Sukamiskin.
Lapas Sukamiskin.

AYOBANDUNG.ID - Orang mengenal penjara sebagai tempat terakhir bagi mereka yang kalah melawan hukum. Tapi, dulu di Hindia Belanda, penjara justru bisa jadi tempat lahirnya gagasan—tempat kaum pembangkang mengasah pikiran dan melawan penjajahan lewat pena dan kesunyian. Salah satunya adalah Penjara Sukamiskin, sebuah bangunan kokoh bergaya Eropa di timur laut Kota Bandung.

Sistem hukuman model Eropa mulai masuk ke Hindia Belanda pada abad ke-19, menggantikan hukuman badan dan hukuman mati yang lazim di masa kerajaan-kerajaan lokal. Dasarnya adalah Pasal 10 Wetboek van Stafrecht voor de Inlanders in Nederlansch Indie (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana untuk Pribumi Hindia Belanda) tahun 1872. Dari sinilah segala sistem pemenjaraan modern di negeri ini bermula.

Bandung, kota sejuk di kaki Gunung Tangkubanparahu, menjadi salah satu titik eksperimen kolonial atas konsep “penjara modern”.

Penjara Sukamiskin dibangun pada tahun 1918. Arsiteknya, Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker, bukan sembarang orang. Ia adalah tokoh arsitektur modern Hindia Belanda—guru dari Soekarno muda di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Schoemaker merancang penjara ini dengan gaya khas Eropa: kokoh, simetris, dan berjiwa rasional.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Dari udara, bentuknya mirip kincir angin dengan empat bilah yang mengarah ke empat mata angin. Empat blok besar—Utara, Selatan, Timur, dan Barat—mengelilingi bangunan bundar di tengah sebagai poros. Tiap blok punya dua lantai, dihubungkan dengan lorong-lorong panjang dan jendela besar yang menelan cahaya.

Penjara ini mulai beroperasi pada 1924. Tapi jangan bayangkan para penghuninya saat itu seperti para bandit atau perampok. Sukamiskin sejak awal didirikan khusus untuk mereka yang dianggap “terlalu berpikir”. Orang-orang yang dipenjara di sini bukan karena mencuri atau membunuh, melainkan karena ide. Karena mereka menulis pamflet, berpidato, atau mengorganisasi rakyat untuk melawan kolonialisme.

Label nama resminya bahkan sudah menjelaskan segalanya: Straft Gevangenis Voor Intelectuelen, Penjara Hukuman untuk Kaum Intelektual.

Salah satu penghuni paling terkenal tentu saja Ir. Soekarno. Ia mendiami Kamar Nomor 1 di Blok Timur atas setelah ditangkap karena aktivitas politiknya di Partai Nasional Indonesia (PNI). Di penjara inilah Soekarno menulis pledoi legendarisnya, Indonesia Menggugat, pada 1930.

Bayangkan suasana saat itu: Bandung berkabut pagi, udara dingin merembes ke jeruji besi, dan di baliknya seorang pemuda menulis dengan tangan gemetar tapi penuh tekad. Dari ruang sempit itu, lahir gagasan besar tentang kemerdekaan. Sukamiskin bukan lagi sekadar penjara, tapi rahim ideologi nasionalisme.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi Sukamiskin berubah. Dari penjara intelektual menjadi penjara kriminal biasa, lalu pelan-pelan menjadi Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin sejak 1985. Tapi sejarahnya tak pernah benar-benar mati. Bangunannya masih berdiri anggun di tengah hiruk-pikuk Bandung Timur, menatap masa kini dengan kenangan yang berat.

Baca Juga: Sejarah Bandung Jadi Ibu Kota Hindia Belanda, Sebelum Jatuh ke Tangan Jepang

Lapas Sukamiskin. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Lapas Sukamiskin. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Dari Warisan Kolonial ke Istana Koruptor

Pada tahun 2010, pemerintah menetapkan Lapas Sukamiskin sebagai bangunan cagar budaya. Ia masuk kategori Golongan A—artinya, nilai sejarah dan arsitekturnya sangat tinggi. Setahun kemudian, lapas ini diresmikan sebagai Lapas Pariwisata. Ya, Anda tak salah baca: penjara ini sempat dibuka untuk wisata sejarah.

Orang-orang datang, menatap dinding tua yang dulu menyimpan bisik perlawanan. Tapi keindahan arsitektur kolonial itu tak bertahan lama dalam sunyi sejarah.

Dua tahun berselang, tepatnya 2012, Sukamiskin berubah wajah lagi. Kali ini, ia menjadi penjara khusus bagi para koruptor. Alasannya terdengar logis: Sukamiskin punya fasilitas sel tunggal—satu orang satu kamar—sehingga lebih mudah diawasi. Tapi sejak saat itu, penjara yang dulu menampung pembangkang justru jadi tempat nyaman bagi mereka yang menjarah uang rakyat.

Gayus Tambunan adalah narapidana korupsi pertama yang menghuni Sukamiskin. Namanya sempat menghiasi halaman depan koran karena kemampuannya “keluar masuk” penjara dengan bebas, bahkan sempat menonton tenis di Bali. Setelah Gayus, datanglah gelombang baru: Anas Urbaningrum, Setya Novanto, Muhammad Nazaruddin, Djoko Susilo—nama-nama besar yang dulunya tampil percaya diri di depan kamera, kini mengenakan baju tahanan berwarna oranye.

Ironisnya, meski mereka kehilangan kebebasan, mereka tampak tak kehilangan kenyamanan. Pada 2018, Kepala Lapas Sukamiskin, Wahid Husein, tertangkap tangan oleh KPK karena menerima suap dari para napi korupsi untuk “penyesuaian fasilitas”. Di balik jeruji itu, ternyata masih ada kelas-kelas sosial.

Kamar Setya Novanto, misalnya, pernah disorot sebuah acara TV swasta: ada AC, kulkas, bahkan televisi layar datar. Setelah Ombudsman RI melakukan sidak pada Desember 2019, terbukti ada sel yang dimodifikasi jadi lebih luas dari standar. Tiga nama besar—Setya Novanto, Nazaruddin, dan Djoko Susilo—menempati ruangan dua kali lipat dari napi biasa. Padahal, statusnya bangunan cagar budaya; secara hukum, tidak boleh diubah sedikit pun.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Lapas ini akhirnya direnovasi ulang pada akhir 2019, dikembalikan ke bentuk aslinya dengan konsultasi dari Tim Ahli Cagar Budaya. Tapi jejak sejarah baru itu sudah terlanjur tercetak di dinding: bahwa penjara yang dulu menampung pembangkang kolonial, kini justru jadi simbol kemewahan dan ketimpangan di era modern.

Di Sukamiskin, orisinalitas cagar budaya itu kini berbenturan dengan kenyataan sosial. Penjara ini memang masih berdiri megah, tapi maknanya sudah bergeser jauh. Dari tempat kaum intelektual berjuang melawan kolonialisme, menjadi tempat orang-orang berjas melunasi dosa korupsi sambil menonton TV.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)