Indisipliner, Hukuman, dan Perlawanan: Mengurai Benang Kusut Disiplin Sekolah

5 menit baca
Muhammad Herdiansyah
Ditulis oleh Muhammad Herdiansyah diterbitkan
 (Sumber: Gemini AI Generates)
(Sumber: Gemini AI Generates)

Siswa hari ini adalah potret generasi yang hidup di persimpangan jalan. Di ujung jari mereka tergenggam seluruh pengetahuan dunia, namun pencarian jati diri yang mereka alami kini berlangsung di panggung yang jauh lebih bising dan ekstrem.

Tekanan dari teman sebaya tidak lagi terbatas di gerbang sekolah, melainkan berlanjut 24 jam di dunia maya, memaksa mereka untuk terus membuktikan eksistensinya. Untuk dianggap ada dan diterima, seorang siswa seringkali merasa harus melakukan sesuatu yang nekat atau bahkan melanggar.

Dalam konteks ini, tindakan indisipliner bukan lagi sekadar kenakalan biasa. Ia telah bergeser menjadi sebuah sinyal lencana kehormatan semu, teriakan minta perhatian, sekaligus penegasan identitas di tengah kebingungan.

Pendidik dan Sistem yang Terjebak

Kasus penamparan di Banten adalah contoh tragis dari benturan dua dunia ini, dunia siswa yang menguji batas untuk diakui, dan dunia guru yang bertugas menjaga keteraturan dengan metode yang mungkin tak lagi relevan bagi generasi ini.

Terdapat bagian bagian dilematis dalam kondisi tersebut dimana dilema yang dihadapi oleh pendidik di lapangan dengan kenyataan bahwa mereka dituntut oleh aturan dan tanggung jawab untuk menegakkan disiplin dan membentuk karakter siswa.

Namun di sisi lain, setiap tindakan tegas yang mereka ambil kini berada di bawah sorotan tajam hukum perlindungan anak dan pengadilan media sosial, yang dapat seketika menghancurkan karier mereka. Mereka terjebak antara tuntutan profesi untuk bertindak dan risiko pribadi jika tindakan itu dianggap melampaui batas. Adapun dilema yang dihadapi oleh sistem pendidikan dan masyarakat yang mana ketika ingin melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan trauma, menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah.

Namun di sisi lain, dengan membatasi otoritas guru secara ketat, kita berisiko menciptakan efek lumpuh di mana para pendidik menjadi takut untuk mendisiplinkan, yang pada akhirnya justru dapat menyuburkan budaya permisif dan kenakalan remaja yang lebih parah.

Bukan hanya itu, kondisi tersebut memiliki dampak terhadap respons jangka pendek dan dampak jangka panjang, dimana Menghukum siswa yang melanggar secara langsung dan tegas,mungkin terasa efektif untuk memberikan efek jera seketika dan menegaskan kembali aturan yang ada. Namun, tindakan ini seringkali meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada siswa dan merusak hubungan kepercayaan antara pendidik dan murid, yang merupakan fondasi utama dari proses belajar itu sendiri, belum lagi framing media yang pada era ini semakin masif telah menjadi pengadilan sebagai vonis sanksi sosial di masyarakat.

Dengan Memilih untuk tidak menghukum secara fisik dan mengedepankan dialog mungkin terlihat ideal dan manusiawi. Akan tetapi, jika pendekatan ini tidak diimbangi dengan ketegasan dan sistem konsekuensi yang jelas, berisiko diartikan sebagai kelemahan oleh siswa. Akibatnya, dalam jangka panjang, sekolah justru bisa kehilangan kendali atas disiplin dan tanpa sadar menumbuhkan generasi yang merasa bisa melakukan apa saja tanpa ada akibat yang berarti.

Jerat Solidaritas Buta

Ilustrasi merokok. (Sumber: Pexels/Geri Tech)
Ilustrasi merokok. (Sumber: Pexels/Geri Tech)

Sebagai dampak hal tersebut kemudian muncul reaksi dari beberapa pihak seperti aksi mogok sekolah yang dilakukan oleh seluruh siswa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, ini menimbulkan ambiguitas moral yang membingungkan. Di satu sisi, tindakan para siswa ini bisa dilihat sebagai wujud kekompakan yang luar biasa, sebuah pembelaan terhadap kawan mereka yang diperlakukan sewenang-wenang.

Namun di sisi lain, aksi ini secara tidak langsung tidak mengindahkan akar permasalahan  pelanggaran tata tertib serius yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Solidaritas yang ditampilkan menjadi pedang bermata dua, berisiko mengirimkan pesan yang salah bahwa melanggar aturan adalah hal yang wajar dan membela teman yang bersalah adalah sebuah kewajiban, bahkan jika harus mengorbankan hak belajar mereka sendiri.

Di sinilah kita harus menyadari posisi siswa sebagai kelompok yang berada dalam fase krusial pembentukan karakter, namun sekaligus sangat rentan terhadap provokasi dan doktrinasi. Nalar kritis mereka sejatinya masih perlu diasah untuk dapat memilah-milah suatu kejadian secara utuh.

Aksi mogok massal ini adalah cermin dari bagaimana emosi kolektif dan semangat satu rasa dapat dengan mudah mengalahkan logika dan pertimbangan objektif. Sangat mungkin, aksi ini bukan murni lahir dari kesadaran penuh setiap individu, melainkan hasil dari tekanan kelompok atau ajakan provokatif yang menyebar cepat, khas di lingkungan remaja.

Pada akhirnya, solidaritas buta semacam ini tidak mendidik. Ia justru mengajarkan bahwa kebenaran bisa dinegosiasikan demi pertemanan, dan aturan bisa dilumpuhkan oleh aksi massa. Ini menjadi tugas berat bagi dunia pendidikan, bukan hanya tentang bagaimana guru harus mendisiplinkan, tetapi juga bagaimana mengajarkan siswa esensi dari solidaritas yang benar solidaritas yang berdiri di atas kebenaran dan keadilan, bukan sekadar pembelaan buta atas nama kawan.

Peran Kunci Pendidik, Siswa, dan Orang Tua

Untuk mengatasi dilema yang dihadapi 3 aktor utama yang berkaitan yaitu Pendidik, Siswa dan orang tua. Dari segi pendidik, perlu ada pergeseran dari metode hukuman ke pendekatan disiplin yang mendidik. Kerangka ini harus fokus pada pembangunan karakter dan tanggung jawab internal siswa, bukan sekadar memberikan efek jera sesaat yang dapat meninggalkan luka psikologis. Ini akan memberikan kepastian bagi guru tentang tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Siswa biasanya melakukan Tindakan indisipliner sebagai teriakan minta perhatian atau fomo. Sekolah dapat mengurangi ini dengan menyediakan wadah bagi siswa untuk berekspresi secara konstruktif. Seperti sebuah forum rutin yang dimoderasi oleh konselor sekolah di mana siswa dapat menyuarakan tekanan, kecemasan, dan ide mereka tanpa takut dihakimi.

Bukan hanya dalam ruang lingkup sekolah, pada saat ini Tekanan teman sebaya tidak lagi terbatas di gerbang sekolah tetapi berlanjut 24 jam di dunia maya. Oleh karena itu, kolaborasi dengan orang tua adalah kunci. Sekolah dapat mengadakan seminar bagi orang tua tentang pengasuhan anak di era digital dan menciptakan jalur komunikasi yang terbuka untuk membahas perkembangan karakter siswa, bukan hanya nilai akademik.

Menghadapi generasi yang berdiri di persimpangan jalan, kita dihadapkan pada sebuah pilihan: terus menggunakan peta lama yang usang atau mulai menggambar rute baru bersama. Setiap hari kita menunda untuk berbenah—sebagai pendidik, siswa, maupun orang tua—adalah satu hari di mana kita membiarkan mereka tersesat lebih jauh di panggung yang bising ini.

Perubahan dalam cara kita mendidik dan berkomunikasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menyelamatkan masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Herdiansyah
CPNS Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)