Jawa Barat Kehilangan Potensi Ekonomi, Krisis Data Industri dan Ekspor Jadi Biang

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Kamis 27 Nov 2025, 17:54 WIB
Industri Jawa Barat kembali menjadi sorotan setelah terungkap adanya ketidaksinkronan data yang membuat potensi riil daerah tidak tercermin dalam statistik resmi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Industri Jawa Barat kembali menjadi sorotan setelah terungkap adanya ketidaksinkronan data yang membuat potensi riil daerah tidak tercermin dalam statistik resmi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

AYOBANDUNG.ID -- Industri Jawa Barat sesungguhnya menyimpan kekuatan besar yang belum sepenuhnya tercermin dalam angka resmi. Namun temuan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Barat bersama BPS, Pemprov Jabar, dan asosiasi usaha dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan adanya jurang besar antara kondisi riil lapangan dengan data yang tercatat.

Kepala Perwakilan BI Jabar, Muhamad Nur, menegaskan bahwa persoalan data telah lama menjadi kendala dalam memotret kekuatan industri Jawa Barat. Ketidaksinkronan ini membuat potensi ekonomi Jawa Barat seolah menghilang dalam statistik, padahal sektor industri adalah tulang punggung pertumbuhan daerah.

“Sudah terpetakan ada beberapa permasalahan yang harus kita selesaikan terutama terkait data, informasi, dan sebagainya. Kita harapkan, kalau itu nanti ada maka sebenarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh industri bisa ter-capture dengan baik,” ujar Nur.

Tak hanya itu, Nur menilai, dunia usaha harus dipermudah dalam memberikan data kepada pemerintah daerah agar potensi ekonomi tidak hilang dalam laporan. Kondisi riil di lapangan memperlihatkan bahwa banyak perusahaan di Jawa Barat tidak melaporkan data operasionalnya secara rutin.

Akibatnya, nilai tambah industri dan aktivitas ekspor tidak tercatat penuh. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat kehilangan sebagian besar kontribusi riil dari sektor industri, sehingga gambaran pertumbuhan ekonomi menjadi bias.

Di sisi lain, Nur menyampaikan BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan IV 2025 akan menguat berkat belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga selama periode Natal dan Tahun Baru. Namun, proyeksi ini tidak menutup fakta bahwa tanpa perbaikan sistem data, potensi riil Jawa Barat tetap tidak akan tergambar. Pertumbuhan yang tercatat bisa jadi hanya bayangan dari kekuatan industri yang sesungguhnya lebih besar.

"Biasanya di tahun baru itu akan ada tekanan mengenai harga. Prediksi kami Bank Indonesia di triwulan IV, karena punya Nataru maka konsumsi rumah tangga akan meningkat. Itu tentunya nanti akan memberikan dampak kepada pertumbuhan ekonomi, yang mudah-mudahan nanti totalnya pertumbuhan ekonomi masih di atas 5%," ujar Nur.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastini, mengungkapkan kondisi riil yang lebih mengkhawatirkan. Dari total 26.000 industri besar dan menengah di Jawa Barat, hanya 16.000 yang tercatat dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Artinya, ada sekitar 10.000 industri yang tidak masuk dalam basis data resmi.

“Jumlah industri yang sedemikian banyak di Jawa Barat, 26 ribu, itu yang masuk ke datanya baru 16 ribu, dengan komposisi 4.400 adalah industri besar. Sisanya menengah dan kecil. Jadi masih banyak yang belum masuk,” jelasnya.

Ketidaksinkronan ini membuat kontribusi sektor industri terhadap PDRB tidak tercatat penuh. Padahal, sektor industri dan perdagangan menyumbang lebih dari 41% terhadap total ekonomi Jawa Barat. Dengan data yang tidak lengkap, kontribusi riil sektor ini tidak tergambar, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah berisiko tidak tepat sasaran.

Nining juga menekankan bahwa jika Jawa Barat ingin menaikkan laju pertumbuhan ekonomi di atas 5,5%, maka laju pertumbuhan industri harus meningkat minimal 5-6%. “Ini perlu kita perbaiki, salah satunya adalah data laporan terhadap industri yang beroperasi di Jawa Barat,” katanya.

Bukan hanya itu, Nining juga mengungkapkan masalah yang muncul pada sektor ekspor. Dari 298 eksportir Jawa Barat, banyak yang mengajukan Surat Keterangan Asal (SKA) di luar provinsi. Akibatnya, nilai ekspor mereka tidak tercatat dalam statistik Jawa Barat. Hal ini membuat potensi ekonomi daerah hilang begitu saja.

“Ada 298 pelaku eksportir yang mengajukan SKA-nya di luar Jawa Barat. Mereka menerbitkan sekitar 53.000 SKA. Karena di luar Jawa Barat, potensi itu hilang,” ujar Nining.

Padahal, menurut Nining, nilai ekspor Jawa Barat hingga September 2025 sudah mencapai USD 28,69 miliar. Angka ini bisa lebih tinggi jika seluruh SKA dicatat di Jawa Barat. Ketidaksinkronan data ekspor membuat performa riil Jawa Barat tidak tercermin, sehingga menurunkan daya tawar daerah dalam peta perdagangan nasional.

Kondisi riil ini, lanjut Nining, memperlihatkan bahwa Jawa Barat sebenarnya memiliki potensi industri dan ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan angka resmi. Namun, potensi itu hilang dalam statistik karena lemahnya sistem pelaporan. Akibatnya, kata Nining, pemerintah daerah kesulitan merancang kebijakan yang tepat sasaran, sementara pelaku usaha kehilangan peluang dukungan.

Senada, Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus, menegaskan bahwa masalah data ini berdampak langsung pada perhitungan indikator makro ekonomi.

“Itu adalah memang berdasarkan fakta yang akhirnya juga diketahui oleh semua pihak. Artinya para pelaku-pelaku ekonomi tahu. Datanya yang dimanfaatkan untuk kita menggunakan untuk menghitung indikator makro ekonomi, sosial ekonomi. Termasuk misalnya pertumbuhan ekonomi yang saat ini fokus,” ujarnya.

Darwis menambahkan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,5% yang ditetapkan pemerintah, Jawa Barat harus mampu mendorong pertumbuhan triwulan IV hingga 6,5%.

“Apa yang harus dipenuhi adalah potensi industri. Karena kita tahu industri itu kan potensinya paling besar di 40 sekian persen. Artinya gerakan dari industri itu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di depan,” katanya.

Ketidaksinkronan data bukan hanya masalah administratif, tetapi juga berdampak pada kredibilitas Jawa Barat sebagai pusat industri nasional. Tanpa data akurat, investor kesulitan menilai potensi riil daerah, sementara pemerintah daerah kesulitan merancang kebijakan yang tepat sasaran. Hal ini berisiko membuat Jawa Barat kehilangan momentum pertumbuhan.

BPS Jawa Barat dalam publikasi terbaru menegaskan komitmen memperbaiki kualitas data dengan memperkuat koordinasi lintas instansi. Namun, tantangan terbesar tetap pada kepatuhan pelaku usaha dalam melaporkan data secara rutin. Tanpa partisipasi aktif dunia usaha, sistem data terintegrasi tidak akan berjalan efektif.

BI, BPS, dan Disperindag sepakat membangun sistem pelaporan digital terintegrasi agar data industri bisa diakses secara real-time. Dengan data yang sinkron, potensi ekonomi Jawa Barat dapat tergambar utuh, memperkuat daya saing industri, dan meningkatkan kontribusi ekspor. Tanpa itu, target pertumbuhan ekonomi di atas 5,5% akan sulit tercapai.

Ketidaksinkronan data juga berdampak pada sektor lain seperti pariwisata dan pertanian. Tanpa data yang akurat, multiplier effect dari sektor-sektor ini tidak tercatat, sehingga kontribusinya terhadap PDRB tidak tergambar. Padahal, sektor jasa dan pariwisata memiliki potensi besar untuk mendongkrak pertumbuhan di akhir tahun.

“Jangan lupa kalau perusahaannya di Jabar itu, ya harusnya menjadi bagian laporan kepada Pemerintah atau Provinsi Jawa Barat," tegas Nur.

Alternatif produk UMKM Jawa Barat atau kebutuhan serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/AKSg3syvhI
  2. https://s.shopee.co.id/6Ad76LOxOr
  3. https://s.shopee.co.id/804lHpk9dV
  4. https://s.shopee.co.id/1VrHXcO9Zd
  5. https://s.shopee.co.id/1LXrLbUmia

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Des 2025, 08:32 WIB

Menangkal Bencana Hoaks

Dari bencana inilah kita belajar ihwal pemimpin sejati bukanlah mereka yang tampil paling menonjol di layar.
Komisaris Bio Farma, Relly Reagen menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:40 WIB

Sisi ‘Gelap’ Bandung di Batununggal

Keresahan masyarakat atas minimnya penerangan di area Jalan Batununggal, Kota Bandung.
Kondisi jalanan di Batununggal saat malam hari pada Rabu (3/12/25). (Sumber: Penulis | Foto: Adventia)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:22 WIB

Farhan Vs. KDM

Banyak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berseberangan dengan Wali Kota dan Bupati Bandung.
Banyak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berseberangan dengan Wali Kota dan Bupati Bandung. (Sumber: Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:15 WIB

Catatan Warga untuk Wali Kota Farhan: Lubang Jalan, Lubang Kepercayaan Publik

Masyarakat selalu dihantui oleh satu masalah paling klise yang tak ada habisnya yaitu jalan berlubang dimana-mana. 
Salah Satu titik jalan berlubang di Jl. Lombok, Merdeka, Kec.Sumur Bandung, Kota Bandung.(3/12/2025) (Sumber: Nabila Putri Wiritanaya)
Ayo Biz 07 Des 2025, 20:13 WIB

Bandung Menjadi Pusat Inovasi Hotel Ramah Lingkungan Bertaraf Internasional

Bandung kini menegaskan dirinya bukan hanya sebagai kota kreatif dan kuliner, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan di sektor pariwisata.
The Gaia Hotel Bandung membuktikan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan dapat menjadi sumber daya saing, peluang investasi, dan jalan menuju pariwisata yang lebih inklusif dan berdaya tahan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 20:07 WIB

Halte Bus Bandung: Wajah Buram Transportasi Publik

Halte menjadi salah satu fasilitas umum yang sangat terabaikan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Kondisi halte yang basah dan minim pencahayaan pada malam hari di Halte Tegalgea, Jl. Moch. Toha, Kec. Regol, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Tsaqifa Dhiyaul Hawa)
Ayo Jelajah 07 Des 2025, 19:54 WIB

Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Catatan kolonial menggambarkan Gunung Burangrang sebagai lanskap eksotik Priangan yang harus dipetakan dan ditaklukkan lewat wisata alam.
Gunung Burangrang.
Ayo Netizen 07 Des 2025, 19:46 WIB

Di Antara Ombak Buatan dan Tawa Keluarga di Bandung Barat

Wahoo Waterworld, taman air modern yang seru di Bandung Barat.
Area masuk Wahoo Waterworld yang menampilkan ikon roda kemudi besar di kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung Barat, Senin (10/11/2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Adifa Arsyad)
Beranda 07 Des 2025, 19:44 WIB

Bencana Alam Itu Tidak Jauh, Sudah di Depan Hidung Kita

Data bencana alam BNPB tahun 2024 menyatakan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling sering mengalami bencana, yakni sebanyak 461 kejadian.
Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Biz 07 Des 2025, 19:30 WIB

Ekosistem Esports Bandung Menjadi Model Pertemuan Teknologi Komunitas dan Budaya

Industri esports Indonesia sedang berada di persimpangan penting dan tumbuh lebih besar menjadi ekosistem yang lebih dari sekadar tren hiburan.
Ilustrasi. Industri eSports telah berkembang dari sekadar hobi menjadi arena kompetitif yang melibatkan teknologi, komunitas, dan ekonomi kreatif. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 07 Des 2025, 19:02 WIB

Inklusiland 2025: Mewujudkan Indonesia Inklusif

Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi sahabat disabilitas Indonesia.
Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi sahabat disabilitas Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Beranda 07 Des 2025, 18:57 WIB

Braga Beken: Wajah Baru Braga yang Lebih Ramah Pejalan Kaki di Akhir Pekan

Tidak ada lagi klakson atau deru mesin kendaraan yang memecah riuh suasana. Para pejalan kaki mendominasi jalan sepanjang kurang lebih 380 meter itu
Pengunjung Jalan Braga menikmati suasana jalan yang terbebas dari kendaraan, Sabtu (6/7). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 18:40 WIB

Bila Gempa Terjadi Saat Berada di Mal

Apa yang akan dilakukan bila saat berada di dalam mal, di dalam stadion, di dalam gedung konser, terjadi gempa bumi?
Sebelum terjadi gempa, kenali kegunaan nomor dan tanda-tanda yang ada dalam panel di dinding litf. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 18:21 WIB

Catatan Warga untuk Wali Kota M. Farhan: Menata Arah Penanganan Pengangguran Bandung

Meningkatnya angka pengangguran di Kota Bandung dan menyoroti bagaimana ketidakseimbangan antara kebutuhan industri dan keterampilan warga.
Seorang pengendara motor melaju di jalan Kota Bandung siang hari. (29/10/2024) (Sumber: Khalidullah As Syauqi)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 07:27 WIB

Ketan Bakar Nurjaman: Cita Rasa Bandung ketika Malam

Di tengah dinginnya malam, ada satu kehangatan yang tetap hidup di sudut kota: Ketan Bakar Nurjaman.
Ketan Bakar Nurjaman. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Fikri Akmal)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 05:30 WIB

Tak Ada Teja Paku Alam, Fitrah Maulana pun Jadi

Fitrah Maulana—yang didapuk mendampingi pelatih Persib, Bojan Hodak-- menangis tersedu-sedu. Suasana pun menjadi haru. 
Fitrah Maulana, kiper muda Persib Bandung. (Sumber: Dok. Persib)
Ayo Netizen 07 Des 2025, 05:06 WIB

Nasi Bakar Saparua, Hangatnya Malam Bandung dalam Sebungkus Rasa

Nasi Bakar Saparua adalah pilihan kuliner praktis di Bandung dengan cita rasa gurih pedas.
Di balik kepulan asap dan lampu kuning temaram, ada rasa yang bikin balik lagi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 06 Des 2025, 19:38 WIB

Gaya Hidup Sehat Anak Muda Bandung Tumbuh Bersama Treat a Cup

Treat a Cup tampil berbeda dengan menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan melalui makanan dan minuman yang mereka sajikan.
Treat a Cup tampil berbeda dengan menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan melalui makanan dan minuman yang mereka sajikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 06 Des 2025, 11:45 WIB

Momentum Libur Natal dan Tahun Baru Jadi Peluang Emas Industri Hotel Bandung

Momentum libur Natal dan Tahun Baru tetap menjadi peluang emas bagi hotel-hotel untuk meningkatkan hunian kamar sekaligus memperkuat citra mereka sebagai destinasi liburan.
Momentum libur Natal dan Tahun Baru tetap menjadi peluang emas bagi hotel-hotel untuk meningkatkan hunian kamar sekaligus memperkuat citra mereka sebagai destinasi liburan. (Sumber: Four Points by Sheraton Bandung)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 21:20 WIB

Mewujudkan Asa Bandung Teknopolis 

Di kawasan industri Gedebage ada entitas industri yang masih memberikan asa Bandung teknopolis.
Hangar machining Pudak Group di kawasan industri Gedebage Bandung yang memproduksi komponen pesawat terbang pesanan Airbus dan Boeing (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)