Religiusitas Pengemis

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tanggapan Warga Soal Perda Larangan Beri Uang Pada PMKS di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Tanggapan Warga Soal Perda Larangan Beri Uang Pada PMKS di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bila kita melewati titik-titik strategis, seperti lampu merah, halte, terminal (Cicaheum, Leuwipanjang), termasuk terminal bayangan elf di kawasan Bundaran Cibiru, kita acap kali melihat para pengemis, anak jalanan yang mencari belas kasih pengendara (motor, mobil) dan pejalan kaki. Pemandangan ini seolah-olah menjadi bagian dari rutinitas jalanan kota, hadir tanpa pernah benar-benar hilang.

Rupanya di balik wajah mereka yang meminta belas kasihan, tersimpan segala persoalan sosial yang mendera dan mendalam. Rasa iba sering kali mendorong orang untuk berbagi, ya sekadar memberi recehan, tapi pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan, sampai kapan situasi ini terus berulang dan terjadi?

Kehadiran pengemis, anak jalanan tidak hanya mengingatkan pada sisi rapuh kehidupan perkotaan, melainkan menantang bagi kita untuk lebih peka terhadap ketidakadilan sosial yang melahirkan kondisi tak berdaya ini. 

Bandung, dengan citra sebagai kota kreatif dan tujuan wisata, menyimpan ironi di sudut-sudut jalannya. Di satu sisi, pembangunan dan modernitas terus digerakkan. Nyatanya pada sisi lain, masih ada wajah-wajah yang tersisih dari arus kesejahteraan, kemiskinan.

Maraknya aktivitas ini harus menjadi refleksi bersama tentang pembangunan sejati bukan hanya soal infrastruktur megah, wah, justru yang harus dicamkan bagaimana setiap warga, terutama kelompok yang paling rentan ini mendapat ruang hidup yang layak dan bermartabat.

Konon, penghasilan dari mengemis, mengamen yang mencapai  14 juta (Rp 10.920.000-Rp 14.040.000) dalam sebulan menjadi faktor tumbuh suburnya para pengemis di Kota Bandung ini. Apalagi dengan adanya "kampung pengemis" di wilayah Sukajadi tepatnya di Kelurahan Sukabungah pada RW 04 dan RW 11 (Cibarengkok) menjadi bukti nyata atas pekerja "nyaba", "turun ka jalan", "mangkat",  “milari anu welas asih”, dan “milari anu Ridho”.  

Alkisah, Munah, perempuan tua yang setiap hari duduk bersila di salah satu trotoar simpang empat Jalan Sudirman-Soekarno Hatta, Rajawali dan Cibeureum, Bandung, mengaku selalu mendapatkan uang dari para pengendara dengan hanya menadahkan tangan setiap kali lampu merah menyala. Ada dua (tiga) pengendara yang melempar recehan, lima ratus, seribu, (dua ribu) rupiah saat lampu merah menyala.   

Dengan kondisi ini Munah mendapat kesempatan 30 kali menadahkan tangan. Jika setiap kali lampu merah menyala Munah mendapat Rp 2.000, dalam satu jam penghasilannya Rp 60.000. Bila dalam sehari ia "bekerja" tujuh sampai sembilan jam, maka penghasilannya sehari itu Rp 420.000-Rp 540.000. Kalau dalam sebulan, katakanlah 30 hari dikurang empat hari libur, Munah bisa terus "bekerja" 7-9 jam sehari di perempatan jalan protokol itu, walhasil total penghasilannya sebulan akan mencapai Rp 10.920.000-Rp 14.040.000. (Tribun Jabar, 22/2/2017).

Pengemis dan pengamen di Kota Bandung belakangan ini makin marak ditemui, masyarakat diminta untuk tidak memberikan uang pada PPKS. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis dan pengamen di Kota Bandung belakangan ini makin marak ditemui, masyarakat diminta untuk tidak memberikan uang pada PPKS. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung jadi 'surga' Pengemis

Aktivitas kaum Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), seperti gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Bandung terus meningkat seiring citra Bandung sebagai kota wisata. 

Data dari Dinas Sosial, mayoritas pengemis bukan warga asli, bahkan ada yang berasal dari luar pulau. Kehadiran mereka biasanya melonjak menjelang Idul Fitri atau saat menunggu musim panen di kampung halaman.

Kepala Bidang Rehabilitasi Dinsos, Galuh Karsana, menyebutkan dalam sebulan seorang pengemis bisa meraup hingga Rp14 juta. “Bayangkan saja selama dua jam berdiam di perempatan jalan mereka akan dapat paling rendah Rp 40.000," ujarnya.

Para pengemis umumnya tinggal di kos-kosan kecil dengan sewa Rp350–400 ribu per bulan dan beroperasi di pinggiran kota agar mudah kabur dari razia. Aksi mereka terorganisir, dengan sistem tukar lokasi untuk menghindari petugas.

Galuh menegaskan, donasi masyarakat di jalan menjadi pemicu utama maraknya pengemis. “Untuk itu kami berpesan untuk tidak berdonasi di jalan. Lebih baik berdonasi pada lembaga resmi," ujarnya.

Meskipun ada ancaman hukuman 10 tahun bagi koordinator pengemis, Bandung tetap menjadi "surga" dengan tujuan utama untuk mengemis. (Ayo Bandung, Selasa, 28 Februari 2017 | 17:52 WIB)

Kampung pengemis di Kota Bandung, Rabu (23/11/2016). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Husnul)
Kampung pengemis di Kota Bandung, Rabu (23/11/2016). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Husnul)

Keberagamaan Pengemis

Memang, selama pemerintah tidak berdaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pekerjaan susah didapat, maka dipastikan para “milari anu welas asih” ini akan terus langgeng. Pasalnya, keberadaan pekerja "turun ka jalan"  ini tidak hanya berkaitan erat dengan kemiskinan, ekonomi, budaya, sosial, tapi dengan sikap keberagamaan para “milari anu Ridho” dalam menjalani kehidupan ini agar tetap bertahan dan terjaga keberlangsungannya.

Betapa tidak, hasil penelitian Heny Gustini Nuraeni tentang keberagamaan pengemis: studi kasus di kampung pengemis, Sukajadi Kota Bandung menguraikan kemiskinan merupakan isu penting yang tidak hanya menjadi tanggungjawab negara, tapi menjadi perhatian agama (Islam).

Ajaran-ajaran agama (Islam) sesungguhnya tidak dapat dilaksanakan secara maksimal dan komperhensif, jika penganutnya tidak mampu secara finansial.Ini tentu akan berpengaruh terhadap pengalaman keagamaan yang dimiliki penganut agama. 

Disertasi Program Religious Studies Pascasarjana UIN SGD Bandung ini menunjukkan; Pertama, di kalangan pengemis ditemukan adanya keyakinan terhadap Tuhan, nenek moyang mereka, mitos; adanya penggunaan simbol-simbol keagamaan berupa doa-doa, jampi-jampi dan penggunaan magic.

Kedua, dalam perbuatan, ritual ada pengemis yang rajin melakukan shalat dan ada pula yang malas-malasan melaksanakannya, bahkan ada yang menjalankan puasa dan berhaji. Diantara pengemis yang memiliki kepercayaan terhadap mitos, ritual yang dilakukan berupa ziarah kubur, mendatangi ahli magic, melaksanakan puasa wedal, puasa mutih dan melakukan semedi.

Ketiga, semua itu bertujuan untuk melancarkan usaha mereka dalam persekutuan keagamaan ditemukan bahwa terdapat pengemis yang aktif di majelis taklim dan memiliki jemaah sendiri, bahkan berperan sebagai guru mengaji.

Dari temuan di atas dapat disimpulkan bahwa agama hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan mereka, apakah ekonomi ataupun yang lainya. Mengingat pengemis merupakan sebuah budaya dan menjadi kultur sosial, agama tidak dapat dipisahkan dari budaya mengemis ini. 

Bagi Ambu Heny keberagamaan pengemis merupakan ekspresi dan aktualisasi keagamaan yang diyakini pengemis dalam kehidupannya baik saat mereka berada di tempat tinggal mereka, maupun saat melaksanakan aktivitasnya sebagai pengemis.

Pengemis sebagai manusia memiliki hasrat keberagamaan yang memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mampu memberi makna yang bisa menjalankan hubungan antara dirinya dengan Tuhan.Mereka memiliki keterlibatan emosi dan sentimen pada pelaksanaan ajaran agama yang diyakininya.

Dengan demikian, penelitian ini menyatakan; Pertama, pengemis sebagai masyarakat marginal memiliki cara beragama yang khas. Keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan dan leluhur, ritual keagamaan yang disesuaikan dengan keadaan dirinya, tanpa harus memperdulikan aturan (tata tertib) sebenarnya. Bagi mereka berdoa, puji, terima kasih, penilaian diri sendiri, tobat merupakan tingkah laku agama. Agama diperlukan sesuai dengan kebutuhan meraka. 

Kedua, menjadi pengemis merupakan sebuah budaya kemiskinan dan mengemis sudah menjadi kultur sosial bagi sebagian masyarakat. Karena itu agama tidak dapat dipisahkan dari budaya mengemis. (Disertasi Heny Gustini Nuraeni, 2014:ii, 345-347).

Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Komodifikasi Agama

Kendati dalam masyarakat ada anggapan menjadi pengemis itu termasuk dalam pekerjaan hina, bahkan sering disebut sebagai sampah masyarakat. Rupanya di “Kampung Pengemis”, yang berada di RW 04 dan di RW 11 (Cibarengkok) Kelurahan Sukabungah Kecamatan Sukajadi pengemis itu pekerjaan “mulia, sungguh-sungguh”. Walaupun agama kerap dijadikan komoditi oleh para “milari anu Ridho” ini.   

Dalam pandangan mereka, menjadi pengemis bukan sebuah perbuatan yang bertentangan dengan norma keagamaan, justru mereka berfikir bahwa norma agama yang ada telah memberikan inspirasi yang menakjubkan bagi pekerjaannya.

Apalagi mereka sering mendengarkan ceramah para Ustad yang mengatakan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Ini dianggap sebagai peluang dan memberi kesempatan kepada para konsumen untuk memberi mereka uang dan yang pasti pahala untuk para dermawan.

Uniknya, pengemis mempunyai gaya hidup hedonis serba materi, agama hanya hayalan belaka. Ini sejalan dengan pemikiran Karl Marx, bahwa manusia merealisasikan diri hanya dalam khayalan agama, karena struktur masyarakat nyata tidak mengijinkan manusia merealisasikan diri dengan sungguh-sungguh.

Para pengemis tidak benar-benar menghayati keagamaan yang mereka anut, ritual yang dilakukan seperti shalat dan puasa tidak merubah pola pikir dan cara hidup mereka yang tetap memilih menjadi pengemis, sesudah kaya pun mereka tetap saja mengemis, bahkan aktivitas itu ditularkan kepada keturunannya hingga empat generasi. 

Rupanya, urusan model pengemis kerap menggunakan simbol-simbol keagamaan; dengan cara memberikan doa pada yang memberikan uang, mampu mengetuk rasa keberagamaan para dermawan, membaca Al-Quran dan mendemonstrasikan hafalan Quran, menggunakan magic dan mitos, membaca solawat dengan diiringi rebana, pengemis wanita memakai baju muslim dan laki-laki memakai baju koko.

Untuk modus operandi pengemis ada 18 bentuk; datang dari rumah ke rumah, menggendong bayi, manusia silver, menuntun tunanetra, menggendong orang cacat, berpura-pura tidak melihat, membawa anak yatim dan proposal, membawa monyet, menari dan menggunakan topeng, membawa kemoceng, menggunakan alat tradisional seperti kecapi dan suling, duduk sambil membaca Al-Quran, menggunakan hafalan shalawat dan Al-Quran, membaca shalawat dan tape recorder, membawa kotak amal untuk masjid, bermain drama di bis kota, berdakwah di bis kota dan memperalat anak asuh.     

Baca Juga: Komunikasi Politik Pajak

Nyatanya di kalangan pengemis ini mereka melakukan modifikasi terhadap ajaran-ajaran agama sehingga mampu menghasilkan keuntungan secara ekonomi sesuai dengan keinginan dan harapan, mereka telah melakukan komodifikasi keagamaan. Barang-barang keagamaan dikalangan pengemis muncul dalam berbagai bentuk, rupa, dan warna. Menghafal Al-Qur’an, doa, jampi-jampi, berbagai jenis minyak pengasihan, rajah untuk mendapatkan kekuatan, sesaji, untuk manusia yang dianggap keramat. Ini semua memiliki nilai pertukaran dan kegunaan bermotifkan ekonomi (uang). (Jurnal Dakwah, Vol. XVI, No. 2 Tahun 2015:258-289)

Walhasil, tumbuh suburnya pengemis di Kota Bandung bukan hanya dilatar belakangi oleh faktor kemiskinan, sosial, budaya, susahnya mencari pekerjaan, ketidak memiliki kemampuan (ahli) dalam bekerja, tapi pemahaman keagamaan yang menerima takdirnya sebagai pengemis yang tidak bisa dirubah menjadi pemicu keberadaan “kampung pengemis.” Ini perlu kita kritisi cara berpikir dan berkeyakinan model itu, sehingga terlahir teologi aktif yang terus menggerakkan hati, pikiran, keyakinan untuk bekerja dan mendapatkan uang.  

Tentunya, upaya mengentaskan persoalan pengemis, pengamen ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah Kota Bandung, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan persoalan pengemis dan kemiskinan ini.

Caranya carilah nafkah, sesuai dengan kemampuan masing-masing yang telah diberikan bekal, potensi yang baik dan halal, bukan mengandalkan belas kasihan orang untuk menerima dermaan dan sedekah. Mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan umat yang selalu aktif memberi daripada menerima. Apalagi meninta-minta dengan cara paksa. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)