Polemik Tanggal Lahir Persib dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Akademisi

3 menit baca
Muhammad Imaduddin
Ditulis oleh Muhammad Imaduddin diterbitkan
Pengukuhan Hari Jadi Persib Bandung pada akhir 2023 lalu. (Sumber: dok. Persib)
Pengukuhan Hari Jadi Persib Bandung pada akhir 2023 lalu. (Sumber: dok. Persib)

Bagaimana jika sesuatu yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran ternyata dianggap keliru oleh sebagian orang? Akankah kita menolaknya, atau justru dengan senang hati menerimanya?

Mungkin perasaan seperti itulah yang dialami Bobotoh—sebutan pendukung Persib Bandung—ketika tim peneliti dari Universitas Padjajaran (Unpad) menyatakan bahwa klub kebanggaan mereka didirikan pada 1919, alih-alih 1933 seperti yang diyakini selama ini.

Awal Mula Polemik

Polemik ini bermula pada akhir 2023, ketika PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) yang dipimpin Glenn T. Sugita merubah hari jadi Persib menjadi 5 Januari 1919 dari yang semula 14 Maret 1933.

Perubahan ini sebenarnya bukan tanpa dasar. PT PBB melakukannya setelah menerima rekomendasi dari Tim Peneliti Hari Jadi Persib yang dipimpin oleh Profesor Kunto Sofianto, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad.

Selama kurang lebih 6 bulan, mereka melakukan kajian dan penulusuran data terkait hari jadi klub sepakbola kebanggaan warga Kota Bandung itu. Sebuah usaha yang tidak mudah, mengingat tidak banyak literatur terkait yang tersedia.

Tim peneliti kemudian menemukan arsip surat kabar Kaoem Moeda yang memuat berita tentang rapat klub-klub sepak bola pribumi di Bandung, di antaranya Zwaluw, BIVC, BVC, KVC, VVC, Visser, NVC, Brom, KBS, BB, STER, Diana dan Pasar Ketjil.

Dalam rapat tersebut, mereka bersepakat untuk membentuk Bandoengsch Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada 5 Januari 1919.

Dua hari kemudian, surat kabar Kaoem Moeda memberitakan bahwa BIVB telah resmi terbentuk. Sebelumnya, pada 30 Desember 1918, surat kabar yang sama mengabarkan rencana pembentukan BIVB akan dirangkai dengan sejumlah pertandingan pada 5, 7, dan 12 Januari 1919.

Dari segi historis, perubahan tersebut juga membuat status Persib sebagai pendiri Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) justru semakin kuat.

Menurut Kunto, jika Persib didirikan pada 1933 seperti yang kita yakini selama ini akan ahistoris apabila terkait dengan pendirian PSSI pada 19 April 1930 di mana BIVB berperan di dalamnya.

CEO PT Persib Bandung Bermartabat Glenn T. Sugita bersama Guru Besar FIB Unpad Kunto Sofianto. (Sumber: dok. Persib)
CEO PT Persib Bandung Bermartabat Glenn T. Sugita bersama Guru Besar FIB Unpad Kunto Sofianto. (Sumber: dok. Persib)

Respons Bobotoh

Seperti yang bisa ditebak, perubahan ini tidak bisa diterima begitu saja oleh para Bobotoh. Salah satu pihak yang menolak adalah M. Achwani, sekertaris umum Persib periode 1982-1994.

Menurut Achwani, Persib yang kita kenal selama ini merupakan hasil fusi antara dua bond di Kota Bandung pada saat itu, yaitu BIVB dengan National Voetball Bond (NVB).

Adapun terkait kenapa Persib tercatat sebagai pendiri PSSI meskipun berdiri sesudahnya, Achwani berpendapat bahwa yang tercatat adalah BIVB yang menjadi salah satu bond pembentuk Persib.

"Persib memang tidak tertulis sebagai pendiri PSSI, tetapi yang ikut mendirikan PSSI itu tertulis BIVB (Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond) bersama 6 bonden kota lainnya mendirikan PSSI," tulis Ichwan di akun Facebook pribadinya.

Sementara itu, banyak bobotoh lain yang menyampaikan keberatannya di media sosial. Termasuk banyak di antara mereka yang menuding para sejarawan Unpad sengaja dibayar oleh PT PBB untuk membuat polemik.

Suasana saat bobotoh Persib Bandung memenuhi Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayobandung)
Suasana saat bobotoh Persib Bandung memenuhi Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayobandung)

Terlepas dari kedua pihak memiliki pijakan yang kuat pada pendapatnya masing-masing, ulah oknum warganet yang menyebut sejarawan yang terlibat penelitian ini sebagai sejarawan berbayar menunjukkan krisis kepercayaan publik terhadap para akademisi.

Meminjam istilah Tom Nichols, fenomena ini bisa diidentifikasi sebagai matinya kepakaran, yaitu berkurang atau bahkan menghilangnya kepercayaan publik terhadap para pakar, ahli, profesional dan akademisi.

Kita mungkin masih ingat bagaimana publik yang marah menyerang Abdul Aziz, seorang dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, karena dalam disertasinya membahas konsep kontroversial, Milk Al Yamin, milik pemikir Suriah, Muhammad Syahrur.

Kita juga mungkin masih ingat bagaimana polisi hendak memroses hukum terhadap para peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) karena dalam penelitiannya menyebut adanya potensi tsunami setinggi 57 meter di Pandeglang, Jawa Barat yang dianggap meresahkan dan menghambat investasi.

Akademisi sendiri bukannya tanpa celah, mereka juga bisa berbuat salah dan bahkan sengaja berbuat salah.

Sejarah mencatat banyak kesalahan yang mereka lakukan. Mulai dari kesalahan 'ringan' sampai kesalahan berat. Mulai dari bahaya telur, sampai urusan ijazah mantan kepala negara. Sehingga kita, sebagai publik memang harus memiliki sikap kritis dan skeptis.

Namun, menyebut para sejarawan Unpad ini sebagai "bayaran" hanya berdasarkan pada ketidaksukaan pada PT PBB bukan lagi merupakan sikap kritis atau skeptis, melainkan sikap sinisme dan keraguan atas objektivitas dan profesionalisme mereka.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)