Jejak Sejarah Pecinan Bandung yang Terancam Hilang Ditelan Kesemrawutan Kota

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Salah satu kawasan Pecinan yang diperkirakan ada di Bandung zaman baheula. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Salah satu kawasan Pecinan yang diperkirakan ada di Bandung zaman baheula. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

AYOBANDUNG.ID – Di sudut barat Kota Bandung, ada kawasan yang dahulu menjadi nadi perdagangan dan pusat kehidupan komunitas Tionghoa. Sekarang, kawasan itu terancam tinggal cerita. Jalan-jalannya padat dan semrawut, ruko-ruko tua ditelan bangunan modern yang tumbuh tanpa tata, dan bau ikan asin yang dulu jadi penanda kehidupan pecinan kini tergantikan oleh aroma knalpot dan limbah kota. Pecinan Bandung, yang tercatat sejak peta kota tahun 1882, perlahan hilang dari wajah kota. Bukan karena perang atau kebakaran besar, melainkan karena ketidakpedulian.

Dalam Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung, Sugiri Kustedja menyebut sejak peta Bandoeng tahun 1882 terbit, kawasan di sekitar Groote Postweg (sekarang Jalan Jenderal Sudirman) dan Pangeran Soemedangweg (kini Jalan Otista) sudah dipadati oleh deretan pertokoan dan rumah saudagar. Di sinilah denyut awal ekonomi Bandung berdetak.

Para pedagang, sebagian besar keturunan prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri, mulai berdagang kain batik dari Jawa Tengah. Mereka disebut “orang pasar”, “mandoran”, atau “saudagar Bandoeng”—orang-orang yang menghidupi kota ini sebelum ada yang bernama Jalan Braga.

Tetapi geliat besar komunitas Tionghoa benar-benar terlihat di awal abad ke-20. Tahun 1906, ketika Bandung resmi jadi gemeente dan punya burgemeester sendiri, perencanaan kota mulai diseriusi.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Laporan Commissie voor de Beoordeeling van de uitbreidingsplannen der Gemeente Bandoeng tahun 1919 mencatat bahwa pusat ekonomi kota justru berada di wilayah Chineezenwijk alias Pecinan. Menurut laporan itu, perputaran ekonomi di kawasan Pasar Baru lima kali lebih besar dari Pasar Andir atau Kosambi. Ini bukan sembarang kampung, ini mesin uang kota.

Sugiri menyebut bahwa kehidupan perdagangan di kawasan ini didorong oleh jaringan saudagar Tionghoa yang solid dan mobilitas masyarakat luar kota yang tinggi. Bahkan kepala jawatan kereta api saat itu mencatat, 80% penumpang yang turun di Stasiun Bandung adalah para komuter yang ingin berdagang atau belanja ke Pasar Baru.

Dalam catatan Mencari Pecinan Kota Bandung oleh Komunitas Aleut, Sugiri menyebut karakter Pecinan di Bandung memang memiliki kekhasan. Tidak seperti di Surabaya, Semarang, atau Cirebon yang memiliki batas geografis yang jelas, kawasan Pecinan di Bandung tidak pernah tegas, dan hingga kini identitasnya justru lebih ditelusuri melalui jejak sosial, arsitektur, dan aktivitas ekonomi masyarakatnya.

Walau begitu, kawasan Cibadak dan Waringin dinilai sebagai dua titik yang layak disebut sebagai jantung Pecinan Bandung. Di kawasan inilah warisan budaya, struktur bangunan khas Tionghoa, dan jejak para saudagar tua masih bisa ditemukan, meski kian memudar.

Suaana Jalan Cibadak, Kota Bandung, menjelang perayaan Imlek. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Suaana Jalan Cibadak, Kota Bandung, menjelang perayaan Imlek. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sedangkan dalam Pecinan Bandung Ditetapkan Tanggal 9 Oktober 1871, Atep Kurnia menulis Pemerintah Hindia Belanda beberapa kali menetapkan kawasan Tionghoa secara resmi di Bandung. Pertama kali, Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan pembentukan Chinesche Campongs di wilayah Priangan, termasuk Bandung, pada 9 Juni 1810. Namun kebijakan itu hanya berlaku satu dekade sebelum muncul larangan bagi orang Tionghoa dan Timur Asing lain untuk menetap di Priangan.

Larangan itu baru dicabut lewat Ordonansi tanggal 24 September 1871. Dan pada 9 Oktober 1871, lewat Staatsblad No. 146, Bandung kembali ditetapkan sebagai salah satu wijk atau kawasan permukiman orang Timur Asing. Sejak itulah kawasan Tionghoa kembali tumbuh, terbagi dalam dua wijk utama: Suniaraja dan Citepus, dipisahkan Sungai Cikakak. Inilah cikal bakal Pecinan Bandung.

Lalu siapa saja aktor utama di balik gemerlap kawasan itu? Ada Yap Lun, pengusaha tekstil keliling yang jadi juragan properti. Ia membangun kompleks Yap Lun di kawasan Waringin dan Pasar Andir, lengkap dengan sekitar 130 unit ruko satu lantai khas Tionghoa. Dinding muka tokonya bisa dibuka saat siang, ditutup saat malam. Siang toko, malam rumah. Gaya hidup hemat ruang yang sekarang diromantisasi startup arsitektur kekinian sudah lebih dulu diterapkan oleh Yap Lun seabad lalu.

Selain itu, ada juga Kok An, tokoh multi-talenta yang membangun pabrik gelas “Kong Liong”, memproduksi beras, hingga mengembangkan kawasan Gedung Delapan dan Gedung Sembilan. Ia bukan hanya pengusaha, tapi juga budayawan, anggota THHK, simpatisan filsafat Tionghoa, dan pemikir ruang kota.

Budayawan Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya dalam tulisannya Asal Usul Gang Luna Pecinan Bandung menyebut Yap Lun dan Kok An sendiri merupakan partner bisnis. Keduanya menghidupkan kawasan niaga di sekitar Andir melalui perusahaan pengembang Jap Loen & Co serta NV Bouw Mij Tjoan Seng. Nama keduanya diabadikan jadi Gang Luna, derivat dari Lun An, gabungan Yap Lun dan Kok An.

Lalu, ada Yo Sun Bie. Ia lahir di Fujian, merantau ke Batavia, kemudian ke Bandung. Ia berdagang tekstil, mendirikan pabrik tenun “Sin I Seng” dan pabrik sagu “Jo Sun Bie Kongsie”. Ia membangun ruko dua lantai di sekitar Pasar Baru. Pada masanya, ia disegani sebagai industrialis dan filantropis. Ia pernah diinternir Jepang, tapi setelah itu tetap aktif di organisasi dan bahkan mendirikan sekolah.

Baca Juga: Jejak Samar Sejarah Pecinan Bandung, dari Chineesche Kamp ke Ruko Klasik Pasar Baru

Tapi apa yang tersisa hari ini dari semua itu?

Pasar Baru, yang dulu menjadi sentra dagang, kini berubah jadi zona kumuh yang dipenuhi PKL, kendaraan parkir sembarangan, dan bangunan yang dipoles seadanya. Trotoar tak bisa dipakai berjalan. Toko-toko yang dulu menyimpan sejarah keluarga kini jadi gudang, kios HP, atau dibongkar total untuk jadi minimarket. “Sekarang ini, suasana/keadaan Pasar Baru sangat kacau. Fungsi jalan dan trotoar tidak sesuai dengan peruntukkannya,” tulis Kustedja.

Bangunan kolonial nyaris tak tersisa. Yang masih agak “bernafas” adalah kompleks Yap Lun. Beberapa ruko satu lantainya masih mempertahankan bentuk asli, lengkap dengan atap memanjang dan thiam-tang di muka toko. Tapi umur kawasan itu seperti dihitung mundur. Apalagi Pasar Andir yang bertetangga sudah dibongkar dan dibangun ulang.

Pecinan Bandung adalah kisah kota yang tak ditulis di buku pelajaran. Ia adalah tentang orang-orang yang membentuk Bandung dari lorong pasar dan ruko-ruko sempit. Jika membiarkan mereka hilang begitu saja, Bandung tak hanya kehilangan ruang, tapi juga kehilangan sebagian ingatannya. Dan kota yang kehilangan ingatan, biasanya akan tersesat di masa depan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)