AYOBANDUNG.ID – Setiap tahun, ketika Ramadan tiba, yang berubah bukan hanya pada ritme makan dan ibadah, tetapi juga pada cara kita berbicara. Tiba-tiba kata-kata seperti sahur, imsak, tarawih, takjil, dan lailatulqadar menguasai percakapan sehari-hari. Kata-kata itu terasa akrab, bahkan terasa “asli Indonesia”, padahal hampir semuanya berasal dari bahasa Arab.
Fenomena ini bukan sekadar soal peminjaman kata. Ia mencerminkan proses panjang adaptasi budaya yang terjadi ketika Islam masuk ke Nusantara dan menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal. Bahasa Arab membawa konsep-konsep teologis, namun masyarakat Indonesia memberikan konteks sosial, budaya, bahkan administratif yang baru. Hasilnya adalah kosakata yang “berpindah kewarganegaraan” secara linguistis.
Menurut Sudaryanto, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, seluruh kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian dengan konteks bahasa dan budaya lokal. Proses adaptasi ini, menurutnya, berjalan relatif lancar karena bahasa Arab memiliki sifat yang adaptif.
Kelancaran adaptasi itu tidak terjadi begitu saja. Ia berlangsung berabad-abad, seiring masuknya Islam ke kepulauan Nusantara dan berkembangnya lembaga-lembaga keagamaan seperti pesantren, masjid, dan organisasi masyarakat Islam. Kata-kata Arab diserap, dilafalkan ulang, dan pada akhirnya dimaknai dalam kerangka praktik sosial masyarakat Indonesia.
Kata yang Maknanya Tetap Stabil
Sejumlah kosakata Arab dalam Ramadan digunakan dengan makna yang relatif tidak bergeser dari aslinya. Tarawih, misalnya, berasal dari kata Arab tarawiḥ yang berarti “istirahat” dan merujuk pada jeda di antara rangkaian rakaat salat malam. Meski makna literalnya jarang disadari masyarakat umum, penggunaannya di Indonesia tetap merujuk pada ibadah yang sama: salat sunah malam hari selama Ramadan.
Demikian pula dengan tadarus (pembacaan Al-Qur’an bersama-sama), iktikaf (berdiam di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Allah), serta zakat dan fidiah yang tetap digunakan dalam konteks kewajibannya yang asli. Kata-kata ini bertahan tanpa pergeseran makna yang signifikan, meski konteks sosial di sekelilingnya terus berubah.
Kata hilal dan tasamuh pun termasuk dalam kelompok ini. Hilal, yang berarti bulan sabit penanda awal Ramadan, digunakan secara tepat oleh pemerintah dan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dalam proses ru’yah. Tasamuh, yang berarti toleransi atau kelapangan dada, juga digunakan sesuai makna aslinya—terutama dalam konteks perbedaan penentuan awal Ramadan antarormas Islam.

Kata yang Maknanya Bergeser: Imsak dan Takjil
Tidak semua kata bertahan utuh. Imsak, dari kata Arab imsākan yang berarti “menahan”, mengalami penyempitan makna. Dalam konteks puasa, makna dasarnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Namun di Indonesia, imsak berkembang menjadi istilah teknis-administratif: penanda waktu beberapa menit sebelum azan subuh. Jadwal imsak dicetak resmi setiap Ramadan, disiarkan media, dan menjadi referensi publik yang bersifat praktis.
Namun pergeseran makna paling dramatis terjadi pada kata takjil. Dalam bahasa Arab, ta’jīl berarti “menyegerakan”, merujuk pada anjuran untuk segera berbuka puasa ketika waktunya tiba. Di Indonesia, takjil hampir sepenuhnya dipahami sebagai makanan atau minuman ringan untuk berbuka puasa. Bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI sudah mengakui kedua makna itu: “mempercepat (dalam berbuka puasa)” dan “penganan dan minuman untuk berbuka puasa”.
Pergeseran ini bukan kesalahan, melainkan bukti bagaimana praktik budaya dapat mengubah makna kata secara organik. Ketika kebiasaan berbuka dengan hidangan ringan menjadi bagian dari tradisi, kata yang semula menunjuk tindakan bergeser menjadi kata benda yang menunjuk pada benda-benda di meja buka puasa.
Kata yang Melahirkan Institusi
Beberapa kata Arab dalam Ramadan tidak hanya bertahan atau bergeser maknanya, melainkan berkembang menjadi fondasi institusi sosial. Zakat, yang dalam bahasa Arab berakar dari kata zakā (penyucian atau pertumbuhan), kini menopang sistem ekonomi redistribusi yang terorganisasi: ada lembaga resmi pengelola zakat, mekanisme distribusi, kampanye publik, bahkan regulasi pemerintah.
Demikian pula fidiah (denda berupa bahan makanan pokok yang wajib dibayar bagi muslim yang tidak mampu menjalankan puasa karena uzur tertentu seperti penyakit menahun) telah menjadi bagian dari sistem pengelolaan ibadah yang terstruktur. Bahasa religius, dalam hal ini, tidak hanya mendeskripsikan kewajiban spiritual, tetapi juga membentuk dan menggerakkan praktik sosial-ekonomi nyata dalam masyarakat.
Baca Juga: Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris
Perjalanan kosakata Arab dalam Ramadan di Indonesia menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah statis. Ia bergerak, beradaptasi, dan membentuk dirinya sesuai kebutuhan masyarakat yang menggunakannya. Ada kata yang bertahan utuh, ada yang menyempit maknanya, ada yang bergeser dari kata kerja menjadi kata benda, dan ada yang menjelma menjadi institusi.
Yang menarik adalah bahwa proses ini tidak mencabut kata-kata itu dari akar Islamiahnya. Sahur tetap bermakna makan menjelang fajar; tarawih tetap identik dengan ibadah malam Ramadan; zakat tetap terkait dengan kewajiban berbagi. Adaptasi terjadi pada lapisan sosial dan budaya, bukan pada lapisan teologisnya.
Dengan demikian, kosakata Arab dalam Ramadan bukan sekadar serapan linguistis yang pasif. Ia adalah cermin dari identitas Muslim Indonesia yang khas: berakar pada ajaran Islam global, tetapi tumbuh dan berkembang dalam tanah budaya Nusantara. Ketika kita mengucapkan “takjil”, “iktikaf”, atau “tasamuh”, kita sedang menuturkan sejarah panjang perjumpaan dua peradaban yang berlangsung damai dan produktif.
Referensi:
- Sudaryanto. Mengenal Kosakata Arab dalam Ramadan. Suara Aisyiyah, 2026.
- Kosakata Khas Ramadan yang Murni Berasal dari Bahasa Arab, Memahami Makna Asli. Ayo Bandung, 19 Februari 2026.
