Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Rabu 25 Feb 2026, 15:00 WIB
Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.IDSetiap tahun, ketika Ramadan tiba, yang berubah bukan hanya pada ritme makan dan ibadah, tetapi juga pada cara kita berbicara. Tiba-tiba kata-kata seperti sahur, imsak, tarawih, takjil, dan lailatulqadar menguasai percakapan sehari-hari. Kata-kata itu terasa akrab, bahkan terasa “asli Indonesia”, padahal hampir semuanya berasal dari bahasa Arab.

Fenomena ini bukan sekadar soal peminjaman kata. Ia mencerminkan proses panjang adaptasi budaya yang terjadi ketika Islam masuk ke Nusantara dan menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal. Bahasa Arab membawa konsep-konsep teologis, namun masyarakat Indonesia memberikan konteks sosial, budaya, bahkan administratif yang baru. Hasilnya adalah kosakata yang “berpindah kewarganegaraan” secara linguistis.

Menurut Sudaryanto, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, seluruh kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian dengan konteks bahasa dan budaya lokal. Proses adaptasi ini, menurutnya, berjalan relatif lancar karena bahasa Arab memiliki sifat yang adaptif.

Kelancaran adaptasi itu tidak terjadi begitu saja. Ia berlangsung berabad-abad, seiring masuknya Islam ke kepulauan Nusantara dan berkembangnya lembaga-lembaga keagamaan seperti pesantren, masjid, dan organisasi masyarakat Islam. Kata-kata Arab diserap, dilafalkan ulang, dan pada akhirnya dimaknai dalam kerangka praktik sosial masyarakat Indonesia.

Kata yang Maknanya Tetap Stabil

Sejumlah kosakata Arab dalam Ramadan digunakan dengan makna yang relatif tidak bergeser dari aslinya. Tarawih, misalnya, berasal dari kata Arab tarawiḥ yang berarti “istirahat” dan merujuk pada jeda di antara rangkaian rakaat salat malam. Meski makna literalnya jarang disadari masyarakat umum, penggunaannya di Indonesia tetap merujuk pada ibadah yang sama: salat sunah malam hari selama Ramadan.

Demikian pula dengan tadarus (pembacaan Al-Qur’an bersama-sama), iktikaf (berdiam di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Allah), serta zakat dan fidiah yang tetap digunakan dalam konteks kewajibannya yang asli. Kata-kata ini bertahan tanpa pergeseran makna yang signifikan, meski konteks sosial di sekelilingnya terus berubah.

Kata hilal dan tasamuh pun termasuk dalam kelompok ini. Hilal, yang berarti bulan sabit penanda awal Ramadan, digunakan secara tepat oleh pemerintah dan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dalam proses ru’yah. Tasamuh, yang berarti toleransi atau kelapangan dada, juga digunakan sesuai makna aslinya—terutama dalam konteks perbedaan penentuan awal Ramadan antarormas Islam.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)

Kata yang Maknanya Bergeser: Imsak dan Takjil

Tidak semua kata bertahan utuh. Imsak, dari kata Arab imsākan yang berarti “menahan”, mengalami penyempitan makna. Dalam konteks puasa, makna dasarnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Namun di Indonesia, imsak berkembang menjadi istilah teknis-administratif: penanda waktu beberapa menit sebelum azan subuh. Jadwal imsak dicetak resmi setiap Ramadan, disiarkan media, dan menjadi referensi publik yang bersifat praktis.

Namun pergeseran makna paling dramatis terjadi pada kata takjil. Dalam bahasa Arab, ta’jīl berarti “menyegerakan”, merujuk pada anjuran untuk segera berbuka puasa ketika waktunya tiba. Di Indonesia, takjil hampir sepenuhnya dipahami sebagai makanan atau minuman ringan untuk berbuka puasa. Bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI sudah mengakui kedua makna itu: “mempercepat (dalam berbuka puasa)” dan “penganan dan minuman untuk berbuka puasa”.

Pergeseran ini bukan kesalahan, melainkan bukti bagaimana praktik budaya dapat mengubah makna kata secara organik. Ketika kebiasaan berbuka dengan hidangan ringan menjadi bagian dari tradisi, kata yang semula menunjuk tindakan bergeser menjadi kata benda yang menunjuk pada benda-benda di meja buka puasa.

Kata yang Melahirkan Institusi

Beberapa kata Arab dalam Ramadan tidak hanya bertahan atau bergeser maknanya, melainkan berkembang menjadi fondasi institusi sosial. Zakat, yang dalam bahasa Arab berakar dari kata zakā (penyucian atau pertumbuhan), kini menopang sistem ekonomi redistribusi yang terorganisasi: ada lembaga resmi pengelola zakat, mekanisme distribusi, kampanye publik, bahkan regulasi pemerintah.

Demikian pula fidiah (denda berupa bahan makanan pokok yang wajib dibayar bagi muslim yang tidak mampu menjalankan puasa karena uzur tertentu seperti penyakit menahun) telah menjadi bagian dari sistem pengelolaan ibadah yang terstruktur. Bahasa religius, dalam hal ini, tidak hanya mendeskripsikan kewajiban spiritual, tetapi juga membentuk dan menggerakkan praktik sosial-ekonomi nyata dalam masyarakat.

Baca Juga: Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Perjalanan kosakata Arab dalam Ramadan di Indonesia menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah statis. Ia bergerak, beradaptasi, dan membentuk dirinya sesuai kebutuhan masyarakat yang menggunakannya. Ada kata yang bertahan utuh, ada yang menyempit maknanya, ada yang bergeser dari kata kerja menjadi kata benda, dan ada yang menjelma menjadi institusi.

Yang menarik adalah bahwa proses ini tidak mencabut kata-kata itu dari akar Islamiahnya. Sahur tetap bermakna makan menjelang fajar; tarawih tetap identik dengan ibadah malam Ramadan; zakat tetap terkait dengan kewajiban berbagi. Adaptasi terjadi pada lapisan sosial dan budaya, bukan pada lapisan teologisnya.

Dengan demikian, kosakata Arab dalam Ramadan bukan sekadar serapan linguistis yang pasif. Ia adalah cermin dari identitas Muslim Indonesia yang khas: berakar pada ajaran Islam global, tetapi tumbuh dan berkembang dalam tanah budaya Nusantara. Ketika kita mengucapkan “takjil”, “iktikaf”, atau “tasamuh”, kita sedang menuturkan sejarah panjang perjumpaan dua peradaban yang berlangsung damai dan produktif.

Referensi:

  • Sudaryanto. Mengenal Kosakata Arab dalam Ramadan. Suara Aisyiyah, 2026.
  • Kosakata Khas Ramadan yang Murni Berasal dari Bahasa Arab, Memahami Makna Asli. Ayo Bandung, 19 Februari 2026.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)