Tidak Berasal dari Arab, 5 Kata yang Jadi Ciri Khas Ramadan di Indonesia

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Kamis 19 Feb 2026, 05:48 WIB
Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ketika Ramadan tiba, percakapan sehari-hari berubah drastis. Menariknya, sebagian besar kata yang paling sering terdengar itu justru bukan berasal dari bahasa Arab (bahasa yang identik dengan terminologi Islam).

Banyak istilah Ramadan yang terasa paling akrab bagi masyarakat Indonesia justru lahir dari bahasa daerah, kebiasaan sosial, bahkan budaya modern perkotaan. Kata-kata itu tidak ditemukan dalam kitab fikih klasik, tetapi hidup kuat dalam pengalaman berpuasa sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: Ramadan di Indonesia tidak hanya dijalani sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai pengalaman budaya. Dan bahasa menjadi salah satu bukti paling jelas bagaimana masyarakat lokal membentuk cara mereka merayakan bulan suci.

Berikut beberapa kata non-Arab yang hampir mustahil dipisahkan dari Ramadan di Indonesia, beserta kisah sejarah dan budaya di baliknya.

Ngabuburit

Salah satu kata paling populer selama Ramadan adalah ngabuburit. Istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Berjalan-jalan, berburu makanan, berkumpul bersama teman, atau sekadar menikmati suasana sore.

Kata ini berasal dari bahasa Sunda. Akar katanya adalah burit, yang berarti waktu menjelang senja. Dalam struktur bahasa Sunda, imbuhan “nga-” menunjukkan aktivitas yang berkaitan dengan kata dasar tersebut. Maka, ngabuburit berarti melakukan kegiatan sambil menunggu waktu sore berakhir.

Yang menarik, kata ini awalnya hanya digunakan di wilayah budaya Sunda. Namun seiring mobilitas penduduk, perkembangan media, dan urbanisasi, istilah tersebut menyebar secara nasional. Kini, orang di berbagai kota Indonesia menggunakan kata ngabuburit tanpa merasa sedang meminjam bahasa daerah.

Proses ini menunjukkan bagaimana praktik budaya lokal dapat naik status menjadi kebiasaan nasional. Ramadan menjadi medium penyebaran bahasa daerah secara luas.

Bukber

Jika ngabuburit lahir dari budaya tradisional, bukber adalah produk kehidupan modern. Istilah ini merupakan singkatan dari “buka bersama”, dan hampir pasti tidak dikenal sebelum era perkotaan berkembang pesat.

Secara linguistik, bukber adalah contoh pemendekan kata atau akronimisasi, yang merupakan proses umum dalam bahasa Indonesia kontemporer. Bahasa urban cenderung memadatkan frasa panjang menjadi bentuk ringkas agar lebih praktis dalam komunikasi sehari-hari.

Namun bukber bukan sekadar singkatan. Ia mencerminkan perubahan sosial dalam praktik Ramadan. Jika dulu berbuka identik dengan keluarga inti di rumah, kini berbuka bersama menjadi ajang silaturahmi lintas kelompok, teman sekolah, rekan kerja, komunitas, bahkan reuni tahunan.

Dalam perspektif sosiologi, bukber menandai transformasi Ramadan menjadi ruang sosial publik, bukan hanya ritual domestik.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Lebaran

Di banyak negara Muslim, hari raya setelah Ramadan disebut Idulfitri. Namun di Indonesia, masyarakat lebih akrab dengan istilah Lebaran.

Asal-usul kata ini sering dikaitkan dengan bahasa Jawa. Salah satu penafsiran populer menyebut lebaran berasal dari kata yang berkaitan dengan makna “selesai”, “tuntas”, atau “usai”. Dalam konteks Ramadan, lebaran menandai selesainya ibadah puasa selama sebulan penuh.

Ada pula tafsir budaya yang mengaitkannya dengan gagasan kembali ke keadaan suci atau lapang setelah menjalani proses spiritual.

Yang jelas, penggunaan kata lebaran menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memberi nama sendiri pada pengalaman religius mereka. Istilah Arab tetap dikenal secara resmi, tetapi istilah lokal justru menjadi bahasa emosional sehari-hari.

Mudik

Tak ada fenomena Ramadan yang lebih besar secara sosial dan ekonomi daripada mudik. Kata ini merujuk pada tradisi pulang ke kampung halaman menjelang atau sesudah Idulfitri.

Secara etimologis, kata mudik diduga berkaitan dengan konsep “kembali ke hulu” atau kembali ke asal. Dalam masyarakat agraris, kampung halaman sering dianggap sebagai pusat identitas keluarga dan akar sosial.

Tradisi mudik berkembang pesat seiring urbanisasi besar-besaran di Indonesia. Ketika jutaan orang merantau ke kota untuk bekerja, Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum untuk pulang dan memperbarui ikatan keluarga.

Dalam perspektif ekonomi, mudik bahkan memicu perputaran uang dalam skala nasional: transportasi, konsumsi, pariwisata lokal, hingga perdagangan musiman. Satu kata sederhana menggambarkan fenomena mobilitas massal terbesar di Indonesia.

THR

Tidak semua kata Ramadan berakar pada budaya tradisional. THR alias Tunjangan Hari Raya adalah istilah yang lahir dari kebijakan ekonomi modern.

Istilah ini muncul dalam konteks hubungan kerja formal, terutama sejak pemerintah mengatur kewajiban pemberian tunjangan menjelang hari raya keagamaan. Dalam praktik sosial, THR menjadi simbol kegembiraan tambahan Ramadan—bagi pekerja, pedagang, maupun anak-anak yang menerima uang saku tambahan.

Menariknya, THR kini bukan hanya istilah administratif, tetapi bagian dari bahasa emosional Ramadan. Orang menantikan THR sama antusiasnya dengan menunggu libur panjang.

Ini menunjukkan bahwa praktik ekonomi dapat membentuk kosakata budaya keagamaan.

Kolak pisang. (Sumber: Ayobandung.com)
Kolak pisang. (Sumber: Ayobandung.com)

Selain aktivitas sosial, Ramadan juga membentuk bahasa melalui makanan khas. Salah satu yang paling identik adalah kolak.

Meski bukan istilah religius, kolak menjadi simbol kuliner Ramadan di Indonesia. Hidangan berbahan santan, gula aren, dan pisang ini begitu identik dengan waktu berbuka sehingga namanya hampir selalu muncul dalam percakapan selama bulan puasa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman indrawi untuk rasa, aroma, kebiasaan makan, dan juga dapat menghasilkan kosakata musiman yang kuat.

Baca Juga: Nostalgia Dapur Ramadan Tempo Dulu ala Pembaca Mangle

Jika diperhatikan, kata-kata non-Arab yang mengiringi Ramadan di Indonesia justru menggambarkan aspek kehidupan yang paling nyata untuk menandai waktu senggang, kebersamaan sosial, mobilitas keluarga, ekonomi musiman, hingga makanan khas.

Istilah Arab umumnya berkaitan dengan aturan ibadah. Sebaliknya, istilah lokal menggambarkan bagaimana masyarakat menjalani Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah bahasa menjadi bukti sejarah akulturasi. Islam datang sebagai ajaran universal, tetapi masyarakat Nusantara mengisinya dengan pengalaman lokal. Hasilnya bukan penggantian budaya lama, melainkan percampuran yang menghasilkan tradisi baru. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)