Krisis Kepercayaan Publik terhadap Aksi 'Minta Tolong' di Bandung

6 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ku zaman ayeuna mah hese ngabedaken mana jelema nu beneran butuh bantuan Jeung jelema nu saukur modus

Ungkap salah seorang pria kepada supir bus TMB koridor Dago--Leuwi Panjang. Mengingatkan kembali pada momen yang pernah saya alami beberapa tahun ke belakang.

Percakapan tersebut saya dengar saat baru saja duduk di deretan kursi bus saat berhenti tepat di halte Dipatiukur.

Seorang pria paruh baya nampak kebingungan. Dirinya mendekati supir dan bertanya "saya harus turun di mana kalau mau ke Lembang".

Supir tak kalah bingung, karena seharusnya pria paruh baya tersebut turun sejak melewati Stasiun Bandung. Di sana terdapat angkot warna krem dengan polet coklat yang melintasi kawasan Lembang. Namun sepertinya pria paruh baya tersebut tidak menitipkan pesan kepada supir untuk minta diturunkan di halte tujuan.

Dari informasi yang saya dengar pria paruh baya tersebut bermula naik dari Terminal Leuwipanjang. Di tengah perdebatan akhirnya supir menyarankan pria paruh baya tersebut untuk turun di halte Kartika Sari lalu menyebrang dan melanjutkan dengan angkutan umum.

Entah bagaimana pria paruh baya tersebut mengatakan "saya tidak bisa" dan meminta bantuan kepada supir untuk mengantarkan ke sebrang jalan. Dilema terjadi di antara supir dan kami sebagai penumpang.

Akhirnya supir menyarankan pria tersebut untuk memesan jasa pengantaran via aplikasi online. Namun tetap sama pria paruh baya tersebut berkata "tidak bisa".

Pria tersebut akhirnya turun di halte Kartika Sari sambil terus mengoceh seorang diri. Di tengah lampu merah, bus belum beranjak begitu juga dengan pria paruh baya tersebut. Nampaknya supir merasa khawatir sekaligus juga bingung.

Akhirnya sebelum lampu hijau supir memanggil seorang juru parkir yang ada di salah satu cafe atau hotel saya tidak begitu memperhatikan karena lokasi bangunan tertutup pohon yang sangat rindang.

"Kang menta tulung eta si bapak bade ka Lembang, tiasa pangmesenkeun Go-Jek teu?"

"Ah kang ieu mah tos biasa kitu, padamelan ieu mah," ujar juru parkir

"Tapi jigana mah heunte da tadi naek di Terminal Leuwipanjang," timpal sang supir

"Oh kitu ? Nya atuh cobi ku Abi ditaros hela."

"Muhun siap atuh nuhun ya kang," ujar sang supir sambil melajukan bus perlahan karena lampu sudah menunjukkan warna hijau.

Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kejadian ini mengingatkan saya pada beberapa aksi serupa yang pernah saya alami sendiri saat sekolah hingga hari ini sudah bekerja.

Pengalaman pertama saya bertemu dengan orang asing yang minta tolong di jalan adalah ketika saya SMP.

Saat itu saya sedang menggunakan angkot kuning jurusan Cipatik- Tegallega, di ujung bagian angkot terduduk seorang nenek tua sambil membawa bungkusan kresek. Selang beberapa menit beliau menawarkan saya untuk membeli mukena bekas dengan harga seikhlasnya.

Sebagai anak sekolah dengan uang jajan seadanya saya menolak secara halus permintaan nenek itu. Tidak cepat menyerah, nenek tersebut akhirnya meminta uang berapa saja dengan alasan tidak punya uang untuk membayar ongkos.

Sebagai anak SMP yang masih polos, tentu Saya merasa iba dan berniat membayarkan ongkos nenek tersebut. Tak disangka nenek tersebut menolak dan langsung saja minta uangnya. Saya pun turun sambil membagi uang ongkos dengan sang nenek.

Tak disangka setahun kemudian ketika saya sedang naik angkutan jurusan Soreang saya bertemu dengan nenek itu lagi dan beliau masih melakukan cara yang sama kepada orang lain.

Pengalaman lainnya pernah saya temui seorang kakek membawa kotak amal bertulisan "Sumbangan Pembangunan Mesjid" di salah satu kota yang ada di Garut. Saat itu saya bertemu dengan beliau di Braga ketika melaksanakan tugas fotografi dari kampus.

Sebelum memberikan uang saya sempat bertanya , kenapa harus jauh-jauh meminta sumbangan ke Bandung saat masyarakat sekitar bisa diberdayakan untuk mengumpulkan uang sumbangan. Saya rasa masyarakat sekitar pun tidak akan keberatan terlebih fasilitas tersebut akan digunakan kembali oleh masyarakat sekitar.

Saat itu kakek tersebut mengatakan bahwa daerahnya sangat pelosok jadi belum banyak bantuan yang bisa dikumpulkan.

Entah bagaimana, Tuhan menakdirkan saya untuk melihat bapak itu lagi tapi kali ini ketika saya berada di angkot Cimahi--Leuwi Panjang. Di sekitaran stopan Pasir Koja Saya melihat bapak tersebut masih melakukan kegiatan yang sama yaitu "meminta sumbangan untuk pembangunan mesjid".

Tak hanya itu bahkan saya seringkali berpapasan saat sedang ada keperluan ke arah Pasar Baru, Ciroyom, Cibaduyut dan sesekali di Alun-Alun Bandung dan sekitaran jalan Braga.

Kejadian terakhir yang saya alami adalah saat bertemu dengan orang asing yang meminta pertolongan ketika saya sedang duduk di halte Terminal Leuwi Panjang menuju UIN Cimencrang.

Saat itu ada seorang bapak menggendong tas besar dipundak, seperti seseorang yang akan mudik ke kampung halaman. Di bagian tangan kanannya bapak tersebut menggandeng tangan mungil anak perempuan yang terlihat baru saja mandi karena wajahnya penuh bedak yang tak teraplikasikan secara rapih.

Bapak tersebut bercerita kepada saya bahwa dirinya baru saja di copet karena dompet yang disimpannya di tas hilang saat dibutuhkan. Bapak tersebut mengatakan akan pulang ke Cianjur dan meminta ongkos sebesar Rp.50.000 kepada saya.

Saya sempat ragu karena beberapa kali mengalami hal yang demikian. Namun rasanya tak tega melihat anak kecil yang sedang digandengnya. Saya pun memberikan uang tersebut, selang 15 menit kemudian bus DAMRI yang saya butuhkan datang.

Sambil menunggu penumpang naik, dari kursi bus saya melihat bapak tadi mendekati pengunjung lain yang sedang duduk tidak jauh dari halte. Entah apa yang dibicarakan tapi melihat ekspresi dan gerak tubuhnya mengingatkan saya saat bapak tersebut meminta pertolongan kepada saya.

Jujur saya merasa tertipu dengan modus yang dibalut dengan rasa iba. Semenjak itu saya selalu curiga kepada orang asing yang meminta bantuan. Biasanya bantuan tersebut beragam mulai dari meminta ongkos, meminta makan, tersesat saat mengunjungi saudara di Bandung dan modus-modus lainnya yang selalu beragam.

Saat rasa iba dijual untuk keuntungan semata, di sanalah krisis kepercayaan terhadap orang asing yang membutuhkan bantuan mulai hilang. Dampak fenomena tersebut jadi sulit membedakan mana seseorang yang benar-benar membutuhkan bantuan atau hanya sekedar modus semata.

Bahkan di Bandung sendiri sudah bukan rahasia kalau beberapa pengemis membuat komunitas dan kampung sendiri saat menjalankan aksinya di Kota Bandung. Salah satu yang terkenal adalah perkumpulan pengemis yang ada di daerah Sukajadi Bandung.

Pada tahun 2020 silam, prodi saya pernah mengundang seorang peneliti sekaligus dosen dari UIN Bandung untuk membahas terkait dengan Keberagamaan Pengemis. Beliau bernama dr. Henny Gustini Nura'eni. Tapi kini beliau telah berpulang dan semoga kedamaian selalu menyertainya.

dr. Henny adalah salah satu pengamat sosial yang sudah sejak lama melakukan penelitian terhadap pengemis yang ada di Kota Bandung.

Menurutnya para pengemis pandai membaca karakter masyarakat Kota Bandung yang agamis dan penyayang seperti salah satu prinsip yang terkenal di suku Sunda yaitu silih asih, silih asah, silih asuh.

Fakta yang sangat fantastis dari yang dipaparkan dr. Henny melalui podcast yang berjudul " Kawasan Pengemis - Part 2" yang sudah tayang di YouTube KPI Studio pada tanggal 20 Juli 2025, ternyata perputaran uang di tangan pengemis bisa mencapai 17 Miliyar dalam satu tahun.

Fakta tersebut membuat banyak masyarakat sudah enggan memberikan atau membantu orang asing yang memerlukan pertolongan.

Fakta tersebut juga membuat sebagian krisis kepercayaan makin turun kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba.

Meski demikian masih banyak pula masyarakat yang merasa iba tentang keberadaan mereka. Bahkan sebagian masyarakat tidak peduli dibohongi atau tidak yang penting niatnya membantu karena Allah.

Menurut saya inilah yang dimanfaatkan oleh para pengemis atau orang asing dalam membaca psikologis masyarakat Bandung yang sangat kental dengan budaya "kasihan". (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)