Int(Earth)Religious Dialogue

3 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Pohon dan Langit Biru (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Pohon dan Langit Biru (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Bayangkan skenario “kiamat iklim” atau climate apocalypse, peradaban manusia hancur akibat krisis. Serem?

Tapi sebenarnya, alam tidak pernah mengenal istilah bencana, wabah, atau sampah. Semua konsep itu lahir dari cara manusia memaknai hubungan mereka dengan alam. Kitalah yang memberi label “alami” atau “katastropik” pada fenomena lingkungan, padahal bagi alam, semua tetap mengalir sesuai caranya.

Ketika isu kerusakan lingkungan dibingkai dengan istilah “kiamat”, narasi ini sering membawa logika agama Abrahamik, agama-agama yang bersumber dari tradisi wahyu.

Dalam kosmologi ini ada awal, ada akhir, waktu yang berjalan lurus, dan manusia ditempatkan sebagai pemegang mandat Tuhan di bumi. Alam pun kerap dibaca sebagai benda mati yang bisa diatur dan dikendalikan, kadang bahkan dikaitkan dengan ide memperbanyak keturunan (prokreasi).

Cara berpikir ini membuat banyak orang fokus pada pertobatan pribadi atau moralitas ritual, sementara aspek ekologis yang lebih luas terabaikan. Dari sinilah lahir eko-teologi, upaya menafsir ulang ajaran agama supaya manusia bisa lebih ramah terhadap alam.

Banyak penganut Yahudi, Kristen, dan Islam mulai menata ulang gaya hidup mereka. Umat diajak buat mengurangi konsumsi, peduli pada limbah, hingga terlibat dalam advokasi agraria dan pelestarian lingkungan.

Namun sebetulnya langkah ini hanya sebagian kecil dari solusi. Karena masih banyak praktik keagamaan lain yang jarang dilibatkan. Jarang kita tengok kacamatanya.

Masalah besar adalah keterbatasan pandangan. Dialog lintas agama-iman dan advokasi lingkungan seringkali hanya menekankan posis dari sudut pandang agama Abrahamik. Sementara agama dan tradisi religius lain, dari ajaran ahimsa di India, konsep wu wei dan qi di Tiongkok, hingga ritual sesaji lokal, jarang diperhatikan.

Padahal tradisi-tradisi ini menawarkan cara pandang yang sejak awal sudah ramah terhadap bumi. Alam bukan hanya objek, tapi subjek yang layak dihormati. Narasi kosmik, energi alam yang ilahiah, dan komunikasi spiritual dengan lingkungan sudah berlangsung ribuan tahun, dan semuanya mengandung pesan ekologis yang unik. Sayangnya, kita sering melewatkan pelajaran ini karena kerangka berpikir kita terbatas pada teks-teks teologi dan aturan institusional.

Di sisi lain, persoalan kebebasan beragama juga terkait erat dengan isu lingkungan. Interpretasi agama yang pro-ekologi atau kritis bisa dianggap menodai ajaran resmi, terutama oleh ortodoksi yang kaku.

Bangunan rumah ibadah, hutan adat, dan praktik warga penghayat yang dekat dengan alam sering terhambat karena intoleransi atau konflik kepentingan ekonomi. Bahkan tidak jarang, eksploitasi sumber daya alam dibungkus dengan agenda keagamaan tertentu. Semua ini menunjukkan bahwa relasi antara manusia, agama, dan alam tidaklah sederhana.

Ilustrasi krisis iklim. (Sumber: Pixabay/Cloud_Purple)
Ilustrasi krisis iklim. (Sumber: Pixabay/Cloud_Purple)

Di sinilah konsep Int(Earth)Religious Dialogue menjadi penting. Dialog ini tidak hanya bicara manusia ke manusia, tetapi melibatkan bumi sebagai subjek yang berhak didengar. Tujuannya bukan hanya menjaga perdamaian antaragama, tetapi juga memaknai ulang relasi kita dengan alam.

Melalui pendekatan ini, bumi tidak lagi menjadi objek yang bisa dieksploitasi semaunya, melainkan partner yang aktif dalam dialog tentang kelestarian, keadilan sosial, dan kebinekaan.

Pendekatan ini juga menekankan keragaman praktik religius.. Bumi tidak hanya berbicara pada satu tradisi, satu interpretasi, atau satu institusi agama. Ia terlibat dalam praktik agama lokal, kultus, agama rakyat, atau agama nominal yang berbeda-beda. Setiap praktik mengandung cara unik dalam membaca hubungan manusia-alam. Dengan cara ini, kebinekaan tidak hanya berlaku di ruang sosial, tapi juga dalam cara kita memandang dan merawat lingkungan.

Ide Int(Earth)Religious Dialogue menunjukkan satu hal penting bahwa kelestarian lingkungan dan perdamaian antaragama tidak bisa dipisahkan. Jika kita gagal menghargai pluralitas praktik religius sekaligus menjaga bumi sebagai subjek, kita sebenarnya gagal merajut cita-cita kemanusiaan-kesemestaan yang lebih besar.

Sebaliknya, ketika kita menyadari bahwa manusia dan alam saling terkait, kita bisa membangun pendekatan yang inklusif, adaptif, dan bermakna. Sebuah dunia ketika agama dan bumi berjalan berdampingan.

Ini mungkin gagasan, tapi ia menuntut kesadaran, keberanian, dan kreativitas dari setiap orang yang terlibat dalam dialog. Dari ruang komunitas hingga hutan adat, dari ritual lokal hingga aktivitas sehari-hari, bumi harus diakui sebagai partisipan aktif.

Bumi yang hancur adalah keluputan kita dalam merajut keberagaman dan keberlanjutan.Dan sebaliknya, bumi yang dihargai, dirawat, dan diajak bicara, adalah tanda kita berhasil belajar dari semua tradisi agama.

Akhirnya, kita tiba pada satu hal penting bahwa dialog lintas agama-iman tidak cukup hanya antara manusia saja. Bumi juga punya suara, konteks, dan kebutuhan yang harus didengar. Itulah sebabnya istilah Interreligious Dialogue saja terasa kurang. Kita butuh Int(Earth)Religious Dialogue, dialog yang melibatkan bumi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)