Bandung Raya dan Mimpi Kota Berkelanjutan yang Masih Setengah Jalan

8 menit baca
T.H. Hari Sucahyo
Ditulis oleh T.H. Hari Sucahyo diterbitkan
Bandros atau Bandung Tour on Bus adalah bus wisata ikonik Kota Bandung. (Sumber: Pexels/arwin waworuntu)
Bandros atau Bandung Tour on Bus adalah bus wisata ikonik Kota Bandung. (Sumber: Pexels/arwin waworuntu)

Penghargaan UI Green City Metric Award 2025 menjadi salah satu tolok ukur penting bagi kota-kota di Indonesia dalam menilai sejauh mana pembangunan daerah berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Melalui berbagai indikator seperti pengelolaan energi, mobilitas hijau, kualitas udara, ruang terbuka, dan partisipasi masyarakat, penghargaan ini mendorong pemerintah daerah untuk tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keseimbangan ekologis dan sosial.

Dalam konteks urbanisasi yang kian pesat, ajang ini berfungsi sebagai cermin yang memperlihatkan komitmen nyata setiap kota terhadap masa depan yang hijau dan berketahanan. Oleh karena itu, hasil penghargaan tahun ini memunculkan sejumlah refleksi penting, terutama ketika beberapa wilayah yang selama ini dikenal memiliki potensi besar justru belum mampu menembus daftar penerima penghargaan tersebut.

Salah satu kawasan yang menjadi sorotan adalah Bandung Raya, yang terdiri dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Wilayah ini dikenal luas sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas di Jawa Barat, namun tahun ini tidak ada satu pun perwakilannya yang berhasil meraih penghargaan tersebut.

Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kawasan yang memiliki potensi begitu kuat dalam inovasi dan sumber daya manusia justru tertinggal dalam aspek keberlanjutan lingkungan? Jawaban dari pertanyaan ini tidak bisa disederhanakan pada satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil dari rangkaian tantangan struktural, sosial, dan kebijakan yang saling berkaitan.

Tidak tercapainya penghargaan tersebut bukan semata-mata karena kurangnya inisiatif, melainkan karena masih lemahnya integrasi dan konsistensi dalam mengelola pembangunan berkelanjutan di wilayah Bandung Raya secara menyeluruh.

Salah satu alasan utama mengapa Bandung Raya gagal masuk ke dalam daftar penerima penghargaan adalah masalah tata kelola lingkungan yang belum konsisten dan terintegrasi antarwilayah. UI Green City Metric menilai kota berdasarkan sejumlah indikator seperti kebijakan energi terbarukan, pengelolaan sampah, kualitas udara, ruang terbuka hijau, mobilitas berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat.

Di banyak aspek ini, wilayah Bandung Raya masih menghadapi ketimpangan dan fragmentasi kebijakan. Kota Bandung misalnya, memiliki sejumlah program inovatif seperti pemanfaatan energi surya di fasilitas publik dan gerakan pengurangan sampah plastik. Namun, upaya tersebut sering berjalan parsial, tidak diikuti oleh wilayah sekitarnya dengan intensitas yang sama.

Kabupaten Bandung masih bergulat dengan persoalan limbah industri tekstil yang mencemari Sungai Citarum, sementara Kabupaten Bandung Barat menghadapi tekanan besar akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan wisata komersial. Kota Cimahi sendiri menghadapi keterbatasan anggaran dan ruang dalam mengembangkan sistem transportasi hijau maupun ruang terbuka publik yang memadai.

Ketidakterpaduan kebijakan inilah yang membuat Bandung Raya secara keseluruhan tidak menonjol dalam indikator keberlanjutan regional yang menjadi basis penilaian UI Green City Metric.

Masalah lain yang cukup mendasar adalah tingginya tingkat urbanisasi yang tidak seimbang dengan kapasitas infrastruktur hijau yang tersedia. Bandung Raya terus menjadi magnet bagi pendatang dari berbagai daerah karena daya tarik ekonomi, pendidikan, dan budaya. Pertumbuhan penduduk yang pesat membawa implikasi serius terhadap kebutuhan energi, air, dan lahan.

Permintaan perumahan meningkat, sehingga lahan-lahan hijau di pinggiran kota banyak yang dikonversi menjadi permukiman. Kondisi ini mengurangi tutupan vegetasi dan memperburuk daya serap air, yang pada gilirannya memicu banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah. Di saat yang sama, kemacetan lalu lintas menjadi persoalan kronis yang belum tertangani dengan solusi transportasi berkelanjutan.

Meskipun terdapat wacana pengembangan sistem angkutan massal seperti LRT dan BRT, implementasinya berjalan lambat dan belum berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon dari sektor transportasi. Bagi penilaian seperti UI Green City Metric yang menekankan efisiensi energi dan mobilitas hijau, situasi ini jelas menjadi kelemahan yang mencolok.

Kondisi sosial masyarakat juga turut memengaruhi hasil penilaian. Sebagian masyarakat Bandung Raya memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi, terlihat dari munculnya berbagai komunitas hijau, gerakan bank sampah, hingga inovasi warga dalam pengelolaan limbah rumah tangga.

Tingkat partisipasi masih sangat timpang antarwilayah. Di banyak kawasan padat, terutama di permukiman informal dan daerah industri, perilaku buang sampah sembarangan, penggunaan air secara berlebihan, dan minimnya pengelolaan limbah rumah tangga masih menjadi persoalan sehari-hari.

Pemerintah daerah sering kali tidak memiliki mekanisme yang cukup kuat untuk menggerakkan partisipasi masyarakat secara luas dan berkelanjutan. Tanpa dukungan perilaku ekologis yang masif di tingkat warga, kebijakan hijau di tingkat pemerintah tidak akan mampu menghasilkan perubahan sistemik yang berarti.

Dari sisi birokrasi, masalah klasik seperti koordinasi antarlembaga dan keterbatasan anggaran juga menjadi hambatan besar. Program-program berorientasi lingkungan sering kali menjadi korban pemotongan anggaran atau tidak mendapat prioritas dibanding proyek-proyek infrastruktur yang dianggap lebih “berdampak cepat” secara ekonomi dan politis. Padahal, pembangunan berkelanjutan memerlukan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi sangat penting untuk kesejahteraan jangka panjang.

Dalam beberapa tahun terakhir, alokasi dana untuk penghijauan kota, transportasi ramah lingkungan, dan sistem pengelolaan limbah terpadu tidak mengalami peningkatan signifikan di sebagian besar wilayah Bandung Raya. Kondisi ini membuat upaya menuju kota hijau menjadi terhambat secara struktural, meski niat baik dan gagasan inovatif sebenarnya banyak bermunculan.

Selain faktor internal, tekanan eksternal berupa perubahan iklim dan degradasi lingkungan regional juga berperan. Bandung Raya yang berada di cekungan geografis dikelilingi pegunungan menghadapi tantangan serius terkait kualitas udara. Polusi udara tidak hanya berasal dari transportasi dan industri lokal, tetapi juga dari aktivitas pembakaran lahan di wilayah sekitar.

Fenomena inversi suhu yang sering terjadi membuat polutan udara terperangkap di lapisan bawah atmosfer, memperburuk kualitas udara pada musim kemarau. Indikator kualitas udara yang rendah secara otomatis menurunkan skor penilaian dalam UI Green City Metric.

Begitu pula dengan manajemen air: meskipun terdapat proyek Citarum Harum yang digagas pemerintah pusat, implementasinya di tingkat lokal masih belum optimal. Banyak pabrik di sepanjang sungai masih belum sepenuhnya mematuhi regulasi pembuangan limbah cair, sementara kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke sungai masih perlu ditingkatkan.

Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Sementara itu, sektor energi dan transportasi hijau yang menjadi kunci penilaian kota berkelanjutan juga belum menunjukkan kemajuan signifikan. Proporsi penggunaan energi terbarukan di wilayah Bandung Raya masih sangat kecil dibandingkan kebutuhan total. Upaya seperti pemasangan panel surya di gedung-gedung publik atau sistem penerangan jalan berbasis tenaga surya baru mencakup sebagian kecil dari potensi yang ada.

Di sisi lain, kendaraan pribadi terus mendominasi mobilitas harian karena keterbatasan transportasi umum yang nyaman, murah, dan tepat waktu. Kondisi ini bukan hanya memperparah polusi udara dan kemacetan, tetapi juga menunjukkan bahwa orientasi pembangunan kota masih berpihak pada kebutuhan mobilitas individual, bukan kolektif.

UI Green City Metric memberikan bobot tinggi pada transportasi ramah lingkungan dan efisiensi energi, sehingga kurangnya komitmen nyata di sektor ini berdampak langsung pada penilaian akhir.

Dari perspektif perencanaan kota, ada pula persoalan inkonsistensi antara rencana tata ruang dan implementasinya. Dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) sering kali memuat visi hijau dan berkelanjutan, namun dalam praktiknya, izin pembangunan sering diberikan pada kawasan yang seharusnya dilindungi atau berfungsi sebagai daerah resapan air. Tekanan ekonomi dari pengembang properti dan pariwisata sering kali mengalahkan kepentingan ekologis.

Pemerintah daerah menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan keberlanjutan lingkungan. Tanpa komitmen yang kuat untuk menegakkan aturan tata ruang, Bandung Raya akan terus mengalami degradasi ekologis yang membuatnya sulit memenuhi standar kota hijau modern.

Bandung Raya sebenarnya memiliki modal sosial dan akademik yang sangat kuat untuk menjadi pelopor kota hijau di Indonesia. Dengan banyaknya universitas, lembaga riset, dan komunitas kreatif, kolaborasi lintas sektor seharusnya bisa menjadi kekuatan utama dalam mempercepat transformasi menuju kota berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil masih belum optimal. Banyak inisiatif yang berjalan sendiri-sendiri, tanpa koordinasi yang kuat atau kerangka kebijakan bersama.

Sebagai contoh, proyek-proyek riset tentang efisiensi energi atau pengelolaan sampah sering kali tidak diintegrasikan ke dalam kebijakan pemerintah daerah, sehingga hasilnya tidak berdampak luas. Begitu pula dengan sektor swasta yang belum sepenuhnya menjadikan keberlanjutan sebagai prinsip utama bisnis. Tanpa kolaborasi lintas sektor yang efektif, upaya menuju penghargaan seperti UI Green City Metric akan sulit tercapai.

Selain itu, peran edukasi dan komunikasi publik masih belum dimaksimalkan. Banyak warga yang belum memahami pentingnya prinsip keberlanjutan dan bagaimana mereka bisa berkontribusi secara konkret. Pemerintah daerah cenderung menekankan aspek kampanye seremonial, seperti penanaman pohon massal atau lomba kebersihan, tetapi kurang dalam membangun sistem edukasi berkelanjutan yang menanamkan nilai ekologis sejak usia dini.

Padahal, keberhasilan kota hijau sangat bergantung pada budaya masyarakat yang sadar lingkungan. Ketika nilai keberlanjutan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, transformasi menuju kota hijau akan terjadi secara alami tanpa harus menunggu dorongan dari pemerintah.

Kegagalan Bandung Raya meraih UI Green City Metric Award 2025 seharusnya tidak dipandang sebagai aib, melainkan sebagai alarm keras untuk memperbaiki arah pembangunan. Penghargaan ini tidak hanya sekadar simbol, tetapi juga cermin yang memperlihatkan seberapa jauh kota-kota di Indonesia telah beranjak menuju masa depan yang lebih hijau dan berketahanan.

Bagi Bandung Raya, hasil ini bisa menjadi momentum untuk melakukan refleksi menyeluruh dan menyusun strategi baru yang lebih terintegrasi dan berorientasi jangka panjang. Pemerintah daerah perlu memperkuat tata kelola lintas batas administratif, mempercepat implementasi transportasi publik hijau, memperluas penggunaan energi terbarukan, serta menegakkan aturan tata ruang secara konsisten. Dunia akademik dan komunitas lokal perlu dilibatkan lebih dalam, bukan hanya sebagai mitra simbolis, tetapi sebagai motor inovasi yang nyata.

Dalam jangka panjang, keberhasilan Bandung Raya dalam menjadi kawasan hijau tidak akan diukur dari penghargaan semata, tetapi dari kemampuan wilayah ini untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian. Tanpa komitmen serius, kota yang dulu dikenal sebagai “Parijs van Java” bisa kehilangan daya tarik ekologisnya dan terjebak dalam siklus pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Jika hasil tahun ini dijadikan titik balik, bukan sekadar kekecewaan, Bandung Raya masih memiliki peluang besar untuk bangkit dan membuktikan bahwa kota metropolitan pun bisa tumbuh tanpa mengorbankan alam. Karena pada akhirnya, menjadi kota hijau bukan tentang memenangkan penghargaan, tetapi tentang memastikan bahwa masa depan tetap layak dihuni oleh generasi berikutnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

T.H. Hari Sucahyo
initiator of the "Adiluhung" study circle and the Pusaka AgroPol study group

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.