Kala Rancaekek Diamuk Tornado Pertama di Indonesia

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tornado Rancaekek yang dilaporkan terlihat dari Jatinangor. (Sumber: Twitter @be4utiful0nes)
Tornado Rancaekek yang dilaporkan terlihat dari Jatinangor. (Sumber: Twitter @be4utiful0nes)

AYOBANDUNG.ID - Tanggal 21 Februari 2024, langit di atas Rancaekek berubah menjadi panggung bagi pertunjukan yang tak biasa. Bukan petir, bukan hujan deras seperti sore-sore tropis umumnya. Tapi angin. Bukan sekadar angin ribut, melainkan pusaran besar yang mengangkat atap rumah, membalik kendaraan, dan mengirimkan genteng-genteng beterbangan seperti kartu remi yang dibuang sembarangan.

Pukul 15.30 sampai 16.00 WIB, itulah waktu ketika angin menggila di perbatasan Bandung dan Sumedang. Video amatir beredar cepat di media sosial, menunjukkan pusaran angin seperti corong yang turun dari langit. Angin seram itu juga dilaporkan terlihat dari Jatinangor, SumedangSebagian menyebutnya puting beliung, sebagian lagi yakin itu tornado. Lalu muncullah kabar: Indonesia akhirnya punya tornado.

Pernyataan yang mengejutkan itu datang dari Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Didi Satiadi. Ia menyebut bahwa fenomena di Rancaekek memiliki ciri-ciri tornado, bukan sekadar puting beliung biasa.

“Fenomena tornado menggambarkan suatu kolom udara yang berputar sangat cepat, mulai dari awan badai hingga mencapai permukaan tanah, dan biasanya berbentuk seperti corong,” katanya.

Di tengah kebingungan istilah antara “puting beliung” dan “tornado”, publik mulai bertanya-tanya: apakah betul ini tornado pertama di Indonesia? Atau hanya semantik akademik belaka?

Dalam bahasa awam, tornado dan puting beliung nyaris tak bisa dibedakan. Keduanya muncul tiba-tiba, sama-sama merusak, dan kerap membuat warga panik. Tapi dalam ilmu meteorologi, perbedaannya jelas. Tornado lebih besar, lebih kuat, lebih kompleks dalam pembentukannya.

Biasanya muncul di lintang menengah Amerika Serikat (AS), misalnya. Sedangkan puting beliung umumnya lebih kecil dan terbentuk akibat konveksi lokal di wilayah tropis seperti Indonesia.

Baca Juga: Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri

Tapi dalam kasus Rancaekek, pusaran yang terbentuk memiliki daya rusak di atas rata-rata. Kawasan permukiman padat di sekitarnya terkena imbas. Jatinangor ikut terdampak. Tidak ada korban jiwa, tapi kerugian material tak sedikit.

Profesor Riset dari BRIN, Eddy Hermawan menyebut kawasan ini memang telah berubah drastis dalam dua dekade terakhir. “Terjadi perubahan tata guna lahan yang semula hutan jati, kini berubah menjadi hutan beton,” ujarnya. Industri tumbuh pesat, emisi naik, dan tanah tak lagi punya ruang untuk menyerap panas. Perbedaan suhu siang dan malam menjadi ekstrem, menciptakan kondisi atmosfer yang mudah berubah menjadi labil.

Dalam penjelasan Eddy, Rancaekek tidak hanya menjadi titik geografis bencana, tetapi juga simbol dari krisis ekologis yang dibiarkan tumbuh diam-diam. Hutan yang hilang, udara yang panas, dan uap air yang menumpuk menjadi satu paket lengkap bagi pembentukan awan cumulonimbus yang agresif. Lalu, angin datang—tidak sekadar lewat, tapi mencengkeram dan mengguncang.

Bukan yang Pertama, Tapi Paling Heboh

Lalu apakah ini benar tornado pertama yang terjadi di Indonesia? Dosen Program Studi Meteorologi ITB, Nurjanna Joko Trilaksono, punya pendapat berbeda. Ia menyebut bahwa fenomena seperti ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru.

“Kalau berkaca melalui fenomena yang terjadi dari cumulonimbus, ini bukan hal yang langka. Kita bisa yakin dan bilang bahwa itu bukan yang pertama,” katanya.

Dosen ITB Nurjanna Joko Trilaksono. (Sumber: ITB)
Dosen ITB Nurjanna Joko Trilaksono. (Sumber: ITB)

Tornado atau bukan, masalahnya bukan pada nama. Yang lebih penting adalah bagaimana kita meresponsnya. Seberapa siapkah sistem mitigasi dalam menghadapi fenomena atmosfer yang makin sulit ditebak? Sejauh ini, teknologi pemantau cuaca di Indonesia masih tertinggal. Automatic Weather Station (AWS) dan radar cuaca beresolusi tinggi masih belum tersebar merata. Akibatnya, deteksi dini hampir mustahil dilakukan secara presisi.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menyebut bahwa angin puting beliung tropis seperti ini masih menjadi "buku terbuka." Sulit diamati karena skala waktunya singkat dan wilayahnya kecil. Meski begitu, BRIN mulai mengembangkan algoritma berbasis kecerdasan buatan untuk membaca pola dari video dan foto yang dikirim masyarakat.

Berarti, publik bukan hanya korban, tapi juga sumber data. Sayangnya, penguatan sistem pemantauan belum jadi prioritas negara. Hingga kini, keberadaan tornado tropis masih banyak disangkal hanya karena keterbatasan observasi.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Terjang Lembang: Hulu Saja Dilanda Bencana, Hilir Bagaimana!

Fenomena Rancaekek tak bisa dilepaskan dari perubahan iklim global. Ketika suhu bumi naik, atmosfer menjadi lebih dinamis. Uap air lebih cepat terkondensasi, awan badai lebih cepat tumbuh, dan perbedaan tekanan lebih tajam. Semua itu membuat atmosfer kita lebih gampang “meledak”.

Indonesia, yang dulu dianggap aman dari tornado, kini harus mulai waspada. Karena bukan tidak mungkin kejadian serupa akan lebih sering muncul, terutama di wilayah padat yang rentan perubahan tata ruang.

Para peneliti sepakat, satu-satunya cara untuk mengurangi risiko adalah memperkuat sistem monitoring dan edukasi. Warga harus tahu tanda-tanda awal: langit tiba-tiba gelap, angin makin kencang, dan suhu berubah drastis. Tapi di atas semua itu, perlu ada perubahan cara pandang dalam pembangunan. Hutan bukan sekadar ruang kosong, tapi penstabil atmosfer.

Rancaekek mungkin bukan tempat pertama yang dilanda tornado tropis, tapi ia telah menjadi simbol penting bahwa Indonesia tidak lagi bisa merasa aman dari bencana atmosfer ekstrem. Perubahan iklim telah mengetuk pintu. Dan angin yang berputar itu adalah salah satu jawabannya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)