Religiusitas Pengemis

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tanggapan Warga Soal Perda Larangan Beri Uang Pada PMKS di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Tanggapan Warga Soal Perda Larangan Beri Uang Pada PMKS di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bila kita melewati titik-titik strategis, seperti lampu merah, halte, terminal (Cicaheum, Leuwipanjang), termasuk terminal bayangan elf di kawasan Bundaran Cibiru, kita acap kali melihat para pengemis, anak jalanan yang mencari belas kasih pengendara (motor, mobil) dan pejalan kaki. Pemandangan ini seolah-olah menjadi bagian dari rutinitas jalanan kota, hadir tanpa pernah benar-benar hilang.

Rupanya di balik wajah mereka yang meminta belas kasihan, tersimpan segala persoalan sosial yang mendera dan mendalam. Rasa iba sering kali mendorong orang untuk berbagi, ya sekadar memberi recehan, tapi pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan, sampai kapan situasi ini terus berulang dan terjadi?

Kehadiran pengemis, anak jalanan tidak hanya mengingatkan pada sisi rapuh kehidupan perkotaan, melainkan menantang bagi kita untuk lebih peka terhadap ketidakadilan sosial yang melahirkan kondisi tak berdaya ini. 

Bandung, dengan citra sebagai kota kreatif dan tujuan wisata, menyimpan ironi di sudut-sudut jalannya. Di satu sisi, pembangunan dan modernitas terus digerakkan. Nyatanya pada sisi lain, masih ada wajah-wajah yang tersisih dari arus kesejahteraan, kemiskinan.

Maraknya aktivitas ini harus menjadi refleksi bersama tentang pembangunan sejati bukan hanya soal infrastruktur megah, wah, justru yang harus dicamkan bagaimana setiap warga, terutama kelompok yang paling rentan ini mendapat ruang hidup yang layak dan bermartabat.

Konon, penghasilan dari mengemis, mengamen yang mencapai  14 juta (Rp 10.920.000-Rp 14.040.000) dalam sebulan menjadi faktor tumbuh suburnya para pengemis di Kota Bandung ini. Apalagi dengan adanya "kampung pengemis" di wilayah Sukajadi tepatnya di Kelurahan Sukabungah pada RW 04 dan RW 11 (Cibarengkok) menjadi bukti nyata atas pekerja "nyaba", "turun ka jalan", "mangkat",  “milari anu welas asih”, dan “milari anu Ridho”.  

Alkisah, Munah, perempuan tua yang setiap hari duduk bersila di salah satu trotoar simpang empat Jalan Sudirman-Soekarno Hatta, Rajawali dan Cibeureum, Bandung, mengaku selalu mendapatkan uang dari para pengendara dengan hanya menadahkan tangan setiap kali lampu merah menyala. Ada dua (tiga) pengendara yang melempar recehan, lima ratus, seribu, (dua ribu) rupiah saat lampu merah menyala.   

Dengan kondisi ini Munah mendapat kesempatan 30 kali menadahkan tangan. Jika setiap kali lampu merah menyala Munah mendapat Rp 2.000, dalam satu jam penghasilannya Rp 60.000. Bila dalam sehari ia "bekerja" tujuh sampai sembilan jam, maka penghasilannya sehari itu Rp 420.000-Rp 540.000. Kalau dalam sebulan, katakanlah 30 hari dikurang empat hari libur, Munah bisa terus "bekerja" 7-9 jam sehari di perempatan jalan protokol itu, walhasil total penghasilannya sebulan akan mencapai Rp 10.920.000-Rp 14.040.000. (Tribun Jabar, 22/2/2017).

Pengemis dan pengamen di Kota Bandung belakangan ini makin marak ditemui, masyarakat diminta untuk tidak memberikan uang pada PPKS. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis dan pengamen di Kota Bandung belakangan ini makin marak ditemui, masyarakat diminta untuk tidak memberikan uang pada PPKS. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung jadi 'surga' Pengemis

Aktivitas kaum Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), seperti gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Bandung terus meningkat seiring citra Bandung sebagai kota wisata. 

Data dari Dinas Sosial, mayoritas pengemis bukan warga asli, bahkan ada yang berasal dari luar pulau. Kehadiran mereka biasanya melonjak menjelang Idul Fitri atau saat menunggu musim panen di kampung halaman.

Kepala Bidang Rehabilitasi Dinsos, Galuh Karsana, menyebutkan dalam sebulan seorang pengemis bisa meraup hingga Rp14 juta. “Bayangkan saja selama dua jam berdiam di perempatan jalan mereka akan dapat paling rendah Rp 40.000," ujarnya.

Para pengemis umumnya tinggal di kos-kosan kecil dengan sewa Rp350–400 ribu per bulan dan beroperasi di pinggiran kota agar mudah kabur dari razia. Aksi mereka terorganisir, dengan sistem tukar lokasi untuk menghindari petugas.

Galuh menegaskan, donasi masyarakat di jalan menjadi pemicu utama maraknya pengemis. “Untuk itu kami berpesan untuk tidak berdonasi di jalan. Lebih baik berdonasi pada lembaga resmi," ujarnya.

Meskipun ada ancaman hukuman 10 tahun bagi koordinator pengemis, Bandung tetap menjadi "surga" dengan tujuan utama untuk mengemis. (Ayo Bandung, Selasa, 28 Februari 2017 | 17:52 WIB)

Kampung pengemis di Kota Bandung, Rabu (23/11/2016). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Husnul)
Kampung pengemis di Kota Bandung, Rabu (23/11/2016). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Husnul)

Keberagamaan Pengemis

Memang, selama pemerintah tidak berdaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pekerjaan susah didapat, maka dipastikan para “milari anu welas asih” ini akan terus langgeng. Pasalnya, keberadaan pekerja "turun ka jalan"  ini tidak hanya berkaitan erat dengan kemiskinan, ekonomi, budaya, sosial, tapi dengan sikap keberagamaan para “milari anu Ridho” dalam menjalani kehidupan ini agar tetap bertahan dan terjaga keberlangsungannya.

Betapa tidak, hasil penelitian Heny Gustini Nuraeni tentang keberagamaan pengemis: studi kasus di kampung pengemis, Sukajadi Kota Bandung menguraikan kemiskinan merupakan isu penting yang tidak hanya menjadi tanggungjawab negara, tapi menjadi perhatian agama (Islam).

Ajaran-ajaran agama (Islam) sesungguhnya tidak dapat dilaksanakan secara maksimal dan komperhensif, jika penganutnya tidak mampu secara finansial.Ini tentu akan berpengaruh terhadap pengalaman keagamaan yang dimiliki penganut agama. 

Disertasi Program Religious Studies Pascasarjana UIN SGD Bandung ini menunjukkan; Pertama, di kalangan pengemis ditemukan adanya keyakinan terhadap Tuhan, nenek moyang mereka, mitos; adanya penggunaan simbol-simbol keagamaan berupa doa-doa, jampi-jampi dan penggunaan magic.

Kedua, dalam perbuatan, ritual ada pengemis yang rajin melakukan shalat dan ada pula yang malas-malasan melaksanakannya, bahkan ada yang menjalankan puasa dan berhaji. Diantara pengemis yang memiliki kepercayaan terhadap mitos, ritual yang dilakukan berupa ziarah kubur, mendatangi ahli magic, melaksanakan puasa wedal, puasa mutih dan melakukan semedi.

Ketiga, semua itu bertujuan untuk melancarkan usaha mereka dalam persekutuan keagamaan ditemukan bahwa terdapat pengemis yang aktif di majelis taklim dan memiliki jemaah sendiri, bahkan berperan sebagai guru mengaji.

Dari temuan di atas dapat disimpulkan bahwa agama hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan mereka, apakah ekonomi ataupun yang lainya. Mengingat pengemis merupakan sebuah budaya dan menjadi kultur sosial, agama tidak dapat dipisahkan dari budaya mengemis ini. 

Bagi Ambu Heny keberagamaan pengemis merupakan ekspresi dan aktualisasi keagamaan yang diyakini pengemis dalam kehidupannya baik saat mereka berada di tempat tinggal mereka, maupun saat melaksanakan aktivitasnya sebagai pengemis.

Pengemis sebagai manusia memiliki hasrat keberagamaan yang memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mampu memberi makna yang bisa menjalankan hubungan antara dirinya dengan Tuhan.Mereka memiliki keterlibatan emosi dan sentimen pada pelaksanaan ajaran agama yang diyakininya.

Dengan demikian, penelitian ini menyatakan; Pertama, pengemis sebagai masyarakat marginal memiliki cara beragama yang khas. Keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan dan leluhur, ritual keagamaan yang disesuaikan dengan keadaan dirinya, tanpa harus memperdulikan aturan (tata tertib) sebenarnya. Bagi mereka berdoa, puji, terima kasih, penilaian diri sendiri, tobat merupakan tingkah laku agama. Agama diperlukan sesuai dengan kebutuhan meraka. 

Kedua, menjadi pengemis merupakan sebuah budaya kemiskinan dan mengemis sudah menjadi kultur sosial bagi sebagian masyarakat. Karena itu agama tidak dapat dipisahkan dari budaya mengemis. (Disertasi Heny Gustini Nuraeni, 2014:ii, 345-347).

Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Komodifikasi Agama

Kendati dalam masyarakat ada anggapan menjadi pengemis itu termasuk dalam pekerjaan hina, bahkan sering disebut sebagai sampah masyarakat. Rupanya di “Kampung Pengemis”, yang berada di RW 04 dan di RW 11 (Cibarengkok) Kelurahan Sukabungah Kecamatan Sukajadi pengemis itu pekerjaan “mulia, sungguh-sungguh”. Walaupun agama kerap dijadikan komoditi oleh para “milari anu Ridho” ini.   

Dalam pandangan mereka, menjadi pengemis bukan sebuah perbuatan yang bertentangan dengan norma keagamaan, justru mereka berfikir bahwa norma agama yang ada telah memberikan inspirasi yang menakjubkan bagi pekerjaannya.

Apalagi mereka sering mendengarkan ceramah para Ustad yang mengatakan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Ini dianggap sebagai peluang dan memberi kesempatan kepada para konsumen untuk memberi mereka uang dan yang pasti pahala untuk para dermawan.

Uniknya, pengemis mempunyai gaya hidup hedonis serba materi, agama hanya hayalan belaka. Ini sejalan dengan pemikiran Karl Marx, bahwa manusia merealisasikan diri hanya dalam khayalan agama, karena struktur masyarakat nyata tidak mengijinkan manusia merealisasikan diri dengan sungguh-sungguh.

Para pengemis tidak benar-benar menghayati keagamaan yang mereka anut, ritual yang dilakukan seperti shalat dan puasa tidak merubah pola pikir dan cara hidup mereka yang tetap memilih menjadi pengemis, sesudah kaya pun mereka tetap saja mengemis, bahkan aktivitas itu ditularkan kepada keturunannya hingga empat generasi. 

Rupanya, urusan model pengemis kerap menggunakan simbol-simbol keagamaan; dengan cara memberikan doa pada yang memberikan uang, mampu mengetuk rasa keberagamaan para dermawan, membaca Al-Quran dan mendemonstrasikan hafalan Quran, menggunakan magic dan mitos, membaca solawat dengan diiringi rebana, pengemis wanita memakai baju muslim dan laki-laki memakai baju koko.

Untuk modus operandi pengemis ada 18 bentuk; datang dari rumah ke rumah, menggendong bayi, manusia silver, menuntun tunanetra, menggendong orang cacat, berpura-pura tidak melihat, membawa anak yatim dan proposal, membawa monyet, menari dan menggunakan topeng, membawa kemoceng, menggunakan alat tradisional seperti kecapi dan suling, duduk sambil membaca Al-Quran, menggunakan hafalan shalawat dan Al-Quran, membaca shalawat dan tape recorder, membawa kotak amal untuk masjid, bermain drama di bis kota, berdakwah di bis kota dan memperalat anak asuh.     

Baca Juga: Komunikasi Politik Pajak

Nyatanya di kalangan pengemis ini mereka melakukan modifikasi terhadap ajaran-ajaran agama sehingga mampu menghasilkan keuntungan secara ekonomi sesuai dengan keinginan dan harapan, mereka telah melakukan komodifikasi keagamaan. Barang-barang keagamaan dikalangan pengemis muncul dalam berbagai bentuk, rupa, dan warna. Menghafal Al-Qur’an, doa, jampi-jampi, berbagai jenis minyak pengasihan, rajah untuk mendapatkan kekuatan, sesaji, untuk manusia yang dianggap keramat. Ini semua memiliki nilai pertukaran dan kegunaan bermotifkan ekonomi (uang). (Jurnal Dakwah, Vol. XVI, No. 2 Tahun 2015:258-289)

Walhasil, tumbuh suburnya pengemis di Kota Bandung bukan hanya dilatar belakangi oleh faktor kemiskinan, sosial, budaya, susahnya mencari pekerjaan, ketidak memiliki kemampuan (ahli) dalam bekerja, tapi pemahaman keagamaan yang menerima takdirnya sebagai pengemis yang tidak bisa dirubah menjadi pemicu keberadaan “kampung pengemis.” Ini perlu kita kritisi cara berpikir dan berkeyakinan model itu, sehingga terlahir teologi aktif yang terus menggerakkan hati, pikiran, keyakinan untuk bekerja dan mendapatkan uang.  

Tentunya, upaya mengentaskan persoalan pengemis, pengamen ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah Kota Bandung, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan persoalan pengemis dan kemiskinan ini.

Caranya carilah nafkah, sesuai dengan kemampuan masing-masing yang telah diberikan bekal, potensi yang baik dan halal, bukan mengandalkan belas kasihan orang untuk menerima dermaan dan sedekah. Mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan umat yang selalu aktif memberi daripada menerima. Apalagi meninta-minta dengan cara paksa. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)