Tugugedé Didirikan di Lereng Barat Daya Gunung Halimun

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Abah Jaya, jurukunci Tugugedé, Cengkuk. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Abah Jaya, jurukunci Tugugedé, Cengkuk. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Di kerindangan pepohonan, begitu berbelok masuk ke situs Tugugedé, terlihat batu tegak setinggi empat meter kurang 20 cm. Di pangkal menhir besar itu, kelilingnya empat meter kurang empat cm. Bagian atasnya lebih kecil dibandingkan dengan bagian tengah ke bawah. Bagaimana Tugugedé itu dapat bertahan tegak sampai saat ini, dan tidak roboh? 

Agar batu itu tetap tegak, berapa meter bagian dari menhir itu yang dikubur sebagai jangkar? Ada yang menduga, tinggi menhir yang diukur dari permukaan tanah, sedalam itu pula yang tertancap. Bila itu dapat dibuktikan, tinggi batu tagak ini sesungguhnya hampir delapan meter. 

Situs megalitik Tugugedé didirikan di lereng barat daya Gunung Halimun (+1.929 m dpl), berada di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Gunung yang meletus dahsyat antara 500.000 sampai dengan 170.000 tahun lalu ini, berada di perbatasan antara Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat. 

Torehan bekas letusan, disempurnakan denudasi dan longsoran di lereng barat daya, telah membentuk cekungan dan cerukan yang menganga selebar tujuh km, dengan lembah yang curam dan dalam. Torehan itu membentuk pegunungan yang memanjang tajam. 

Tugugedé didirikan di lereng punggungan pada ketinggian +425 m dpl. Pemilihan tempatnya sangat mempertimbangkan faktor keamanan dari serangan penduduk di luar komunitasnya,  dengan kesuburan tempat yang dapat mendukung kehidupannya. 

Kawasan ini dibentengi punggungan yang memanjang berlapis-lapis, dan dipisahkan oleh lembah yang dalam.

Di sebelah timur, Tugugedé dibentengi oleh punggungan sepanjang 6 km, dengan bagian tertinggi +645 m dpl, dan dipisahkan oleh lembah sedalam 365 m. Di lapis kedua, sebelah timur benteng alami yang pertama, Tugugedé dipisahkan oleh lembah yang dalam, dan dibentengi dinding alami sepanjang 6 km, dengan punggungan tertinggi +1.485 m dpl. 

Sedangkan di bagian barat dan utara, dibentengi punggungan yang melengkung dengan bagian tertinggi +1.165 m dpl, dipisahkan lembah sepanjang 19 km yang bermuara di Samudra Hindia.

Secara alami, dengan memperhitungkan rona bumi di lereng barat daya-selatan Gunung Halimun yang berupa punggungan yang memanjang utara – selatan, dipisahkan oleh lembah-lembah yang curam dan dalam, sangat mungkin, nenek moyang yang mendiami Tugugedé itu ada yang datang dari selatan.

Mereka berlabuh di muara sungai, lalu berjalan ke utara, ke arah gunung. Di tempat-tempat yang terdapat sumber daya alam sangat baik, batu-batu besar yang panjang, batu yang datar dan lebar, kemudian mereka mendirikan menhir, dan membentuk tempat bermukim.

Di Kecamatan Cikakak, terdapat tempat-tempat sakral yang dibuat dari batuan besar, seperti: Situs Gunung Tangkil di Desa Cikakak, situs Salak Datar di Desa Cimaja, Situs Punden Berundak di Desa Sirnarasa, dan situs Ciarca di Desa Sirnarasa.

Gunung Halimun. (Sumber: Wikimedia Commons/Toni Wöhrl and Sang Cai)
Gunung Halimun. (Sumber: Wikimedia Commons/Toni Wöhrl and Sang Cai)

Situs Tugugedé berada di lereng bagian dalam dari tapal kuda raksasa sisi barat daya Gunung Halimun, menjadi daerah tangkapan hujan, kemudian meresap melalui akar-akar pohon di hutan.

Di tekuk lereng keluar mata air yang teratur, dan di lembahnya, di sepanjang aliran anak-anak sungainya dengan air yang berlimpah. Di sanalah dikembangkan menjadi persawahan yang subur, yang tak pernah kekurangan air. Di tanah daratnya, dikembangkan menjadi kebun dengan aneka pohon yang menghasilkan, seperti durian, jengkol, pisang, kelapa, kayu keras, dan bambu.

Karuhun yang telah membangun kawasan Tugugedé, telah mempertimbangkan segi keamanan warganya, terlindung secara alami, karena wilayahnya dibentengi secara berlapis-lapis oleh punggungan dan lembah yang curam dan dalam.

Keberadaannya menjadi tidak mudah untuk diketahui orang lain. Dengan kesuburan tanahnya yang baik, air yang berlimpah, mereka dapat hidup dan berkehidupan dalam naungan dikemegahan bentang alam.

Mereka memilih tempat untuk pemujaan, yang secara alami memungkinkan, karena tersedianya batu-batu besar hasil dari letusan Gunung Halimun yang berupa lava, dan material letusan lainnya, seperti breksi.

Bongkah-bongkah lava yang berukuran dan panjang dan besar, karena panas, dingin, hujan, dan pengaruh tumbuhan, menyebabkan bongkah lava itu ada yang pecah, membentuk bongkah batu yang datar. Batu seperti inilah yang kemudian dijadikan dolmen, yang oleh masyarakat disebut batu kasur atau batu meja.

Batu yang pecah datar dalam ukuran yang lebih kecil, sebesar meja, sekitar 1,5 m kali 2,25, di bagian yang datar itulah para karuhun ahli memahat batu, membuat cekungan-cekungan yang halus, dengan ukuran yang presisi. Seperti yang disebut batu congklak atau batu dakon, terdapat 10 cekungan yang teratur, dengan garis tengah bagian atas 22 cm, garis tengah bagian bawah 5 cm, dengan kedalaman 14 cm. Untuk menumbuk dan menghaluskan, ada alu yang panjangnya 53 cm, dengan panjang keliling di ujung yang satu 18 cm, dan 34 cm di ujung lainnya. 

Peruntukan utamanya adalah untuk menumbuk, seperti untuk menumbuk bahan pangan, dan untuk menumbuk ramuan obat-obatan. Karena jumlahnya 10 lubang, sehingga sebanyak 10 orang dapat bersama-sama menumbuk sesuatu di sana.

Sekarang, tempat menumbuk bahan pangan seperti padi, disebut saung lisung (saung lesung), dan dapat dilakukan secara berbarengan beberapa orang. Ada juga batu lumpang, yang mempunyai fungsi yang sama, untuk menumbuk.

Yang menarik lainnya di sana ada bekas bangunan kuno, apakah punden berundak? Yang di pinggirnya terdapat tangga batu, dan ada beberapa kursi batu yang menghadap ke menhir yang lebih kecil.

Di dalam situs itu terdapat dua jambangan batu yang berfungsi sebagai bak penampungan air untuk bersuci. Ukurannya  panjang 185 cm, lebar 87 cm, tinggi 65 cm, dan terdapat lubang pembuangan air di tengah dasar jambangan dengan diameter 20 cm.

Jambangan batu 2, panjangnya 165 cm, lebar 90 cm, tinggi 60 cm, dengan lubang pembuangan air dengan diameter 20 cm. Kedua jambangan batu ini dibuat dari breksi, material yang diletuskan dari Gunung Halimun. Berbeda dengan lava andesit yang pejal, breksi lebih mudah dibentuk menjadi jambangan batu.

Bila situs Tugugedé sebagai tempat sakral, di manakah warganya tinggal? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)