Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Permata Imaningsun
Ditulis oleh Permata Imaningsun diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 11:49 WIB
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)

Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)

Film dan serial Preman Pensiun telah lama menjadi bagian dari budaya populer Indonesia, terutama karena latar kisahnya yang kuat berkaitan dengan kehidupan jalanan dan komunitas premanisme yang selama ini melekat di imajinasi publik.

Berkisah tentang mantan preman dan dinamika sosialnya di lingkungan pasar dan terminal Bandung, karya ini tak sekadar menghibur, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara fiksi, stigma sosial, dan realitas komunitas marginal di kota ini.

Serial yang lahir pada 2015 dan berlanjut hingga 2025 ini menggambarkan karakter-karakter yang berjuang keluar dari stigma premanisme sekaligus mempertahankan kesetiaan pada komunitasnya. Terminal Cicaheum, salah satu lokasi ikonik di Bandung, menjadi panggung utama kisah ini — tempat interaksi sosial dari berbagai latar terjadi serta simbol adanya ruang sosial yang kompleks di kota ini.

Selain itu, beberapa waktu lalu, dunia hiburan tanah air berduka atas meninggalnya Epy Kusnandar, pemeran Kang Mus yang ikonik dalam serial Preman Pensiun. Kepergian aktor yang sudah melekat di benak penonton tersebut membawa nostalgia kuat bagi masyarakat yang tumbuh bersama karakter itu. Banyak rekan pemain mengenang sosoknya sebagai bagian penting dari perjalanan cerita yang berhasil membuat karakter preman tak lagi berupa stereotip semata, tetapi juga manusia dengan harapan dan konflik batin.

Kisah Preman Pensiun sendiri sudah berupaya menempatkan preman bukan sebagai musuh masyarakat yang selalu bermasalah, tetapi sebagai individu yang berusaha pensiun, beradaptasi dengan kehidupan baru, dan memperbaiki relasi mereka dengan masyarakat luas. Diskursus ini relevan dengan bagaimana identitas dan stigma sering melekat pada komunitas marginal di kota besar seperti Bandung.

Realitas Komunitas Preman di Bandung

Terminal Cicaheum, salah satu lokasi ikonik di Bandung, menjadi panggung utama kisah ini (Sumber: pribadi)

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat. Pada Mei 2025, aparat kepolisian menangkap sebanyak 75 preman yang dianggap meresahkan warga — termasuk melakukan pungutan paksa di pasar dan area publik. Penindakan ini mencerminkan masih adanya masalah nyata yang harus dihadapi dalam mengatur ruang sosial kota.

Fenomena ini pun seringkali memicu percikan diskusi tentang bagaimana pendekatan yang lebih humanis terhadap komunitas marginal dapat dilakukan. Di satu sisi, tindakan premanisme yang meresahkan tentu perlu dikendalikan demi ketertiban umum. Namun di sisi lain, narasi seperti yang dibangun Preman Pensiun membantu masyarakat melihat bahwa kehidupan sebagian individu di luar norma formal juga punya cerita dan lika-liku yang patut dipahami secara lebih luas.

Dalam kajian budaya media, Preman Pensiun sering dibaca sebagai narasi yang mengkonstruksikan preman dari sisi karakter dan konteks sosial, bukan semata sebagai tokoh antagonis. Ceritanya memusat pada karakter seperti Bahar dan Kang Mus yang meski pernah terlibat dalam struktur premanisme, memilih untuk mengakhiri peran itu, berjuang bersama keluarga, dan mencari tempat baru di masyarakat. Narasi ini menjadi cermin adanya kerumitan sosial yang tak hanya hitam-putih.

Kisah fiksi ini pun sekaligus memungkinkan masyarakat untuk berefleksi: bagaimana premanisme seringkali bukan sekadar masalah kriminalitas, tetapi juga terkait dengan isu struktur sosial, ekonomi, dan perebutan ruang hidup di kota besar. Bandung sebagai latar cerita tak lepas dari jejak sejarah urbannya — pasar, terminal, dan ruang publik selalu menjadi medan interaksi kompleks berbagai kelompok sosial.

Baca Juga: Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Preman Pensiun, baik sebagai serial maupun film, berhasil memposisikan fiksi sebagai medium refleksi sosial. Meski bergelimang komedi dan drama, karya ini membuka dialog tentang bagaimana narasi premanisme dipahami dalam konteks yang lebih luas, bukan sekadar stereotip. Di Bandung sendiri, isu preman dan keterlibatan mereka dalam dinamika kota masih nyata, menghadirkan banyak tantangan sekaligus peluang bagi pembentukan ruang sosial yang lebih adil.

Film dan komunitas ini, dengan segala kompleksitasnya, menunjukkan bahwa kota dan warganya selalu dalam proses negosiasi identitas — antara regulasi, stigma, peluang perubahan, dan upaya kolektif membangun pemaknaan baru tentang kehidupan bersama di ruang urban. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Permata Imaningsun
Jurnalism | Lifestyle | Music | Student of Broadcast Comunication UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 17:06

Bukan Sekadar Ngonten, Ini Cara UMKM Ubah Akun Sosmed Jadi Akun Promosi

Dalam cakupan dunia digital yang serba bisa dilihat melalui layar saja, persaingan muncul dan dibentuk secara organik, serta tidak hanya berfokus pada unggahan biasa saja.

Pembicara Workshop Pelatihan UMKM bertajuk Produksi Konten Media Sosial dan AI: “Ngonten Pintar, Usaha Lancar," yakni Creative Manager, Bibo Bani yang membawakan materi tentang optimalisasi media sosial. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 15:52

UMKM dan Humas BUMN Antusias Ikuti Workshop Produksi Konten Medsos dan AI oleh Ayo Bandung

Tak hanya untuk UMKM, wokshop ini pun cocok bagi humas instansi, lembaga, corporasi, konten kreator pemula, dan umum yang ingin belajar lebih jauh memproduksi konten.

Workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz di Kantor Ayo Bandung, Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 15:04

Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

Menyoroti kemacetan Bandung saat Ramadhan.

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 13:18

Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat.

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 11:04

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 09:39

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung.

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 15:00

Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Mayoritas kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)