Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Fakhry Ahmad
Ditulis oleh Fakhry Ahmad diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 10:36 WIB
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)

Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)

Bandung selalu punya wajah yang berubah-ubah setelah hujan. Rintik yang mereda seringkali menyisakan aroma tanah basah, gemuruh lalu lintas yang kembali hidup, dan denyut keresahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Di antara celah-celah itu, enam seniman muda dari Universitas Pendidikan Indonesia mencoba membaca ulang kota ini. Tidak dari apa yang tampak indah, tetapi dari apa yang berada dibalik tabir.

Pameran "Selepas Reda", yang berlangsung di Sanggar Olah Seni Jl. Siliwangi No.7, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat pada tanggal 2-7 Desember 2025, lahir dari sebuah percakapan antara kota dan warganya. Bukan percakapan yang lembut, melainkan dialektika yakni benturan gagasan, perasaan, dan kenyataan yang pada akhirnya menemukan titik tenang. Titik "reda".

Dialektika yang Melahirkan Pameran

Assabiq G. Dawud, kurator pameran, menyebut bahwa gagasan Selepas Reda berangkat dari tema besar Contrast X Harmony dalam proyek lima tahunan "Bandung Rhizome Project". Subtema yang dipilih adalah "Dialektika Alter Ego" sebuah pertarungan kecil antara diri dengan diri yang lain. 

“Selepas reda itu momen ketika dialektika itu sudah menemukan pemahaman bersama,” ungkap Assabiq.

Baginya, alter ego bukan sekadar sisi gelap atau misterius. Itu adalah suara yang jujur, yang muncul ketika euforia kota metropolitan yang indah dan megah mulai dipertanyakan oleh warganya sendiri.

Bandung, menurutnya, sering dirayakan dari sudut yang terlalu cerah: estetik, kreatif, romantis. Padahal kenyataan tidak sesederhana itu.

“Bandung itu punya sisi lain. Tidak selalu sepositif itu,” tegasnya.  

Dari sana, kurasi berlangsung. Para seniman mengirimkan dokumentasi karya berikut deskripsinya. Assabiq membaca, menafsirkan, lalu merangkai benang merah antara tema dan karya. Bukan untuk menilai benar atau salah, tetapi membangun dialog visual yang menggambarkan denyut Bandung yang cantik sekaligus getir.

Bandung sebagai Ruang Pertarungan Identitas

Setiap karya dalam pameran ini adalah potret kecil dari Bandung yang jarang diceritakan. Ada kucing-kucing jalang dalam seri grafis Assabiq yang bukan sekadar hewan kota, tetapi metafora tentang pedagang kaki lima, pemulung, dan pengamen yang berkeliaran seperti bayangan di antara megahnya kota.

Ada patung-patung kecil karya Fadhila Ratna Kamila yang menempatkan harimau mitologis Siliwangi di tengah gedung tinggi, seolah ingin bertanya: apakah modernitas bisa berdamai dengan akar tradisinya?

Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Gilang Raspati menghadirkan bentuk-bentuk tubuh yang saling menopang dan melepaskan, sebuah perjalanan batin tentang rindu, tekanan, dan keteguhan untuk kembali bangkit.

Nirmala Aprilia membawa penonton ke lanskap visual yang jujur dari lampu taman yang menyala di antara bunga liar, cermin yang bertanya “masih waras?”, hingga kolase tiket perjalanan yang mencatat riwayat perantau.

Dan Wisnu Hendrika, ketua pelaksana sekaligus salah satu senimannya, menghadirkan grafis yang menampar: kartu-kartu judi sebagai simbol jalan hidup yang meleset, visual kemiskinan yang tersembunyi di balik estetika kota, dan kerinduan untuk melupakan segalanya, walau mustahil.

Setiap karya memuat fragmen kota yang bertabrakan. Namun dalam benturan itu, harmoni kecil justru lahir.

Cerita dari Balik Penyelenggaraan: Tahun Pertama dari Lima Babak

Bagi Wisnu Hendrika, ketua pelaksana Setelah Reda Exhibition, Pameran ini bukan sekadar tugas akademik. Ia membuka percakapan dengan nada yang jujur.

“Pameran ini instruksi dari dosen, bagian dari proyek lima tahunan Bandung Rhizome Project. Ini tahun pertama," jelasnya. 

Meski lahir dari instruksi, perjalanan kreatif yang mereka jalani justru membuka ruang baru. Ada antusiasme yang tak disangka.

“Dikiranya cuma mata kuliah biasa. Ternyata dikembangkan. Kita senang, karena bisa menilai karya kita lebih dalam dan lebih kritis,” tambahnya.

Para seniman yang terlibat merupakan pilihan dosen dari rumpun seni murni yang meliputi seni patung, lukis, dan grafis. Setiap kelompok menanggung beban representasi dan harapan: bagaimana mereka membaca kota, menyuarakan kegelisahan, dan menawarkan makna baru atas Bandung.

Wisnu berharap pameran ini dapat membuka mata banyak orang.

“Semoga karya seni bisa didorong lebih jauh, bukan hanya dinilai sebagai pajangan,” katanya.

“Tapi jadi ruang berpikir kritis bahkan bagi masyarakat awam.”

Selepas Reda, Kota Bicara Lagi

Saat pengunjung melangkah masuk ke ruang pamer, mereka tidak hanya melihat karya, tetapi memasuki ruang refleksi. Ada yang terdiam lama di depan cermin bertuliskan “masih waras?”, ada yang tersentuh oleh figur-figur rapuh dari kardus, ada pula yang tertawa kecil ketika mengenali simbol-simbol khas Bandung: kopi, kafe, lampu jalan, gunung, dan harimau putih.

Pameran ini bukan dokumentasi kota. Ia adalah cermin yang diletakkan di hadapan publik untuk melihat Bandung tanpa filter.

Baca Juga: Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik

Pada akhirnya, Selepas Reda adalah upaya enam seniman muda untuk berkata bahwa kota ini tidak hanya berdiri di atas estetika dan romantisasi. Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai.

Dan seperti hujan yang mereda, selalu ada waktu yang tenang untuk menatap kembali. Untuk berdamai dengan alter ego kota—dan alter ego diri kita sendiri. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fakhry Ahmad
Tentang Fakhry Ahmad
Writer | Designer | Illustrator | Telling stories through words, colors, and lines | Turning everyday moments into crafted narratives and visuals

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 17:06

Bukan Sekadar Ngonten, Ini Cara UMKM Ubah Akun Sosmed Jadi Akun Promosi

Dalam cakupan dunia digital yang serba bisa dilihat melalui layar saja, persaingan muncul dan dibentuk secara organik, serta tidak hanya berfokus pada unggahan biasa saja.

Pembicara Workshop Pelatihan UMKM bertajuk Produksi Konten Media Sosial dan AI: “Ngonten Pintar, Usaha Lancar," yakni Creative Manager, Bibo Bani yang membawakan materi tentang optimalisasi media sosial. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 15:52

UMKM dan Humas BUMN Antusias Ikuti Workshop Produksi Konten Medsos dan AI oleh Ayo Bandung

Tak hanya untuk UMKM, wokshop ini pun cocok bagi humas instansi, lembaga, corporasi, konten kreator pemula, dan umum yang ingin belajar lebih jauh memproduksi konten.

Workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz di Kantor Ayo Bandung, Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 15:04

Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

Menyoroti kemacetan Bandung saat Ramadhan.

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 13:18

Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat.

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 11:04

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 09:39

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung.

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 15:00

Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Mayoritas kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)