Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga momentum sosial. Dahulu, sebelum kata “bukber” dan “promo Ramadan” mendominasi ruang publik, ada sejumlah istilah lokal yang menjadi penanda kuat bahwa bulan suci segera datang.
Kini, sebagian di antaranya mulai meredup—tersisih oleh urbanisasi, migrasi, dan perubahan gaya hidup.
Jadi mari mengenal lagi, lima kata yang sering terdengar untuk menyambut datangnya Ramadan.
1. Munggahan
Dalam tradisi Sunda, munggahan adalah momen menyambut Ramadan yang dilakukan menjelang akhir bulan Sya’ban. Biasanya diisi dengan makan bersama keluarga, ziarah kubur, dan saling memaafkan.
Kata ini berakar dari bahasa Sunda yang berarti “naik”—secara simbolik, naik menuju derajat spiritual yang lebih baik. Dahulu, munggahan adalah ritual sosial yang memperkuat kohesi komunitas. Kini, di luar wilayah Sunda, istilah ini semakin jarang disebut, tergantikan oleh istilah yang lebih generik seperti “syukuran sebelum puasa.”
Secara sosial-ekonomi, ini menunjukkan pergeseran dari komunitas berbasis kekerabatan ke masyarakat urban yang lebih individual dan cair.
2. Padusan
Di Jawa, terutama wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, ada tradisi padusan—mandi besar sebelum Ramadan sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.
Kata ini berasal dari bahasa Jawa, dari akar kata “adus” yang berarti mandi. Dulu, padusan dilakukan di sumber air alami seperti sendang atau sungai. Kini, praktiknya lebih simbolik, bahkan kadang hilang sama sekali di kota-kota besar.
Perubahan ini tidak hanya soal bahasa yang memudar, tetapi juga tentang perubahan relasi manusia dengan ruang alam dan ruang komunal.

3. Megengan
Di Surabaya dan sejumlah daerah Jawa Timur, ada tradisi megengan. Biasanya dilakukan dengan membagikan kue apem atau mengadakan selamatan sebagai tanda perpisahan dengan bulan Sya’ban.
Kata “megengan” diyakini berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan—sebuah pengingat bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri.
Seiring waktu, istilah ini makin jarang terdengar di ruang publik modern. Ia bertahan di kampung-kampung, tapi kalah populer dibanding istilah nasional yang lebih ringkas dan mudah dipasarkan.
4. Meugang
Di Aceh, meugang adalah tradisi membeli dan memasak daging bersama keluarga menjelang Ramadan (dan juga menjelang Idulfitri serta Iduladha). Tradisi ini begitu kuat dalam budaya Aceh hingga harga daging bisa melonjak signifikan setiap meugang tiba.
Di sini terlihat jelas bahwa satu kata bisa menggerakkan aktivitas ekonomi lokal. Pasar menjadi ramai, distribusi daging meningkat, dan solidaritas sosial diperkuat lewat makan bersama.
Namun di luar Aceh, istilah ini nyaris tak dikenal. Ia hidup kuat secara lokal, tapi kurang terarsipkan dalam narasi nasional.
Baca Juga: Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi
5. Balimau
Di wilayah Melayu—seperti Riau dan Sumatra Barat—dikenal tradisi balimau atau belimau, yaitu mandi menggunakan air campuran limau sebagai simbol pembersihan diri sebelum Ramadan.
Tradisi ini sarat makna simbolik dan spiritual. Namun dalam perkembangan modern, ia sering disalahpahami atau bahkan ditinggalkan.
Kata belimau sendiri kini jarang muncul dalam percakapan sehari-hari, kecuali dalam konteks budaya atau pariwisata. (*)
