Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Krisis Kepercayaan Publik terhadap Aksi 'Minta Tolong' di Bandung

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Senin 15 Sep 2025, 13:03 WIB
Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ku zaman ayeuna mah hese ngabedaken mana jelema nu beneran butuh bantuan Jeung jelema nu saukur modus

Ungkap salah seorang pria kepada supir bus TMB koridor Dago--Leuwi Panjang. Mengingatkan kembali pada momen yang pernah saya alami beberapa tahun ke belakang.

Percakapan tersebut saya dengar saat baru saja duduk di deretan kursi bus saat berhenti tepat di halte Dipatiukur.

Seorang pria paruh baya nampak kebingungan. Dirinya mendekati supir dan bertanya "saya harus turun di mana kalau mau ke Lembang".

Supir tak kalah bingung, karena seharusnya pria paruh baya tersebut turun sejak melewati Stasiun Bandung. Di sana terdapat angkot warna krem dengan polet coklat yang melintasi kawasan Lembang. Namun sepertinya pria paruh baya tersebut tidak menitipkan pesan kepada supir untuk minta diturunkan di halte tujuan.

Dari informasi yang saya dengar pria paruh baya tersebut bermula naik dari Terminal Leuwipanjang. Di tengah perdebatan akhirnya supir menyarankan pria paruh baya tersebut untuk turun di halte Kartika Sari lalu menyebrang dan melanjutkan dengan angkutan umum.

Entah bagaimana pria paruh baya tersebut mengatakan "saya tidak bisa" dan meminta bantuan kepada supir untuk mengantarkan ke sebrang jalan. Dilema terjadi di antara supir dan kami sebagai penumpang.

Akhirnya supir menyarankan pria tersebut untuk memesan jasa pengantaran via aplikasi online. Namun tetap sama pria paruh baya tersebut berkata "tidak bisa".

Pria tersebut akhirnya turun di halte Kartika Sari sambil terus mengoceh seorang diri. Di tengah lampu merah, bus belum beranjak begitu juga dengan pria paruh baya tersebut. Nampaknya supir merasa khawatir sekaligus juga bingung.

Akhirnya sebelum lampu hijau supir memanggil seorang juru parkir yang ada di salah satu cafe atau hotel saya tidak begitu memperhatikan karena lokasi bangunan tertutup pohon yang sangat rindang.

"Kang menta tulung eta si bapak bade ka Lembang, tiasa pangmesenkeun Go-Jek teu?"

"Ah kang ieu mah tos biasa kitu, padamelan ieu mah," ujar juru parkir

"Tapi jigana mah heunte da tadi naek di Terminal Leuwipanjang," timpal sang supir

"Oh kitu ? Nya atuh cobi ku Abi ditaros hela."

"Muhun siap atuh nuhun ya kang," ujar sang supir sambil melajukan bus perlahan karena lampu sudah menunjukkan warna hijau.

Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sering kali muncul krisis kepercayaan kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kejadian ini mengingatkan saya pada beberapa aksi serupa yang pernah saya alami sendiri saat sekolah hingga hari ini sudah bekerja.

Pengalaman pertama saya bertemu dengan orang asing yang minta tolong di jalan adalah ketika saya SMP.

Saat itu saya sedang menggunakan angkot kuning jurusan Cipatik- Tegallega, di ujung bagian angkot terduduk seorang nenek tua sambil membawa bungkusan kresek. Selang beberapa menit beliau menawarkan saya untuk membeli mukena bekas dengan harga seikhlasnya.

Sebagai anak sekolah dengan uang jajan seadanya saya menolak secara halus permintaan nenek itu. Tidak cepat menyerah, nenek tersebut akhirnya meminta uang berapa saja dengan alasan tidak punya uang untuk membayar ongkos.

Sebagai anak SMP yang masih polos, tentu Saya merasa iba dan berniat membayarkan ongkos nenek tersebut. Tak disangka nenek tersebut menolak dan langsung saja minta uangnya. Saya pun turun sambil membagi uang ongkos dengan sang nenek.

Tak disangka setahun kemudian ketika saya sedang naik angkutan jurusan Soreang saya bertemu dengan nenek itu lagi dan beliau masih melakukan cara yang sama kepada orang lain.

Pengalaman lainnya pernah saya temui seorang kakek membawa kotak amal bertulisan "Sumbangan Pembangunan Mesjid" di salah satu kota yang ada di Garut. Saat itu saya bertemu dengan beliau di Braga ketika melaksanakan tugas fotografi dari kampus.

Sebelum memberikan uang saya sempat bertanya , kenapa harus jauh-jauh meminta sumbangan ke Bandung saat masyarakat sekitar bisa diberdayakan untuk mengumpulkan uang sumbangan. Saya rasa masyarakat sekitar pun tidak akan keberatan terlebih fasilitas tersebut akan digunakan kembali oleh masyarakat sekitar.

Saat itu kakek tersebut mengatakan bahwa daerahnya sangat pelosok jadi belum banyak bantuan yang bisa dikumpulkan.

Entah bagaimana, Tuhan menakdirkan saya untuk melihat bapak itu lagi tapi kali ini ketika saya berada di angkot Cimahi--Leuwi Panjang. Di sekitaran stopan Pasir Koja Saya melihat bapak tersebut masih melakukan kegiatan yang sama yaitu "meminta sumbangan untuk pembangunan mesjid".

Tak hanya itu bahkan saya seringkali berpapasan saat sedang ada keperluan ke arah Pasar Baru, Ciroyom, Cibaduyut dan sesekali di Alun-Alun Bandung dan sekitaran jalan Braga.

Kejadian terakhir yang saya alami adalah saat bertemu dengan orang asing yang meminta pertolongan ketika saya sedang duduk di halte Terminal Leuwi Panjang menuju UIN Cimencrang.

Saat itu ada seorang bapak menggendong tas besar dipundak, seperti seseorang yang akan mudik ke kampung halaman. Di bagian tangan kanannya bapak tersebut menggandeng tangan mungil anak perempuan yang terlihat baru saja mandi karena wajahnya penuh bedak yang tak teraplikasikan secara rapih.

Bapak tersebut bercerita kepada saya bahwa dirinya baru saja di copet karena dompet yang disimpannya di tas hilang saat dibutuhkan. Bapak tersebut mengatakan akan pulang ke Cianjur dan meminta ongkos sebesar Rp.50.000 kepada saya.

Saya sempat ragu karena beberapa kali mengalami hal yang demikian. Namun rasanya tak tega melihat anak kecil yang sedang digandengnya. Saya pun memberikan uang tersebut, selang 15 menit kemudian bus DAMRI yang saya butuhkan datang.

Sambil menunggu penumpang naik, dari kursi bus saya melihat bapak tadi mendekati pengunjung lain yang sedang duduk tidak jauh dari halte. Entah apa yang dibicarakan tapi melihat ekspresi dan gerak tubuhnya mengingatkan saya saat bapak tersebut meminta pertolongan kepada saya.

Jujur saya merasa tertipu dengan modus yang dibalut dengan rasa iba. Semenjak itu saya selalu curiga kepada orang asing yang meminta bantuan. Biasanya bantuan tersebut beragam mulai dari meminta ongkos, meminta makan, tersesat saat mengunjungi saudara di Bandung dan modus-modus lainnya yang selalu beragam.

Saat rasa iba dijual untuk keuntungan semata, di sanalah krisis kepercayaan terhadap orang asing yang membutuhkan bantuan mulai hilang. Dampak fenomena tersebut jadi sulit membedakan mana seseorang yang benar-benar membutuhkan bantuan atau hanya sekedar modus semata.

Bahkan di Bandung sendiri sudah bukan rahasia kalau beberapa pengemis membuat komunitas dan kampung sendiri saat menjalankan aksinya di Kota Bandung. Salah satu yang terkenal adalah perkumpulan pengemis yang ada di daerah Sukajadi Bandung.

Pada tahun 2020 silam, prodi saya pernah mengundang seorang peneliti sekaligus dosen dari UIN Bandung untuk membahas terkait dengan Keberagamaan Pengemis. Beliau bernama dr. Henny Gustini Nura'eni. Tapi kini beliau telah berpulang dan semoga kedamaian selalu menyertainya.

dr. Henny adalah salah satu pengamat sosial yang sudah sejak lama melakukan penelitian terhadap pengemis yang ada di Kota Bandung.

Menurutnya para pengemis pandai membaca karakter masyarakat Kota Bandung yang agamis dan penyayang seperti salah satu prinsip yang terkenal di suku Sunda yaitu silih asih, silih asah, silih asuh.

Fakta yang sangat fantastis dari yang dipaparkan dr. Henny melalui podcast yang berjudul " Kawasan Pengemis - Part 2" yang sudah tayang di YouTube KPI Studio pada tanggal 20 Juli 2025, ternyata perputaran uang di tangan pengemis bisa mencapai 17 Miliyar dalam satu tahun.

Fakta tersebut membuat banyak masyarakat sudah enggan memberikan atau membantu orang asing yang memerlukan pertolongan.

Fakta tersebut juga membuat sebagian krisis kepercayaan makin turun kepada orang yang meminta bantuan secara tiba-tiba.

Meski demikian masih banyak pula masyarakat yang merasa iba tentang keberadaan mereka. Bahkan sebagian masyarakat tidak peduli dibohongi atau tidak yang penting niatnya membantu karena Allah.

Menurut saya inilah yang dimanfaatkan oleh para pengemis atau orang asing dalam membaca psikologis masyarakat Bandung yang sangat kental dengan budaya "kasihan". (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)