Jalan Cepat ke Lembang Gagal Dibangun Sejak Zaman Kolonial

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Foto udara akses jalan ke Observatorium Bosscha di Lembang. (Sumber: KITLV)
Foto udara akses jalan ke Observatorium Bosscha di Lembang. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di Lembang, sapi perah dan susu murni sudah jadi bagian dari sejarah panjang. Dulu, kawasan ini jadi dapurnya Hindia Belanda untuk urusan peternakan, perkebunan, juga tempat ngadem buat orang Eropa yang kepanasan di Batavia.

Tapi Lembang bukan sekadar tempat istirahat kolonial yang beraroma eukaliptus, dia juga tempat lahirnya ilmu pengetahuan. Observatorium Bosscha berdiri di sini sejak 1923, sebagai simbol bahwa langit Lembang cukup terang buat para astronom, meski sekarang makin kabur oleh lampu-lampu vila.

Tapi satu hal yang belum berubah sejak masa kolonial sampai sekarang: akses ke Lembang itu... bikin ngelus dada. Dulu pedati dan delman ngos-ngosan, sekarang mobil dan motor juga tak kalah merintih. Macet jadi langganan, apalagi di akhir pekan.

Lucunya, dari era Belanda sampai zaman now dengan teknologi serba canggih, Lembang tetap susah dicapai dengan mulus. Jalanan sempit, tanjakan curam, dan proyek infrastruktur yang lebih sering jadi wacana ketimbang kenyataan.

Wacana Bikin Rel ke Lembang Gagal Berulang Kali

Pada dasarnya, Belanda bukan bangsa yang suka macet. Mereka suka segalanya terjadwal, tepat waktu, dan bergerak di atas rel. Maka tak heran, begitu melihat hasil bumi Lembang melimpah, mereka langsung berpikir, “Kenapa nggak kita bikin rel sekalian ke atas?”

Sejarah Kereta Api di Priangan (2017) karya Agus Mulyana menyebut racana pembangunan jalur kereta ke Lembang pertama kali muncul tahun 1883. Waktu itu, seorang pengusaha bernama N.H. Niertrasz mengajukan konsesi ke pemerintah kolonial untuk membangun rel dari Lembang ke Bandung, diteruskan ke Cikalong. Lengkap dengan cabang ke Banjaran lewat Kopo sampai Cisondari. Sungguh visi yang besar.

Tapi pemerintah bilang: tidak. Alasannya? Tak dijelaskan secara detil, tapi boleh jadi mereka sadar medan ke Lembang bukan buat rel. Niertrasz tak menyerah. Tahun 1884, dia coba lagi lewat J.B. Hubenet. Tapi tetap ditolak. Belanda memang keras kalau urusan tanjakan.

Lalu tahun 1898, muncul nama baru: W.H.J. Keuchenius. Dia ajukan rute dari stasiun Staatsspoorwegen (SS) Bandung ke Lembang lewat Cihideung. Tapi sekali lagi, jawaban dari Batavia adalah: tidak. Jalurnya terlalu berat dan mahal, katanya.

Tahun 1910, muncul lagi pengusaha dengan nama megah: R.P.F. Hagenaar. Ia dapat konsesi untuk rute Bandung–Lembang, dan juga Ciparay–Pacet. Tapi entah kenapa, hanya yang ke Pacet yang disetujui. Lembang? Kembali dicoret dari daftar prioritas. Dua tahun kemudian, konsesi itu dicabut. Hagenaar dianggap tidak mampu merealisasikan rencananya.

Karen aitu sejak 1915, Belanda akhirnya menyerah. Mereka fokus membangun jalur ke Selatan Bandung: Bandung–Banjaran dan Citeureup–Majalaya. Dua rute itu dikerjakan oleh SS dengan anggaran f1.385.000. Sementara Lembang dibiarkan tetap menjadi tanjakan misterius yang hanya bisa dijangkau oleh kendaraan beroda, bukan rel besi.

Lembang memang tak sempat dilintasi kereta api, tapi jangan salah, wilayah ini pernah jadi bagian dari jaringan penerbangan Hindia Belanda. Tepatnya di Desa Cibogo, dibangunlah landasan pacu darurat bernama Noodlanding Terreinen Tjibogo. Namanya agak sulit diucapkan, tapi fungsinya jelas: tempat darurat buat mendarat kalau pesawat kehabisan bensin atau cuaca buruk menggagalkan misi.

Baca Juga: Sejarah Terowongan Kereta Sasaksaat, Tertua dan Terpanjang di Indonesia

Berdasarkan dokumen yang dirilis Departemen Perusahaan Pemerintah Hindia Belanda sekitar 1931, lapangan ini berada di ketinggian 1.175 meter dpl, panjangnya 500 meter dan lebar 125 meter. Tak besar, tapi cukup buat pesawat militer zaman itu. “Noodlanding Terreinen Tjibogo memiliki dimensi medan rumput yang sangat bagus, kondisi daerah sekitar area miring,” tulis laporan itu.

Landasan ini bukan satu-satunya. Hindia Belanda kala itu sudah membuat empat bandara utama di Kalijati, Cililitan, Andir (Bandung), dan Semarang. Sementara untuk lapangan pacu darurat, ada 29 lokasi tersebar di seluruh Jawa: dari Cimahi, Cileunca, hingga Pameungpeuk. Tapi Cibogo Lembang cukup istimewa karena posisinya yang tinggi dan dekat pusat sains: Observatorium Bosscha.

Kenapa Belanda bisa bikin lapangan pacu di tempat yang medannya susah, tapi tak bisa bikin rel ke Lembang? Mungkin karena pesawat bisa terbang, dan rel butuh landai. Atau mungkin karena pilot lebih pemberani dari masinis.

Jalan menuju Cisarua Lembang zaman baheula. (Sumber: KITLV)
Jalan menuju Cisarua Lembang zaman baheula. (Sumber: KITLV)

Wacana Tol Pasteur-Lembang

Puluhan tahun sejak Belanda angkat tangan, Lembang masih berkutat pada masalah yang sama: akses yang sulit. Setiap akhir pekan, ribuan kendaraan merayap dari Bandung ke arah utara. Dari Jalan Setiabudi sampai Lembang, jalan jadi parkiran massal. Tukang tahu susu senang, tapi pengendara sering putus asa.

Karena itu, muncul lagi wacana pembangunan infrastruktur: jalan tol dari Pasteur ke Lembang. Yang mewacanakan bukan sembarang orang. Adalah Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang terkenal dengan gaya blusukannya.

“Pasteur–Lembang saya rencana bikin tol. Bisa dari Pasteur atau sebelum Pasteur, yang penting kecamatan Pasteur terurai selesai. Artinya, mereka yang bertujuan ke Lembang gak usah lewat Pasteur,” kata Dedi.

Sah-sah saja. Tapi reaksi publik terbagi. Ada yang antusias, berharap tol ini bisa menyelamatkan mereka dari kemacetan abadi. Ada pula yang skeptis, menyebut proyek ini hanya akan memindahkan titik macet ke tempat lain. Apalagi jika melihat rekam jejak pembangunan infrastruktur yang sering macet duluan sebelum jadi.

Belum lagi soal dampak ekonomi. Jalan tol privat biasanya lebih menguntungkan investor ketimbang rakyat kecil. Warung makan di jalur arteri bisa sepi, tukang oleh-oleh kehilangan pembeli, dan sopir angkot makin gigit jari.

Yang juga patut dicatat: Lembang bukan kawasan kosong. Ia berada di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang punya status konservasi. Membuka jalan tol berarti membuka peluang rusaknya kawasan resapan air, memperbesar risiko longsor dan banjir ke Bandung bagian bawah. Alam bisa balas dendam kalau kita terlalu rakus membuka lahan.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Dari ambisi rel kolonial hingga tol modern, satu hal yang tak berubah: Lembang tetap memesona dan tetap sulit dijangkau. Mungkin ini cara alam menjaga kemurniannya. Tempat yang terlalu mudah dicapai, biasanya cepat rusak. Lembang seperti perempuan cantik yang terlalu sering dipuji tapi jarang benar-benar dipahami.

Zaman boleh berganti. Delman diganti motor, pedati berganti mobil pribadi, dan pesawat kini cuma dilihat di langit. Tapi akses ke Lembang tetap membuat orang berspekulasi, bermimpi, dan mengajukan proposal, dari Niertrasz, Hagenaar, hingga Dedi Mulyadi.

Sangat boleh jadi nanti akan ada lagi yang mengajukan kereta gantung atau hyperloop ke Lembang. Tapi sejarah mengajarkan: keinginan besar harus ditopang oleh kerja keras dan peta yang realistis. Kalau tidak, ia hanya akan jadi satu halaman lagi di tumpukan wacana yang tak pernah sampai.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)