Hikayat Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi kereta api yang dibajak era kolonial. (Sumber: Gedenkboek der Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch-Indie 1875 - 1925)
Ilustrasi kereta api yang dibajak era kolonial. (Sumber: Gedenkboek der Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch-Indie 1875 - 1925)

AYOBANDUNG.ID - Sabtu malam, 29 Maret 1924, kereta ekspres Surabaya–Bandung melaju seperti biasa. Namun di antara Rancaekek dan Gedebage, kereta itu tak sampai tujuan dengan utuh. Ia tergelincir. Kecepatan 70 kilometer per jam. Lokomotif keluar jalur dan terguling ke sawah. Gerbong bagasi dan hampir semua gerbong ikut terguling, “kecuali yang terakhir,” tulis De Indische Courant.

Sang masinis, orang Eropa bernama Versluys, sempat menyelamatkan keadaan. Ia bereaksi cepat saat menyadari ada yang ganjil. Pengereman darurat ia lakukan secepatnya. Itu menyelamatkan nyawa banyak penumpang. Meski lokomotif terguling, ia selamat setelah terlempar ke sawah.

Yang apes justru seorang kondektur pribumi. Dia tertimbun di bawah koper-koper. Nyawanya dikhawatirkan tak tertolong. Sempat ada laporan yang menyatakan kondektur itu meregang nyawa. Dia menjadi satu-satunya korban jiwa dalam peristiwa jahanam tersebut.

Belakangan dugaan itu keliru. Namanya Sardjoe, penanggung jawab bagasi. Ia bukan meninggal, melainkan patah tangan kiri dan harus dirawat di rumah sakit selama 38 hari. Ini terkonfirmasi dalam sidang perkara pada Juni, masih dilaporkan oleh De Indische Courant.

“Lokomotif tergeletak di sawah; gerbong bagasi terbalik. Di belakangnya semua gerbong terguling kecuali gerbong terakhir.” Sebanyak 10 penumpang lainnya mengalami luka ringan. Jalur rel yang sempat terhalang berhasil dibuka kembali keesokan harinya, menjelang tengah hari.

Peristiwa ini menggemparkan Hindia Belanda. Pers Belanda menyebutnya sebagai aksi sabotase terhadap Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta milik pemerintah. Di masa ketika gerakan politik bumiputra mulai menggeliat, jalur rel yang jadi simbol kekuasaan kolonial dan mobilitas ekonomi, menjadi sasaran rawan diganggu.

“Penyebab tergelincirnya kereta adalah sabotase. Baut sambungan dan pelat rel telah dilonggarkan,” tulis surat kabar Hindia Belanda itu tanpa tedeng aling-aling.

Beberapa terbitan lain juga langsung menduga sabotase. Algemeen Handelsblad menulis “Sabotage bij de S.S.”, De Telegraaf 2 April mengutip peristiwa itu sebagai “De Sabotage Bij Rantjaekek.” Seorang penjaga rel langsung dicurigai dan ditangkap. Dia bernama Askiam.

Drama Silat Lidah di Persidangan

Sosok Askiam adalah seorang baanschouwer atau pemeriksa rel, yang telah mengabdi selama 25 tahun di SS. Sosok tua ini mendadak menjadi wajah utama kejahatan serius terhadap infrastruktur vital pemerintah kolonial. Pengadilan digelar di Landraad atau Pengadilan Negeri Bandung, di bawah pimpinan hakim De Vries. Askiam menyatakan tak bersalah. Tapi seiring proses berjalan, kesaksian, bukti, dan tekanan demi tekanan memutar roda sidang menjadi medan yang pelik dan berliku.

De Indische Courant edisi 10-11 Juni 1924 yang melaporkan persidangan mencatat Askiam mengaku bahwa pada malam jahanam itu, sekitar pukul tujuh, ia didatangi seseorang di rumahnya. Dia mendengar suara dari kejauhan. Suara mendadak hilang, dan ia memutuskan mengajak rekannya, Noerhali, untuk menyelidiki.

Baca Juga: Tangis Rindu dan Getirnya Kematian di Balik Lagu Hallo Bandoeng

Keduanya mendapati kereta telah terguling, sejauh 900 meter dari titik yang seharusnya aman. Sang pengawas memerintahkan Askiam menaruh bendera merah dan lentera ke arah Bandung sebagai sinyal bahaya. Sekitar pukul sembilan malam, kereta bantuan datang.

Di titik ini, cerita terdengar masuk akal. Namun penyelidikan menunjukkan celah. Kunci pas ditemukan di lokasi kejadian. Ketika ditanya, Askiam, mengaku bahwa ia memang meninggalkan kunci itu sehari sebelumnya di dekat pos jaga. Alasannya, agar bisa digunakan kembali keesokan harinya. Padahal ia tahu betul aturan dinas mengharuskan kunci itu selalu dibawa, dan kelalaian semacam itu bisa berujung pada denda sebesar setengah bulan gaji.

Hakim De Vries tak puas dengan penjelasan tersebut. Ia menunjukkan bahwa kondisi kunci yang ditemukan di lokasi sangat berkarat. Terlalu berkarat untuk sebuah alat yang dipakai setiap hari. Askiam mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa kunci itu jatuh ke air.

Tapi hakim membalik logika Askiam: kalau benar jatuh ke air, kuncinya justru harus lebih berkarat lantaran reaksi korosi. Dengan kata lain, argumen itu malah memperlemah alibinya.

“Kalau begitu, kuncinya pasti lebih berkarat lagi, jadi itu tidak mungkin. Semua yang kamu katakan sekarang sama seperti yang kamu akui pada pemeriksaan pertama. Saat itu pun kamu menyangkal semuanya.”

Tak cuma berkelit soal kunci pas, pengakuan Askiam juga kerap berubah-ubah saat pemeriksaan awal. Sekali waktu mengaku perbuatannya, di hari lain dia mencabut pengakuannya. Mengapa pengakuan berubah-ubah? Askiam berdalih ia dipaksa untuk mengaku. Ia mengklaim dipukul dan diancam saat diperiksa oleh wedana dan pejabat kolonial lainnya.

"Ketika ditanya, terdakwa menyatakan bahwa pada awalnya ia membantah, namun akhirnya mengaku setelah diancam dan dipukuli oleh asisten wedana Cibiru dan wedana Ujungberung. Wedana bahkan memukul terdakwa berulang kali," tulis De Indische Courant.

Pengadilan pun memeriksa para pejabat wilayah, termasuk wedana Ujungberung yang menjadi sorotan karena dugaan kekerasan selama pemeriksaan. Menurut sang wedana, Askiam awalnya menyalahkan orang lain, namun kemudian mengaku bahwa dirinyalah yang membuka baut rel, dibantu oleh Noerhali. Wedana bersumpah tak pernah melakukan penyiksaan.

Baca Juga: Kereta Bandung–Ciwidey Datang, Gema Kehidupan Lama Terhenti

"Sebab usia terdakwa dan pentingnya menjaga agar kasus ini tidak menjadi keruh, saya atas inisiatif sendiri, dan juga atas perintah tegas dari patih, memberikan perintah keras untuk tidak menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan," kata wedana Ujungberung.

De Telegraaf 2 April 1924
De Telegraaf 2 April 1924

Tapi Askiam bersikukuh ia ditampar, dipukul, bahkan pelipisnya luka terkena cincin asisten wedana. Saat di hadapan asisten residen, Askiam tetap mengaku. Ketika ditanya mengapa ia tetap mengaku di hadapan pejabat yang lebih tinggi, Askiam menjawab: “Saya takut juga akan dipukul olehnya.”

Koleganya Noerhali yang menjadi saksi kunci, memberi pernyataan mengejutkan. Ia menyebut bahwa sepuluh hari sebelum insiden, Askiam pernah berkata, “Kalau rel dibuka dan kereta celaka, mungkin gaji kita akan dinaikkan.” Di tengah kondisi pekerja SS yang sedang gerah akibat pemotongan tunjangan, ucapan itu terdengar seperti motif. Sebuah kelakar berbahaya, atau sinyal awal niat yang lebih besar?

Tudingan Jimat dan Organisasi Buruh Kiri

Isu yang segera merebak dari kasus ini adalah hubungan terdakwa dengan organisasi buruh kereta kiri, Vereeniging van Spoor- en Tramwegpersoneel (VSTP). Organisasi ini sejak awal abad ke-20 telah menjadi tempat bernaung bagi para buruh kereta api yang kecewa terhadap sistem kolonial. Organisasi ini kerap menginisiasi pemogokan besar sebagai bentuk protes.

Henk Sneevliet, aktivis komunis yang aktif di Hindia Belanda, juga bergabung di VSTP. Bersama kawan seperjuangan, ia mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), yang kemudian berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Komunis beken lainnya yang bergabung di VSTP adalah Semaoen. Pada 1926 VSTP dibubarkan paksa oleh pemerintah kolonial.

Baca Juga: Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Salah satu saksi, pengawas SS, Attinger, menyampaikan bahwa dalam percakapan di kantor insinyur Staatsspoorwegen di Bandung, Askiam sempat menyebut dua orang yang ia temui malam kejadian. Mereka adalah mantan kepala halte Rancaekek dan Sambik, seorang propagandis VSTP dan mantan narapidana kasus sabotase sinyal.

Dalam pengakuannya kepada Attinger, Askiam sempat menyebut kepala halte itu meminta kunci, dan dia diperintahkan berjaga di jembatan agar tak ada yang mendekat.

Tapi kemudian Askiam menarik lagi pengakuannya. Di persidangan, ia membantah pernah menyebut nama siapa pun. Ia bersikeras semua itu diucapkannya hanya karena takut disiksa.

Laporan Bataviaasch Nieuwsblad mencatat dalam persidangan juga diperlihatkan jimat kertas milik Askiam oleh jaksa. Kertas-kertas tersebut ditemukan oleh sipir penjara saat pemeriksaan badan usai sidang sebelumnya.

Dua dari kertas itu penuh dengan coretan simbol-simbol yang digores menggunakan pensil. Jaksa menyebut simbol-simbol itu menyerupai jimat atau rajah. Untuk memastikan, kertas tersebut sempat diperlihatkan kepada seorang penghulu, namun hasilnya nihil. "Penghulu tidak dapat menguraikan makna simbol-simbol tersebut," tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Sosok Askiam sendiri menyatakan tidak mengetahui arti simbol-simbol itu. Ia mengaku kertas-kertas tersebut ia temukan saat dibawa ke hadapan jaksa kepala, untuk diberi tahu mengenai akta pelimpahan perkara ke pengadilan. "Saya tidak tahu apa arti kertas-kertas itu," katanya menjawb hakim.

Walau segala bukti teknis kuat, motif Askiam tetap buram. Di akhir sidang, hakim menjatuhkan vonis 15 tahun penjara. Semua saksi, menurut Askiam, “berbohong karena iri pada gaji saya.” Dia berlutut dan memohon agar dibebaskan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)