Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 11:09 WIB
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Laporan Toxic 20 bukan sekadar daftar 20 PLTU paling berisiko di Indonesia. Di balik angka-angka proyeksi kematian dini, kerugian ekonomi, dan hilangnya lapangan kerja, tersimpan desakan kebijakan yang lebih besar: menghentikan ketergantungan pada batu bara dan mendorong negara membuka data secara transparan.

Dalam dialog publik yang digelar di Gedung Indonesia Merdeka, peneliti Trend Asia, Novita Indri, menjelaskan bahwa dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.

“Kalau kita bicara dampak PLTU, ada dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung itu khususnya bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi, entah itu masalah udara atau air. Tapi dampak tidak langsungnya bisa sampai ke rantai pasok pangan dan perubahan iklim,” ujar Novita.

Menurutnya, wilayah seperti Cirebon, Indramayu, dan Pelabuhan Ratu—yang menjadi lokasi PLTU di Jawa Barat—merupakan kawasan pesisir dan pertanian yang selama ini menopang sektor perikanan dan pangan.

“Kita perlu melihat, bahan pangan Jawa Barat, termasuk Bandung, ditopang dari mana. Kalau wilayah-wilayah ini makin rusak akibat aktivitas PLTU, tentu akan berdampak pada rantai pasok pangan,” katanya.

Ia mencontohkan Cirebon yang dulu dikenal sebagai penghasil rajungan dan terasi. Kini, menurutnya, produksi tersebut menurun seiring terganggunya ekosistem pesisir.

Selain rantai pasok, Novita juga menyinggung kontribusi PLTU terhadap krisis iklim.

“Pembakaran batu bara itu signifikan melepas emisi. Kalau tertumpuk dalam puluhan tahun, itulah yang memicu perubahan iklim,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa mengaitkan peristiwa bencana tertentu secara langsung dengan PLTU tetap membutuhkan riset lanjutan.

“Kita masih butuh pengukuran dan penelitian lebih lanjut. Tapi ketika curah hujan makin intens sementara daya dukung lingkungan menurun, ini harus menjadi alarm,” katanya.

Transparansi Data yang Dipertanyakan

Dalam diskusi tersebut, Novita juga menyoroti keterbatasan akses publik terhadap data pemerintah.

“Sering kali kami terbentur data. Saat kami menyajikan data pemodelan, dianggap tidak valid. Tapi di sisi lain, data faktual yang lebih terbuka juga tidak pernah disediakan,” ujarnya.

Menurutnya, transparansi emisi, pengawasan lingkungan, serta data dampak kesehatan seharusnya dapat diakses publik agar perdebatan kebijakan tidak berhenti pada saling bantah.

Ia menilai, pemerintah daerah tidak bisa sepenuhnya berlindung di balik alasan bahwa kewenangan berada di pemerintah pusat.

“Bukan berarti daerah tidak punya peran. Pemerintah daerah lebih paham wilayahnya. Mereka seharusnya bisa melakukan analisis spesifik dan menyerahkannya ke pusat sebagai bahan pertimbangan,” katanya.

Novita menambahkan, setoran pajak dan kontribusi ekonomi industri, termasuk PLTU, seharusnya kembali kepada masyarakat dalam bentuk perlindungan kesehatan dan infrastruktur.

“Kalau PLTU berdampak, pengawasannya harus ketat. Jangan diserahkan ke masyarakat,” ujarnya.

Gugatan terhadap RUKN dan RUPTL

Langkah konkret yang ditempuh Trend Asia dan WALHI tidak berhenti pada diskusi publik. Keduanya menggugat dua dokumen perencanaan ketenagalistrikan nasional: RUKN (Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional) dan RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik).

“Ada dua gugatan yang sedang berjalan, yaitu RUKN dan RUPTL. Intinya, kami meminta revisi karena masih memuat rencana penambahan PLTU baru,” jelas Novita.

Menurutnya, meski Jawa Barat disebut tidak lagi menambah PLTU, rencana serupa masih muncul di wilayah lain.

“Kami minta supaya tidak ada lagi PLTU baru dan tidak ada lagi co-firing,” tegasnya.

Ia menilai, co-firing biomassa yang diklaim sebagai bagian dari transisi energi justru berpotensi menjadi solusi semu.

“Secara logika, kalau 90 persen masih batu bara dan hanya 10 persen biomassa, mayoritas tetap batu bara. Itu bukan transisi yang sesungguhnya,” katanya.

Pengembangan biomassa skala besar juga dinilai berisiko memicu alih fungsi hutan menjadi tanaman energi.

“Kalau hutan dialihkan, resapan air berkurang, risiko kekeringan dan longsor meningkat. Ini konsekuensi yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.

Jika gugatan dikabulkan, pemerintah wajib merevisi kedua dokumen tersebut.

“Kami berharap hakim mempertimbangkan dampak nyata yang sudah terjadi. PLTU sudah menimbulkan kerusakan, jadi tidak perlu ditambah,” katanya.

Peran Publik dan Mahasiswa

Selain jalur hukum dan advokasi kebijakan, Trend Asia dan WALHI juga memperluas ruang diskusi ke 20 wilayah yang masuk daftar Toxic 20.

“Kami akan terus membawa laporan ini ke berbagai daerah. Kalau kita diam, dampaknya justru akan makin besar,” ujar Novita.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk terlibat aktif.

“Bantu kami menyebarkan informasi ini. Bahasa riset sering teknis. Kami butuh mahasiswa, pers kampus, dan media sosial untuk membuatnya lebih mudah dipahami,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa perubahan individu saja tidak cukup.

“Masalahnya struktural, jadi perlu dorongan kolektif,” ujarnya.

Di tengah tarik-menarik kewenangan antara pusat dan daerah, laporan Toxic 20 menjelma lebih dari sekadar riset. Ia menjadi alat advokasi untuk mendorong transparansi, menguji kebijakan energi, dan mempertanyakan apakah transisi energi benar-benar dijalankan, atau sekadar menjadi retorika.

Bagi Jawa Barat, pertanyaannya kini semakin konkret: apakah pemerintah daerah akan terus menunggu keputusan pusat, atau mulai menyusun langkah preventif berbasis data demi melindungi warganya?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)