Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

3 menit baca
Permata Imaningsun
Ditulis oleh Permata Imaningsun diterbitkan
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)

Film dan serial Preman Pensiun telah lama menjadi bagian dari budaya populer Indonesia, terutama karena latar kisahnya yang kuat berkaitan dengan kehidupan jalanan dan komunitas premanisme yang selama ini melekat di imajinasi publik.

Berkisah tentang mantan preman dan dinamika sosialnya di lingkungan pasar dan terminal Bandung, karya ini tak sekadar menghibur, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara fiksi, stigma sosial, dan realitas komunitas marginal di kota ini.

Serial yang lahir pada 2015 dan berlanjut hingga 2025 ini menggambarkan karakter-karakter yang berjuang keluar dari stigma premanisme sekaligus mempertahankan kesetiaan pada komunitasnya. Terminal Cicaheum, salah satu lokasi ikonik di Bandung, menjadi panggung utama kisah ini — tempat interaksi sosial dari berbagai latar terjadi serta simbol adanya ruang sosial yang kompleks di kota ini.

Selain itu, beberapa waktu lalu, dunia hiburan tanah air berduka atas meninggalnya Epy Kusnandar, pemeran Kang Mus yang ikonik dalam serial Preman Pensiun. Kepergian aktor yang sudah melekat di benak penonton tersebut membawa nostalgia kuat bagi masyarakat yang tumbuh bersama karakter itu. Banyak rekan pemain mengenang sosoknya sebagai bagian penting dari perjalanan cerita yang berhasil membuat karakter preman tak lagi berupa stereotip semata, tetapi juga manusia dengan harapan dan konflik batin.

Kisah Preman Pensiun sendiri sudah berupaya menempatkan preman bukan sebagai musuh masyarakat yang selalu bermasalah, tetapi sebagai individu yang berusaha pensiun, beradaptasi dengan kehidupan baru, dan memperbaiki relasi mereka dengan masyarakat luas. Diskursus ini relevan dengan bagaimana identitas dan stigma sering melekat pada komunitas marginal di kota besar seperti Bandung.

Realitas Komunitas Preman di Bandung

Terminal Cicaheum, salah satu lokasi ikonik di Bandung, menjadi panggung utama kisah ini (Sumber: pribadi)

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat. Pada Mei 2025, aparat kepolisian menangkap sebanyak 75 preman yang dianggap meresahkan warga — termasuk melakukan pungutan paksa di pasar dan area publik. Penindakan ini mencerminkan masih adanya masalah nyata yang harus dihadapi dalam mengatur ruang sosial kota.

Fenomena ini pun seringkali memicu percikan diskusi tentang bagaimana pendekatan yang lebih humanis terhadap komunitas marginal dapat dilakukan. Di satu sisi, tindakan premanisme yang meresahkan tentu perlu dikendalikan demi ketertiban umum. Namun di sisi lain, narasi seperti yang dibangun Preman Pensiun membantu masyarakat melihat bahwa kehidupan sebagian individu di luar norma formal juga punya cerita dan lika-liku yang patut dipahami secara lebih luas.

Dalam kajian budaya media, Preman Pensiun sering dibaca sebagai narasi yang mengkonstruksikan preman dari sisi karakter dan konteks sosial, bukan semata sebagai tokoh antagonis. Ceritanya memusat pada karakter seperti Bahar dan Kang Mus yang meski pernah terlibat dalam struktur premanisme, memilih untuk mengakhiri peran itu, berjuang bersama keluarga, dan mencari tempat baru di masyarakat. Narasi ini menjadi cermin adanya kerumitan sosial yang tak hanya hitam-putih.

Kisah fiksi ini pun sekaligus memungkinkan masyarakat untuk berefleksi: bagaimana premanisme seringkali bukan sekadar masalah kriminalitas, tetapi juga terkait dengan isu struktur sosial, ekonomi, dan perebutan ruang hidup di kota besar. Bandung sebagai latar cerita tak lepas dari jejak sejarah urbannya — pasar, terminal, dan ruang publik selalu menjadi medan interaksi kompleks berbagai kelompok sosial.

Baca Juga: Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Preman Pensiun, baik sebagai serial maupun film, berhasil memposisikan fiksi sebagai medium refleksi sosial. Meski bergelimang komedi dan drama, karya ini membuka dialog tentang bagaimana narasi premanisme dipahami dalam konteks yang lebih luas, bukan sekadar stereotip. Di Bandung sendiri, isu preman dan keterlibatan mereka dalam dinamika kota masih nyata, menghadirkan banyak tantangan sekaligus peluang bagi pembentukan ruang sosial yang lebih adil.

Film dan komunitas ini, dengan segala kompleksitasnya, menunjukkan bahwa kota dan warganya selalu dalam proses negosiasi identitas — antara regulasi, stigma, peluang perubahan, dan upaya kolektif membangun pemaknaan baru tentang kehidupan bersama di ruang urban. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)