Laboratorium Gunung Api Purba Nglanggeran

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Gunungapi purba Nglanggeran dibentuk oleh endapan aglomerat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Gunungapi purba Nglanggeran dibentuk oleh endapan aglomerat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Ademe gunung merapi purbo

Melu krungu swaramu ngomongke opo

Ademe gunung merapi purbo

Sing neng Nglanggeran Wonosari Yogyokarto

(Didik Kempot Prasetyo, Banyu Biru)

Itulah penggalan syair lagu Banyu Biru yang dilantunkan oleh Didi Kempot. Lagu yang mengisahkan tentang kerinduan cinta. Cinta yang tak berbalas. Hanya kabar angin yang menyakitkan. Rasanya ingin menangis. Tak terasa air mata meleleh di pipi. Rasa rindu semakin bergayut di hati, namun tak bisa berjumpa walau dalam mimpi.

Kepedihan di hati diiringi hujan dari langit kayangan. Di bukit batu yang besar, cuaca mendung disertai hujan. Hati semakin merindu, ingat akan janji setia pada kekasih yang terjalin di Gunung Api Purba Nglanggeran.

Sampai kapan pun tak kan terlupakan. Tak sabar menunggu sampai waktu tiba, menanti yang tak pasti, menanti ia yang telah lama berjanji. Dalam kerinduan itu, suara hati membisikkan, gunungapi purba sangat menyejukkan, Gunungapi purba Nglanggeran di Wonosari, Yogyakarta

Sebelum sampai di lokasi, dari kejauhan, sudah terlihat dengan jelas bukit yang berwarna kehitaman, batuan dari letusan gunung api purba, yang diselingi warna hijau tetumbuhan. Gunungapi purba Nglanggeran masuk ke Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Bila berkendara dari pusat kota Yogyakarta, bukit ini dapat dicapai dalam waktu 60 menit. 

Dari pintu masuk, ada jalan setapak yang tertata untuk menuju puncak bukit. Tangga kayu yang dipasang di celah sempit di antara dua bongkah batu raksasa. Permukaan batunya sangat kasar, dengan bongkah-bongkah batu-batu besar.

Bukit batu hitam–kasar itu merupakan material letusan gunungapi yang disebut aglomerat dan breksi gunungapi, material letusan gunungapi berbutir kasar, dengan ukuran lebih besar dari 2 mm, menyudut.Bothe (1929), yang melaporkan bahwa Bukit Nglanggeran itu terdiri dari aglomerat, batuan piroklastika yang mengandung bom gunungapi. 

Saat gunung api meletus dengan tipe letusan stromboli atau tipe letusan vulkano, bom gunung api, magma cair kental yang suhunya 1.200o C, ditembakan ke udara, memilin, sedikit memadat di udara, kemudian berjatuhan di permukaan tanah, lava segar yang pejal, membentuk beragam jenis lava. Endapan material letusan gunungapi itu dinamai agregat, karena penyusun utamanya berupa piroklastika berbutir kasar, yang diameternya antara 30 cm hingga dua meter lebih.

Dari keseluruhan endapan, tiga per empatnya berupa bom gunung api yang membundar, sisanya berupa abu dan lapili. Karena bebannya berat, aglomerat itu dapat dijadikan penunjuk, bahwa endapan itu berdekatan dengan kawah gunungapi. Bahkan, bisa juga agregat itu mengendap di lubang kepundan gunungapi. 

Baca Juga: Melihat Kemegahan Gunung-gemunung dari Puncak Telomoyo

Jadi, di mana persisnya pusat letusan Gunungapi purba Nglanggeran? Prof. Dr. Sri Mulyaningsih (komunikasi melalui telepon (16/09/2025) menyebutkan, bahwa pusat letusannya tidak jauh dari Gunung Nglanggeran saat ini. Dr Sri menduga, pusat letusannya ada di lokasi Gunung Wayang, 200 meter sebelah timur Gunung Nglanggeran, karena di sana terdapat volcanic neck.

Berbeda dengan Dr Sri, saya menduga, walau hanya diamati dari ronabuminya, pusat letusannya berada di tempat, yang sekarang menjadi Embung Nglanggeran, 830 m tenggara Gunung Nglanggeran.

Endapan yang luas itu membentuk bukit-bukit dengan tekstur batuan kasar, yang menindih endapan batuan yang mengendap sebelumnya. Endapan setebal 530 m itu kemudian membentuk bukit-bukit setelah bagian yang lunak dihancurkan oleh air hujan, cuaca, akar tumbuhan, dan pelapukan.

Satu di antara bukit-bukit itu dinamai Bukit Nglanggeran, atau sekarang popular dengan nama Gunungapi purba Nglanggeran, dengan ketinggian puncaknya +637 m dpl. Lebar gunung ini sekitar satu km, panjang tiga km, dan luasnya 48 ha. 

Gunung Nglanggeran merupakan gunungapi purba yang terbentuk sekitar 70 juta tahun sampai dengan 60 juta tahun yang lalu.

Menurut Dr Sri Mulyanigsih, proses terbentuknya Gunung Api purba Nglanggeran itu mirip dengan proses letusan-letusan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Puncak gunung apinya sudah muncul di permukaan laut menjadi daratan. Pada saat terjadi letusan, material letusannya mengalir di darat, mengalir ke rawa yang ditumbuhi mangrove yang lebat, hingga ke dasar laut dangkal yang ditumbuhi binatang koral. 

Baca Juga: Gunung Maninjau Meletus Dahsyat 70.000 tahun yang lalu

Menurut Prof Dr Sutikno Bronto (komunikasi melalui pesan WhatsApp (16/09/2025), bahwa proses terbentuknya Gunung Api Purba Nglanggeran dimulai dari gunung api dasar laut yang terangkat, kemudian menjadi gunungapi yang muncul di daratan. Sutikno Bronto mengemukakan bukti adanya fragmen batuan andesit dan batuan beku luar yang mengalami oksidasi kuat, sehingga berwarna merah bata.

Bahwa material letusan itu ada yang diendapkan di dasar laut dangkal, Dr Sutikno Bronto menemukan adanya fragmen batu gamping koral dan fosil koral di dalam agregat.

Gunung Api purba Nglanggeran merupakan endapan material letusan gunung api yang berupa agregat dari letusan gunung api aktif yang terjadi antara 70 juta tahun hingga 60 juta tahun yang lalu. Saat ini, Gunungapi purba Nglanggeran sudah mati, dan tubuh gunungnya sudah tererosi tingkat lanjut, sehingga penampakannya tidak sejelas gunungapi aktif saat ini. 

Gunungapi Nglanggeran sangat penting artinya bagi dunia ilmu pengetahuan, budaya, dan pariwisata, sehingga sangat layak menjadi laboratorium gunungapi purba. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)