Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Gunung Api Palasari Purba

T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Kamis 11 Des 2025, 16:13 WIB
Lava raksasa kawasan Cibanteng – Panyandaan, Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Taufanny Nugraha)

Lava raksasa kawasan Cibanteng – Panyandaan, Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Taufanny Nugraha)

Kemegahan instalasi bumi berupa batu-batu raksasa yang tersingkap di kebun-kebun warga, di halaman rumah, di puncak pasir atau bukit, dan di pinggir jalan. Ukurannya ada yang tersingkap sebesar rumah, sebesar bus, sebesar aula, atau sebesar jip. Ada lava yang panjang, membeku di lereng yang menurun ke selatan. Karena proses cuaca dan waktu, siang dipanggang terik matahari, dan terkena dingin malam, lava itu kemudian memotong diri secara alamiah, membentuk kotak-kotak hitam seperti rangkaian gerbong kereta api zaman dulu. Kemudian masyarakat menamainya Batu Kareta.

Bagi para penggemar jalan kaki atau lari, sekali waktu, cobalah menjelajahi kawasan yang panjangnya 8 km barat-timur, antara Dagopakar/Tahura Ir H Djuanda di sebelah barat, sampai Kampung Palalangon disebelah timur. Dan di lereng yang menurun ke selatan, selebar 4 km, di sisi barat antara Batuloceng-Tebing Keraton di utara hingga Tahura Ir H Djuanda di selatan, dan di sisi timur antara Kampung Cilalareun di selatan sampai Palintang di utara. Ada yang hanya dapat dijelajahi di jalan selatan – utara, namun di beberapa tempat ada juga yang dapat dijelajahi arah timur – barat.

Pertanyaan yang seketika muncul menduduki puncak pikiran orang yang terkagum-kagum melihat kemegahan bumi itu adalah, dari gunung mana lava ke luar, dan kapan terjadinya?

Di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, ada bukit yang di google maps tertulis Pasir Babagongan dan Pasir Pangukusan atau Pasir Buleud, yang jarak di antara dua bukit itu satu km. Bahu Gunung yang memanjang barat – timur, mulai dari Pasir Babagongan sampai Gunung Palasari (muda, saat ini), itulah lingkaran kaldera Gunung Palasari Purba sepanjang 4 km di sisi selatan yang masih tersisa. Bila direkonstruksi, ketinggian Gunung Palasari Purba ini tidak kurang dari +3.000 m dpl. 

Ketika masih di dalam tubuh gunungapi, namanya magma, batuan cair pijar yang suhunya sekitar 1.200°C. Ketika terjadi letusan efusif, magma mengalir keluar dari tubuh gunungapi di lereng dan di lembah gunung, namanya berubah menjadi lava, setelah mendingin, membeku, disebut batuan beku.

Letusan-letusan efusif dari Gunung Palasari Purba, dengan mengalirkan lava di lereng gunung, di lembah-lembah. Lava itu magma, batuan cair pijar yang telah keluar dari kawah gunungapi. Setelah membeku, menjadi batuan beku yang sangat diperlukan oleh manusia untuk membangun rumah dan konstruksi bangunan lainnya. Kekentalan lavanya dikategorikan encer (viskositas rendah), dan relatif sedikit kandungan gas, sehingga dapat mengalir jauh. Gelegak lava yang mengalir seperti sungai api, melaju dengan lambat menuruni lereng hingga 8 km – 9 km jauhnya. 

Lava inilah yang tersingkap di beberapa tempat dengan nama-nama yang diberikan oleh masyarakat, seperti Batu Candi, sekitar 3 km dari puncak Gunung Palasari Muda, tersingkap di lembah – sungai, di Kampung Cilalareun, Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Lava yang melebar di Batuloceng (+1.485 m dpl), Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Batukareta (+1.180 m dpl) sekitar 3,5 km Batu Lonceng, Batu Templek (+1.040 m dpl) sekitar 3 km dari  Batu Lonceng, dan Curug Batu Templek (+980 m dpl) sekitar 4,5 km Batu Lonceng. Dan banyak lagi singkapan lava yang mengagumkan.

Letusan Gunung Palasari Purba lainnya adalah letusan eksplosif, letusan gunungapi yang sangat dahsyat, terjadi ledakan kuat yang melontarkan bom gunungapi, gas, abu vulkanik, dan material piroklastik lainnya ke atmosfer karena tekanan gas yang tinggi. Abu dan pecahan-pecahan material letusan lainnya diterbangkan angina menyebar hingga jauh. Material letusan yang sangat panas yang dihamburkan ke udara, bila turun kembali di lereng gunung, akan meluncur dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga sangat berbahaya. Material letusan yang mengendap di tubuh gunung, bila bercampur dengan air meteorik, membentuk aluran lahar yang dapat menimbun perkampungan di lembah-lembah dan kaki gunung.

Baca Juga: Asal-usul Nama Geografis Baribis 

Letusan eksplosif gunung ini yang sangat dahsyat, telah mengambrukkan sebagian tubuh gunungnya, membentuk kaldera dengan garis tengah sekitar 4 km. Kapan waktu letusannya, belum dapat dipastikan secara tepat, namun terjadi pada periode Kuarter. Di lingkaran kaldera Gunung Palasari Purba itu bermunculan gunung-gunungapi baru, seperti di tepian lingkaran kaldera sebelah utara ada Bukit Tunggul (+2.212 m dpl), di timur ada Gunung Pangparang (+1.953 m dpl), dan di selatan ada Gunung Palasari Muda (+1.852 m dpl), yang masuk ke dalam wilayah Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Adanya lava, batuan beku yang berasal dari letusan efusif Gunung Palasari Purba, meninggalkan jejak letusan yang sangat megah dan mengagumkan. Inilah instalasi bumi di permukaan yang dapat disaksikan, diraba, dan direkonstruksi kehadirannya di tempat itu. Ini sangat baik menjadi laboratorium, menjadi museum lava, menjadi taman batu, yang semuanya itu dipersembahkan bagi masyarakat di Cekungan Bandung. 

Batuan beku sangat berlimpah di Indonesia sebagai Negara yang dibentuk oleh gunung-gunung api yang terangkai menjadi pulau bungapi. Namun situs-situs lava di lereng timur laut Kota Bandung ini jaraknya hanya sekitar 15 km, sehingga sangat ideal menjadi ruang belajar gunung api. Bukan hanya dapat belajar tentang gunungapi, namun batuan beku ada juga yang dijadikan pusat-pusat religi pada zamannya, seperti di Panyandaan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)