Dunia saat ini sedang sangat "berisik". Tugas kita yang seharusnya fokus mempersiapkan diri menyambut bulan suci, seakan-akan dipaksa untuk terus menatap layar demi mencari latar belakang berbagai isu sosial. Dimulai dari bocornya file-file elit global, hingga isu perselingkuhan remeh yang anehnya justru dijadikan agenda sosial yang mendasar.
Namun, pernahkah kita bertanya: di balik kegaduhan yang sengaja diledakkan ini, peta besar apa yang sebenarnya sedang disembunyikan dari mata kita? Fenomena ini mengingatkan saya pada perjalanan Mas'ud Al-Baghdadi dalam novel Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye. Setelah tiga kali menamatkan buku ini, saya menyadari sebuah pengingat penting: bahwa di tengah badai peperangan, hal paling utama yang harus dijaga adalah akurasi kompas dan kejernihan arah, agar kita tidak sekonyong-konnyongnya hanyut dalam arus isu yang sengaja diciptakan.
Analogi Kapal Perompak dan Manipulasi Informasi
Mas'ud hanyalah seorang pembuat peta. Namun, takdir membawanya terjebak di dek kapal perompak yang tengah bersiap meruntuhkan sebuah kerajaan besar. Pada mulanya, Mas'ud mungkin merasa sial karena perjalanannya harus ditempuh bersama para "kriminal" laut. Namun seiring berjalannya waktu, ia menemukan sebuah kebenaran yang pahit: perlawanan para perompak muncul dari dendam yang tak tersampaikan atas penindasan sistemis.
Bagi mereka yang hanya melihat dari permukaan—atau hanya menelan mentah-mentah narasi resmi kerajaan—perompak adalah pembuat onar. Namun, melalui perspektif Mas'ud, Tere Liye menunjukkan bahwa kekejian yang dilakukan perompak seringkali hanyalah reaksi kecil dibandingkan penindasan terstruktur yang dilakukan oleh para elit negara. Di sinilah manipulasi informasi bermain; penguasa selalu punya cara untuk melabeli perlawanan sebagai kejahatan, agar masyarakat lupa mempertanyakan borok yang ada di dalam istana.
Bahaya Kehilangan "Peta" Pribadi di Tengah Debat Kusir
Realitas Mas’ud mengingatkan saya pada kondisi kita hari ini. Kita sering kali terjebak dalam debat kusir di kolom komentar, sibuk mencemooh para kriminal atau menghujat skandal elit, namun di saat yang sama kita melupakan "peta" atau tujuan hidup kita sendiri yang belum selesai. Mas’ud tetap teliti menarik garis pantai di tengah amuk badai dan denting pedang, sementara kita justru mudah terdistraksi oleh riuh rendah dunia maya.
Saya tidak bermaksud melarang diskusi publik. Namun, sangat disayangkan jika energi kolektif kita habis hanya untuk menelan mentah-mentah isu sosial yang sengaja digemborkan. Tanpa sadar, saat emosi kita dikuras habis oleh skandal yang tampak esensial, ada sistem-sistem besar yang mungkin tengah disahkan di balik layar tanpa pengawasan kita. Kita terlalu sibuk melihat ombak, hingga lupa bahwa nahkoda di kejauhan sedang mengubah arah kapal secara sepihak.
Baca Juga: Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut
Saya yakin, Ramadan kali ini akan terasa sangat berbeda. Terlihat sering kali munculnya isu-isu sosial yang membuat publik lebih fokus pada hal itu, bukan pada pemolesan navigasi diri pada bulan suci ini. Menjadi kritis terhadap isu sosial adalah sebuah keharusan, namun membiarkan diri hanyut dalam arus distraksi yang sengaja diciptakan adalah sebuah kerugian.
Mungkin ini saatnya kita meniru Mas'ud Al-Baghdadi: menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk "peperangan" di media sosial dan kembali fokus menyelesaikan peta perjalanan kita sendiri. Sebab muaranya, sejarah tidak akan mencatat seberapa banyak skandal yang kita komentari, melainkan seberapa akurat arah yang kita tempuh di tengah dunia yang tak pernah berhenti berisik. (*)
