Kisah Kapal Laut Cimahi Hilang di Kabut Kalimantan, Diterkam Laut China Selatan

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kapal Tjimahi (Cimahi). (Sumber: Stichting Maritiem Historische Data)
Kapal Tjimahi (Cimahi). (Sumber: Stichting Maritiem Historische Data)

AYOBANDUNG.ID - Cimahi bukan cuma nama kota garnisun di Priangan Barat. Di masa kolonial, Cimahi juga pernah menjadi nama sebuah kapal uap besar yang mengarungi samudra antara Jawa, Tiongkok, dan Jepang. Dibangun tahun 1913 oleh perusahaan galangan kapal Belanda di Amsterdam, kapal ini tergolong modern untuk zamannya.

Berbobot 3.878 ton kotor, panjang 348 kaki, lebar 19 kaki, dan dalamnya mencakup 2.470 ton berat bersih, kapal uap baja ini diperuntukkan untuk pelayaran jarak jauh dengan rute dagang penting. Ia adalah bagian dari armada Jalur Jawa-Tiongkok-Jepang, yang pada awal abad ke-20 merupakan salah satu jalur pelayaran paling sibuk di Asia Timur.

Tapi nasib baik tak selalu menyertai kapal yang besar. Tjimahi mengalami dua musibah besar dalam waktu kurang dari dua tahun masa tugasnya: pertama, ia nyasar akibat kabut tebal di atas Laut Jawa; lalu setahun kemudian, ia benar-benar karam di gugusan karang terpencil di Laut China Selatan yang bahkan kini masih diperebutkan.

Kisahnya dimulai pada Oktober 1914. Saat itu, Kalimantan barat tengah dilanda kebakaran hebat. Kabut asap yang mengepul dari hutan yang terbakar membumbung ke langit dan menyelimuti jalur pelayaran dari Jawa ke Sumatra dan Singapura. Akibatnya, mercusuar-mercusuar yang biasa menjadi panduan kapal tak terlihat sama sekali.

“Kebakaran hebat sedang berkobar di pantai barat Kalimantan. Kapal-kapal tidak dapat berlayar dari Jawa ke Singapura karena kepulan asap tebal, karena mercusuar tidak terlihat,” tulis laporan De Amsterdammer tertanggal 22 Oktober 1914. Dalam situasi seperti itu, Tjimahi berlayar dari Pulau Billiton (kini Belitung) menuju Muntok, pelabuhan penting di barat laut Bangka.

Pulau Muntok—atau Mentok dalam ejaan lokal—pada masa itu adalah kota pelabuhan strategis. Ia menjadi titik penghubung jalur laut antara Bangka, Belitung, dan Sumatra, sekaligus pintu masuk penting menuju Selat Bangka. Namun Tjimahi tak pernah sampai ke Muntok pada waktunya. Ia dinyatakan hilang. “Dikhawatirkan bahwa kapal 'Tjimahi' telah hilang,” tulis surat kabar itu.

Lebih mengejutkan lagi, di dalam kapal itu ada rombongan penting. Selain 400 penumpang, Tjimahi juga mengangkut “seluruh pameran Hindia Belanda di Pameran Panama.” Yang dimaksud adalah Panama-Pacific International Exposition, pameran dunia yang diadakan di San Francisco tahun 1915 untuk merayakan dibukanya Terusan Panama. Pameran ini juga menjadi panggung bagi kota San Francisco untuk menunjukkan kebangkitannya pasca gempa bumi besar tahun 1906.

Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel

Hindia Belanda ikut serta dalam ajang ini, menampilkan berbagai produk alam tropis, kerajinan, batik, dan kekayaan budaya lainnya. Maka bisa dibayangkan betapa pentingnya muatan Tjimahi: bukan hanya barang dagangan, tetapi juga citra kolonial yang hendak dipamerkan ke dunia.

Pihak perusahaan lalu mengirim dua kapal untuk membantu pencarian: Tjikembang (Cikembang) dan Tjiliwong (Ciliwung). Kedua kapal ini adalah saudara sesama armada Jalur Jawa-Tiongkok-Jepang. Mereka diarahkan ke area perairan sekitar Bangka dan Belitung, menyisir jalur laut yang biasanya dilalui Tjimahi. Harapan besar disematkan pada keduanya untuk menemukan kapal yang hilang. Seperti dicatat dalam laporan koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië. “Gagasan bahwa Tjikembang telah membuat Tjiliwong berusaha keras untuk menarik kapal saudara mereka, menaruh harapan mereka di darat.”

Kabar baik datang. Pada 25 Oktober 1914, Algemeen Handelsblad mengabarkan bahwa kapal Tjimahi telah ditemukan. Ternyata ia tidak tenggelam, hanya nyasar akibat dua hari dikepung kabut. Kapal itu bahkan tak singgah di Muntok seperti dijadwalkan, dan malah langsung melanjutkan pelayaran ke utara hingga tiba di Hong Kong.

“Tjimahi telah tiba di Hong Kong,” tulis De Telegraaf dalam edisi 29 Oktober. Kaptennya agaknya memilih keputusan pragmatis: daripada menunggu kabut di tengah laut, lebih baik terus menembus ke pelabuhan besar berikutnya.

Kapal Tjikembang (Sumber: Stichting Maritiem Historische Data)
Kapal Tjikembang (Sumber: Stichting Maritiem Historische Data)

Setelah selamat dari insiden kabut, Tjimahi kembali melanjutkan pelayaran rutin. Namun takdir punya rencana lain. Pada 14 Mei 1915, saat dalam perjalanan dari Hong Kong menuju Jawa, kapal ini menabrak terumbu karang di wilayah Laut China Selatan, tepatnya di gugusan Kepulauan Paracel. Lokasi itu berada di tenggara Pulau Hainan, wilayah yang kini menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok. Dalam laporan resmi yang tercatat oleh Stichting Maritiem Historische Data, posisi kandasnya Tjimahi adalah 15°47' Lintang Utara dan 111°12' Bujur Timur.

Kepulauan Paracel adalah gugusan pulau kecil, atol, dan karang yang terpencil dan tidak banyak dikenal oleh publik Hindia Belanda saat itu. Bahkan sampai hari ini pun, wilayah ini lebih dikenal karena sengketa antara beberapa negara Asia Timur, terutama Tiongkok dan Vietnam. Tapi bagi Tjimahi, Paracel bukanlah medan politik, melainkan jerat maut. Akibat kesalahan navigasi, kapal ini menghantam terumbu karang dan langsung kandas. “Tjimahi kandas di terumbu karang dekat Paracel,” tulis Algemeen Handelsblad edisi 19 Mei 1915.

Laporan dari Stichting Maritiem Historische Data menyatakan penyebab utama kecelakaan adalah kesalahan navigasi. Karang-karang di sekitar Paracel memang dikenal berbahaya dan kerap menjebak kapal, apalagi dalam cuaca laut yang tak menentu. Dalam waktu lima hari setelah kandas, seluruh awak dan kapten kapal memutuskan untuk meninggalkan kapal. Tjimahi dinyatakan tak bisa diselamatkan. Kabar yang diterbitkan Middelburgsche Courant pada 21 Mei 1915 menyebut, “Tjimahi telah ditinggalkan oleh kaptennya. Awak kapal telah mendarat di Hong Kong.”

Baca Juga: Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung

Beberapa laporan di Hindia Belanda—lantaran beluma ada kabar pesan instan seperti WhatsApp kala itu—masih sempat menyimpan harapan. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië menulis bahwa kapal “kemungkinan besar aman” karena masih tersangkut pada karang dan tertahan oleh rantai. Namun harapan itu kosang belaka, lantaran Tjimahi nyatanya sudah kalap diterjang Laut China Selatan.

Pada masa itu, banyak kapal Belanda memang dinamai dari daerah dan sungai di Jawa Barat. Selain Tjimahi, ada Tjikembang, Tjiliwong, Garoet, Soekaboemi, Tjitaroem, Tjilebut, Tjitjalengka, Tjimenteng, hingga Tjisondari. Nama-nama ini menjadi penanda geografis sekaligus identitas kolonial yang berlayar menyeberangi samudra.

Tidak diketahui secara pasti apakah Tjimahi yang digunakan terinspirasi dari Kota Cimahi atau wilayah Cimahi yang ada di Sukabumi. Pasalnya ada banyak daerah yang memiliki kesamaan nama di Jabar juga digunakan dalam penamaan kapal. Cikembang yang mencari Cimahi saat karam, ada di Sukabumi dan Kabupaten Bandung. Cimenteng, juga ada di Sukabumi dan Cimahi.

Tjikembang dan Tjiliwong menjadi bagian penting dalam kisah pencarian Tjimahi. Kapal Tjikembang dibuat di Belanda tahun 1914 dan memiliki daya angkut lebih dari 2.000 penumpang. Dalam perjalanannya, kapal ini bahkan sempat disita oleh pemerintah Amerika Serikat di Manila pada 23 Maret 1918 dalam konteks Droit d'Angarie—hak menyita kapal asing di masa perang—dan dibawa di bawah bendera AS. Ia baru dikembalikan kepada pemiliknya pada Oktober 1919. Nasib akhirnya datang di tahun 1939, ketika kapal ini dijual dua kali dalam beberapa bulan untuk dibesituakan. Ia tiba dalam pelayaran terakhirnya di Rotterdam pada 4 Mei 1939.

Sementara Tjiliwong—yang diluncurkan pada tahun 1905—mampu menampung 1.383 penumpang. Kapal ini juga menjalani masa pelayaran panjang hingga akhirnya dijual ke Jepang dan dibesituakan di Osaka pada Desember 1932.

Kedua kapal ini tidak hanya saksi dari lalu lintas dagang kolonial, tapi juga dari kisah pencarian yang sempat membuat jantung orang-orang di Batavia dan Amsterdam berdegup: mencari kapal yang hilang di kabut, dan kelak, hanya bisa dikenang lewat laporan kecelakaan di koran tua.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)