Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan Kamis 12 Feb 2026, 07:04 WIB
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)

Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)

Sebelum masuk bulan puasa tahun ini --apalagi nanti pas waktunya-- salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi. Pendek karena sengaja dibuat seringkas itu, dan atau pendek karena mayoritas hasil clipper dari durasi video lebih panjang. Para akademisi dunia mayoritas menyemati prilaku tersebut sebagai, “Info Bites.”

Menjadi telisikan serius dalam tulisan opini ini, terutama didasarkan premis terbaru Tingting Yan et al. (2024) dalam jurnal quartile 2, Frontier in Human Neuroscience, per 27 Juni 2024 lalu. 

Bahwa kecenderungan mengakses video pendek/ konten yang tidak utuh namun viral terutama di TikTok, reels Instagram, Youtube Shorts, hingga status Whatsapp, menyisakan ruang renung serius.  Musababnya, ujar peneliti dari Jurusan Psikologi dan Ilmu Perilaku Zhejiang University, Hangzhou, China, tersebut, info bites berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental. 

“Adanya korelasi negatif yang signifikan antara kecenderungan kecanduan video pendek dan indeks osilasi saraf yang terkait dengan jaringan kontrol eksekutif di area frontal. Semakin tinggi tingkat kecanduan, maka berdampak langsung pada fungsi otak yang mendasari kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan menciptakan kontrol diri yang lebih rendah,” tulisnya. 

Boom! Jika sekedar merujuk tesis riset tersebut, hal ini mencakup pula pada perilaku gandrung clipper berbau religi di tanah air. Baik kutipan ayat, sepenggal kalimat motivasi religius, tausiah asatiz sohor, alunan dzikir pagi petang, hingga seliweran ayat 1000 dirham pembuat kaya-raya. 

Situasi ini wajar terjadi karena sekalipun konten religi yang penuh nuansa ahsan, tidak kemudian membuat warganet terpaku melihat komplit seluruh video tersebut. Suara merdu qori tak jua membuat ingin mendengar utuh sekedar satu ayat pun, atau berhasrat merapal dzikir dari awal sampai akhir. 

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Yang kerap terjadi justru distraksi sisi eye catching (untuk tidak menyebut showbiz) dari konten religi tersebut. Alih-alih simak serius hingga resapi kalbu kontennya, justru mencari adakah penampakan yang keren, wah, dan sophisticated dari para aktor yang ada di video tersebut. 

Apabila seekor ikan koki perlu 8 detik dalam melihat dan memutuskan apakah akan terus fokus pada suatu objek di hadapannya. Maka, rasa-rasanya, orang yang gandrung info bites religi memiliki ambang batas 3-5 detik saja sebelum memutuskan manteng/tidak. 

Karenanya, penulis pernah melihat, netizen lebih sibuk menulis komentar karena kesalahan teknis dari “bintang” clipper. Mulai dari salah ucap, busana yang dinilai tidak konkuren dengan situasi kondisi, hingga ekspresi wajah qoriah –dibandingkan komentari substansi berbasis ayat/hadis.

Sekjen PP Muhammadiyah, yang kini Mendikdasmen RI, Prof Abdul Mu’ti (2016) sejak lama memitigasi dan mewaspadai hal tersebut. Menurutnya, dakwah digital selain punya daya lesat maksimal, juga beresiko dengan menawarkan konten tidak utuh sehingga memungkinkan salah paham. 

Maka, setidaknya pada keluarga kita masing-masing, sangat perlu kita perhatikan bagaimana posibilitas info bites religi menimpa pula anak, istri, ponakan, dst. Setidak-tidaknya, perlu kita ingatkan akan bahayanya untuk menumpulkan kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Plus mengajak mereka untuk bersama seimbangkan diri dengan ikut pola akses “tradisional” yakni mengakses konten religi secara talaqqi. 

Ini dirasa mendesak ketika kita lihat hasil survei Sharing Vision (2025) pimpinan Dr Dimitri Mahayana. Menurutnya, generasi Y dan Z (dua kelompok usia produktif) saat ini menghadapi masalah kecanduan digital serius. Secara khusus, berdasarkan Internet Addiction Test (IAT) versi Kimberly Young, 3,3 persen responden generasi Y dan 4,5 persen responden generasi Z dikategorikan memiliki tingkat kecanduan internet yang berat (severe). Jika dikuantifikasian, maka pada tahun 2025 sedikitnya sekitar 5,65 juta orang muda sudah berada di zona kecanduan severe

Detoksifikasi Info Bites

Ada tawaran menarik dalam mengurangi candu info bites dari Jordan Peterson dalam 12 Rules for Life (2018). Beberapa poin penting layak dicoba untuk semua pembaca AyoBandung khususnya dan audiens media massa pada umumnya. 

Pertama, jangan biarkan tubuh membungkuk pada layar, letakkan ponsel sejajar mata. Hal ini akan mencegah sakit leher atau punggung sekaligus membantu masyarakat lebih kuat dan siap menghadapi hari. 

Kedua, pastikan hanya akses yang bermakna, bukan yang sekadar viral dan mudah. Konten instan sering mengisi waktu tanpa makna. Jadi, daripada scrolling tanpa tujuan, bisa gunakan untuk membaca buku digital, mendengarkan podcast bermutu, hingga menjalankan meditasi ringan.

Ketiga, berjejaringlah dengan orang yang menginginkan terbaik untuk Anda. Secara digital, ini berarti memilah akun atau teman maya yang positif dan sehat. Dalam detoksifikasi digital, unfollow-lah akun yang memicu kecemasan. Beranilah untuk ganti dengan interaksi nyata seperti panggilan suara/video atau pertemuan tatap muka rutin.

Keempat, jangan biarkan keluarga Anda melakukan hal yang membuat Anda tidak suka mereka. Dalam konteks gawai, orang tua bertanggung jawab membantu anak tidak kecanduan. Kita bisa menerapkan aturan semacam no gadget saat makan malam, lantas gantilah waktu itu untuk berbicara bersama atau aktivitas keluarga lain.

Kesembilan, anggap selalu orang yang Anda dengar, mungkin tahu sesuatu tidak kita ketahui dan menawarkan hal baru dipelajari. Artinya membuka telinga terhadap wawasan bermakna. Dengarkan tayangan mendalam di media sosial, ikuti webinar berkualitas, dan juga mematikan notifikasi saat berdiskusi langsung dengan orang lain.

Akhirul kalam, jangan sampai Ramadhan beberapa hari ke depan (juga di luar bulan puasa), waktu terbuang sia-sia saat berselancar. Apalagi jika sampai menjadikan atas nama konten religi, kita seolah memiliki garda moral justifikasi info bites. Seperti sempurna, padahal kosong .... (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)