Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Indisipliner, Hukuman, dan Perlawanan: Mengurai Benang Kusut Disiplin Sekolah

Muhammad Herdiansyah
Ditulis oleh Muhammad Herdiansyah diterbitkan Senin 27 Okt 2025, 17:04 WIB
 (Sumber: Gemini AI Generates)

(Sumber: Gemini AI Generates)

Siswa hari ini adalah potret generasi yang hidup di persimpangan jalan. Di ujung jari mereka tergenggam seluruh pengetahuan dunia, namun pencarian jati diri yang mereka alami kini berlangsung di panggung yang jauh lebih bising dan ekstrem.

Tekanan dari teman sebaya tidak lagi terbatas di gerbang sekolah, melainkan berlanjut 24 jam di dunia maya, memaksa mereka untuk terus membuktikan eksistensinya. Untuk dianggap ada dan diterima, seorang siswa seringkali merasa harus melakukan sesuatu yang nekat atau bahkan melanggar.

Dalam konteks ini, tindakan indisipliner bukan lagi sekadar kenakalan biasa. Ia telah bergeser menjadi sebuah sinyal lencana kehormatan semu, teriakan minta perhatian, sekaligus penegasan identitas di tengah kebingungan.

Pendidik dan Sistem yang Terjebak

Kasus penamparan di Banten adalah contoh tragis dari benturan dua dunia ini, dunia siswa yang menguji batas untuk diakui, dan dunia guru yang bertugas menjaga keteraturan dengan metode yang mungkin tak lagi relevan bagi generasi ini.

Terdapat bagian bagian dilematis dalam kondisi tersebut dimana dilema yang dihadapi oleh pendidik di lapangan dengan kenyataan bahwa mereka dituntut oleh aturan dan tanggung jawab untuk menegakkan disiplin dan membentuk karakter siswa.

Namun di sisi lain, setiap tindakan tegas yang mereka ambil kini berada di bawah sorotan tajam hukum perlindungan anak dan pengadilan media sosial, yang dapat seketika menghancurkan karier mereka. Mereka terjebak antara tuntutan profesi untuk bertindak dan risiko pribadi jika tindakan itu dianggap melampaui batas. Adapun dilema yang dihadapi oleh sistem pendidikan dan masyarakat yang mana ketika ingin melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan trauma, menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah.

Namun di sisi lain, dengan membatasi otoritas guru secara ketat, kita berisiko menciptakan efek lumpuh di mana para pendidik menjadi takut untuk mendisiplinkan, yang pada akhirnya justru dapat menyuburkan budaya permisif dan kenakalan remaja yang lebih parah.

Bukan hanya itu, kondisi tersebut memiliki dampak terhadap respons jangka pendek dan dampak jangka panjang, dimana Menghukum siswa yang melanggar secara langsung dan tegas,mungkin terasa efektif untuk memberikan efek jera seketika dan menegaskan kembali aturan yang ada. Namun, tindakan ini seringkali meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada siswa dan merusak hubungan kepercayaan antara pendidik dan murid, yang merupakan fondasi utama dari proses belajar itu sendiri, belum lagi framing media yang pada era ini semakin masif telah menjadi pengadilan sebagai vonis sanksi sosial di masyarakat.

Dengan Memilih untuk tidak menghukum secara fisik dan mengedepankan dialog mungkin terlihat ideal dan manusiawi. Akan tetapi, jika pendekatan ini tidak diimbangi dengan ketegasan dan sistem konsekuensi yang jelas, berisiko diartikan sebagai kelemahan oleh siswa. Akibatnya, dalam jangka panjang, sekolah justru bisa kehilangan kendali atas disiplin dan tanpa sadar menumbuhkan generasi yang merasa bisa melakukan apa saja tanpa ada akibat yang berarti.

Jerat Solidaritas Buta

Ilustrasi merokok. (Sumber: Pexels/Geri Tech)
Ilustrasi merokok. (Sumber: Pexels/Geri Tech)

Sebagai dampak hal tersebut kemudian muncul reaksi dari beberapa pihak seperti aksi mogok sekolah yang dilakukan oleh seluruh siswa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, ini menimbulkan ambiguitas moral yang membingungkan. Di satu sisi, tindakan para siswa ini bisa dilihat sebagai wujud kekompakan yang luar biasa, sebuah pembelaan terhadap kawan mereka yang diperlakukan sewenang-wenang.

Namun di sisi lain, aksi ini secara tidak langsung tidak mengindahkan akar permasalahan  pelanggaran tata tertib serius yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Solidaritas yang ditampilkan menjadi pedang bermata dua, berisiko mengirimkan pesan yang salah bahwa melanggar aturan adalah hal yang wajar dan membela teman yang bersalah adalah sebuah kewajiban, bahkan jika harus mengorbankan hak belajar mereka sendiri.

Di sinilah kita harus menyadari posisi siswa sebagai kelompok yang berada dalam fase krusial pembentukan karakter, namun sekaligus sangat rentan terhadap provokasi dan doktrinasi. Nalar kritis mereka sejatinya masih perlu diasah untuk dapat memilah-milah suatu kejadian secara utuh.

Aksi mogok massal ini adalah cermin dari bagaimana emosi kolektif dan semangat satu rasa dapat dengan mudah mengalahkan logika dan pertimbangan objektif. Sangat mungkin, aksi ini bukan murni lahir dari kesadaran penuh setiap individu, melainkan hasil dari tekanan kelompok atau ajakan provokatif yang menyebar cepat, khas di lingkungan remaja.

Pada akhirnya, solidaritas buta semacam ini tidak mendidik. Ia justru mengajarkan bahwa kebenaran bisa dinegosiasikan demi pertemanan, dan aturan bisa dilumpuhkan oleh aksi massa. Ini menjadi tugas berat bagi dunia pendidikan, bukan hanya tentang bagaimana guru harus mendisiplinkan, tetapi juga bagaimana mengajarkan siswa esensi dari solidaritas yang benar solidaritas yang berdiri di atas kebenaran dan keadilan, bukan sekadar pembelaan buta atas nama kawan.

Peran Kunci Pendidik, Siswa, dan Orang Tua

Untuk mengatasi dilema yang dihadapi 3 aktor utama yang berkaitan yaitu Pendidik, Siswa dan orang tua. Dari segi pendidik, perlu ada pergeseran dari metode hukuman ke pendekatan disiplin yang mendidik. Kerangka ini harus fokus pada pembangunan karakter dan tanggung jawab internal siswa, bukan sekadar memberikan efek jera sesaat yang dapat meninggalkan luka psikologis. Ini akan memberikan kepastian bagi guru tentang tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Siswa biasanya melakukan Tindakan indisipliner sebagai teriakan minta perhatian atau fomo. Sekolah dapat mengurangi ini dengan menyediakan wadah bagi siswa untuk berekspresi secara konstruktif. Seperti sebuah forum rutin yang dimoderasi oleh konselor sekolah di mana siswa dapat menyuarakan tekanan, kecemasan, dan ide mereka tanpa takut dihakimi.

Bukan hanya dalam ruang lingkup sekolah, pada saat ini Tekanan teman sebaya tidak lagi terbatas di gerbang sekolah tetapi berlanjut 24 jam di dunia maya. Oleh karena itu, kolaborasi dengan orang tua adalah kunci. Sekolah dapat mengadakan seminar bagi orang tua tentang pengasuhan anak di era digital dan menciptakan jalur komunikasi yang terbuka untuk membahas perkembangan karakter siswa, bukan hanya nilai akademik.

Menghadapi generasi yang berdiri di persimpangan jalan, kita dihadapkan pada sebuah pilihan: terus menggunakan peta lama yang usang atau mulai menggambar rute baru bersama. Setiap hari kita menunda untuk berbenah—sebagai pendidik, siswa, maupun orang tua—adalah satu hari di mana kita membiarkan mereka tersesat lebih jauh di panggung yang bising ini.

Perubahan dalam cara kita mendidik dan berkomunikasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menyelamatkan masa depan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Herdiansyah
CPNS Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)