Official Persib Logo
1933
1933

Tidak Berasal dari Arab, 5 Kata yang Jadi Ciri Khas Ramadan di Indonesia

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Kamis 19 Feb 2026, 05:48 WIB
Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ketika Ramadan tiba, percakapan sehari-hari berubah drastis. Menariknya, sebagian besar kata yang paling sering terdengar itu justru bukan berasal dari bahasa Arab (bahasa yang identik dengan terminologi Islam).

Banyak istilah Ramadan yang terasa paling akrab bagi masyarakat Indonesia justru lahir dari bahasa daerah, kebiasaan sosial, bahkan budaya modern perkotaan. Kata-kata itu tidak ditemukan dalam kitab fikih klasik, tetapi hidup kuat dalam pengalaman berpuasa sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: Ramadan di Indonesia tidak hanya dijalani sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai pengalaman budaya. Dan bahasa menjadi salah satu bukti paling jelas bagaimana masyarakat lokal membentuk cara mereka merayakan bulan suci.

Berikut beberapa kata non-Arab yang hampir mustahil dipisahkan dari Ramadan di Indonesia, beserta kisah sejarah dan budaya di baliknya.

Ngabuburit

Salah satu kata paling populer selama Ramadan adalah ngabuburit. Istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Berjalan-jalan, berburu makanan, berkumpul bersama teman, atau sekadar menikmati suasana sore.

Kata ini berasal dari bahasa Sunda. Akar katanya adalah burit, yang berarti waktu menjelang senja. Dalam struktur bahasa Sunda, imbuhan “nga-” menunjukkan aktivitas yang berkaitan dengan kata dasar tersebut. Maka, ngabuburit berarti melakukan kegiatan sambil menunggu waktu sore berakhir.

Yang menarik, kata ini awalnya hanya digunakan di wilayah budaya Sunda. Namun seiring mobilitas penduduk, perkembangan media, dan urbanisasi, istilah tersebut menyebar secara nasional. Kini, orang di berbagai kota Indonesia menggunakan kata ngabuburit tanpa merasa sedang meminjam bahasa daerah.

Proses ini menunjukkan bagaimana praktik budaya lokal dapat naik status menjadi kebiasaan nasional. Ramadan menjadi medium penyebaran bahasa daerah secara luas.

Bukber

Jika ngabuburit lahir dari budaya tradisional, bukber adalah produk kehidupan modern. Istilah ini merupakan singkatan dari “buka bersama”, dan hampir pasti tidak dikenal sebelum era perkotaan berkembang pesat.

Secara linguistik, bukber adalah contoh pemendekan kata atau akronimisasi, yang merupakan proses umum dalam bahasa Indonesia kontemporer. Bahasa urban cenderung memadatkan frasa panjang menjadi bentuk ringkas agar lebih praktis dalam komunikasi sehari-hari.

Namun bukber bukan sekadar singkatan. Ia mencerminkan perubahan sosial dalam praktik Ramadan. Jika dulu berbuka identik dengan keluarga inti di rumah, kini berbuka bersama menjadi ajang silaturahmi lintas kelompok, teman sekolah, rekan kerja, komunitas, bahkan reuni tahunan.

Dalam perspektif sosiologi, bukber menandai transformasi Ramadan menjadi ruang sosial publik, bukan hanya ritual domestik.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Lebaran

Di banyak negara Muslim, hari raya setelah Ramadan disebut Idulfitri. Namun di Indonesia, masyarakat lebih akrab dengan istilah Lebaran.

Asal-usul kata ini sering dikaitkan dengan bahasa Jawa. Salah satu penafsiran populer menyebut lebaran berasal dari kata yang berkaitan dengan makna “selesai”, “tuntas”, atau “usai”. Dalam konteks Ramadan, lebaran menandai selesainya ibadah puasa selama sebulan penuh.

Ada pula tafsir budaya yang mengaitkannya dengan gagasan kembali ke keadaan suci atau lapang setelah menjalani proses spiritual.

Yang jelas, penggunaan kata lebaran menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memberi nama sendiri pada pengalaman religius mereka. Istilah Arab tetap dikenal secara resmi, tetapi istilah lokal justru menjadi bahasa emosional sehari-hari.

Mudik

Tak ada fenomena Ramadan yang lebih besar secara sosial dan ekonomi daripada mudik. Kata ini merujuk pada tradisi pulang ke kampung halaman menjelang atau sesudah Idulfitri.

Secara etimologis, kata mudik diduga berkaitan dengan konsep “kembali ke hulu” atau kembali ke asal. Dalam masyarakat agraris, kampung halaman sering dianggap sebagai pusat identitas keluarga dan akar sosial.

Tradisi mudik berkembang pesat seiring urbanisasi besar-besaran di Indonesia. Ketika jutaan orang merantau ke kota untuk bekerja, Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum untuk pulang dan memperbarui ikatan keluarga.

Dalam perspektif ekonomi, mudik bahkan memicu perputaran uang dalam skala nasional: transportasi, konsumsi, pariwisata lokal, hingga perdagangan musiman. Satu kata sederhana menggambarkan fenomena mobilitas massal terbesar di Indonesia.

THR

Tidak semua kata Ramadan berakar pada budaya tradisional. THR alias Tunjangan Hari Raya adalah istilah yang lahir dari kebijakan ekonomi modern.

Istilah ini muncul dalam konteks hubungan kerja formal, terutama sejak pemerintah mengatur kewajiban pemberian tunjangan menjelang hari raya keagamaan. Dalam praktik sosial, THR menjadi simbol kegembiraan tambahan Ramadan—bagi pekerja, pedagang, maupun anak-anak yang menerima uang saku tambahan.

Menariknya, THR kini bukan hanya istilah administratif, tetapi bagian dari bahasa emosional Ramadan. Orang menantikan THR sama antusiasnya dengan menunggu libur panjang.

Ini menunjukkan bahwa praktik ekonomi dapat membentuk kosakata budaya keagamaan.

Kolak pisang. (Sumber: Ayobandung.com)
Kolak pisang. (Sumber: Ayobandung.com)

Selain aktivitas sosial, Ramadan juga membentuk bahasa melalui makanan khas. Salah satu yang paling identik adalah kolak.

Meski bukan istilah religius, kolak menjadi simbol kuliner Ramadan di Indonesia. Hidangan berbahan santan, gula aren, dan pisang ini begitu identik dengan waktu berbuka sehingga namanya hampir selalu muncul dalam percakapan selama bulan puasa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman indrawi untuk rasa, aroma, kebiasaan makan, dan juga dapat menghasilkan kosakata musiman yang kuat.

Baca Juga: Nostalgia Dapur Ramadan Tempo Dulu ala Pembaca Mangle

Jika diperhatikan, kata-kata non-Arab yang mengiringi Ramadan di Indonesia justru menggambarkan aspek kehidupan yang paling nyata untuk menandai waktu senggang, kebersamaan sosial, mobilitas keluarga, ekonomi musiman, hingga makanan khas.

Istilah Arab umumnya berkaitan dengan aturan ibadah. Sebaliknya, istilah lokal menggambarkan bagaimana masyarakat menjalani Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah bahasa menjadi bukti sejarah akulturasi. Islam datang sebagai ajaran universal, tetapi masyarakat Nusantara mengisinya dengan pengalaman lokal. Hasilnya bukan penggantian budaya lama, melainkan percampuran yang menghasilkan tradisi baru. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)