Penghayat di Bandung dan yang Sedikit Aku Kenal tentang Mei Kartawinata

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Foto Mei Kartawinata dan Altar Sesajen di Area Pemakannya, Ciparay, Kabupaten Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Foto Mei Kartawinata dan Altar Sesajen di Area Pemakannya, Ciparay, Kabupaten Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di lembur-lembur yang bersahaja, Pakutandang, Cibedug, Cicalung, Puncak Bintang. Di kota yang mencoba merawat ingatan, Sarijadi, Batas Kota Cicaheum, Bandung Timur, dan luasnya Kota Bandung yang tak bisa kusebut lokasi persisnya. Aku menyaksikan betul mereka yang bertahan mengakar di tengah terpaan badai kecurigaan, ialah penghayat Kepercayaan. Penganut agama leluhur Nusantara.

Aku adalah kalangan luar, sepintas lalu momen kebetulan yang terpanggil dalam perjumpaan. Tidak ada ikatan darah, pun apalagi panji organisasi yang sama. Aku cuma punya sedikit modal tentang sesajen yang sempat ada di hajatan rumahku atau tradisi menjaga silsilah leluhur sendiri.

Kedekatan mereka pada tanah, mengingatkanku pada aba, seorang petani yang menggarap kebun di lereng Gunung Gede. Kalungguhan wanoja puanhayati, memancing kenangan datang kembali, Amih-nenekku dan sanggulnya yang dulu. Aku tidak pernah sejatuh cinta ini pada asap kemenyan yang membungbung atau ritmis kecapi suling, selain pada cerita Abah-kakekku yang akrab dengan amitsun jika hendak masuk ke belantara hutan bersama anjing-anjing kesayangannya.

Penghayat, awalnya aku kenali sebatas isu advokasi. Perundungan di sekolah, kolom agama, sampai sejarah pembunuhan yang kelam. Wacana tentang hak dan ruang pengakuan, seketika rasanya kering dan berjarak. Hingga semuanya berubah kala denyut kehidupan warga penghayat lirik berbisik sendiri kepadaku. Ada cerita tentang seorang ibu sepuh, goah, dan tanak nasi, juga kekhawatiran masa depan generasi penerus yang ditantang regulasi SEMA 2/2023 tentang larangan perkawinan beda agama.

Hangat kian menjalar, cerita banyak diudar. Di sela-sela ocehan ringan soal hantu-hantu lokal, aku mengambil arah lain, menuliskan tentang salah satu bagian terindah tentang mereka.

Untuk Apa Sekolah?

Seorang Ibu Sepuh sedang Mengambil Beras di Goah Rumahnya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Seorang Ibu Sepuh sedang Mengambil Beras di Goah Rumahnya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dua tahun lebih kuhabiskan waktu untuk menyusun tugas akhir tentang sosok yang bernama Mei Kartawinata. Dialah penggali ajaran leluhur Sunda-Jawa yang lahir dan wafat di Bandung. Di belahan bumi yang sama ini, di kampus keagamaan negeri, di tengah dominasi pandangan klasik yang membenturkan dunia santri vs abangan, aku memberanikan diri maju memberi kesaksian.

“Anda bukan advokat, Anda akademisi!”, “Tidak objektif!”, begitu kira-kira sidang itu menggelegar menghantamku. Aku tidak menangis, air mataku sudah kutumpahkan jadi tinta percetakan, mencoba meniban kisah yang tidak pernah ditulis dengan adil. Ya, kuakui, aku berpihak dan skor 75 dari salah satu dosen itu akan kukenang.

Aku sadar, aku bukan orang besar yang bisa sendirian mengubah narasi pemenang sejarah. Tapi aku mau meneruskan jalan ikhtiar, jalan teladan Nabiku, dan jalan wahyu yang menerangkan “Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil”.

Sebab bagiku, kesempatan tak pernah datang dua kali. “Martabat, beasiswa, dan gelar yang kuraih, untuk apa?” begitulah pikiranku bersemayam bersama dengan jemari yang berlari-lari di atas papan tik. Aku selalu diliput rasa takut tiap menuliskan tentang penghayat Kepercayaan. Aku selalu curiga pada diriku sendiri yang punya ambisi ingin dilihat keren dan sok kritis.

Padahal Mei Kartawinata yang riwayatnya kutulis, tak pernah menyiratkan sedikitpun tentang arogansi. Justru soal nilai hidup yang tulus dan berguna, soal mustikaning amal. Ajarannya menganjurkan orang untuk memenolong kepada yang membutuhkan, menalangi kepada yang susah, memberi petunjuk kepada yang bingung, dan mengantar kepada yang takut. 

Tutulung kanu butuh, tatalang kanu susah, tutuduh kanu linglung, nganganteur kanu keueung.

Dan dari mata air kebijaksanaan ini, aku mencoba meneguknya lalu menafsirkannya dalam penelitian. Bagiku relasi dengan warga penghayat Kepercayaan tak boleh sekadar diletakkan di atas rasa iba atau semata pada pesona subjek lokal yang kadung bias dipandang eksotis. Aku ingin duduluran, terlibat pada dialog sehari-hari, dan karya ilmiahku yang ditulis sesuai kaidah akademik layak dicoret-coret oleh suara mereka. Janganlah terburu-buru kagum, sebab pada praktiknya hal ini tidaklah mudah.  

Berkhayal Jadi Pahlawan

Sejak mengenal lebih dalam Mei Kartawinata, aku tak pernah absen menyimpan tanaman hanjuang (Cordyline fruticosa) di samping meja belajar di kamarku. Kala akarnya sudah tumbuh, aku selalu menanamnya di halaman. Semoga lebat memagari kami serumah. Sesepuh di keluarga bilang “Alus, tulak bala, panyinglar nu sirik, pidik, jail, kaniaya” (Bagus, tolak bala, pengusir yang iri, dengki, usil, dan zalim).

Sependek ingatanku dulu saat bercengkrama dengan salah seorang tokoh penghayat, hanjuang dimengerti sebagai simbol hana-juang (adanya perjuangan). Di altar sesajen tanaman ini menancap di dalam leher kendi tanah liat yang berisi air bening, katanya perlambang dari tanah-air. Waktu pertama kali mendengarnya, aku meremang takjub. Dahsyat, nasionalisme lokal yang otentik.

Atas sebab itu, jika aku sedang malas-malasan kutatap kembali tanaman berwarna ungu kemerahan ini. Laksana api yang membara, cepat menjalar dan menular, mengingatkan bahwa perjuangan tidak akan pernah padam. Aku pun bisa lanjut menulis.

Etos ini adalah benang merah yang memintal lembar demi lembar karya ilmiahku. Aku selalu tertegun dengan kiprah Mei

Kartawinata di atas panggung sejarah. Bukan saja tanggal lahir dan namanya yang bertaut dengan Hari Buruh, juga jiwa raganya sendiri. Inilah nadi yang abadi, memperjuangkan hak-hak sesama dan menolak penjajahan lahir batin.

Mei Kartawinata bukan hanya dipercaya sebagai tabib lokal yang mujarab. Lebih dari itu, ia turut memekikkan suara kemerdekaan, menggerakkan massa, dan berkali-kali harus ditangkap rezim kolonial. Wangsit yang diterimanya bukan sekadar alat mencapai keselamatan pribadi, namun bergeliat jadi kekuatan politik yang berbuah kesadaran akan kebangsaan yang bulat. Ia menggali Pancasila sampai ke relung yang terdalam, menyingkap maknanya sebagai landasan hidup yang melekat pada manusia Indonesia.

Hidup Mei Kartawinata begitu dekat dengan para petani, buruh kecil, dan pekerja-pekerja pinggiran. Hal ini mengingatkan kita pada situasi kiwari, ketika suara kaum alit tergerus kepentingan elit. Mereka yang bertahan di tengah riuhnya konflik lahan, dihimpit aturan kerja pabrik yang tak karuan, atau hidup dalam angan kosong jutaan lapangan pekerjaan baru. Gerakan PERMAI yang dipeloporinya (Peri Kemanusiaan, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia), seakan menagih kepekaan kini atas kondisi kemanusiaan yang raib ditelan kekuasaan. Pelanggaran hak asasi manusia masih saja terjadi, pembungkaman kebebasan berpendapat, penjegalan rumah ibadah, bunuh diri dan kemiskinan struktural, serta anak yang mati tak terurus.

Mei Kartawinata, aku berkhayal engkau menyandang gelar pahlawan, sebagai anak kandung Dayang Sumbi, putra asali Bandung. Aku tak pernah meragukanmu, sebab Bandung sendiri adalah rahim perjuangan yang melahirkan tekad untuk melawan penindasan. Dunia pun mengenalnya lewat perhelatan Konferensi Asia-Afrika 1955, ketika bangsa-bangsa berdiri bersama dan menyatakan kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan.

Tapi tak mengapa jika jalannya masih terjal atau mungkin tak ada yang mau peduli. Buatku sudah cukup lakonmu, mengajarkan cara mendengarkan degup jantung rakyat. Mama Mei Kartawinata suwargi, abdi nampi nuhun. Cag. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)