Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 07:36 WIB
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)

Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)

Dunia saat ini sedang sangat "berisik". Tugas kita yang seharusnya fokus mempersiapkan diri menyambut bulan suci, seakan-akan dipaksa untuk terus menatap layar demi mencari latar belakang berbagai isu sosial. Dimulai dari bocornya file-file elit global, hingga isu perselingkuhan remeh yang anehnya justru dijadikan agenda sosial yang mendasar.

Namun, pernahkah kita bertanya: di balik kegaduhan yang sengaja diledakkan ini, peta besar apa yang sebenarnya sedang disembunyikan dari mata kita? Fenomena ini mengingatkan saya pada perjalanan Mas'ud Al-Baghdadi dalam novel Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye. Setelah tiga kali menamatkan buku ini, saya menyadari sebuah pengingat penting: bahwa di tengah badai peperangan, hal paling utama yang harus dijaga adalah akurasi kompas dan kejernihan arah, agar kita tidak sekonyong-konnyongnya hanyut dalam arus isu yang sengaja diciptakan.

Analogi Kapal Perompak dan Manipulasi Informasi

Mas'ud hanyalah seorang pembuat peta. Namun, takdir membawanya terjebak di dek kapal perompak yang tengah bersiap meruntuhkan sebuah kerajaan besar. Pada mulanya, Mas'ud mungkin merasa sial karena perjalanannya harus ditempuh bersama para "kriminal" laut. Namun seiring berjalannya waktu, ia menemukan sebuah kebenaran yang pahit: perlawanan para perompak muncul dari dendam yang tak tersampaikan atas penindasan sistemis.

Bagi mereka yang hanya melihat dari permukaan—atau hanya menelan mentah-mentah narasi resmi kerajaan—perompak adalah pembuat onar. Namun, melalui perspektif Mas'ud, Tere Liye menunjukkan bahwa kekejian yang dilakukan perompak seringkali hanyalah reaksi kecil dibandingkan penindasan terstruktur yang dilakukan oleh para elit negara. Di sinilah manipulasi informasi bermain; penguasa selalu punya cara untuk melabeli perlawanan sebagai kejahatan, agar masyarakat lupa mempertanyakan borok yang ada di dalam istana.

Bahaya Kehilangan "Peta" Pribadi di Tengah Debat Kusir

Realitas Mas’ud mengingatkan saya pada kondisi kita hari ini. Kita sering kali terjebak dalam debat kusir di kolom komentar, sibuk mencemooh para kriminal atau menghujat skandal elit, namun di saat yang sama kita melupakan "peta" atau tujuan hidup kita sendiri yang belum selesai. Mas’ud tetap teliti menarik garis pantai di tengah amuk badai dan denting pedang, sementara kita justru mudah terdistraksi oleh riuh rendah dunia maya.

Saya tidak bermaksud melarang diskusi publik. Namun, sangat disayangkan jika energi kolektif kita habis hanya untuk menelan mentah-mentah isu sosial yang sengaja digemborkan. Tanpa sadar, saat emosi kita dikuras habis oleh skandal yang tampak esensial, ada sistem-sistem besar yang mungkin tengah disahkan di balik layar tanpa pengawasan kita. Kita terlalu sibuk melihat ombak, hingga lupa bahwa nahkoda di kejauhan sedang mengubah arah kapal secara sepihak.

Baca Juga: Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut



Saya yakin, Ramadan kali ini akan terasa sangat berbeda. Terlihat sering kali munculnya isu-isu sosial yang membuat publik lebih fokus pada hal itu, bukan pada pemolesan navigasi diri pada bulan suci ini. Menjadi kritis terhadap isu sosial adalah sebuah keharusan, namun membiarkan diri hanyut dalam arus distraksi yang sengaja diciptakan adalah sebuah kerugian.

Mungkin ini saatnya kita meniru Mas'ud Al-Baghdadi: menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk "peperangan" di media sosial dan kembali fokus menyelesaikan peta perjalanan kita sendiri. Sebab muaranya, sejarah tidak akan mencatat seberapa banyak skandal yang kita komentari, melainkan seberapa akurat arah yang kita tempuh di tengah dunia yang tak pernah berhenti berisik. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ikon 08 Apr 2026, 13:19

Hikayat Gunung Kunci, Benteng Kamuflase Belanda di Tengah Kota Sumedang

Di balik hijaunya Gunung Kunci Sumedang, tersimpan sejarah benteng Belanda dan kisah pahit penahanan pejuang.

Tahura Gunung Kunci Sumedang. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 11:22

Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi.

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 08:38

Ruang Terakhir yang Kian Sempit

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 07 Apr 2026, 20:09

Rapor Hijau Perbankan Jawa Barat di Tengah Tren Pengetatan Sektor Unggulan

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat menunjukkan performa perbankan yang solid, meski dihadapkan tantangan diversifikasi sektor dan manajemen risiko kredit yang makin selektif.

Ilustrasi. Dinamika ekonomi global yang fluktuatif di awal tahun 2026 tidak menyurutkan ketahanan sektor jasa keuangan di Jawa Barat. (Sumber: Pixabay)
Bandung 07 Apr 2026, 19:47

Strategi Market Chicken Steak Bertahan di Tengah Geliat Kuliner Pasar Cihapit

Siapa sangka ada kelezatan steak di sudut pasar tradisional? Simak kisah Sutrisno mengubah peluang jadi keunikan kuliner di Pasar Cihapit yang kini jadi primadona.

Kios Market Chicken Steak milik Sutrisno yang menghadirkan menu Barat di tengah deretan kuliner tradisional Pasar Cihapit, Bandung. Meski berukuran terbatas, kios ini menjadi destinasi baru bagi pemburu kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Komunitas 07 Apr 2026, 18:44

Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

Ruang ini menjadi tempat berbagi cerita, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa batas, sekaligus mempererat hubungan antara teman tuli dan teman dengar dalam semangat saling memahami.

Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 07 Apr 2026, 16:23

Tumbuh Pesat! Penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat Tembus Rp186 Triliun, Kota Bandung Jadi Motor Utama

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat.

Ilustrasi. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 14:35

Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

Pendidik adalah agen pembelajar sepanjang hidup untuk memberikan stimulus kepada para murid dalam menuntun menumbuhkembangkan potensi secara kodrati.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 11:04

Kisah Pendatang yang Tak Sengaja Ciptakan ‘Batagor’ Makanan Favorit Kota Bandung

Batagor pertama kali muncul di Bandung pada tahun 1970-an.

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ikon 07 Apr 2026, 10:25

Hikayat Jalan Soekarno Hatta Bandung, Bypass Lurus Panjang Buatan Orde Baru

Dibangun pada 1980-an sebagai jalan elak, Jalan Soekarno Hatta kini berubah menjadi koridor padat yang merekam pertumbuhan Bandung dari pinggiran ke pusat aktivitas.

Suasana Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Irfan Al Faritsi/Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 08:57

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat.

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 18:12

Tantangan Komunikasi Perantau

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru.

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 06 Apr 2026, 17:02

Menghadapi "Paradoks Rebana", Antara Ambisi Industri dan Realitas Kompetensi Lokal

Kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Cirebon (Kota), Cirebon (Kabupaten), Indramayu, Majalengka, Kuningan hingga Subang kini tengah bersiap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Jawa Barat.

Kawasan Rebana kini telah didukung oleh konektivitas terbaik salah satunya Pelabuhan Patimban untuk ekspor-impor, yang merupakan magnet bagi investor global. (Sumber: portalkemhub.go.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 17:02

10 Netizen Terpilih Maret 2026: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan

Tulisan-tulisan terbaik yang masuk ke kanal Ayo Netizen sepanjang Maret 2026.

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Apr 2026, 15:46

Panduan Pendakian Gunung Gede Pangrango: Tiga Jalur Pilihan, Kuota, dan Biaya

Informasi jalur pendakian Gunung Gede Pangrango, sistem kuota, biaya SIMAKSI, serta tips penting agar pendakian aman dan sesuai aturan.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)