Canda, Hantu, dan 'Jorang' sebagai Makanan Pokok Orang Sunda

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Camilan di Atas Karpet, Ketika Orang Sunda Kumpul dan Ngobrol (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Camilan di Atas Karpet, Ketika Orang Sunda Kumpul dan Ngobrol (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Ngawangkong ngalér ngidul, di masa ketika nenek dan kakek masih bersama kita. Masa ketika listrik sering padam, saat segala hal masih terasa bersahaja. Jauh di sana kita masih akrab dengan sepupu dan tetangga. Di sebuah zaman, orang-orang belum terlalu biasa dan lumrah sekolah ataupun kerja jauh ke luar kota.

Bersama kehangatan itu, selalu ada saja yang bisa diceritakan. Pasti ada sesuatu yang menarik untuk disimak dengan antusias. Kita berdongeng sambil menyaksikan hujan turun di pekarangan rumah. 

Kala kopi hitam, rokok kretek, rujak, dan opak, masih dipandang sebagai kemewahan. Meski yang datang hanya tiga orang, kadang ramai sampai berdelapan. Habis magrib, tengah malam, kapanpun juga. Suasananya selalu sama, santai dan seru. Orang Sunda tak pernah kehabisan topik obrolan. Selalu ada isinya receh tak apa-apa, kadang dalam yang bikin pusing, intinya pasti memikat.

Psikolog Hanna Djumhana Bastaman menuturkann dalam acara Keurseus Budaya Sunda: Humor jeung Guyonan Sunda Sawangan Psikologi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Budaya Sunda Universitas Padjadjaran, bahwa ada tiga tema obrolan yang paling disukai oleh orang Sunda. Ialah sesuatu yang pikaseurieun, pikasieuneun, dan pipanasaraneun.

Tiga topik ini, memang selalu nongol di setiap tongkrongan, riungan, bahkan cukup dalam percakapan di antara dua orang saja. Kita ketawa, takut, dan penasaran bersama-sama. Semuanya diramu jadi satu dalam percakapan yang cair. Entah dalam obrolan singkat sambil lalu, atau malah sering juga terlena hingga tak tahu waktu.

Obrolan adalah cermin dari cara orang Sunda melihat dunia. Ia menerabas ketidaktahuan, menegosiasikan perkara. Dari tawa, kita belajar tentang sisi lain berbagai fenomena yang ternyata tak seserius yang kita kira. Dari rasa takut, kita belajar santun pada hal-hal yang tak biasa. Begitu juga dari rasa penasaran, kita belajar menyalurkan hasrat sebagai kodrat kehidupan yang alami.

Dan mungkin itu sebabnya kita betah berlama-lama sahut-sahutan, meski cuma di bangku kayu atau tikar tipis. Karena di situ kita tumbuh, mengenal banyak kejadian dan pengetahuan, dibentuk menjadi bagian dari manusia Sunda.

Ini Poinnya

Bercanda adalah hal yang paling mudah dikenali. Orang Sunda punya cara sendiri untuk menertawakan hidup. Kadang lewat sisindiran, wawangsalan (pantun), atau tatarucingan (teka-teki), kadang spontan saja dalam percakapan sehari-hari. Dari landian (panggilan nama), borokokok sampai plesetan lagu.

...és krim énak, sarébu salétak, ngoloan budak.

Dari bobodoran cangéhgar di radio sampai cerita Si Kabayan di buku-buku ajar, atau Si Cepot dalam pagelaran wayang golek yang berani mengolok menak dengan jenaka tanpa kehilangan daya kritisnya. Inilah yang disebut pikaseurieun, yang membuat kita tertawa.

Dari masa ke masa, selalu ada tokoh lucu yang jadi legenda. Kang Ibing dengan gaya santainya yang filosofis, Mang Ohang yang ceplas-ceplos. Mereka bukan sekadar pelawak, tapi penjaga kewarasan masyarakat Sunda. Karena bagi kita, tawa adalah katarsis, cara untuk melepaskan tekanan hidup. Bahkan dalam lulucon, banyol, heureuy, gonjak, léléjég, ocon, bojég dan seterusnya, orang bisa menyindir yang berkuasa tanpa membuat suasana tegang. 

Tapi obrolan orang Sunda tak berhenti di sana. Kadang setelah tawa mereda, suasana berubah pelan-pelan. Salah seorang dari kita membuka cerita tentang jurig, dedemit, ririwa, atau siluman kajajadén. Kisah sasakala (legenda asal usul) turut disampaikan dengan suara yang dalam dan nada yang menurun.

Di sini kita masuk pada babak yang pikasieuneun, yang membuat takut. Obrolan berubah jadi simak menyimak soal kesaksian kawénéhan (melihat hantu bergentayangan), dari lulun samak sampai jurig jarian. Meski tuturan penuh cenah dan cenah (katanya), tetap saja semua ini terasa nyata di depan mata. Jurnalrisa dan Ardan Radio paling jago mengudarakan soal ini. Apalagi kalau sudah menyenggol gosip warga sebelah yang diduga munjung (pesugihan) dan sering kesurupan, tampak bukan bualan omong kosong.

Abdi téh ayeuna gaduh hiji bonéka

Teu kinten saéna sareng lucuna

Ku abdi di erokan, erokna saé pisan

Cing mangga tingali bonéka abdi

Narasi ini adalah cara kita berbagi rasa takut, mengenang hal-hal yang diwariskan dari orang tua, sekaligus menegaskan bahwa dunia tak sepenuhnya bisa dikuasai akal. Dalam alurnya, banyak ajaran moral dan tabu yang tersembunyi dari pamali, cadu, dan buyut. Bahkan pada masalah soal lingkungan hidup.

Ketegangan bisa saja cepat beralih. Tawa kecil kembali muncul, tapi kali ini kita mulai 'bersemangat'. Pipanasaraneun, yang membuat penasaran dan rasa ingin tahu menggoda membawa obrolan pada bahasan yang tipis-tipis membanyol seksualitas.

Dalam dunia Sunda muncul dua narasi yang khas tentang hal tersebut, jorang dan cawokah.

Jorang adalah ungkapan yang lepas tanpa saringan, bisa bikin kikuk dan rasa malu. Sebaliknya, cawokah membungkus topik yang sama dengan halus. Ia seni yang tidak lahir dari nafsu. Sering kali masuk ke ranah peribahasa.

Heunceut ucingeun, maksudnya kan perempuan yang gampang hamil dan punya anak. Begitu juga ungkapan kanjutna tarang, artinya pemalu.

Di Priangan Timur ada kuliner dari olahan kelapa dan gula merah, namanya éwé déét. Ada juga kontol sapi (Banten) dan heunceut rubak (Purwakarta).

Semua sebutan itu adalah kearifan lokal, bukan porno.

Dalam banyak hal, pembahasan tentang tubuh tak sedangkal vulgar. Ia sering kali berhubungan dengan kosmologi dan tradisi. Banyak unsur seksualitas yang tersirat dalam estetika, etika, dan logika khas Sunda, menghadirkan sisi epik kehidupan Sunda. Misal, tampak jelas pada berbagai rangkaian upacara adat jatukrami, simbol-simbol falus dan vulva seiring sejalan.  

Tantangan Ke Depan

Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)
Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)

Tapi sekarang, semua itu perlahan memudar. Obrolan panjang dan lebar kini disibukkan oleh tenggat kerja, zoom meeting yang tak berujung, dan target produksi yang menekan. Tidak ada lagi waktu untuk leha-leha. Orang makin canggung bercanda, mudah tersinggung, dan takut salah ngomong. Yang tersisa cuma “ketawa karier”.

Cerita horor pun pelan-pelan ditinggalkan. Jurig serta merta dianggap mitos, nalar leluhur dianggap tak ilmiah. Tapi sayang, dunia yang sepenuhnya rasional malah membuat kita makin cemas. Memang tak lagi takut pada makhluk halus, sekarang lebih takut gagal, takut miskin, takut disingkirkan dari FOMO dan tren.

Begitu juga dengan jorang dan cawokah. Rasa ingin tahu tentang tubuh dan seksualitas, kini dibungkam moralitas dangkal. Hal-hal yang dulu dibicarakan dengan penuh kesegaran kini dianggap aib atau topik yang murahan. Seolah-olah semua harus diungkap lewat “kedok” sains yang satu arah. Kita dituntut menjaga marwah.

Jujur saat, kita pasti kangen dengan obrolan daging model ini. Tapi kembali ke masa lalu bukan solusi dan tak perlu juga.

Sebab kalau saja kita peka sisa-sisa tongkrongan itu sebenarnya masih ada. Di kedai kecil, kontrakan “kumuh”, pangkalan, atau angkot malam, percayalah masih banyak percakapan hidup yang berdenyut. Termasuk pada konten-konten orang Sunda di TikTok, kita boleh berkunjung, melepaskan rindu dan menghidupkan kembali topik-topik itu.

Kita bisa membawanya jadi oleh-oleh buat sekitar yang tampak kering dan gersang. Bercanda sambil mengerjakan tugas atau membuat laporan. Berbisik-bisik tentang bayangan hitam di meja kerja, atau membiasakan diri terbuka pada literasi seksualitas yang sehat sekaligus membumi di malam-malam keakraban. Bisa kan?

Meski dunia Sunda pelan-pelan kehilangan kelenturannya, masih ada jalan untuk interupsi. Tiga bentuk obrolan itu harus kita kembalikan sebagai makanan pokok dan cara hidup khas Sunda yang bermartabat, bukan sekadar hiburan yang dicap murahan.

Mereka adalah jantung dari kebijaksanaan Sunda. Ia menentang budaya wibawa para menak kontemporer yang selalu menjaga batas bercanda, menjaga nalar rasional, dan menegakkan “adab” sensual yang hipokrit. Ayo, bawa budaya rakyat ini ke pusat kekuasaan, percaya diri, dan jangan biarkan ia tersisa hanya sebagai gagasan masa lalu yang antik atau pesona nostalgia semata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)