Apakah Mentalitas 'Modal Janji' Berakar dari Masyarakat ?

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Janji manis seseorang yang tidak ditepati sungguh mencederai kepercayaan orang lain. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Janji manis seseorang yang tidak ditepati sungguh mencederai kepercayaan orang lain. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Siang ini saya mengantar seorang teman ke kampus kami yang berada di Jalan Taman Siswa Bandung. Maksud dan tujuannya adalah untuk membayar sebagian angsuran kuliah yang belum selesai dan bermaksud untuk minta keringan legalisir ijazah sebagai syarat melanjutkan Studi Apoteker.

Teman saya kebetulan mendapatkan privilage beasiswa di kampus lain untuk melanjutkan Studi Apotekernya. Hanya saja salah satu syarat untuk daftar beasiswa tersebut tiada lain adalah ijazah dan transkip nilai.

Kampus kami memang bukan kampus yang terkenal di Bandung. Bahkan beberapa kali sudah berpindah tempat.

Bermula dari Jalan Laswi, tempat yang salah satunya pernah menjadi lokasi syuting film Dilan ini, bahkan sekarang sudah bukan kampus lagi tapi berubah menjadi deretan wisata kuliner dan toko-toko distro baju di Bandung.

Kedua kampus kami pindah ke Jalan Garut tepatnya di gedung bawah Perpustakaan Ajip Rosidi. Kampus kami memang memiliki keterbatasan mahasiswa. Kondisi ini diperparah dengan wabah Covid-19. Hampir 80% mahasiswa tidak lagi melanjutkan kuliah karena dirasa hanya membuang-buang waktu dan biaya tapi tidak mendapat fasilitas belajar yang sesuai.

Beberapa teman saya pun mengaku bahwa sistem pembelajaran online tidak cocok bagi mereka. Bertatap muka saja kadang ada materi yang tidak dipahami dengan baik apalagi jika via online yang tentu lebih banyak distraksinya. Begitu ungkap salah satu teman saya yang memilih keluar dari kampus saat itu.

Akhirnya kampus kami pindah dan menetap sementara ini di Jalan Taman Siswa. Gedung kampus bergabung dengan salah satu sekolah. Bahkan lebih tepatnya kampus kami menumpang pada sekolah tersebut. Meski kini sudah ada mahasiswa tapi kondisi sekolah tersebut masih saja sepi karena jumlah siswanya yang bisa dihitung oleh jari.

Saya mengantar teman ke bagian keuangan kampus tapi jawabannya tetap tidak memuaskan. Pihak kampus menolak permintaan teman saya tanpa melakukan pertimbangan.

Hal ini terjadi karena pihak kampus pernah merasa dibohongi oleh salah satu mahasiswa yang pernah membuat janji yang sama, meminta legalisir untuk keperluan bekerja tapi pada akhirnya tidak melunasi sisa biaya sesuai dengan janji yang sudah disepakati.

Teman saya pun mendapat imbas dari tindak laku seseorang yang berjanji tapi tidak menepatinya. Istilahnya "nila setitik, rusak susu sebelangga", meski teman saya bisa dipercaya, faktanya kampus memukul semua rata kebijakan untuk menghindari janji palsu dari para mahasiswa.

Kejadian ini mengingatkan saya pada sejumlah penguasa yang sering berlaku demikian. Pada masa kampanye tutur kata dijaga, perilaku dipoles sedemikian rupa dan janji-janji manis diumbar dengan mudahnya. Namun saat sudah terpilih, para penguasa seolah lupa terhadap janji yang sudah dibuat. Kepentingan masyarakat bukan lagi prioritas karena fokusnya hanya memperkaya diri sendiri.

Begitu juga dengan mereka yang ingin berhutang. Sikap manis ditunjukkan sedemikian rupa, bumbu-bumbu yang menuai kesedihan di obral begitu saja, hingga yang memberikan hutang merasa iba dan tersentuh untuk membantunya. Namun saat waktunya jatuh tempo, mereka yang berhutang justru lebih ganas dari mereka yang memberikan bantuan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: pexels/Artem Podrez)
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: pexels/Artem Podrez)

Kejadian siang ini membuat saya berefleksi juga kembali bertanya "Apakah kebobrokan bangsa ini di mulai sejak mereka menjadi masyarakat?", sehingga mentalitas tersebut terbawa hingga para pemangku kebijakan diberikan amanah untuk memimpin negeri ini.

Pertanyaan ini membuat saya bingung layaknya teori Evolusi, seperti "Apakah telur lebih dahulu ada sebelum ayam atau justru sebaliknya?", meski pertanyaan tersebut sudah terjawab oleh sains tetap saja terdapat dua kubu pemahaman yang berbeda.

Faktanya banyak pemimpin yang hanya mengobral janji tapi nihil dalam beraksi. Banyak pemimpin yang katanya bekerja demi rakyat tapi nihil empati. Namun pada sisi yang lain juga masih ada pemimpin yang peduli dengan rakyatnya, masih ada hakim yang jujur mengadili para penjahat negeri ini, masih ada mahasiswa, guru, karyawan, pengusaha yang memegang kuat integritas dalam dirinya.

Begitu juga dengan masyarakat ada yang memiliki karakter obral janji, penipu, tidak jujur, melakukan aksi premanisme, melakukan perundungan dan masih banyak hal buruk lainnya. Namun pada satu sisi juga terdapat masyarakat yang masih jujur, taat dengan peraturan dan masih menyumbang konstribusi dalam bidang apapun yang mereka bisa.

Dulu saya benci dengan istilah "Pemimpin adalah cerminan dari masyarakatnya" tapi hari ini saya merasa tertampar sekaligus tidak terima sepenuhnya. Kejadian ini membuat saya melonggarkan ruang-ruang prasangka yang seharusnya bisa lebih bijak untuk dipikirkan.

Kesimpulannya, kita tidak bisa memukul rata semua orang akan melakukan kejahatan yang sama hanya karena sudah dicederai oleh satu pihak. Sehingga kita lupa bahwa semua orang itu tidak sama persis bersikap meski punya tujuan yang sama.

Esensi untuk melihat fakta dan trak record seseorang dengan mudah diabaikan tanpa perlu melakukan pertimbangan. Meski demikian langkah yang hati-hati perlu menjadi acuan tapi tidak sepenuhnya mengekang.

Baca Juga: Huruf Kapital Tak Boleh Diabaikan, tapi Kapan Jangan Digunakan?

Jadi "Pemimpin adalah cerminan dari masyarakatnya", bisa saja menjadi benar ketika salah satu contoh kasus di atas terjadi dan dilakukan oleh segelintir pihak yang tidak bertanggung jawab. Tapi bisa jadi tidak demikian karena faktanya masih ada masyarakat yang memegang teguh integritas bahkan pada perkara yang dianggap remeh.

Sikap memukul rata menjadi tidak bijak jika dilakukan tanpa melihat fakta-fakta dengan mempertimbangkan track record seseorang. Tidak memberikan ruang kesempatan hanya karena pernah kecewa oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Jun 2026, 19:12

Strategi Pengembangan Kompetensi ASN

Pengembangan kompetensi harus diselaraskan dengan tujuan dan visi misi organisasi.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Bandung 28 Jun 2026, 19:11

Modal Jeli Intip Peluang: Kisah dari Pinggiran Kiaracondong, Saat Warmindo Dituntut Kreatif dan Naik Kelas

Modal jeli intip peluang, warkop modern di Kiaracondong Bandung, JustFoodHub.id jadi bukti nyata kreativitas pelaku UMKM lokal untuk tampil berdaya dan naik kelas.

Modal jeli intip peluang, warkop modern di Kiaracondong Bandung, JustFoodHub.id jadi bukti nyata kreativitas pelaku UMKM lokal untuk tampil berdaya dan naik kelas. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 18:16

Hari Keluarga Nasional Lebih Afdol Diperingati dengan Wisata Jalan Kaki

Bentuk "Keluarga Berencana" yang hakiki adalah berjalan kaki.

Wisata jalan kakai di sekitar Alun-Alun Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 17:00

Di Dalam Iklan Surat Kabar pada Masa Kolonial di Batavia

Iklan surat kabar kolonial Batavia bukan sekadar promosi,

Majalah Djawa Baroe (Sumber: https://hdl.handle.net/1887.1/item:3236771)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 15:57

Mampukah Bajigur Merebut Hati Anak Muda? Melawan Gempuran Kedai Minuman Modern

Agar tidak hilang tergerus zaman, bajigur harus bersedia bersolek dan beradaptasi.

Minuman tradisional bagjigur. (Sumber: flickr.com | Foto: Yopi Pratama)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 12:01

Antara Musik dan Sastra: Lahirnya dan Pengaruh Aliran Musik Progresif

Mari mengintip era keemasan musik Indonesia, dengan sejarah lahirnya musik progresif.

Kelompok Musik Gang of Harry Roesli. (Sumber: Majalah Aktuil Edisi 126 | Foto: Aktuil)
Wisata & Kuliner 28 Jun 2026, 11:25

Panduan Tamasya ke Kuta Bali, Kawasan Pantai yang jadi Gerbang Wisata Pulau Dewata

Dekat bandara, mudah dijelajahi, dan penuh pilihan hiburan. Kuta Bali menjadi destinasi ideal bagi wisatawan yang pertama kali ke Bali.

Sunset di Pantai Kuta. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 10:41

Pabrik Kina, Cagar Budaya yang Berdampak Besar pada Masa Kolonial

Sejarah Pabrik Kina pada masa kolonial Belanda.

Bangunan Bandoengsche Kinine Fabriek NV yang kini dikenal sebagai pabrik kina Kimia Farma di Jalan Pajajaran, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Mayantara 28 Jun 2026, 09:49

Ketika Teknologi Mengubah Cara Kita Menjaga Tradisi

Media digital tidak menggantikan tradisi, tetapi menjadi ruang baru tempat tradisi dijalankan.

Ilustrasi teknologi pembayaran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Proxyclick Visitor Management System)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 08:48

Mewujudkan Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Lingkungan sekolah nyaman akan tercipta manakala pemangku kebijakannya mengelola dengan baik.

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: ubed)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 08:41

Ketika Negara Kehilangan Kata-Kata

Public speaking ASN sebagai instrumen strategis untuk membangun kepercayaan publik, menyampaikan informasi kebijakan secara efektif.

Pejabat bicara dengan pendemo (Sumber: malukuprov.go.id)
Linimasa 27 Jun 2026, 21:52

Dari Kencleng Polisi Menjadi Bangunan Nyaman dan Aman

Kencleng anggota Polsek Pameungpeuk membantu membangun rumah tidak layak huni dan merenovasi mushola di Kabupaten Bandung.

Kencleng anggota Polsek Pameungpeuk membantu membangun rumah tidak layak huni dan merenovasi mushola di Kabupaten Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 20:33

Menggerakkan Idealisme Mahasiswa Berprestasi

Apa yang membuat mahasiswa semangat menjalani hari-hari dan mengubah dirinya?

Ilustrasi gerakan mahasiswa berprestasi. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 19:38

Cek Kesehatan Gratis dan Investasi SDM Indonesia Emas 2045

Menganalisa manfaat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Cek Kesehatan Gratis (Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis | Foto: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 18:39

Transformasi Perkebunan Karet Alam di Jabar, Mungkinkah?

Industri berbasis karet alam di Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan penurunan produktivitas lahan dan pasokan lateks .

Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 17:25

Panduan Berkunjung ke Pantai Sawarna: Delapan Pantai, Gua, dan Lanskap Pesisir di Selatan Banten

Jelajahi Pantai Sawarna di Lebak, Banten, dengan deretan pantai indah, gua karst, spot surfing, dan panorama Samudra Hindia yang memukau.

Sunset Pantai Tanjung Layar Sawarna. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:30

Perempuan dan Polarisasi Modern

Perubahan zaman modern terkadang masih diselimuti oleh isu-isu kaum marjinal, terutama kaum perempuan.

Ilustrasi perempuan Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Ruly Nurul Ihsan)
Linimasa 26 Jun 2026, 16:25

Hikayat Pelatih Kuda Renggong, Bisa Berganti Ratusan Kuda Karena Tidak Cocok

Menjadi pelatih kuda renggong tak hanya butuh keahlian, tetapi juga chemistry. Usep telah berganti ratusan kuda demi menemukan pasangan terbaik.

Usep, salah seorang pelatih kuda renggong di Ujungberung, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:03

Publikasi Hasil Lisensi Klub Berhasil Menjaga Konsistensi Komunikasi pada Dua Platform Digital

Konsistensi komunikasi menjadi kunci kredibilitas sebuah perusahaan. Artikel ini menganalisis konsistensi komunikasi PT I.League pada dua platform digital.

Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:24

Mengenal Karel Albert Rudolf Bosscha

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan salah satu figur Belanda yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia

Karel Albert Rudolf Bosscha. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Jodya Maulana)