Sungai Citarum Diterjang Banjir Sampah, Hanyut dalam Tumpukan Program

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi , Mildan Abdalloh diterbitkan
Ade Taryo memungut sampah di bawah jembatan BBS Sungai CItarum, Batujajar, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ade Taryo memungut sampah di bawah jembatan BBS Sungai CItarum, Batujajar, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Sungai Citarum, yang dulu jadi urat nadi kehidupan masyarakat Jawa Barat, kini lebih sering jadi tempat buang sampah raksasa. Dari hulu ke hilir, alirannya seolah ditakdirkan membawa beban yang tak pernah selesai: limbah rumah tangga, sampah plastik, dan janji-janji penguasa.

Di bawah jembatan BBS, kawasan Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Citarum seperti kehilangan wibawa. Permukaan airnya tak lagi terlihat. Tertutup total oleh eceng gondok dan aneka sampah kiriman dari daerah hulu: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, bahkan Cimahi.

"Tiap hari juga kiriman sampah gak pernah berhenti," kata Ade Taryo, seorang pemungut sampah yang saban hari berjaga di bawah jembatan itu, Kamis, 11 Juni 2025.

Sosok Ade bukan siapa-siapa. Tapi tanpa orang seperti dia, Citarum mungkin sudah lama jadi kuburan basah bagi plastik dan limbah domestik. Ia tahu betul ritme sampah Citarum: datang deras saat hujan, mengendap saat arus pelan, kembali lagi saat angin bertiup ke arah hulu. Seperti lagu lama yang diputar berulang-ulang.

Bukan kali pertama Citarum jadi sorotan. Tahun lalu, selebgram Pandawara datang membuat video di lokasi ini. Viral. Pemerintah turun. Sampah dibersihkan. Kamera mati, aksi berhenti. Pola yang sama, dari dulu hingga kini.

Banyak Program, Sampah Tak Berkurang

Sungai Citarum sebetulnya punya banyak pengawal. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada Maret lalu pernah berkata akan membongkar bangunan liar di sepanjang aliran sungai. "Seluruh bangunan yang menggunakan Sungai Citarum akan kami bongkar, ya bangunan rumah. Kecuali jembatan," katanya saat meninjau anak Sungai CItarum di Kabupaten Bandung.

Dedi juga menjanjikan pemindahan TPS di pasar-pasar yang terlalu dekat dengan sungai, serta menempatkan satu petugas berjaga 24 jam di setiap jembatan. “Kita siapkan satu petugas di setiap jembatan, setiap hari piket 24 jam," ujarnya.

Sayangnya, semua itu seperti skrip lama. Sejak 1989, Citarum sudah berulang kali ‘diselamatkan’. Program Kali Bersih (Prokasih), Citarum Bergetar, Citarum Bestari, ICWRMIP, hingga yang terbaru dan paling tenar: Citarum Harum. Masing-masing datang dengan baliho besar, slogan manis, dan anggaran miliaran. Tapi tidak pernah menyentuh akar persoalan.

Tapi suara keras bukan jaminan pekerjaan terlaksana. Faktanya, limbah masih mengalir bebas. Sampah menumpuk lagi-lagi, bahkan setelah digelontorkan dana besar dan berbagai infrastruktur pengolahan dibangun.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan hidup (Walhi) Jabar, Wahyudin Iwang, secara gamblang menyebut program ini gagal. “Kami menyebut program Citarum Harum gagal,” katanya, Mei 2024 lalu. Salah satu kritik utama mereka adalah ketertutupan data soal kualitas air. Pemerintah menyebut indeks kualitas membaik, tapi tak pernah menjelaskan lokasi pengambilan sampel, laboratorium, atau melibatkan komunitas lingkungan.

Presiden RI, Joko Widodo meninjau titik nol Sungai CItarum di Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, saat peresmian Citarum Harum 22 Februari 2018. (Sumber: Biro Setpres)
Presiden RI, Joko Widodo meninjau titik nol Sungai CItarum di Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, saat peresmian Citarum Harum 22 Februari 2018. (Sumber: Biro Setpres)

Lebih dari itu, lahan kritis di hulu yang seharusnya jadi prioritas, justru makin luas. Petak 73 di hulu Citarum, yang menjadi titik nol sungai ini, juga tak luput dari kritik. Di sana, kawasan Artapela yang dikelola Perhutani tetap gundul, begitu pula lahan-lahan milik PTPN dan masyarakat. Reboisasi tidak jalan. Konservasi sebatas wacana. Kalau musim hujan datang, banjir datang bersama gunungan sampah.

Upaya sporadis seperti pengecoran saluran limbah industri oleh TNI tak banyak menimbulkan efek jera. Besok-besok muncul lagi saluran baru. Ini seperti bermain kejar-kejaran tanpa ujung.

Di Hulu Kritis, Di Hilir Jadi Lautan Sampah

Di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, setidaknya ada tujuh anak sungai yang jadi muara sampah domestik warga. Organisasi Plastic Fisher mencatat, dari tujuh titik itu saja—Cikoneng, Cibisoro, Wargamekar, Oxbow, Lengkong, GBA, dan Cijeruk—sampah plastik yang berhasil dijaring bisa mencapai lebih dari dua ton per minggu.

“Itu hanya sampah plastik yang sudah dikeringkan dan tidak bernilai jual,” kata relawan Plastic Fisher, Gandis.

Bayangkan berapa banyak totalnya jika dihitung seluruh anak sungai Citarum yang jumlahnya bisa mencapai ribuan. Dari tujuh saja sudah dua ton per pekan, bagaimana dengan sisanya?

Semua menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada "sungainya", tapi di masyarakat dan sistem pengelolaan sampahnya. Di kawasan Cekungan Bandung, dari Kota Bandung hingga KBB, sistem pengelolaan sampah lebih banyak bergantung pada model “angkut dan buang”.

Ketua Dewan Daerah Walhi Jabar, Dedi Kurniawan, menyebut bahwa pendekatan seperti ini justru mendorong pemborosan anggaran.

“Pemerintah memang punya segudang rencana pengolahan, tapi tidak sampai menyelesaikan dari sumbernya. Program cenderung ke arah mengelola, bukan menyelesaikan,” ujarnya.

Bahkan retribusi sampah yang ditarik dari masyarakat tidak cukup untuk menutup ongkos operasional. Maka muncullah anggaran miliaran untuk menambal. Di beberapa tempat, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dibangun dengan biaya besar malah jadi semacam museum: tak dipakai, terbengkalai, atau macet sistemnya.

Citarum kini ibarat pasien kronis yang terus-menerus diberi vitamin palsu. Permukaannya dibersihkan saat viral, dipoles dengan program baru saat pemilu datang, tapi luka di dalam tak pernah diobati. Di hulu, vegetasi hilang. Di tengah, limbah terus dibuang. Di hilir, rakyat kecil seperti Ade Taryo terus memungut sampah demi menyambung hidup.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)