Tidak Berasal dari Arab, 5 Kata yang Jadi Ciri Khas Ramadan di Indonesia

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ketika Ramadan tiba, percakapan sehari-hari berubah drastis. Menariknya, sebagian besar kata yang paling sering terdengar itu justru bukan berasal dari bahasa Arab (bahasa yang identik dengan terminologi Islam).

Banyak istilah Ramadan yang terasa paling akrab bagi masyarakat Indonesia justru lahir dari bahasa daerah, kebiasaan sosial, bahkan budaya modern perkotaan. Kata-kata itu tidak ditemukan dalam kitab fikih klasik, tetapi hidup kuat dalam pengalaman berpuasa sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: Ramadan di Indonesia tidak hanya dijalani sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai pengalaman budaya. Dan bahasa menjadi salah satu bukti paling jelas bagaimana masyarakat lokal membentuk cara mereka merayakan bulan suci.

Berikut beberapa kata non-Arab yang hampir mustahil dipisahkan dari Ramadan di Indonesia, beserta kisah sejarah dan budaya di baliknya.

Ngabuburit

Salah satu kata paling populer selama Ramadan adalah ngabuburit. Istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Berjalan-jalan, berburu makanan, berkumpul bersama teman, atau sekadar menikmati suasana sore.

Kata ini berasal dari bahasa Sunda. Akar katanya adalah burit, yang berarti waktu menjelang senja. Dalam struktur bahasa Sunda, imbuhan “nga-” menunjukkan aktivitas yang berkaitan dengan kata dasar tersebut. Maka, ngabuburit berarti melakukan kegiatan sambil menunggu waktu sore berakhir.

Yang menarik, kata ini awalnya hanya digunakan di wilayah budaya Sunda. Namun seiring mobilitas penduduk, perkembangan media, dan urbanisasi, istilah tersebut menyebar secara nasional. Kini, orang di berbagai kota Indonesia menggunakan kata ngabuburit tanpa merasa sedang meminjam bahasa daerah.

Proses ini menunjukkan bagaimana praktik budaya lokal dapat naik status menjadi kebiasaan nasional. Ramadan menjadi medium penyebaran bahasa daerah secara luas.

Bukber

Jika ngabuburit lahir dari budaya tradisional, bukber adalah produk kehidupan modern. Istilah ini merupakan singkatan dari “buka bersama”, dan hampir pasti tidak dikenal sebelum era perkotaan berkembang pesat.

Secara linguistik, bukber adalah contoh pemendekan kata atau akronimisasi, yang merupakan proses umum dalam bahasa Indonesia kontemporer. Bahasa urban cenderung memadatkan frasa panjang menjadi bentuk ringkas agar lebih praktis dalam komunikasi sehari-hari.

Namun bukber bukan sekadar singkatan. Ia mencerminkan perubahan sosial dalam praktik Ramadan. Jika dulu berbuka identik dengan keluarga inti di rumah, kini berbuka bersama menjadi ajang silaturahmi lintas kelompok, teman sekolah, rekan kerja, komunitas, bahkan reuni tahunan.

Dalam perspektif sosiologi, bukber menandai transformasi Ramadan menjadi ruang sosial publik, bukan hanya ritual domestik.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Lebaran

Di banyak negara Muslim, hari raya setelah Ramadan disebut Idulfitri. Namun di Indonesia, masyarakat lebih akrab dengan istilah Lebaran.

Asal-usul kata ini sering dikaitkan dengan bahasa Jawa. Salah satu penafsiran populer menyebut lebaran berasal dari kata yang berkaitan dengan makna “selesai”, “tuntas”, atau “usai”. Dalam konteks Ramadan, lebaran menandai selesainya ibadah puasa selama sebulan penuh.

Ada pula tafsir budaya yang mengaitkannya dengan gagasan kembali ke keadaan suci atau lapang setelah menjalani proses spiritual.

Yang jelas, penggunaan kata lebaran menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memberi nama sendiri pada pengalaman religius mereka. Istilah Arab tetap dikenal secara resmi, tetapi istilah lokal justru menjadi bahasa emosional sehari-hari.

Mudik

Tak ada fenomena Ramadan yang lebih besar secara sosial dan ekonomi daripada mudik. Kata ini merujuk pada tradisi pulang ke kampung halaman menjelang atau sesudah Idulfitri.

Secara etimologis, kata mudik diduga berkaitan dengan konsep “kembali ke hulu” atau kembali ke asal. Dalam masyarakat agraris, kampung halaman sering dianggap sebagai pusat identitas keluarga dan akar sosial.

Tradisi mudik berkembang pesat seiring urbanisasi besar-besaran di Indonesia. Ketika jutaan orang merantau ke kota untuk bekerja, Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum untuk pulang dan memperbarui ikatan keluarga.

Dalam perspektif ekonomi, mudik bahkan memicu perputaran uang dalam skala nasional: transportasi, konsumsi, pariwisata lokal, hingga perdagangan musiman. Satu kata sederhana menggambarkan fenomena mobilitas massal terbesar di Indonesia.

THR

Tidak semua kata Ramadan berakar pada budaya tradisional. THR alias Tunjangan Hari Raya adalah istilah yang lahir dari kebijakan ekonomi modern.

Istilah ini muncul dalam konteks hubungan kerja formal, terutama sejak pemerintah mengatur kewajiban pemberian tunjangan menjelang hari raya keagamaan. Dalam praktik sosial, THR menjadi simbol kegembiraan tambahan Ramadan—bagi pekerja, pedagang, maupun anak-anak yang menerima uang saku tambahan.

Menariknya, THR kini bukan hanya istilah administratif, tetapi bagian dari bahasa emosional Ramadan. Orang menantikan THR sama antusiasnya dengan menunggu libur panjang.

Ini menunjukkan bahwa praktik ekonomi dapat membentuk kosakata budaya keagamaan.

Kolak pisang. (Sumber: Ayobandung.com)
Kolak pisang. (Sumber: Ayobandung.com)

Selain aktivitas sosial, Ramadan juga membentuk bahasa melalui makanan khas. Salah satu yang paling identik adalah kolak.

Meski bukan istilah religius, kolak menjadi simbol kuliner Ramadan di Indonesia. Hidangan berbahan santan, gula aren, dan pisang ini begitu identik dengan waktu berbuka sehingga namanya hampir selalu muncul dalam percakapan selama bulan puasa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman indrawi untuk rasa, aroma, kebiasaan makan, dan juga dapat menghasilkan kosakata musiman yang kuat.

Baca Juga: Nostalgia Dapur Ramadan Tempo Dulu ala Pembaca Mangle

Jika diperhatikan, kata-kata non-Arab yang mengiringi Ramadan di Indonesia justru menggambarkan aspek kehidupan yang paling nyata untuk menandai waktu senggang, kebersamaan sosial, mobilitas keluarga, ekonomi musiman, hingga makanan khas.

Istilah Arab umumnya berkaitan dengan aturan ibadah. Sebaliknya, istilah lokal menggambarkan bagaimana masyarakat menjalani Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah bahasa menjadi bukti sejarah akulturasi. Islam datang sebagai ajaran universal, tetapi masyarakat Nusantara mengisinya dengan pengalaman lokal. Hasilnya bukan penggantian budaya lama, melainkan percampuran yang menghasilkan tradisi baru. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)