Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Laporan Toxic 20 bukan sekadar daftar 20 PLTU paling berisiko di Indonesia. Di balik angka-angka proyeksi kematian dini, kerugian ekonomi, dan hilangnya lapangan kerja, tersimpan desakan kebijakan yang lebih besar: menghentikan ketergantungan pada batu bara dan mendorong negara membuka data secara transparan.

Dalam dialog publik yang digelar di Gedung Indonesia Merdeka, peneliti Trend Asia, Novita Indri, menjelaskan bahwa dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.

“Kalau kita bicara dampak PLTU, ada dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung itu khususnya bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi, entah itu masalah udara atau air. Tapi dampak tidak langsungnya bisa sampai ke rantai pasok pangan dan perubahan iklim,” ujar Novita.

Menurutnya, wilayah seperti Cirebon, Indramayu, dan Pelabuhan Ratu—yang menjadi lokasi PLTU di Jawa Barat—merupakan kawasan pesisir dan pertanian yang selama ini menopang sektor perikanan dan pangan.

“Kita perlu melihat, bahan pangan Jawa Barat, termasuk Bandung, ditopang dari mana. Kalau wilayah-wilayah ini makin rusak akibat aktivitas PLTU, tentu akan berdampak pada rantai pasok pangan,” katanya.

Ia mencontohkan Cirebon yang dulu dikenal sebagai penghasil rajungan dan terasi. Kini, menurutnya, produksi tersebut menurun seiring terganggunya ekosistem pesisir.

Selain rantai pasok, Novita juga menyinggung kontribusi PLTU terhadap krisis iklim.

“Pembakaran batu bara itu signifikan melepas emisi. Kalau tertumpuk dalam puluhan tahun, itulah yang memicu perubahan iklim,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa mengaitkan peristiwa bencana tertentu secara langsung dengan PLTU tetap membutuhkan riset lanjutan.

“Kita masih butuh pengukuran dan penelitian lebih lanjut. Tapi ketika curah hujan makin intens sementara daya dukung lingkungan menurun, ini harus menjadi alarm,” katanya.

Transparansi Data yang Dipertanyakan

Dalam diskusi tersebut, Novita juga menyoroti keterbatasan akses publik terhadap data pemerintah.

“Sering kali kami terbentur data. Saat kami menyajikan data pemodelan, dianggap tidak valid. Tapi di sisi lain, data faktual yang lebih terbuka juga tidak pernah disediakan,” ujarnya.

Menurutnya, transparansi emisi, pengawasan lingkungan, serta data dampak kesehatan seharusnya dapat diakses publik agar perdebatan kebijakan tidak berhenti pada saling bantah.

Ia menilai, pemerintah daerah tidak bisa sepenuhnya berlindung di balik alasan bahwa kewenangan berada di pemerintah pusat.

“Bukan berarti daerah tidak punya peran. Pemerintah daerah lebih paham wilayahnya. Mereka seharusnya bisa melakukan analisis spesifik dan menyerahkannya ke pusat sebagai bahan pertimbangan,” katanya.

Novita menambahkan, setoran pajak dan kontribusi ekonomi industri, termasuk PLTU, seharusnya kembali kepada masyarakat dalam bentuk perlindungan kesehatan dan infrastruktur.

“Kalau PLTU berdampak, pengawasannya harus ketat. Jangan diserahkan ke masyarakat,” ujarnya.

Gugatan terhadap RUKN dan RUPTL

Langkah konkret yang ditempuh Trend Asia dan WALHI tidak berhenti pada diskusi publik. Keduanya menggugat dua dokumen perencanaan ketenagalistrikan nasional: RUKN (Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional) dan RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik).

“Ada dua gugatan yang sedang berjalan, yaitu RUKN dan RUPTL. Intinya, kami meminta revisi karena masih memuat rencana penambahan PLTU baru,” jelas Novita.

Menurutnya, meski Jawa Barat disebut tidak lagi menambah PLTU, rencana serupa masih muncul di wilayah lain.

“Kami minta supaya tidak ada lagi PLTU baru dan tidak ada lagi co-firing,” tegasnya.

Ia menilai, co-firing biomassa yang diklaim sebagai bagian dari transisi energi justru berpotensi menjadi solusi semu.

“Secara logika, kalau 90 persen masih batu bara dan hanya 10 persen biomassa, mayoritas tetap batu bara. Itu bukan transisi yang sesungguhnya,” katanya.

Pengembangan biomassa skala besar juga dinilai berisiko memicu alih fungsi hutan menjadi tanaman energi.

“Kalau hutan dialihkan, resapan air berkurang, risiko kekeringan dan longsor meningkat. Ini konsekuensi yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.

Jika gugatan dikabulkan, pemerintah wajib merevisi kedua dokumen tersebut.

“Kami berharap hakim mempertimbangkan dampak nyata yang sudah terjadi. PLTU sudah menimbulkan kerusakan, jadi tidak perlu ditambah,” katanya.

Peran Publik dan Mahasiswa

Selain jalur hukum dan advokasi kebijakan, Trend Asia dan WALHI juga memperluas ruang diskusi ke 20 wilayah yang masuk daftar Toxic 20.

“Kami akan terus membawa laporan ini ke berbagai daerah. Kalau kita diam, dampaknya justru akan makin besar,” ujar Novita.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk terlibat aktif.

“Bantu kami menyebarkan informasi ini. Bahasa riset sering teknis. Kami butuh mahasiswa, pers kampus, dan media sosial untuk membuatnya lebih mudah dipahami,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa perubahan individu saja tidak cukup.

“Masalahnya struktural, jadi perlu dorongan kolektif,” ujarnya.

Di tengah tarik-menarik kewenangan antara pusat dan daerah, laporan Toxic 20 menjelma lebih dari sekadar riset. Ia menjadi alat advokasi untuk mendorong transparansi, menguji kebijakan energi, dan mempertanyakan apakah transisi energi benar-benar dijalankan, atau sekadar menjadi retorika.

Bagi Jawa Barat, pertanyaannya kini semakin konkret: apakah pemerintah daerah akan terus menunggu keputusan pusat, atau mulai menyusun langkah preventif berbasis data demi melindungi warganya?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)