Bandung dan Banjirnya selepas Hujan

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Kondisi Jalan Sayati Setelah Hujan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Kondisi Jalan Sayati Setelah Hujan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Romantisasi Bandung setelah hujan sering kali muncul dalam bentuk visual yang tersebar di media sosial.

Narasi demikian muncul karena sebagian orang hanya melihat Braga sebagai representasi kesyahduan Kota Bandung setelah hujan.

Realitasnya Bandung selepas hujan justru menjadi tamparan sosial karena kondisi yang sesungguhnya adalah banjir di beberapa titik lokasi, pohon tumbang, suhu udara yang semakin dingin, dan terjadinya kemacetan yang panjang.

Bahkan gang apandi yang tersembunyi dibalik megahnya Braga pun tak luput dari banjir hasil luapan Sungai Cikapundung.

Kemarin saya berangkat dari area Katapang menuju salah satu Bank yang ada di Kopo Sayati menggunakan angkutan umum. Sekitar jam 3 sore kondisi jalan sudah basah karena hujan sudah turun sebelumnya.

Saat melintasi jalan Kopo Margahayu hujan kembali turun cukup deras, melintasi Jalan Dengdek (jadek), warga sekitar menghimbau agar supir angkot putar balik untuk mencari jalan alternatif karena banjir cukup dalam.

Jalan Dengdek bukan masalah baru bagi warga Kopo Sayati karena dari dulu permasalahannya tidak pernah selesai. Meluapnya Sungai Cikahiyang karena dangkalnya kondisi sungai yang kerap tidak ada pengerukan akibat sedimentasi tanah.

Kondisi sampah yang hanyut terbawa arus sungai memperparah kondisi tersebut yang membuat air meluap hingga ke jalan. Beberapa kondisi gorong-gorong atau selokan mulai di tutup semen dan berubah fungsi menjadi jalan.

Bangunan toko seringkali mepet ke arah jalan raya, membuat selokan tertutup karena beralih fungsi menjadi lapak pedagang kaki lima. Adapun kondisi bangunan toko yang memberikan lahannya untuk pejalan kaki akan diserobot oleh pengguna motor ketika macet datang setelah banjir.

Banjir di Jalan Dengdek seringkali menjadi efek domino bagi pengguna kendaraan. Sejumlah angkot, motor atau mobil mencari jalan alternatif menuju komplek Margahayu Kencana yang terafiliasi dengan Pasar Sayati Lama.

Jalan alternatif tersebut terlalu kecil jika digunakan secara bersamaan. Jumlah motor yang banyak ikut memadati kawasan tersebut hingga membuat kendaraan sulit bergerak. Estimasi perjalanan Katapang-Kopo Sayati yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit mendadak berubah menjadi 2 jam.

Banjir berdampak pada sejumlah kondisi kendaraan bagi pengendara yang menerobos tanpa perhitungan. Banjir menghambat sejumlah kendaraan yang memiliki kepentingan dengan waktu, entah untuk bekerja atau berjualan. Banjir juga seringkali mereresahkan para supir angkot karena rentan menghabiskan bensin, sementara jumlah penumpang tidak setara dengan ongkosnya.

Banjir juga sering mengganggu kawasan Kopo Citarip, kondisi medan yang cekung menyerupai mangkok tersebutlah yang menjadi alasan utama terjadinya banjir di kawasan tersebut. Luapan sungai Citarip yang penuh sampah juga memperparah kondisi banjir.

Bahkan tak jauh dari Kopo Citarip terdapat Rumah Sakit Bandung Kiwari yang mengalami hal yang sama. Lokasinya yang sedikit tinggi dari jalan raya, membuat banjir seolah deburan kecil air pasang yang menepi ke sisi pantai.

Berjalan ke arah Pasar Leuwi Panjang yang kian menghawatirkan, air pekat bewarna hitam memenuhi sejumlah jalan, membuat kendaraan mogok dan kedalaman air mengancam keselamatan pengendara. Beruntungnya sejumlah selokan mendapat pengamanan pagar pembatas yang membuat pengendara sadar bahwa area tersebut tidak bisa dilewati.

Maju sedikit ke arah Cibaduyut, kawasan penuh pengrajin dan penjual sepatu ini juga terdampak banjir Bandung setelah hujan. Selokan yang tertutup membuat air hujan tergenang di jalanan. Sampah yang kian meroket juga menyumbat aliran selokan hingga tumpah ruah ke jalanan beserta seluruh isi di dalamnya.

Sejumlah toko di Cibaduyut yang masih memiliki kawasan parkir di basement menjadi pelarian bagi air yang mengamuk di jalanan. Bahkan banjir seringkali merusak ruko yang sudah dibiarkan kosong sejak lama oleh penghuninya. Sejumlah masyarakat yang tinggal di area tersebut tentu akan kesulitan menemukan jalan pulang, karena semua jalan yang terafiliasi juga terdampak banjir.

Banjir bermula dari kesadaran masyarakat yang kurang terhadap potensi buruk sampah yang mereka hasilkan setiap hari. Kedisplinan terhadap pembuangan sampah pada tempatnya juga seringkali belum disadari hampir semua kalangan.

Sering kali banyak pengguna motor yang berhenti dan membuang sampah di sepanjang jalan menuju pertokoan. Kegiatan ini biasanya akan terlihat saat pagi hari, di mana aktivitas seorang pengendara yang bekerja atau hanya mengantarkan anaknya ke sekolah.

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Miris memang tapi itulah faktanya. Membuang sampah ke petugas sebetulnya tidak terlalu menghabiskan anggaran rumah tangga. Tiap daerah biasanya mematok harga yang beragam mulai dari Rp.20.000-50.000/ bulan tergantung dengan jumlah banyaknya sampah.

Namun nahasnya para pengguna motor tersebut memilih membuang sampah di sepanjang jalan Cibaduyut. Padahal kawasan ini cukup tersohor pagi pelancong dari luar kota yang sering membawa rombongan anak sekolah atau ibu-ibu majelis taklim untuk berbelanja oleh-oleh saat berkunjung ke Kota Bandung.

Sementara pemandangan di sejumlah Pasar Leuwi Panjang pun tidak jauh berbeda. Limbah sampah dari sayuran atau buah-buahan busuk dibiarkan begitu saja menjadi tumpukan sampah.

Menimbulkan aroma yang tidak sedap, mengundang lalat untuk hinggap dan menjadi penyumbang sampah saat banjir datang melanda. Bahkan beberapa masyarakat masih ada yang membuang sampah domestik secara gratis di kawasan sepanjang pasar.

Kondisi selokan yang beralih fungsi memperparah kondisi banjir, air hujan yang seharusnya masuk justru meluap ke jalanan karena tidak mampu menampung sejumlah air dan sampah.

Sistem Drainase (penyerapan) yang masih konvensional juga belum menjadi alternatif penyelesaian masalah yang memadai. Keterbatasan ruang hijau untuk resapan air dan kolam retensi juga memperburuk kondisi yang ada.

Kota Bandung yang seringkali di romantisasi itu ternyata masih banyak memiliki permasalahan kompleks dan panjang yang sulit untuk di selesaikan tanpa adanya koordinasi dari semua pihak.

Bandung selepas hujan tidak hanya estetik karena syahdunya daun kering dan kuning yang berguguran di sepanjang jalan, aroma hujan yang terhirup sangat menyegarkan juga kisah roman kedua pasangan yang belum pernah melihat sisi lain dari Kota Bandung.

Saat Bandung selepas hujan coba beranjak dari Braga menuju Kopo, Leuwi Panjang, Cibaduyut, Gede Bage, Sarijadi, Pasir Koja dan sejumlah titik banjir lainnya untuk mengetahui dan merasakan kondisi Kota Bandung sesungguhnya. Pemandangan seperti kotoran manusia, sejumlah plastik, tas dan sepatu bekas, bahkan binatang melata ikut meramaikan kondisi banjir setelah surut.

Mungkin saja bagi kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara dan menjadikan Kota Bandung sebagai sandarannya. Jangan-jangan banjir bukan halangan untuk tetap meromantisasi Bandung dan Hujan setelahnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)