Sebelum masuk bulan puasa tahun ini --apalagi nanti pas waktunya-- salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi. Pendek karena sengaja dibuat seringkas itu, dan atau pendek karena mayoritas hasil clipper dari durasi video lebih panjang. Para akademisi dunia mayoritas menyemati prilaku tersebut sebagai, “Info Bites.”
Menjadi telisikan serius dalam tulisan opini ini, terutama didasarkan premis terbaru Tingting Yan et al. (2024) dalam jurnal quartile 2, Frontier in Human Neuroscience, per 27 Juni 2024 lalu.
Bahwa kecenderungan mengakses video pendek/ konten yang tidak utuh namun viral terutama di TikTok, reels Instagram, Youtube Shorts, hingga status Whatsapp, menyisakan ruang renung serius. Musababnya, ujar peneliti dari Jurusan Psikologi dan Ilmu Perilaku Zhejiang University, Hangzhou, China, tersebut, info bites berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental.
“Adanya korelasi negatif yang signifikan antara kecenderungan kecanduan video pendek dan indeks osilasi saraf yang terkait dengan jaringan kontrol eksekutif di area frontal. Semakin tinggi tingkat kecanduan, maka berdampak langsung pada fungsi otak yang mendasari kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan menciptakan kontrol diri yang lebih rendah,” tulisnya.
Boom! Jika sekedar merujuk tesis riset tersebut, hal ini mencakup pula pada perilaku gandrung clipper berbau religi di tanah air. Baik kutipan ayat, sepenggal kalimat motivasi religius, tausiah asatiz sohor, alunan dzikir pagi petang, hingga seliweran ayat 1000 dirham pembuat kaya-raya.
Situasi ini wajar terjadi karena sekalipun konten religi yang penuh nuansa ahsan, tidak kemudian membuat warganet terpaku melihat komplit seluruh video tersebut. Suara merdu qori tak jua membuat ingin mendengar utuh sekedar satu ayat pun, atau berhasrat merapal dzikir dari awal sampai akhir.

Yang kerap terjadi justru distraksi sisi eye catching (untuk tidak menyebut showbiz) dari konten religi tersebut. Alih-alih simak serius hingga resapi kalbu kontennya, justru mencari adakah penampakan yang keren, wah, dan sophisticated dari para aktor yang ada di video tersebut.
Apabila seekor ikan koki perlu 8 detik dalam melihat dan memutuskan apakah akan terus fokus pada suatu objek di hadapannya. Maka, rasa-rasanya, orang yang gandrung info bites religi memiliki ambang batas 3-5 detik saja sebelum memutuskan manteng/tidak.
Karenanya, penulis pernah melihat, netizen lebih sibuk menulis komentar karena kesalahan teknis dari “bintang” clipper. Mulai dari salah ucap, busana yang dinilai tidak konkuren dengan situasi kondisi, hingga ekspresi wajah qoriah –dibandingkan komentari substansi berbasis ayat/hadis.
Sekjen PP Muhammadiyah, yang kini Mendikdasmen RI, Prof Abdul Mu’ti (2016) sejak lama memitigasi dan mewaspadai hal tersebut. Menurutnya, dakwah digital selain punya daya lesat maksimal, juga beresiko dengan menawarkan konten tidak utuh sehingga memungkinkan salah paham.
Maka, setidaknya pada keluarga kita masing-masing, sangat perlu kita perhatikan bagaimana posibilitas info bites religi menimpa pula anak, istri, ponakan, dst. Setidak-tidaknya, perlu kita ingatkan akan bahayanya untuk menumpulkan kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Plus mengajak mereka untuk bersama seimbangkan diri dengan ikut pola akses “tradisional” yakni mengakses konten religi secara talaqqi.
Ini dirasa mendesak ketika kita lihat hasil survei Sharing Vision (2025) pimpinan Dr Dimitri Mahayana. Menurutnya, generasi Y dan Z (dua kelompok usia produktif) saat ini menghadapi masalah kecanduan digital serius. Secara khusus, berdasarkan Internet Addiction Test (IAT) versi Kimberly Young, 3,3 persen responden generasi Y dan 4,5 persen responden generasi Z dikategorikan memiliki tingkat kecanduan internet yang berat (severe). Jika dikuantifikasian, maka pada tahun 2025 sedikitnya sekitar 5,65 juta orang muda sudah berada di zona kecanduan severe!
Detoksifikasi Info Bites
Ada tawaran menarik dalam mengurangi candu info bites dari Jordan Peterson dalam 12 Rules for Life (2018). Beberapa poin penting layak dicoba untuk semua pembaca AyoBandung khususnya dan audiens media massa pada umumnya.
Pertama, jangan biarkan tubuh membungkuk pada layar, letakkan ponsel sejajar mata. Hal ini akan mencegah sakit leher atau punggung sekaligus membantu masyarakat lebih kuat dan siap menghadapi hari.
Kedua, pastikan hanya akses yang bermakna, bukan yang sekadar viral dan mudah. Konten instan sering mengisi waktu tanpa makna. Jadi, daripada scrolling tanpa tujuan, bisa gunakan untuk membaca buku digital, mendengarkan podcast bermutu, hingga menjalankan meditasi ringan.
Ketiga, berjejaringlah dengan orang yang menginginkan terbaik untuk Anda. Secara digital, ini berarti memilah akun atau teman maya yang positif dan sehat. Dalam detoksifikasi digital, unfollow-lah akun yang memicu kecemasan. Beranilah untuk ganti dengan interaksi nyata seperti panggilan suara/video atau pertemuan tatap muka rutin.
Keempat, jangan biarkan keluarga Anda melakukan hal yang membuat Anda tidak suka mereka. Dalam konteks gawai, orang tua bertanggung jawab membantu anak tidak kecanduan. Kita bisa menerapkan aturan semacam no gadget saat makan malam, lantas gantilah waktu itu untuk berbicara bersama atau aktivitas keluarga lain.
Kesembilan, anggap selalu orang yang Anda dengar, mungkin tahu sesuatu tidak kita ketahui dan menawarkan hal baru dipelajari. Artinya membuka telinga terhadap wawasan bermakna. Dengarkan tayangan mendalam di media sosial, ikuti webinar berkualitas, dan juga mematikan notifikasi saat berdiskusi langsung dengan orang lain.
Akhirul kalam, jangan sampai Ramadhan beberapa hari ke depan (juga di luar bulan puasa), waktu terbuang sia-sia saat berselancar. Apalagi jika sampai menjadikan atas nama konten religi, kita seolah memiliki garda moral justifikasi info bites. Seperti sempurna, padahal kosong .... (*)
