Benjang dari Ujungberung, Jejak Gulat Sakral di Tanah Sunda

4 menit baca
Fira Nursyabani
Ditulis oleh Fira Nursyabani diterbitkan
Seni benjang gulat.
Seni benjang gulat.

AYOBANDUNG.ID - Di balik dinginnya udara pagi Ujungberung, ketika kabut masih menggelayut di atas hamparan sawah, ada suara tabuhan kendang dan terebang yang kadang-kadang memecah kesunyian. Suara-suara itu bukan sekadar hiburan—mereka adalah sisa-sisa zaman, warisan leluhur, yang masih bertahan dari gempuran zaman. Namanya benjang, kesenian sekaligus olahraga tradisional khas Sunda yang berasal dari tanah subur di ujung timur Kota Bandung.

Benjang bukan sembarang pertunjukan. Ia bukan sekadar gulat. Ia bukan hanya seni. Ia adalah keduanya sekaligus. Sebuah “gelut” tradisional yang diracik dalam balutan ibingan, iringan musik, dan kadang disusupi makna-makna sufistik yang samar. Ada semacam ritual dalam setiap gerakannya, semacam doa dalam setiap sabetan, semacam falsafah dalam setiap ibingan.

Tidak jelas siapa yang pertama kali memperkenalkan benjang. Tapi menurut penuturan Kemendikbud, istilah “benjang” diduga berasal dari gabungan kata “sasamben budak bujang”. Artinya kurang lebih: para pemuda bujang yang bermain di amben, sebuah bale tempat berkumpul yang juga berfungsi sebagai panggung rakyat.

Pada mulanya benjang ditampilkan sebagai hiburan usai panen. Tempatnya bisa di tanah lapang, bisa pula di sawah yang sudah dipanen. Di situlah anak-anak muda adu kekuatan dengan gaya khas yang menyerupai gulat. Tapi sebelum mulai “gelut”, mereka terlebih dahulu harus menari. Ya, menari. Tradisi ini disebut “ngibing”. Ada empat gerakan wajib yang harus dilakukan: golempang, puyuh ngungkuk, beureum panon, dan julang ngapak.

Prosesi ini punya makna. Salah satunya, ketika si pebenjang (peserta benjang) harus membuka bajunya, menyisakan celana pendek, untuk menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata tersembunyi. Gulat ini murni pertarungan fisik, bukan sekadar unjuk tenaga, tapi juga unjuk kehormatan.

Seiring waktu, benjang tak lagi hanya dimainkan di pematang. Pada tahun 1938, warga Ujungberung mengenal bentuk lain dari benjang: “benjang heleran”. Kalau benjang gelut dilakukan malam hari, maka benjang heleran digelar pada siang, sebagai arak-arakan keliling kampung. Tujuannya untuk memberitahu masyarakat bahwa malam nanti akan ada pertunjukan benjang. Semacam woro-woro yang bukan sekadar teriakan, melainkan dengan musik lengkap dan parade.

Parade itu bisa sangat meriah. Kuda renggong menari, bangbarongan menakuti anak-anak, jampana mengusung sesaji, dan kuda lumping melompat-lompat seperti kesurupan. Alat musiknya tak jauh beda dengan benjang gelut: kendang, kecrek, terebang, dan terompet. Hanya saja ditambah bedug dan gong agar makin ramai. Dalam heleran ini, tidak jarang penari mengalami kesurupan. Penonton pun bisa bubar karena panik. Tapi bagi masyarakat setempat, kesurupan adalah bagian dari pertunjukan.

Festival kesenian di Ujungberung. (Sumber: Ayobandung)
Festival kesenian di Ujungberung. (Sumber: Ayobandung)

Tak lama setelah benjang heleran dikenal, muncul bentuk lain yang lebih halus: benjang topeng. Diperkenalkan pada tahun 1941, kesenian ini berbentuk tarian yang mengenakan topeng. Konon, benjang topeng ini mengandung nilai-nilai Islam. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran “hablum minallah” dan “hablum minannas”: hubungan vertikal dengan Tuhan diwujudkan dalam benjang topeng dan heleran, sedangkan hubungan horizontal antar manusia ditunjukkan dalam benjang gelut.

Ketiganya—benjang gelut, benjang heleran, dan benjang topeng—biasa dipentaskan secara maraton. Siang hari heleran, sore benjang topeng, dan malam puncaknya adalah benjang gelut. Di masa kejayaannya antara tahun 1955 hingga 1965, satu pertunjukan benjang bisa berlangsung selama 24 jam penuh. Ujungberung pun jadi pusat perhatian.

Dilarang karena Terlalu Serius

Tapi semua yang terlalu meriah, kadang berakhir kacau. Seiring bertambahnya gengsi antar perguruan benjang, gulat tradisional ini mulai menimbulkan konflik. Pada tahun 1970, benjang gelut sempat dilarang karena dianggap memicu keributan antar warga. Rivalitas antar perguruan kerap berubah jadi baku hantam sungguhan, bukan lagi tontonan, tapi tontokan.

Pelarangan itu membuat pamor benjang gelut menurun drastis. Yang tersisa hanyalah benjang heleran dan benjang topeng. Masyarakat masih bisa merayakan benjang dalam bentuk yang lebih aman, tanpa takut bentrok fisik. “Kalau gelutnya dilarang, setidaknya budayanya jangan ikut hilang,” begitu kira-kira suara para sesepuh saat itu.

Bertahan di Tengah Kota yang Terus Tumbuh

Hari ini, Ujungberung tak lagi sepi. Gedung-gedung naik, jalan makin padat, anak muda lebih akrab dengan gawai ketimbang kendang. Tapi benjang belum benar-benar mati. Ia masih ada, meski tak segemuruh dulu. Masih ada perguruan-perguruan kecil yang diam-diam melatih anak-anak untuk tetap bisa ngibing dan gelut. Masih ada acara khitanan yang menggelar heleran benjang, meski musiknya kini kadang kalah oleh sound system dangdut.

Pada tahun 2018, benjang akhirnya diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pengakuan ini adalah semacam pelipur lara, sekaligus panggilan untuk generasi muda agar tak malu mewarisi kesenian sendiri.

Ujungberung memang sudah berubah. Tapi selama masih ada yang mau ngibing dan ngagelut dengan cara benjang, selama suara kendang dan terebang masih terdengar meski sayup-sayup, maka benjang belum mati.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 13:19

Merayakan Keragaman, Memupuk Kerukunan 

Keragaman, kerukunan, toleransi sejatinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang dialog, seminar, regulasi negara.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 11:48

Museum Kretek Kudus: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Jam Buka

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Simak sejarah, koleksi, harga tiket, jam buka, dan daya tariknya di sini.

Museum Kretek Kudus. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 11:15

Budaya NG.O.P.I Anak Muda Sekarang: NGeluarin Opini 'Pragmatis vs Idealis'

Ketika pola pikir pragmatis dan idealis pada generasi muda yang memengaruhi orientasi dalam proses beropini.

Ilustrasi ngopi. (Sumber: Pexels | Foto: Thanh Bui)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 10:59

Pengaruh Pembangunan Rel Kereta di Ciwidey untuk Mata Pencaharian Pribumi (1917-1924)

Sedikit gambaran mengenai mata pencaharian masyarakat ketika pembangunan rel kereta di Ciwidey.

 (Sumber: ebay.com | Foto: ebay.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 09:07

Perjuangan Pustakawan Menghadirkan Buku Bergizi Gratis

Pustakawan tidak bisa dianggap sebagai profesi yang mudah.

Ilustrasi buku-buku di perpustakaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 08:58

Urgensi Koperasi untuk Sektor Mekanisasi Pertanian Berkelanjutan

KDMP mestinya tumbuh menjadi koperasi yang mendukung peningkatan produksi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

Ilustrasi Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 (Sumber: Kreasi dengan bantuan Gemini | Foto: dokpri Totok Siswantara)
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 18:01

Dekonstruksi Strategi Komunikasi Persib dan Teka Teki Kedatangan Peralta

Persib kenalkan 6 pemain baru lewat kampanye 'positive movement' yang inovatif. Kini, Bobotoh menanti kejutan pamungkas: Peralta!

Mariano Peralta. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 16:11

Koperasi Desa Merah Putih, Akankah Menjadi Solusi Pemerataan Ekonomi Tingkat Desa?

Program nasional Koperasi Desa Merah Putih resmi diluncurkan pemerintah sebagai upaya percepatan kemandirian ekonomi desa. Namun, program ini dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Koperasi Desa Merah Putih. (Sumber: blorakab.go.id)
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 12:11

Di Tengah Kenaikan Harga Bahan Bakar: Strategi Komunikasi Digital Perusahaan Energi Menjaga Kepercayaan Konsumen

Kenaikan harga bahan bakar minyak yang terjadi pada 4 Mei 2026 menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.

banner ilustrasi kenaikan harga bbm.
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 10:13

Bandung Utama Bagja Sararea: Inovasi Memperkuat Layanan Psikis Warga

Mengapa layanan psikologi klinis penting untuk masyarakat kota Bandung? Sederhana jawabannya, masyarakat membutuhkan kesehatan mentalnya.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)