DARI MASA ke masa petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Keduanya merupakan bagian dari aktivitas ngabuburit masyarakat Sunda—meski kini bersaing dengan ngabuburit digital. Di kota-kota—meski sembunyi-sembunyi karena Petasan dilarang—anak-anak masih sering bermain Petasan--walaupun dengan Petasan kecil dengan suara yang tak terlalu kuat. Sementara, di pilemburan, keberadaan Lodong masih tetap berjaya dan dentuman kerasnya bak meriam sungguhan yang selalu dirindukan.
Penjual Petasan bisa ditangkap, bahkan dipenjara. Karena itu, peredaran Petasan dari Ramadan ke Ramadan selalu menjadi perhatian polisi. Pedagang yang kedapatan menjual Petasan berbahaya dan tidak sesuai ketentuan, akan diproses secara hukum.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak membeli dan menyalakan Petasan. Tidak hanya bisa mengganggu orang lain saat beribadah, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Di pilemburan, tak ada Petasan, Lodong pun jadi. Di kampung-kampung Lodong masih tetap menjadi mainan primadona mengisi waktu ngabuburit.. Misalnya, di Desa Gudang Kahuripan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, warga di kampung ini masih bermain Lodong dan—sore sore memasuki Ramadan--biasa berkumpul di lapangan di dataran yang lebih tinggi.
Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. Permainan ini sangat digemari karena hanya cukup dengan sebatang bambu berukuran besar yang banyak tumbuh di kampung-kampung sekitar mereka.
Bambu itu kemudian dilubangi. Lubang itu Adalah tempat memasukkan bahan bakar yang berupa karbit dan kelak menjadi tempat menyulutkan api. Sudah begitu. Lalu, karbit dimasukkan. Tunggu sebentar, dan lubang itu sulut dengan api. Duaaarrr! Akan terdengar suara dentuman keras seperti suara meriam sungguhan.

Modal untuk bermain lodong tergolong ringan. Bambu banyak tersedia di daerah mereka. Paling butuh sedikit uang buat beli karbit. Dan bermain lodong tidak terlalu membahayakan, tetapi bila yang memainkannya anak-anak, tetap perlu pengawasan dari orang yang lebi tua.
Belesong
Di Kabupaten Purwakarta bila Ramadan tiba-tiba sore-sore anak-anak mulai bergegas berangkat ke area persawahan tak jauh dari rumah mereka. Mereka memainkan permainan tradisional Belesong. Belesong ini terbuat dari kaleng bekas yang disambungkan menggunakan lakban hingga mencapai panjang kira-kira setengah hingga satu meter.
Di ujung Belesong itu ditambah bekas botol air mineral ditambah magnet korek api gas sebagai bahan peledaknya. Mereka bermain Belesong tidak sendirian, melainkan bersama teman-temannya.
Merek saling beradu kencang. Menurut mereka, bermain Belesong lebih aman dibandingkan Petasan atau Lodong karena tidak mengeluarkan percikan api dan hanya menghasilkan suara saja. (*)
