Mengukus Harapan Senja di Jatinangor

4 menit baca
Abigail G.
Ditulis oleh Abigail G. diterbitkan
Roti-roti yang dikukus kembali sebelum diberi topping. (Foto: Abigail Ghaissani Prafesa)
Roti-roti yang dikukus kembali sebelum diberi topping. (Foto: Abigail Ghaissani Prafesa)

Ketika senja mulai menyambut langit Jatinangor, di tengah keramaian waktu kepulangan, kepulan asap putih terlihat dari sebuah gerobak kecil di sudut Jalan Sayang. Di antara banyaknya mahasiswa berlalu lalang, aroma khasnya menguar, manis dan lembut, seakan-akan mengajak siapapun yang lewat untuk berhenti sejenak. Itulah Roti Kukus Senadi, roti kukus hangat yang siap menemani mahasiswa ketika sinar matahari mulai redup. 

Di balik kepulan asap roti kukus, ada Krisna dan Nadhira dengan cekatan tangannya yang siap melayani pembeli dengan roti kukus hangat buatan mereka sendiri. Kedua mahasiswa Fisip tersebut memulai usahanya sejak tahun 2023. Berawal dari kegemaran mereka yang mencoba berbagai kuliner di Bandung hingga menemukan sebuah roti kukus rasa srikaya. Roti tersebut menjadi inspirasi mereka dalam membuka usaha roti kukus di Jatinangor.

Krisna dan Nadira bertekad untuk menciptakan roti kukus yang lebih nikmat dari yang mereka pernah rasakan. Mereka merasa, penjual roti kukus atau roti bakar di Jatinangor hanya menggunakan roti-roti jenis kadet atau roti koping yang lama-lama akan mengeras setelah dimasak. 

“Kami merasa belum belum ada roti kukus yang affordable tapi tetap pakai bahan yang berkualitas. Jadi kami coba isi celah itu,” ujar Krisna.

Setelah berkali-kali menghadapi riset dan pengembangan produk, lahirlah Roti Kukus Senadi yang dikenal warga Jatinangor. Diawali dengan sistem pengiriman dari satu kosan ke kosan lainnya dan memanfaatkan media sosial sebagai medium promosi mereka. Kini, roti kukus kesayangan warga Jatinangor sudah membuka lapak tetap di Jalan Sayang. 

Rintangan yang Tidak Membuat Padam

Sebelum membuka lapak di Jalan Sayang, keramaian Roti Kukus Senadi muncul di Jalan Ciseke Besar pada sore hari. Gerobak sederhana milik Krisna dan Nadhira menjadi titik temu para pecinta cemilan manis. Roti Kukus yang laris setiap hari bisa menghabiskan 100 potong sebelum pukul sepuluh malam. Tapi di tengah keramaian itu, sebuah surat edaran dari pemerintah desa datang bagaikan kabut yang menutup kepulan asap putih dari kukusan.

“Kita nggak bisa ngapa-ngapain. Bukan orang sini, jadi gak mau cari ribut. Akhirnya kita cari-cari lapak lain,” kata Krisna.

Meski sebelumnya sudah mendapatkan izin dari pengurus lingkungan, kenyataan berkata lain. Tanpa adanya ruang untuk membela diri, mereka memilih langkah paling aman, yaitu mundur pelan-pelan. Bagi mereka, menjaga keberlangsungan usaha lebih penting daripada bertahan di tempat yang tidak pasti.

Tempat boleh berganti, tetapi semangatnya terus berkobar.

Roti yang dimasukkan ke dalam kukusan. (Foto: Abigail Ghaissani Prafesa)

Di Balik Senja Menjadi Pilihan

Pukul setengah enam sore hingga setengah tujuh malam itu merupakan waktu prima bagi Roti Senadi. Pada waktu tersebut, tidak hanya banyak mahasiswa yang berlalu lalang menempuh perjalanan kepulangan dari kampus, tetapi juga waktu bagi warga lain untuk menempuh perjalanan pulang dari tempat kerjanya. Aroma khas dari asap kukusan roti menjadi teman setia mereka di sore hari.

Tidak hanya itu, Krisna dan Nadhira harus menempuh waktu produksi selama lima jam. Setiap pagi, keduanya membuat roti kukus sejak pukul tujuh, dan baru selesai sepenuhnya hampir delapan jam kemudian. Semua dilakukan berdua, dari menakar tepung dan ragi, hingga mengembang dengan sempurna dan adonan masuk ke kukusan, menghasilkan roti yang lembut dan harum. Tapi proses pembuatan roti tidak sampai situ saja. Roti harus didinginkan terlebih dahulu selama dua jam sebelum dipotong dan ditata rapi untuk dijual.

“Awalnya seru, tapi makin hari pinggang mulai protes juga” canda Krisna sambil terkekeh.

Meskipun lelah, mereka menikmati setiap detik pada prosesnya. Dari dapur kecil itulah roti-roti pembawa kehangatan yang dinikmati banyak orang setiap sore.

Proses mengoles topping pada roti kukus. (Foto: Abigail Ghaissani Prafesa)

Roti Kukus, Rasa yang Konsisten

“Topping-nya gak pelit, homemade, dan mereka dengerin banget masukan pembeli. Harga segitu harusnya lebih mahal,” ujar Hasna, pembeli langganan sejak 2024. 

Hal yang unik bagi Hasna, Roti Kukus Senadi sering mengunggah proses pembuatan rotinya melalui fitur story WhatsApp. Dari situ Ia mengetahui bahwa Roti Kukus Senadi merupakan roti yang homemade. Fakta tersebut menjadi salah satu ciri khas roti kukus ini karena membuatnya memiliki rasa roti dan tekstur yang khas yang jarang ditemukan di penjual roti lainnya di Jatinangor.

Meskipun homemade, Hasna sangat gemar dengan rasa yang konsisten pada roti kukus itu. Setelah berbulan-bulan menjadi pelanggan setia, belum pernah ia merasakan perubahan rasa pada roti kukus favoritnya, terlebih lagi dengan harga yang ramah di kantong mahasiswa. Menurutnya, untuk ukuran roti kukus yang cukup besar dan topping yang berlimpah, kisaran harga Rp5.000 hingga Rp5.500 merupakan harga yang sangat murah dan seharusnya bisa diberi harga yang lebih mahal.

Seorang pelanggan  anak kecil menunggu roti kukus pesanannya siap disajikan. (Foto: Abigail Ghaissani Prafesa)

Roti, Harapan, dan Masa Depan

Roti Kukus Senadi bagi Krisna dan Nadhira bukan sekadar cemilan manis yang dijual setiap sore. Di balik asap kukusan yang mengepul, terdapat harapan yang keduanya bentuk—berharap agar usaha kecil ini bisa tumbuh, bertahan, dan memberi dampak lebih besar dari sekadar keuntungan harian.

Meski awalnya hanya pekerjaan sampingan ketika mengikuti suatu program lain, Roti Kukus Senadi perlahan menjadi ruang belajar, tempat mereka menguji keterampilan, mengasah ketekunan dan menanam cita-cita. 

Dengan modal terbatas dan peralatan yang masih minim, mereka tetap konsisten memproduksi puluhan hingga ratusan roti setiap hari. Lelah itu pasti terasa. Namun, sebanding dengan rasa puas saat pelanggan kembali, atau saat ada anak kecil tersenyum sambil menggigit roti choco crunchy kesukaannya.

Dari dapur dan gerobak kecil di Jatinangor, masa depan itu perlahan mereka kukus sendiri dengan hangat, pelan, dan penuh rasa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)