Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

4 menit baca
Fakhry Ahmad
Ditulis oleh Fakhry Ahmad diterbitkan
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)

Bandung selalu punya wajah yang berubah-ubah setelah hujan. Rintik yang mereda seringkali menyisakan aroma tanah basah, gemuruh lalu lintas yang kembali hidup, dan denyut keresahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Di antara celah-celah itu, enam seniman muda dari Universitas Pendidikan Indonesia mencoba membaca ulang kota ini. Tidak dari apa yang tampak indah, tetapi dari apa yang berada dibalik tabir.

Pameran "Selepas Reda", yang berlangsung di Sanggar Olah Seni Jl. Siliwangi No.7, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat pada tanggal 2-7 Desember 2025, lahir dari sebuah percakapan antara kota dan warganya. Bukan percakapan yang lembut, melainkan dialektika yakni benturan gagasan, perasaan, dan kenyataan yang pada akhirnya menemukan titik tenang. Titik "reda".

Dialektika yang Melahirkan Pameran

Assabiq G. Dawud, kurator pameran, menyebut bahwa gagasan Selepas Reda berangkat dari tema besar Contrast X Harmony dalam proyek lima tahunan "Bandung Rhizome Project". Subtema yang dipilih adalah "Dialektika Alter Ego" sebuah pertarungan kecil antara diri dengan diri yang lain. 

“Selepas reda itu momen ketika dialektika itu sudah menemukan pemahaman bersama,” ungkap Assabiq.

Baginya, alter ego bukan sekadar sisi gelap atau misterius. Itu adalah suara yang jujur, yang muncul ketika euforia kota metropolitan yang indah dan megah mulai dipertanyakan oleh warganya sendiri.

Bandung, menurutnya, sering dirayakan dari sudut yang terlalu cerah: estetik, kreatif, romantis. Padahal kenyataan tidak sesederhana itu.

“Bandung itu punya sisi lain. Tidak selalu sepositif itu,” tegasnya.  

Dari sana, kurasi berlangsung. Para seniman mengirimkan dokumentasi karya berikut deskripsinya. Assabiq membaca, menafsirkan, lalu merangkai benang merah antara tema dan karya. Bukan untuk menilai benar atau salah, tetapi membangun dialog visual yang menggambarkan denyut Bandung yang cantik sekaligus getir.

Bandung sebagai Ruang Pertarungan Identitas

Setiap karya dalam pameran ini adalah potret kecil dari Bandung yang jarang diceritakan. Ada kucing-kucing jalang dalam seri grafis Assabiq yang bukan sekadar hewan kota, tetapi metafora tentang pedagang kaki lima, pemulung, dan pengamen yang berkeliaran seperti bayangan di antara megahnya kota.

Ada patung-patung kecil karya Fadhila Ratna Kamila yang menempatkan harimau mitologis Siliwangi di tengah gedung tinggi, seolah ingin bertanya: apakah modernitas bisa berdamai dengan akar tradisinya?

Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Pengguna Metro Trans Jabar menunggu bus di Halte Mochamad Toha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Gilang Raspati menghadirkan bentuk-bentuk tubuh yang saling menopang dan melepaskan, sebuah perjalanan batin tentang rindu, tekanan, dan keteguhan untuk kembali bangkit.

Nirmala Aprilia membawa penonton ke lanskap visual yang jujur dari lampu taman yang menyala di antara bunga liar, cermin yang bertanya “masih waras?”, hingga kolase tiket perjalanan yang mencatat riwayat perantau.

Dan Wisnu Hendrika, ketua pelaksana sekaligus salah satu senimannya, menghadirkan grafis yang menampar: kartu-kartu judi sebagai simbol jalan hidup yang meleset, visual kemiskinan yang tersembunyi di balik estetika kota, dan kerinduan untuk melupakan segalanya, walau mustahil.

Setiap karya memuat fragmen kota yang bertabrakan. Namun dalam benturan itu, harmoni kecil justru lahir.

Cerita dari Balik Penyelenggaraan: Tahun Pertama dari Lima Babak

Bagi Wisnu Hendrika, ketua pelaksana Setelah Reda Exhibition, Pameran ini bukan sekadar tugas akademik. Ia membuka percakapan dengan nada yang jujur.

“Pameran ini instruksi dari dosen, bagian dari proyek lima tahunan Bandung Rhizome Project. Ini tahun pertama," jelasnya. 

Meski lahir dari instruksi, perjalanan kreatif yang mereka jalani justru membuka ruang baru. Ada antusiasme yang tak disangka.

“Dikiranya cuma mata kuliah biasa. Ternyata dikembangkan. Kita senang, karena bisa menilai karya kita lebih dalam dan lebih kritis,” tambahnya.

Para seniman yang terlibat merupakan pilihan dosen dari rumpun seni murni yang meliputi seni patung, lukis, dan grafis. Setiap kelompok menanggung beban representasi dan harapan: bagaimana mereka membaca kota, menyuarakan kegelisahan, dan menawarkan makna baru atas Bandung.

Wisnu berharap pameran ini dapat membuka mata banyak orang.

“Semoga karya seni bisa didorong lebih jauh, bukan hanya dinilai sebagai pajangan,” katanya.

“Tapi jadi ruang berpikir kritis bahkan bagi masyarakat awam.”

Selepas Reda, Kota Bicara Lagi

Saat pengunjung melangkah masuk ke ruang pamer, mereka tidak hanya melihat karya, tetapi memasuki ruang refleksi. Ada yang terdiam lama di depan cermin bertuliskan “masih waras?”, ada yang tersentuh oleh figur-figur rapuh dari kardus, ada pula yang tertawa kecil ketika mengenali simbol-simbol khas Bandung: kopi, kafe, lampu jalan, gunung, dan harimau putih.

Pameran ini bukan dokumentasi kota. Ia adalah cermin yang diletakkan di hadapan publik untuk melihat Bandung tanpa filter.

Baca Juga: Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik

Pada akhirnya, Selepas Reda adalah upaya enam seniman muda untuk berkata bahwa kota ini tidak hanya berdiri di atas estetika dan romantisasi. Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai.

Dan seperti hujan yang mereda, selalu ada waktu yang tenang untuk menatap kembali. Untuk berdamai dengan alter ego kota—dan alter ego diri kita sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)